Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Negosiasi


__ADS_3

...'Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi.'...


Tut! Tut! Tut!


Nuga terlihat resah sambil terus berusaha menghubungi seseorang lewat panggilan telepon. Masalah yang baru saja ia ketahui lewat Siena sangat menggangu pikirannya, membuatnya ingin untuk segera memastikan seorang diri. Namun apa daya karena tanggung jawabnya sebagai seorang dokter membuat dirinya tidak bisa pergi sesuka hati. Nuga harus terus berusaha menyimpan kegelisahannya hingga jam kerjanya telah usai.


"Dok, pasien sudah menunggu di poli," ucap salah satu perawat yang menjadi asistennya.


"Baiklah, Saya akan ke sana lima menit lagi."


Setelah mendengar jawaban dari Nuga, perawat tersebut kembali meninggalkan Nuha sendiri, membuat pria itu kembali berkelit dalam pikirannya yang rumit.


'Kenapa Kamu tidak bisa dihubungi? Aku harap ini tidak seperti apa yang Aku pikirkan.'


Nuga bermonolog dalam hatinya berusaha untuk tetap berpikiran positif. Namun entah mengapa hatinya terus memberontak, seakan tak selaras dengan pikiran yang tengah ia buat kala itu.


Dengan terpaksa, pria tampan berkacamata itu harus segera mengakhiri semua keresahannya karena tanggung jawab besar telah menanti dirinya untuk bersikap profesional.


***


Siera meminum segelas es jeruk miliknya hanya dengan beberapa kali sedotan saja. Rasa haus gadis itu benar-benar membuatnya membuang seluruh rasa segan yang ia miliki.


"Mau lagi minumannya?" tanya Nikolai sambil terus tersenyum menatap tingkah gadis di hadapannya.


Tanpa malu gadis itu pun mengangguk dan berkata, "Iya!"


"Baiklah, tapi jangan terlalu banyak karena kau juga harus makan," ucap Nikolai sambil kembali memanggil pelayan untuk memesan segelas minuman tambahan untuk Siera.


Merekapun menyelesaikan makan siang dengan damai tanpa mengucap sepatah katapun, Sierra yang kini telah menyelesaikan makannya sontak kembali terhanyut akan pikirannya sendiri, akan langkah yang harus ia ambil setelah ini.


Matanya tak sengaja menatap Nikolai yang masih berkutat dengan hidangannya, sontak saja ide gila nan tak tahu malu tersirat di pikirannya.


"Hei, Kau!" serunya memanggil Nikolai.

__ADS_1


Nikolai mengeryitkan keningnya, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Pria itu pun kembali bertatapan dengan Siera sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk tangannya.


"Kau, bicara denganku?" tanyanya.


"Siapa lagi, masa Aku bicara dengan tembok!" jawab Siera dengan wajah ketusnya.


"Namaku Nikolai, you can call me Niko or Honey," ucap Nikolai yang seketika membuat bulu kuduk gadis itu meremang kala mendengarnya.


Pria berwajah tampan tetapi terasa dingin, sangat tidak serasi kata-kata gombalan yang keluar dari bibirnya.


"Aku sedang kekenyangan, tolong jangan membuatku mual," ucap Siera yang berhasil mengundang gelak tawa Nikolai.


Siera tampak mengigit bibirnya dengan jemarinya yang saling bertautan, gadis itu berusaha menahan rasa malunya sebelum akhirnya ia mengatakan sesuatu yang sudah terlintas di kepalanya.


"Niko, Saya boleh minta bantuan? Oke Saya tahu ini terdengar tidak tahu malu, tetapi Saya mohon pengertiannya," ucap Siera memulai pembicaraan.


Wajah Nikolai yang semula terlihat ramah seketika berubah serius. Sepasang matanya yang terlihat bagaikan batu zamrud, berkilauan terbias cahaya mentari menatap tajam kearah dirinya.


"Bolehkah saya meminta perhiasan Saya kembali? Saya berjanji akan menggantinya!" Siera mengucapkannya sambil menutup kedua matanya. Baginya sudah habis harga dirinya di hadapan pria yang telah menghabiskan malam dengannya.


