Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Ibu Mertua


__ADS_3

Suara pintu yang terbuka sontak membuat Siena tersentak dan menoleh. Dilihatnya sang suami yang muncul di baliknya, sambil berjalan sempoyongan dengan wajah memerah.


"Nuga!" seru Siena menghampiri Nuga lalu membantunya untuk berjalan ke atas ranjang.


Aroma alkohol yang menyengat terhirup dari mulut pria itu. Susah payah Siena membantu sang suami untuk duduk di tepian ranjang lalu melepaskan sepatu yang masih Nuga kenakan.


"Ya ampun, kamu minum?" tanyanya. Siena cukup terkejut dengan ulah Nuga saat itu, karena yang ia tahu, Nuga adalah sosok yang sangat menghindari minuman beralkohol maupun dalam kadar rendah.


Namun, Nuga masih saja terdiam tanpa mau menjawab satu katapun pertanyaan dari Siena. Rasa pengar seakan mendominasi dirinya, mengikis kesadarannya dan membuat dirinya bagaikan orang kehilangan kewarasan.


Nuga mengedipkan matanya beberapa kali lalu menoleh ke arah istrinya, sejenak pria itu terdiam seakan tengah mencerna sesuatu didalam pikirannya.


"Siera!"


Deg!


Jantung Siena seakan dihentikan secara tiba-tiba, saat sang suami mengira dirinya adalah sosok Siena


Pandangan mata Nuga terlihat lesu, menatap dirinya dengan putus asa.


"Siera, jangan tinggalkan aku. Kita sudah berjanji, kan! Kamu ingat, kan?" tanya Nuga seraya menggenggam tangan Siena.


Siena hanya terdiam tanpa berbicara sepatah katapun, lidahnya sakan kelu dan sulit digerakkan. Nuga terus menatapnya seakan tengah merindukan seseorang, membuat hati gadis itu terasa tercabik-cabik oleh pisau yang ia bawa sendiri.


"Nu-nuga, aku ...," ucap Siena menggantung.


Tiba-tiba saja Nuga mengerutkan keningnya, lalu mendorong tubuh sang istri hingga Siena terjatuh ke lantai.


"Sialan, kau bukan Siera!" serunya lalu kembali pergi meninggalkan Siena seorang diri.


Kepergian sang suami yang mabuk sambil terus mencaci maki, tentu saja menjadi sebuah pukulan berat bagi dirinya. Siena merasakan sosok Nuga yang ia kenal seketika berubah, seakan pria itu adalah dua orang yang berbeda.


Sementara Nuga terus berjalan sambil memegangi kepalanya yang terasa semakin berat dan berdenyut, hingga akhirnya ia pun memilih terduduk di depan lift dan kesadarannya pun tiba-tiba saja hilang begitu saja.


***


Siera perlahan membuka pintu kamarnya, gadis itu mengeluarkan sedikit kepalanya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri seakan tengah memastikan sesuatu.

__ADS_1


Kehadiran kedua orang tua Nikolai yang mendadak tentu saja membuat dirinya terguncang. Bahkan mata pada yang terlihat di wajah Siera, seakan mengatakan jika gadis itu tetap terjaga sepanjang malam.


"Hah, aman!" bisik Siera setelah menghela napasnya.


Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tetapi Siera sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Tidak lupa dia membawa tas yang berisikan beberapa baju miliknya, bermaksud untuk menginap di hotel untuk sementara, selama orang tua Nikolai masih berada di sana.


"Доброе утро (Dobroye utro)!"


*Selamat Pagi!


"Eh kodok moncrot!" seru Siera spontan karena rasa terkejutnya.


Baru satu langkah ia keluar dari dalam kamar, Anne tiba-tiba saja menghampirinya dan mengucapkan selamat pagi. Siera yang terkejut pun seketika menyentuh dadanya dengan napas terengah-engah, jantungnya terasa berdebar kencang dengan kedua lututnya yang terasa lemas secara tiba-tiba.


"Duh, maaf ya sudah buat kamu terkejut," ucap Anne sambil tersenyum.


"I-iya, Tante. Gak apa-apa," jawab Siera gugup.


Mendengar jawaban Siera membuat wanita paruh baya itu tertawa kecil. Lalu perlahan ia menepuk-nepuk lengan Siera.


"Tidak, panggil saya Mom!"


