
Berita mengenai Leon jatuh sakit cepat tersebar di antara ke tiga hot papa lainnya. Itu karena tuan Santoso menghubungi Andre sesuai permintaan Sang Putri, agar dirinya meminta bantuan Andre dalam menangani bisnisnya. Rupanya Tuan Santoso sudah ingin pensiun untuk tidak menangani secara langsung semua bisnis-bisnisnya, seperti kakaknya, Tuan Brata. Andre dengan senang hati membantu adik Daddynya itu.
Andre langsung saja mengabarkan berita jatuh sakitnya Leon pada sang istri, Jessica. Jessica langsung menghubungi Kakak perempuannya, Endah. Mereka saling ber- estafet memberikan kabar buruk mengenai kondisi jatuh sakitnya Leon.
Rupanya saat Jessica memberitahukan kabar mengenai jatuh sakitnya Leon, Endah sedang berada di kediaman Nayla dan baru sajaj menyelesaikan sholat Dzuhur berjamaah bersama Nayla dan Amel.
Endah langsung saja mengajak Jessica untuk melihat kondisi Leon di mansionnya, mereka berjanji untuk bertemu dalam waktu 10 menit lagi di mansion Leon dan Anna. Tak lupa Endah juga mengajak Amel yang juga ada di sana untuk menengok keadaan sang kakak. Endah mengajak Amel yerlebih dahulu karena posisi Amel bersebelahan langsung dengan dirinya.
Nayla yang baru saja menyelesaikan perintah suaminya untuk berdzikir setelah sholat, belum sempat melepaskan kain mukena yang ia pakai, langsung ditarik oleh Amel dan Endah untuk menjenguk Leon di kediaman Leon dan Anna. Keduanya pun belum melepas mukena yang mereka kenakan.
Rasa khawatir Endah dengan Leon yang terlalu berlebihan, hingga membuatnya lupa untuk membawa kedua anaknya yang tengah asyik bermain dengan anak-anak Nayla untuk ikut bersamanya.
"Ada apa sih buru-buru banget, kita mau ke mana gue belum sempat buka mukena nih, lo juga? Awas ya mukena gue kalau gak dibalikin! Mukena baru tuh. Baru dibeliin suami gue. Biar gue rajin sholat." Tanya Nayla pada Endah dan juga Amel.
Keduanya bedecak sebal dengan tingkah pelit dan perhitungan Nayla, jika barang pemberian suaminya di pinjam oleh mereka.
"Pelit banget sih lo. Ntar gue gati setoko. Bang Leon sakit tau gak loh. Urgen!" Jawab Endah singkat.
"Sakit?? Bisa sakit juga dia. Sakit apa? Sakit keras ya? Innalilahi---" ucap Nayla yang langsung mendapat tabokan dari Amel.
Plokk! [Satu pukulan mendarat di jidat Nayla yang sedikit lebar].
"Belum meninggoy Nay, parah lo ya kalau ngomong."
"Eh kok parah sih? Benarlah, kata Pak Ustadz Bayu. Kalau dapat kabar tidak baik itu gue suruh bilang itu."
"Hahahaha.... Suami lo mantan Dosen Nay bukan Ustadz." Seloroh Endah yang tertawa karena Nayla menyebut nama suaminya dengan embel-embel Ustadz.
"Hehehe... Bagi gue dia itu segalanya. Ya Dosen, pengusaha, ustadz dll." Sahut Nayla.
"Pokoknya suami lo paket komplit ya?" Timpal Amel menambahkan.
"Hooh Anda benar, kakak ipar." Sahut Nayla dengan senyum jumawanya, sembari menunjuk-nunjuk Amel dengan kedua jari telunjuknya, seperti adegan orang yang sedang menembak.
Piuh...piuhh....
Tak sampai lima menit, ketiganya sampai di kediaman mewah Leon dan Anna. Rupanya Jessica sudah sampai, tanpa membawa kedua anaknya pula. Jessica sedikit menyernyitkan kedua alisnya saat melihat penampilan ketiganya sungguh berbeda. Ingin sekali ia bertanya tentang penampilan mereka namun rasa khawatir terhadap Leon yang begitu besar, membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya pada ketiganya mengenai penampilan mereka.
__ADS_1
Keempat wanita ini pun masuk ke dalam mansion Leon, menggeruduk mansion itu dengan tiba-tiba. Anna yang tengah berada di kamar kedua putranya tidak tahu menahu dengan kedatangan keempat wanita yang suka berbuat onar ini.
