
Andre berjalan menghampiri istrinya yang sudah menutup panggilan teleponnya. Ia duduk bersimpuh di depan istrinya yang duduk sambil menangis.
"Daddy gak sayang Mommy lagi, hiks ... Jangan pegang-pegang!" Ucap Jessica yang menangis dan menjauhkan tangan Andre yang ingin menyentuh perut buncitnya.
"Daddy sayang Mommy, sayang banget. Daddy minta maaf ya, Daddy ngaku salah," jawab Andre yang malah meletakkan kepalanya di paha Jessica.
Andre melirik tajam Bayu yang sedang mengelus-elus pundak Nayla. Seakan sedang menenangkan Nayla yang ia katakan sedang menangis.
"Aku tak percaya istri jailmu itu menangis, pasti dia sedang mertawakan ku dibalik persembunyiannya itu," gumam Andre di dalam hatinya.
Ia patut tak percaya dengan apa kata Bayu yang selalu membela kesalahan istrinya. Istrinya itu sangat pandai memompa amarah Jessica pada dirinya.
Nayla selalu membanding-bandingkan suaminya dan dirinya, juga dengan Jimmy. Hal itu ia lakukan hanya untuk membuat Jessica dan Endah iri, karena Nayla tahu mereka pasti menginginkan hal yang sama yang dimiliki dirinya.
Sebuah contoh sederhana adalah ruang kerja Bayu yang sudah berubah seperti taman bermain. Jessica dan Endah pun sudah merubah ruang kerja suaminya dengan hal yang serupa, guna mempersiapkan ruangan itu untuk anak mereka nantinya.
Nayla sering bicara seakan suaminya adalah suami yang paling sempurna di dunia ini, padahal kenyataannya tidak juga seperti itu. Membuat Andre dan Jimmy dihadapkan dalam situasi para istri yang merajuk adalah suatu kesenangan tersendiri bagi Nayla saat ini. Tak hanya Nayla yang bahagia melihat penderitaan Andre dan Jimmy tapi suami tercintanya juga berbahagia.
Bagaimana tidak, di saat dirinya stress memikirkan permintaan aneh Andre padanya mengenai proyek kerja sama mereka. Istrinya mengambil peran membalas kekesalan dan kestressannya menghadapi pengusaha nomor satu di negri ini yang tidak bisa menerima penolakan.
Tak lama berselang, suara pintu di buka dengan kasar, hingga daun pintu itu lepas dari enselnya.
Brak!! [Suara daun pintu terlepas]
Semua mata mengarah pada dua sosok pria tampan yang berdiri di ambang pintu. Mereka terperangah dengan pintu yang jatuh karena ulah mereka.
"Copot Jim," ucap Leon saat melihat daun pintu terlepas
"Biarkan dari pada gigiku yang copot di tinju adik mu," balas Jimmy yang langsung memindahkan pandangannya ke arah dimana Endah kini tengah berdiri dan bertolak pinggang.
"Masih inget punya istri, Pah?" Pekik Endah tak lagi mengenal tempat.
__ADS_1
Bagaikan ayam sayur, Jimmy menjawab pertanyaan istrinya dengan suara yang menggelegar bagaikan petir itu hanya dengan suara yang datar dan terkesan lembut.
"Masih Mah," jawab Jimmy yang melangkah dengan ragu mendekati istrinya.
Bayu menahan tawanya dibalik wajah tanpa ekspresi yang sekarang ia tunjukkan. Jimmy yang terkenal berdarah dingin, kini terlihat jelas di matanya. Sekarang ia hanya menjadi kucing anggora peliharaan seorang ibu hamil, yang jika marah sudah nampak seperti singa betina mengaung saja.
Sedang Nayla yang bersembunyi di balik dada bidang suaminya, sedikit mengintip ekspresi lucu Jimmy yang takut menghadapi Endah. Di dunia ini tak ada satu orang pun yang Jimmy takuti kecuali Endah dan sekarang bertambah satu Nayla. Ia takuti mulut Nayla yang selalu menjadi racun dan kompor meleduk di rumah tangganya. Ia tak bisa melakukan apa-apa pada Nayla karena Endah selalu membelanya.
"Rasakan, inilah akibatnya jika menggunakan kekuasaan mu dan membuat orang lain dirugikan. Memangnya enak dibuat menunggu dua jam lebih seperti ini. Ini baru aku yang bertindak, belum orang lain di luar sana yang pastinya sidah mendoakan yang tidak-tidak pada kalian," gumam Nayla di dalam hatinya.
"Anna, Mas Leon bisa jelaskan sama kamu sayang," ucap Leon yang sudah berdiri di samping Anna.
Tepatnya berdiri diantara sofa yang diduduki Nayla dan Anna. Jika kalian bertanya dimana Sultan. Ia sudah bersama Suster Marni dan Pak Jono di mobil. Dia sudah bosan menunggu hingga tertidur.
