Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 92


__ADS_3

"Mas Bayu," cicit Linda memanggil Bayu.


Ia memandang mantan suaminya yang mengabaikan panggilannya. Ketiga orang yang datang ini hanya fokus melihat gadis kecil yang masih menangis sedih dalam gendongan sang ayah dengan mata yang fokus melihat kearah Sultan yang berada di dalam gendongan Bayu.


"Mami, tolong gendong adikku, dia menangis," pinta Sultan dengan sedikit mendorong bahu Nayla yang berdiri tepat di samping sang Papi.


Mendengar ucapan Sultan, Bastian tercubit hati kecilnya begitu pula dengan Linda. Bagaimana tidak, ia mengingat bagaimana egosinya mereka saat Sultan baru saja dilahirkan di dunia ini. Dengan tak sabarnya mereka untuk hidup bersama, hingga meninggalkannya seorang anak yang tak berdosa, yang mungkin tidak ingin dilahirkan dari rahim seorang ibu yang egois dan kejam.


Persetan dengan kata cinta, jika akhirnya saat ini pun mereka berpisah. Ya. Berpisah karena keadaan ekonomo yang tak lagi menunjang gaya hidup Linda. Wanita egois yang di beri karunia oleh Tuhan, namun disia-siakan untuk kedua kalinya.


Nayla melangkahkan kakinya mendekati Bastian. Saat kaki Nayla melangkah putri kecil dalam gendongan Bastian menyondongkan tubuhnya pada Nayla, ia seperti ingin berada dalam dekapan Nayla.


"Maaf Tuan, boleh saya gendong anaknya?" Tanya Nayla dengan sopan.


Melihat anaknya begitu ingin digendong Nayla, dengan menyondongkan tubuhnya. Sementara sang ibu kandung tak ingin menyentuh putrinya sendiri. Membuat Bastian akhirnya mengizinkan Nayla menggendong putrinya, meskipun ia tak enak hati dengan Bayu, rivalnya dulu.


Bastian tak menjawab pemintaan izin Nayla untuk menggendong putrinya. Namun ia memberikan putri kecilnya begitu saja tanpa kata-kata. Nayla menggendong anak perempuan itu dan kembali berdiri di sisi Bayu.


Saat Nayla mendekatkan gadis kecil dalam gendongannya dengan Sultan. Gadis kecil itu tak lagi menangis, dia terdiam menatap wajah Sultan yang tampan dan teduh.


"Sayang adiknya, Sultan!" Perintah Nayla agar Sultam menyayangi adiknya.


Sultan mencium pipi gadis kecil yang ada di dalam gendongan Nayla dan memeluknya.


"Siapa nama mu adik manis?" Tanya Sultan setelah mengurai pelukannya dan menyentuh lembut pipi adiknya.


"Chaci," jawab gadis kecil itu masih dengan suara terisak.


"Chaci?" Sultan membeo tak mengerti.


"Shasi, nama adikmu Shasi nak," ucap Bastian yang tampak berkaca-kaca, membenarkan ucapan Sultan.


"Oh, Shasi. Hai Shasi. Aku kakak mu. Panggil aku Kakak Sultan. Senang bertemu dengan mu. Ini Papi ku namanya Papi Bayu dan ini Mami ku namanya Mami Nayla." Ujar Sultan memperkenalkan dirinya pada adiknya.

__ADS_1


"Kak Cultan," panggil Shasi dengan suara imutnya namun masih dengan nafas yang terisak-isak.


"Iya Shasi," jawab Sultan dengan tersenyum manis pada adiknya.


"Pinjem Maminya, boyehhh?" Tanya Shasi yang malah memeluk leher Nayla.


"Boleh, tapi jangan lama-lama ya. Karena Mami Nayla milik ku dan calon adikku," jawab Sultan yang membuat Shasi memeluk erat leher Nayla.


Rasa nyaman, rasa teduh. Shasi dapatkan saat berada di dalam gendongan Nayla.


"Papi!!" Panggil Shasi pada Bastian.


"Ya sayang," jawab Bastian yang melangkah kakinya satu langkah mendekati putrinya namun ia sedikit menjaga jarak. Ia sangat tak enak hati dengan Bayu.


"Mau Mami ini saja, kita bawa pulang," ucap Shasi dengan polosnya.


Bayu membulatkan mata begitu pula dengan Sultan, Nayla dan juga Linda.


"Apa-apaan bocah kecil ini, memang kalau bibit perebut pasti akan menjadi perebut ulung pula," umpat Bayu yang sedikit mengeratkan gendongnya pada Sultan.


