
"Kau ini ingin membawaku kemana? Aku, kan harus pergi bekerja!" omel Siera saat Nikolai melajukan mobilnya melewati gedung dimana Siera bekerja .
Pria itu hanya tertawa kecil, sambil terus menatap wajah Siera yang murka karena dia telah bersikap seenaknya.
"Tenang saja. Aku sudah meminta agar Kau diberi cuti selama empat hari, jadi lebih baik hari ini Kamu menemaniku berkerja," jawab Nikolai tersenyum seringai.
Siera menatap Nikolai sambil mengerutkan keningnya lalu berkata, "Kamu gila?"
"Ha-ha-ha, kan aku sudah bilang jika Aku akan mengatakannya ke seluruh dunia jika Kamu adalah kekasihku. Lagi pula, Kamu sendiri yang ingin mengenalku, jadi gak ada salahnya sesekali kamu menemaniku berkerja," jawab Nikolai tertawa.
"Huh, dasar sinting, menyebalkan!" umpat Siera sambil memanyunkan bibirnya.
Setelah sepuluh menit kemudian pada akhirnya ia sampai di sebuah gedung pencakar langit. kening gadis itu berkerut saat menyadari jika gedung tersebut adalah tempat dimana perusahan yang merupakan saingan berat bisnis Ricky berada.
"Kamu kerja di sini? Serius?" tanya Siera meyakinkan.
"Pacarku ini bawel sekali, lebih baik sekarang Kamu turun dan ikut denganku," ucap Nikolai seraya menggandeng tangan Siera memasuki gedung yang berada di kawasan elite itu.
Kedatangan Nikolai bersama Siera sontak memancing perhatian para karyawan yang berada sekitar lobby. Siera yang bingung hanya mampu menerka-nerka siapa sebenarnya sosok pria aneh yang mati-matian menginginkan dirinya.
"Bisa lepas aja gak?" tanya Siera yang merasa malu dan tak nyaman terhadap pandangan orang-orang yang menatap dirinya.
Gadis itu menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bagaikan tomat.
"Tidak! Kamu harus menempel seperti cicak denganku."
"Cicak? Apa tidak ada perbandingan yang lebih bagus daripada orang cicak. Dasar aneh!" Jawa. Siera ketus yang semakin memancing Nikolai untuk terus menerus menggodanya.
Keduanya pun berjalan tanpa melewati pemeriksaan khusus, dan menaiki sebuah lift yang diperuntukkan untuk para eksekutif.
__ADS_1
Kepemilikan penthouse mewah, mobil mewah, kekuasaan menyuruh orang untuk menemukan Velly dalam sekejap. Hal tersebut tentu saja menguatkan dugaan Siera yang menduga jika Nikolai bukanlah orang sembarangan.
Mereka pun sampai di lantai yang dituju. Suasana mewah yang terlihat elegan sontak menarik perhatian Siera pada dekorasi interior di lantai itu.
"Selamat Pagi, Sir?" ucap seorang wanita berpakaian formal yang Siera duga adalah seorang sekretaris. Disebelahnya terdapat pria yang wajahnya sudah familiar bagi Siera.
"Selamat Pagi, Bos dan Nona," sapa Tomi.
"Sediakan kopi dan teh, serta beberapa cake untuk Siera!" seru Nikolai kepada Tomi.
Pandangan pria berparas tampan itu kini beralih pada wanita yang berada di sebelah Tomi lalu memperkenalkan wanita itu kepada Siera.
"Siera, perkenalkan ini adalah Alisiya, sekretarisku. Jangan sungkan untuk meminta tolong bantuan apapun pada dirinya."
"Lalu Alisiya, mohon bantuannya. Perkenalkan Siera, calon istriku."
Kedua mata Siera membulat sempurna dan secara reflek siera mencubit pinggang Nikolai hingga pria itu sedikit meringis kesakitan.
Merekapun kembali melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan yang berada di samping meja kerja Tomi dan Alisiya.