"Kalau begitu panggil saya Anne. Ayo, sekarang kamu pilih, mau panggil Mom atau Anne!" seru Anne.


Merasa tak ada pilihan lain, dibandingkan harus memanggil orang yang lebih tua dengan nama akhirnya Siera pun tersenyum dan menjawab, "Baiklah, Mom."


"Bagus, saya menyukainya. Oh ya, kamu mau kemana pagi-pagi seperti ini?" tanya Anne kembali.


"Saya m-mau berangkat kerja."


"Sepagi ini? Lebih baik kita sarapan bersama, kebetulan Mom mau masak untuk sarapan pagi. Kamu mau, kan?"


Tanpa menunggu jawaban dari Siera, Anne seketika mengaitkan lengannya pada lengan gadis itu. Dengan sumringah ia pun seakan menarik Siera menuju dapur yang terhubung langsung dengan ruang makan, membuat gadis itu tak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauannya.


"Duduk di sini biar Mommy yang masak!" titahnya sambil menunjuk salah satu kursi yang berada di meja makan.


Namun Siera merasa tidak enak hati, walaupun dirinya masih diliputi kecanggungan dan tanda tanya tetapi Siera pun memutuskan untuk berdiri lalu menghampiri Anne.

__ADS_1


"Biar aku bantu, Mom!"


"Sudah kamu duduk aja, cuma sarapan aja kok. Gak akan lama."


"Tidak, setidaknya aku bantu potong-potong sayur atau cuci piring." Siera bersikukuh membantu walaupun ia sadar akan kemampuannya untuk mengerjakan tugas di dapur. Anne yang melihat sikap Siera tampak tersenyum, wanita paruh baya itu sepertinya kian menyukai sikap Siera.


Sudah payah Siera berusaha membantu dengan kemampuannya yang pas-pasan. Cara dirinya memotong sayur terlihat begitu kaku, bahkan Siera sekali memecahkan sebuah piring saat berusaha mencucinya, tetapi semua kesalahannya itu malah membuat gadis itu terlihat imut di mata ibu dari Nikolai.


"Selamat pagi, wah menu sarapan spesial ini!" seru Nikolai yang baru saja datang, di susul oleh sang ayah yang berada di belakangnya.


Kedua orang pria berbeda usia itu mulai duduk di depan meja makan, sambil menyaksikan Siera yang berusaha meletakan hidangan yang sudah matang di atas meja makan.


"Kamu masak?" tanya Nikolai.


Siera hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan Nikolai hingga pria itu pun kembali berkata, "Gak kebanyakan garam plus ekstra cangkang telur lagi kan?"


"Aduh!"


Nikolai menjerit saat tiba-tiba Siera sengaja menginjak kakinya karena telah bicara sembarangan. Kedua matanya pun melotot ke arah Nikolai dan membuat kedua orang tua Niko hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku jahil Nikolai.


"Tarik saja telinga anak nakal itu!" celetuk Anne.


"Mom, teganya. Yang anak Mommy aku apa Siera sih?" tanya Niko sambil memajukan bibirnya, seolah tengah merajuk dengan perkataan sang ibu yang mendukung Siera untuk menghukum dirinya.


"Siera lah, kamu siapa?"


"Teganya."


Gelak tawa menghangatkan suasana di ruangan yang biasanya terasa sunyi. Walaupun baru mengenal orang tua Nikolai, sejujurnya Siera merasa nyaman dibanding saat dirinya bersama dengan keluarganya sendiri.


Sifat dan sikap Anne yang lembut dan hangat membuai hati nurani gadis itu, membawa Siera dalam kenyamanan kasih sayang yang tidak pernah ia rasakan dari figur seorang ibu di dalam hidupnya.


Siera cukup menikmati, setiap detik kebersamaan mereka walau dirinya masih terlihat canggung.


"Semalam Niko sudah menjelaskan situasi kalian berdua," tutur Anne tiba-tiba setelah ia sudah menyelesaikan sarapannya.


Perhatian Siera pun kembali tersita, dan menatap lawan bicaranya dengan seksama.

__ADS_1


"Kami sudah memahami alasan kamu tinggal di sini dan kami tidak mempermasalahkannya. Jadi, setelah berdiskusi kami ini bertanya pada kalian berdua. Kapan kalian akan menikah?"


"Hah!"


__ADS_2