Anna tak menanggapi ucapan suaminya, ia sudah dalam mode diam, membisu.
"Mama sayang, jangan marah! Mama kan tahu perkerjaan Papa ini hanya seorang jongos adik ipar mu itu." Ucap Jimmy yamg berusaha membela dirinya dengan melimpahkan kesalahan pada Andre seperti biasanya.
Melihat suaminya dipelototi adik iparnya. Endah langsung membalas memelototi Andre. Membuat Andre segera mengadukan pada istrinya.
"Mommy sayang, jangan nangis terus! Lihat Daddy di kambing hitamkan oleh Jimmy dan sekarang kakak mu itu melototi Daddy, Mom," adu Andre pada Jessica.
Seketika Jessica menghentikan tangisanya dan mengusap kasar air matanya. Ia balik memelototi Endah dan Jimmy yang berdiri tak jauh darinya.
"Apa-apaan keluarga ini, seperti kumpulan anak kecil saja, beginikah sifat asli mereka jika bersama, bukan seperti yang dikatakan orang-orang kalau mereka ini menakutkan." Gumam Bayu yang aneh melihat kelakuan teman bisnisnya.
Tak lama berselang Dokter Nisa datang bersama seorang perawat. Ia memandang sedih pintu ruang prakteknya yang lepas dari enselnya.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya maaf lama menunggu, tadi saya ada urusan sebentar," sapa Dokter Nisa berbohong.
"Tidak usah bohong Dokter Nisa, kami sudah tahu kebenarannya, kalau Amda dilarang datang sebelum ketiga suami kami tiba bukan?" seloroh Anna yang menimpali sapaan Dokter Nisa. Ia kemudian mendongakkan pandangannya, guna melihat Leon yang juga tengah melihatnya.
__ADS_1
"Maaf, Papi janji gak akan ngulangin lagi," ucap Leon yang malah membuat Anna membuang mukanya.
Seolah dibuat bingung dengan suasana di ruang tunggu prakteknya, dan dia pun tak berani untuk menjawab timpalan Anna. Dokter Nisa pun hanya bisa saling bertukar pandangan dengan Suster Santi, asistenya.
Untuk mempersingkat waktu, ia pun segera mempersilahkan nomor urut satu untuk masuk terlebih dahulu. Ia tak berani langsung mempersilahkan Jessica masuk terlebih dahulu, ia takut salah bicara dan seakan terlalu memprioritaskan istri pewaris rumah sakit ini, padahal ada cucu pemilik rumah sakit ini yang juga ada di sini.
"Silahkan nomor urut satu boleh langsung masuk," ucap Dokter Nisa mempersilahkan.
Nayla masih sengaja menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang suaminya, hingga Jessica menyuruhnya untuk masuk terlebih dahulu, padahal Andre sudah berdiri dan siap membawanya keruangan periksa.
"Nay, cepat masuk duluan, kasian calon menantu ku terlalu lama menunggu di parkiran," perintah Jessica yang membuat Nayla keluar dari persembunyiannya.
"Makasih Jessica, kamu memang calon besan yang sangat baik dan pengertian," balas Nayla dengan senyum ramahnya.
Jangan tanya bagaimana tatapan ketiga calon hot papa ini melihat Nayla, tajam itu mungkin hal biasa, ini lebih dari sekedar tatapan tajam. Seolah tak perduli dengan tatapan yang diberikan ketiga suami teman barunya ini, Nayla beranjak dari sofanya dan menarik tangan suaminya untuk ikut masuk ke dalam.
"Dasar pentol korek," gumam Andre dan Jimmy di dalam hatinya.
Saat mereka menyadari tak melihat sedikit pun tanda-tanda jika Nayla habis menangis karena menunggu terlalu lama.
"Sialan Bayu dan istrinya sama saja," umpat Andre dan juga Jimmy lagi.
"Lihat saja pembalasan ku nanti pentol korek, aku tak akan membalas pada mu sekarang, tapi akan aku balas nanti, pada anak mu yang ingin dijadikan menantu oleh istriku. Hehehe... Kali ini aku biarkan kau menang, anggaplah kau sedang menabung penderitaan putra sambung mu nanti," gumam Andre sembari menyunggingkan senyumnya.
Sedangkan Jimmy malah mengusap perut Endah, ia berharap tak akan berjodoh dengan anak yang dikandung Nayla sekarang. Ibunya saja sudah menyebalkan apalagi anaknya nanti.
"Jangan sampai para jagoan ku nanti tak ada yang berjodoh dengan keturunan si pentol korek itu," ucap Jimmy pelan yang mengelus perut Endah.
"Jangan harap aku akan mengabulkan doa mu Papa, aku sudah janjian dengan Nayla, jika anak yang di kandung Nayla itu perempuan, anaknya sudah aku tap jadi menantuku." Ucap Endah yang membuat tubuh Jimmy sempoyongan.
"Tidak, ini tak bisa dibiarkan." Batin Jimmy yang tak terima.
__ADS_1