Siera tersentak melihat ruang kerja Nikolai. Sebuah ruangan megah, bahkan memiliki kamar pribadi tempat beristirahat di dalamnya. Walaupun Ricky juga bukanlah orang sembarangan, tetapi tingkatan Nikolai benar-benar jauh berada di atas Ricky.
Gadis itu menatap tajam Nikolai untuk menuntut penjelasan, tetapi pria itu hanya terus tersenyum sambil mengusap-usap tengkuk lehernya.
"Coba jelaskan!" seru Siera, gadis itu duduk di sebuah sofa tanpa meminta izin terlebih dahulu dari pemilik ruangan, seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada seakan tengah mengintimidasi Nikolai.
Perlahan Niko duduk di sofa yang berada di hadapan Siera dan mulai menjelaskan identitas diri yang sebenarnya.
"Aku bukan siapa-siapa, aku hanya seorang CEO dari Krab dan juga BlueCar. Tapi walaupun begitu, aku sama sekali tidak ada maksud jahat mendekati kamu. Aku sama sekali tidak peduli jika kamu adalah adik dari Ricky ataupun bukan, karena bagiku bisnis ya bisnis, tidak ada sangku pautnya dengan urusan pribadi."
__ADS_1
Perhatian Siera tertuju pada papan nama serta jabatan yang berada di atas meja kerja Nikolai. Siera benar-benar tidak menyangka jika pria di hadapannya itu adalah sosok orang yang selalu membuat emosi Ricky terpancing. Masih sangat jelas diingatkannya bagaimana Ricky mengumpat, bahkan melakukan hal-hal kotor untuk menjatuhkan aplikasi Krab perusahaan itu
"Jadi, kamu," ucap Siera terputus. Gadis itu kembali mematung sambil menatap Nikolai. Semua ini benar-benar konyol hingga Siera berpikir jika semua hanyalah mimpinya belaka.
Selama ini dirinya bertanya-tanya akan sosok CEO Krab yang terkenal misterius, bahkan kekayaan yang dimiliki seakan membuat orang tidak percaya jika pria itu hanya sebatas CEO perusahaan transportasi online dan taksi konvensional.
"Ayahku bernama Maksim Alexei, presiden direktur dari Fast Air, serta pemilik saham Krab dan BlueCar."
"Hah!"
Siera terus saja membuka mulutnya, semua yang terjadi pagi itu telah mengguncang dirinya bertubi-tubi. Dirinya kini benar-benar merasa kecil di hadapan Nikolai, perusahaan start up milik kakaknya benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Nikolai walaupun hanya seujung kuku sekalipun.
"S-sudah cukup! Aku gak kuat lagi menerima lebih banyak lagi," ucap Siera sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Entah apa lagi yang akan dirinya ketahui tentang Nikolai, Siera sama sekali tidak bisa walaupun hanya sekedar membayangkannya.
***
"Kondisi Siena sudah jauh lebih baik, jika tetap stabil seperti ini maka Siena bisa pulang dari rumah sakit lebih cepat," ucap seseorang dokter setelah mengecek seluruh kondisi Siena.
Gadis itu terlihat sumringah, matanya bahkan berbinar-binar karena ingin segera menghirup udara luar ruangan.
Siena melirik ke arah tunangannya yang masih saja tampak serius memainkannya ponsel, seakan pria itu tidak memperdulikan apapun tentang progres kesehatannya.
Sejak ibunya menuntut untuk segeralah melangsungkan prosesi akad nikah, sikap Nuga memanglah sangat aneh. Pria itu semakin dingin bahkan lebih banyak termenung.
"Nuga! Nuga!" Siena berusaha memanggil calon suaminya tetapi Nuga masih saja bergeming, yang membuat gadis itu yakin jika pikiran Nuga tidak berada di tempatnya.
"Nuga!" panggilnya dengan suara lebih keras.
__ADS_1
Pria itu tampak terkejut lalu menoleh dan berkata, "Ya, Siera!"
...****************...