
"Mas ih, semangat dong kalau dipanggil sama istri tuh. Jangan lemes ga bergairah kaya gitu sih! Kamu kayanya gak suka banget ya, aku hamil? Emamg benar nih kamu gak cinta sama aku, cuma kasihan," gerutu Nayla yang mulai dengan kesensitifan pada umumnya, yang biasa dialami oleh ibu hamil.
Nayla nampak memajukan bibirnya dengan kedua tangannya yang ia lipat di depan dadanya. Ia menatap kesal wajah suaminya yang sudah merasa serba salah dengan apa yang dia lakukan kini, karena apapun yang dilakukan semuanya sudah dianggap salah dan tak ada benarnya sama sekali di mata sang istri.
"Siapa yang bilang gak suka sih sayang? Kamu tuh, jangan menilai Mas seperti itu! Mas cinta sama kamu, masa harus tiap detik Mas bilang cinta sama kamu?" Ucap Bayu yang duduk di tepi ranjang istrinya, mengambil kedua tangan Nayla yang dilipat dang istri di depan dadanya sendiri. Bayu menggengam tangan sang istri yang tengah merajuk padanya.
"Mas tuh senang banget kamu hamil, sayang. Di dunia ini gak ada suami yang gak senang istrinya hamil," ucap Bayu yang menatap wajah istrinya penuh cinta namun dibalik tatapan penuh cintanya itu terselip rasa kecemasan pada dirinya. Karena ia tahu sang istri memanggil dirinya pasti ada maunya.
"Gak semua laki-laki senang istrinya hamil. Buktinya ada kok Mas, suami yang gak suka istrinya hamil," sahut Nayla yang bicara ketus pada suaminya.
"Masa sih? Ada suami macam begitu, sayang. Kalau pun ada, dimana suami macam itu berada?" Tanya Bayu tak percaya.
"Adalah buktinya nih, disini. Di depan aku salah satunya," jawab Nayla demgan tuduhannya seraya menunjuk Bayu dengan bola matanya yang membola.
"Hah? Maksud kamu Mas gitu?" Tanya Bayu yang tak menyangka Nayla menilainya seperti itu. Bayu terdiam sesaat menatap wajah Nayla pernuh arti. Kesal, marah dan tak terima tentu saja Bayu rasakan saat ini, tapi dia Lagi-lagi tak bisa meluapkan amarahnya pada Nayla.
"Heem, lihat aja tadi, dipanggil istrinya lagi bunting saja, jalannya udah kaya kura-kura, mau-mau nggak-nggak," jawab Nayla yang terlihat kesal tak hilang-hilang dengan suaminya.
"Asal kamu tahu sayang, aku senang kamu hamil, tapi aku sepertinya tak sanggup dengan ngidam mu nanti, karena feeling ku berkata, semua permintaan mu nanti akan ada diluar nalarku," batin Bayu yang sedang menatap Nayla penuh arti.
"Mas ngapain ih, ngeliat aku kaya gitu? Ilfil ya? Istrinya botak udah kaya tuyul. Aku kaya gini juga karena kamu tahu gak. Jadi terima aja sih nasib punya istri berkepala tuyul." Protes Nayla yang kesal, kemudian menghempas kedua tangan Bayu yang tengah menggenggam kedua tangannya begitu saya.
"Ya Tuhan, ini bawaan hamil atau bagaimana? Aku harus bagaimana Tuhan? Tolong beri hamba stok sabar yang berlipat ganda. Pastinya dari hari kehari, istriku ini sifat menyebalkannya akan semakin menjadi-jadi," batin Bayu yang memanjatkan doa pada sang Kuasa agar diberikan kesabaran berlipat ganda.
"NAY!! Udah dong sayang, jangan berprasangka buruk sama Mas begitu, Mas gak pernah ilfil sama kamu, kalau kamu kaya gini terus, sensitif dengan rambut. Mas botak juga aja deh, biar kita sama-sama jadi tuyul. Kalau perlu Sultan akan aku buat botak juga, biar lengkap sudah keluarga kita, jadi keluarga tuyul," Omel Bayu yang membuat Nayla tersenyum senang sendirian.
__ADS_1
Imajinasinya sudah bermain-main di dalam pikirannya. Ia sudah membayangkan mereka bertiga botak bersama dan ditambah Amel.
"Kepala kita berempat dikasih kecap sama saos jadi cilok dong hahaha... lucu," batin Nayla yang membuatnya tak bisa lepas dari senyumnya sendiri.