Sultan yang menganggap gerakan Bayu mengeratkan gendongannya pada dirinya sebagai tanda bahaya segera bersuara.


"Jangan ambil Mami ku! Aku hanya meminjamkannya sebentar pada mu, kamu tidak boleh membawa pulang Mami ku, adik manis. Mintalah pada Papi mu, Mami baru seperti Mamiku tapi jangan Mami Nayla ku." Ucap Sultan masih tersenyum saat bicara dengN Shasi.


"Tidak boleh ya sayang, ini Maminya Kakak Sultan," ucap Bastian yang segera ingin mengambil kembali anaknya dari dekapan Nayla. Namun Shasi menolak.


"Kakak Cultan, Mami barunya cari dimana? Apa di Mall ada?" Tanya Shasi dengan polosnya.


"Tidak ada. Papi ku carinya disekolah Mami." Jawab Sultan yang mengetahui jika awal pertemuan kedua orang tuanya adalah di kampus.


Melihat dan mendengar anak-anaknya bicara. Linda yang tercubit hatinya. Segera ingin meninggalkan mereka yang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.


"Linda, mau kemana kamu? Apa begini cara mu menghormati seorang tamu yang datang ke rumah mu?" Ucap Bayu yang menghentikan langkah Linda.

__ADS_1


"Untuk apa kamu datang bersama wanita botak itu Mas? Apa kamu datang kesini hanya ingin menunjukkan keromantisan dan keharmonisan keluarga kalian pada ku, hah?" Tanya Linda dengan berapi-api.


Sejujurnya sebagai seorang ibu hatinya begitu sakit melihat anak-anaknya begitu nyaman bersama wanita lain. Sultan yang sedang ia perjuangkan malah menolaknya mentah-mentah, tapi di depan dirinya ia bisa menerim kehadiran Shasi adiknya, mengapa dengan kehadiran dia tidak.


"Tidak aku tak perlu menunjukkan apapun pada mu. Aku kesini hanya ingin menjemput mu, Linda." Jawab Bayu yang seketika membuat raut wajah Linda sumringah


Linda tersenyum bahagia menatap orang di sekelilingnya. Ia kembali berjalan mendekati mereka. Ia mengambil posisi berdiri di dekat Bayu.


"Apa aku tak salah Mendengarnya? Kamu datang ke sini ingin menjemput ku?" Tanya Linda dengan wajah berbinar bahagia.


Ia menyentuh pergelangan tangan Bayu dan tersenyum menang kearah Nayla. Mata Nayla membulat sempurna saat tangan suaminya di sentuh oleh mantan istri suaminya. Dia diam namun hatiny sudah mulai berkomat-kamit menahan kesal.


"Rupanya suamiku curi-curi kesempatan, senangnya dia dipegang-pegang sama mantan istrinya ya. Siap-siap saja kamu kehilangan tanganmu Pih. Akan Mami jadiin sop tangan untuk Linda makan malam di hotel prodeo nanti." Gumam Nayla di dalam hatinya.


Sultan yang melirik wajah kesal sang Mami dan mengerti isi hati ibu sambungnya itu, segera berbisik pada Bayu.


"Papi jangan cari masalah. Papi mau tangan Papi dijadiin sop sama Mami?" Bisik Sultan di telinga Bayu.


Bayu tersadar dan menghentak tangannya yang sedang di sentuh oleh Linda. Matanya membola begitu terkejut dan melirik takut kearah Nayla.


"Ampun Mih," cicit Bayu di dalam hatinya ketika melihat wajah singa betina Nayla sudah on fire.


Untuk mempersingkat waktu dan tak ingin menambah istrinya mengaung nantinya. Bayu segera memberi kode pada Pak Santos yang masih ada di dalam mobil dengan menggunakan tangannya.


Melihat Bayu memberi kode, Pak Santos dan anak buahnya segera turun dari mobil.


"Polisi?" Cicit Bastian yang melihat beberapa polisi datang mendekati mereka.


"Apa yang kamu lakukan Linda sampai mantan suami mu membawa polisi kesini?" Gumam Bastian yang menyadari pergerakan tangan Bayu memberi kode pada polisi yang berada di dalam mobil.


Sejak tadi memang Bastian sedikit curiga dengan beberapa mobil yang terparkir tak jauh dari rumah Linda, yang berisikan beberapa orang yang menggunakan seragam kepolisian.


__ADS_1


__ADS_2