Gadis itu kian menunduk, bibirnya terasa ragu untuk menyanggupi permintaan Nikolai. Terlintas di kepalanya untuk kembali ke rumah, tetapi bayangannya saudari kembarnya kembali membuat Siera mengurungkan niatnya.


"Ya sudah kalau tidak mau. Aku tahu seseorang yang jujur atau tidak, maka lebih baik kamu mengurungkan niatmu jika berpikir mengelabui Aku," tandas Nikolai kembali.


"S-sebenarnya Saya keluar dari rumah. Tapi dompet Saya terjatuh entah kemana. Saya butuh uang untuk menyewa tempat tinggal dan biaya hidup, setidaknya beri Saya waktu sampai Saya mendapatkan gaji bulan ini."


Dengan raut wajahnya yang tenang pria itu tersenyum tipis dan kembali memfokuskan pada Siera yang tak henti menundukkan kepalanya.


"Hmmm ... aku punya alternatif lain!" seru Nikolai.


"Apa?"


"Ikut Aku! Nanti Aku akan jelaskan sekalian di jalan," ucap Nikolai yang membuat Siera kembali menaruh curiga.

__ADS_1


Merasa dirinya dicurigai, Nikolai pun tertawa kecil. Pria tampan bak pangeran itu pun mencubit hidung Siera dengan lembut.


"Tidak usah menatapku dan berspekulasi sendiri tentang diriku. Aku tidak akan berbuat jahat padamu, jadi singkirkan pikiran negatif mu itu."


Akhirnya Siera berusaha mempercayai perkataan Nikolai. Siera tak hentinya mencuri pandang, seakan tengah menerka-nerka sifat pria itu dari parasnya.


'Wajah seperti itu tidak terlihat sebagai seorang kriminal. Lagi pula kalau dia kriminal, mungkin semalam nasibku sudah tamat.'


Dalam diamnya Siera tak henti bergumam di dalam hati, bermonolog atas penilaian sekilasnya terhadap Nikolai.


Semua yang dilakukan gadis itupun tak luput dari Nikolai, dirinya menduga jika Siera pasti tengah menebak-nebak dan sibuk dalam pikiran sendiri.


"Kalau mau lihat, lihat saja langsung. Jangan mencuri-curi pandang seperti itu! Kapan lagi Kau melihat orang tampan seperti Aku," ucap Nikolai berkelakar.


"Ih! Pede banget! Pria tampan di dunia ini tuh banyak, gak cuma Kau saja," cibir Siera.


"Ha-ha-ha ... ya memang bukan Aku aja. Tapi setidaknya Aku senang karena Kau tidak menyangkal jikalau Aku memang tampan."


Setelah perbincangan singkat tersebut pada akhirnya Siera memutuskan untuk mengikuti saran dari Nikolai. Bagaimanapun ia memilih untuk tidak kembali ke rumah keluarganya, dan berusaha bertahan hidup sendiri bagaimanapun caranya.


Sepanjang perjalanan pun Siera tampak menerka-nerka apa yang Nikolai rencanakan. Apakah pria itu sungguh-sungguh ingin membantu dirinya, ataukah semua hanyalah omong kosong bahkan bisa saja suatu jebakan untuk dirinya?


"Kenapa wajahmu itu terlihat resah? Tenang saja, Aku tidak akan menculik Kamu." Nikolai terkekeh saat menduga apa yang tengah mengganggu pikiran Siera sejak di dalam restoran. Gadis itu memang memutuskan untuk mencoba percaya dan mengikuti sarannya, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sikap demikian.


Hingga akhirnya mobil yang Nikolai kendarai masuk ke dalam sebuah gedung apartemen mewah. Pria itu segera memarkirkan mobilnya dan membimbing Siera untuk masuk ke dalam sebuah lift khusus menuju lantai atas apartemen tersebut.


"Kita mau kemana sih?" tanya Siera penasaran.


"Tenang aja, nanti Kamu juga akan tahu."


Tak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya mereka sampai di unit penthouse yang hanya tersedia di satu gedung apartemen tersebut. Siera mengernyitkan keningnya lalu bertanya dengan lugas akan maksud Nikolai membawanya ke sana.


"Hei, untuk apa Kau membawaku ke sini? Kau benar-benar ingin menculik Ku ya?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2