Alih-alih mencaram apa yang di ucapkan Bayu, Nayla malah mendukung niat suaminya itu.
"Nah gitu, sportif dong, masa kalah sama Amel, dia aja botak demi aku, masa Mas suami aku enggak sih, kalau cinta itu harus rela berkoban Mas," ucap Nayla dengan senyum bahagianya yang membuat Bayu menghela nafas panjangnya, menyesali apa yang ia katakan barusan.
"Iya rela berkorban menahan malu," sahut Bayu dalam hatinya. Ia tak berani menyahuti ucapan sang istri secara langsung. Bisa perang dunia ketiga jika Nayla disahuti seperti itu.
"Udah gih sana pergi! Pangkas rambutnya, sekalian sama Sultan, habis itu bawa anak kita kesini ya, aku kangen. Tapi sekalian ya Mas, bawain bakso yang dekat pengkolan rumah kita ya Mas? Bawa tiga bungkus ya sayang, dua bungkus pedas, pakai mie capur dan satu lagi bakso bening, mienya pakai mie kuning aja,ya Mas?" ucap Nayla lagi.
"Buat siapa beli bakso sampai tiga bungkus sayang, kitakan cuma berdua?" Tanya Bayu yang merasa heran dengan banyaknya bakso yang dipesan Nayla.
"Ya gak harus dua bungkus juga sayang?" Sanggah Bayu.
"Udah deh Mas, jangan pelit sama anak istri! Kerja buat siapa sih kalau bukan buat anak dan istri. Beli bakso lebih satu porsi aja udah kompline, apalagi minta yang lain aku, pasti udah di gantung di pohon toge," omel Nayla dengan kesensitifannya.
"Kamu tuh sekarang sudah persis seperti macan betina, galak gak ketulungan Nay," sahut Bayu yang mulai terpancing emosinya.
"Udah deh Mas, gak usah protes Mas. Cepetan ya Mas beli baksonya, soalnya Nay udah laper banget nih, udah dua hari berturut-turut gak makan rasanya kaya gini banget ya, perut?" Timpal Nayla yang tak terima diprotes oleh Bayu.
"Kamu gak inget sama Mas, Nay? Kamu cuma pesenin buat Sultan aja, sedang Mas enggak?" Tanya Batu yang seakan cemburu dengan putranya sendiri yang selalu diingat Nayla.
"Kan kamu yang beli, jadi kalau kamu mau, kamu tinggal pesen sendiri aja Mas," jawab Nayla yang ada benarnya, tapi malah terkesan mengabaikan Bayu.
__ADS_1
"Tega kamu Nay," gumam Bayu yang beranjak pergi dengan lirikan matanya yang kecewa pada Nayla.
"Jangan lebay gitu Mas! Gak pantes banget ngatain istri sendiri dengan sebutan lebay," ucap Nayla yang membuat Bayu mencebik bibirnya.
Bayu pergi meninggalkan Nayla sendiri di ruang rawatnya, tanpa ada satu pun orang yang menemaninya. Karena kedua orang tuanya masih ada di ruang rawat Silvi, kakak iparnya.
Bayu segera melajukan mobilnya ke arah kediamannya. Ia dapati Sultan tengah bermain dengan legonya di ruang keluarga.
"Sultan," panggil Bayu pada putranya.
Sultan menoleh dan berlari berhamburan ke arah Bayu yang tengah berjongkok tak jauh dari keberadaannya.
"Papi, kok udah pulang? Mami mana?" Tanya Sultan setelah melepaskan pelukkannya dari Bayu.
"Masih di rumah sakit," jawab Bayu singkat sembari membelai rambut pendek milik putranya.
"Terus kenapa Papi pulang? Kasian Mami sendirian di sana Pih," balas Sultan yang mengkhawatirkan ibu sambungnya.
"Papi ke sini mau jemput kamu, katanya Mami kangen,"
"Benar Pih, mami kangen sama Sultan?" Tanya Sultan tak percaya.
"Iya sayang benar, buat apa Papi bohong, Sultan mau ikut ke rumah sakit sama Papi kan?" Jawab Bayu yang menanyakan kesediaan putranya untuk ikut kerumah sakit dengannya.
"Mau Pih, tapi besok Sultan harus sekolah dan sekarang sudah malam," terang Sultan yang malah mengingat Bayu, jika saat ini sudah malam dan mereka akan tiba dirumah sakit lebih malam dari malam ini.
__ADS_1