Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Kontrak


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Velly, Siera terus saja melamun. Dirinya tak habis pikir dengan sikap Ricky yang seperti seorang laki-laki pecundang tak bertanggung jawab.


Pada akhirnya Siera memilih melepaskan Velly, berusaha berdamai walaupun dirinya sudah hampir dicelakai oleh wanita itu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Nikolai sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya masih tidak menyangka, jika Ricky bisa berbuat hal demikian. Lantas bagaimana nasib anak itu, pasti sulit di cap sebagai anak haram seumur hidupnya," jawab Siera.


"Kamu tidak membenci wanita itu?" tanya Nikolai kembali.


Siera menghela napasnya lalu perlahan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


Sorot matanya tersirat beban perasaan yang kian menumpuk di dalam hatinya.


"Sudahlah, aku tidak ingin anak itu kehilangan orang tua satu-satunya. Bagaimana nasib dia jika Velly dipenjara? Toh aku juga baik-baik saja, anggap aja semua itu takdir agar kita bisa bertemu."


"Takdir, ya ... tidak buruk juga, lantas bagaimana jawabanmu? Mau tidak pacaran denganku?"


Sifat keras kepala yang dimiliki Nikolai cukup membuat Siera kehilangan alasan untuk kembali menolak, pria itu terlalu gigih hanya untuk mendapatkan sebuah status pacar sebatas kontrak.


Namun, satu yang masih mengganjal di hati Siera. Apakah tujuan Nikolai terus gigih hingga membantunya sejauh itu? Siera sama sekali tidak mudah mempercayai Nikolai, jika alasan di balik semuanya hanya karena Niko telah jatuh hati padanya.

__ADS_1


Bagi Siera alasan tersebut sangatlah konyol, dan tak bisa dicerna oleh akal sehatnya.


"Ya, sebelum itu kita buat perjanjian batasan terlebih dahulu, bagaimana?" tanya Siera setelah mempertimbangkan semuanya matang-matang.


Membuat pria itu tersenyum dengan sudut matanya yang melirik ke arah Siera.


"Baiklah, dengan senang hati."


Satu jam lamanya mereka mereka terjebak diperjalanan karena kondisi lalu lintas yang padat. Setelah melewati ujian kesabaran yang tiada batas, kini akhirnya keduanya telah sampai di unit penthouse milik Nikolai.


Keduanya duduk saling berhadapan, di ruang tamu tempat itu dengan sebuah pena dan selembar kertas yang tersedia di atas meja.


Nikolai tiada henti-hentinya tersenyum kepada Siera, tampaknya suasana hati pria itu benar-benar bahagia karena jawaban yang Siera berikan untuk dirinya.


"Lalu jangan berhubungan dengan siapapun sebelum masa kontrak berakhir!" sambung Siera kembali sambil terus berpikir, apa saja yang harus diberikan pada poin berikutnya.


Nikolai sama sekali tampak tak keberatan dengan semua syarat yang diberikan oleh Siera. Terutama syarat kedua, karena pria itu sama sekali tidak tertarik dengan wanita lain selain Siera seorang.


"Baiklah, aku sama sekali tidak keberatan. Apakah ada hal lain yang ingin di tambahkan?" tanya Nikolai.


"Aku ingin kamu jujur. Dari mulai latar belakang kamu sampai hal terkecil! Bukankah sebagai pasangan kita harus memahami satu sama lainnya. Saya hanya ingin itu saja, saya tidak menuntut apapun dari kamu."

__ADS_1


"Baiklah, kontrak akan berlangsung selama satu tahun kedepan dan bisa dibatalkan jika ada pihak yang merasa dirugikan. Sebelum itu kamu juga harus menerima semua fasilitas dariku, dan kamu bisa memperkenalkanku sebagai kekasihmu kemanapun. Aku hanya ingin kamu sesekali meluangkan waktu untukku, setidaknya membuatku merasakan ada tempat untuk bisa disebut rumah untuk bersandar," ucap Nikolai yang langsung disanggupi oleh Siera.


Keduanya saling membubuhkan tanda tangan di atas selembar kertas yang ditempelkan sebuah matrai. Keduanya kini bersepakat untuk berpura-pura menjadi sepasang kekasih di hadapan orang lain.


"Siera, lebih baik sekarang kamu istirahat. Besok aku ingin membawamu ke sebuah tempat, anggap saja sebagai awal mula perkenalan diriku yang benar," jawab Nikolai tersenyum.


Nikolai bangkit dari duduknya lalu meraih tangan Siera dan mengecupnya perlahan. Pria itu tersenyum melihat ekspresi Siera yang terkejut dengan apa yang baru saja di lakukan olehnya.


"Sampai jumpa esok hari, kekasihku yang cantik," ucap Nikolai tersenyum lalu berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan Siera yang masih mematung.


***


"Pokoknya pernikahan kalian gak bisa ditunda lagi. Undangan sudah di sebar dan Mami juga sudah mengatur semua yang belum sempat kalian urus."


Siena hanya diam sambil melirik ke arah calon suaminya saat sang ibunda bersikukuh untuk tidak mengulur lagi pernikahan yang sempat tertunda beberapa pekan.


"Tapi, Mih. Aku, kan gak tahu kapan kondisiku stabil. Masa iya aku memaksakan menikah saat lagi drop seperti ini," tolak Siena yang tidak setuju dengan pendapat ibunya yang sangat keras kepala.


"Tidak ada tapi-tapian! Kalau kamu masih belum stabil, kita lakukan akad disini saja. Mami sama sekali tidak mempermasalahkannya, bagi Mami cukup membuat kalian menjadi pasangan suami istri yang sah, agar tidak ada lagi yang bisa masuk ke dalam hubungan kalian," ucapnya sambil menekankan setiap perkataan yang terlontar dari mulutnya.


Ekor matanya melirik ke arah Nuga yang sedari tadi hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun, seakan mengetahui sesuatu tentang pria yang akan menjadi suami dari anak kesayangannya.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana dengan Siera? Aku ingin menikah disaksikan oleh Siera," lirih Siena sambil menundukkan kepalanya.


Wanita paruh baya itu menangkup wajah putri kesayangannya lalu berkata lembut, "Dia pasti tidak akan melewatkan momen bahagia saudari kembarnya. Dimana pun dia berada, pasti dia akan datang saat kau menikah, bukankah begitu, Nuga?"


__ADS_2