Endah dan Jessica langsung saja masuk ke dalam kamar sang Kakak. Dilihatnya oleh mereka, Leon sedang tertidur dengan wajah yang terlihat pucat. Keduanya langsung berhamburan memeluk Leon yang tengah tertidur pulas. Keduanya menangis histeris melihat Leon begitu pucat pasi seperti orang yang ingin meninggal.
Melihat kedua temannya menangis. Nayla langsung mendekati ranjang tersebut bersama dengan Amel. Nayla dengan sigap memimpin doa dengan suara yang cukup keras, dan diikuti oleh Amel yang terus mengaminkan doa Nayla.
Leon yang merasa tak bisa bernafas karena pelukan Jessica dan Endah, serta suara bising antara suara tangisan bercampur dengan lantunan doa pun akhirnya terbangun dari tidurnya. Ia mendapati kedua adiknya tengah menangisinya, di tambah ia melihat dan mendengar suara Nayla dan Amel yang tengah mendoakan dirinya.
Leon berpikir dirinya sudah benar-benar tiada. Pasalnya pakaian Amel, Nayla dan Endah semua serba putih.
"Oh ya Tuhan, apa aku benar-benar sudah meninggal?" Leon bermonolog pada dirinya sendiri.
Leon ingin berusaha bangun dari posisi tidurnya, namun ia tidak bisa. Sebenarnya dia tidak bisa karena kondisinya yang lemah. Tapi dia menganggap dirinya benar-benar sudah tiada hingga ia tak bisa memiliki daya dan upaya untuk bangkit dari posisinya.
Leon pun akhirnya menitikan air mata. Leon tak menyangka umurnya sependek ini. Ia sedih meninggalkan kedua putranya yang belum genap berusia satu tahun. Ia menyesali kegilaannya dalam bekerja, hingga membuatnya mati muda.
Suara isak tangis Leon yang cukup kencang. Membuat Jessica dan Endah yang menangis pun berhenti, begitu pula dengan Amel dan Nayla yang tengah melantunkan doa.
Jessica dan Endah melepaskan pelukan mereka dan menatap aneh pada Leon yang tengah menangis dengan mata terpejam.
"Bang! Bang Leon!" Panggil Jessica sembari menghapus air mata Leon.
"Abang kenapa nangis juga ihhh?" Tanya Endah yang reflek mencubit pinggang Leon.
"Auuu... Kok sakit?" Tanya Leon yang berpikir dirinya telah tiada.
"Ya iyalah. Dicubit sakit masa enggak. Jangan bilang Abang mikir Abang udah meninggoy?" Tebak Endah. Ia menarik sedikit alisnya kebelakang, jika bemar tebakannya demikian ia sungguh tak menyangka, jika Abangnya yang galak dan rese iti ternyata takut mati hingga menangis seperti tadi.
Mendengar perkataan Endah, Leon pun sadar jika dirinya masih hidup belum meninggal. Tapi kenapa kedua adiknya menangis sehisteris itu dan kedua teman lucnut mereka malah mendoakan dirinya seakan dirinya adalah seorang jenazah.
Leon segera bangun dari posisinya. Ia duduk bersandar dengan sandaran ranjang. Ia menatap singit kumpulan wanita hiperbola di hadapannya lalu berteriak memanggil istrinya.
"BUNDA!!! ANNA!!" Pekik Leon berulang-ulang kali, hingga Anna datang menghampirinya.
"Apa sih manggil teriak-teriak? Disuruh tidur juga----"Omel Anna pada Leon dan terhenti karena melihat keberadan kedua adik iparnya dan kedua temannya.
"Hei, kalian ngapain?" Pekik Anna dengan tampang judesnya.
__ADS_1
Ia menyadari bahwa istirahat suaminya terganggu larena kehadiran mereka.
"Nengokin." Jawab Nayla deng polosnya, berani-beraninya ia menjawab Anna yang tengah menunjukkan taringnya.
Endah dan Jessica tak berani menjawab karena ia tahu karakter sahabat sekaligus kakak iparnya itu, dia memang jarang marah bahka hampir tidak pernah marah tapi kalau sudah marah. Dunia akan dibuat terbaik oleh dirinya.
Belum sempat Anna berkata-kata. Leon dengan cepat kilat mengadukan aoa yang dilakukan mereka pada dirinya.
"Bunda, kedua adikku ini menangisi Ayah, seperti Ayah sudah meninggal saja, ditambah lagi Amel dan Nayla mendoakan Ayah seperti pelayat yang sedang mendoakan jenazah." Adu Leon dengan apa yang ia rasakan tadi.
"Ekhmmmm....." Anna berdeham sembari berkacak pinggang. Setelah mendengar aduan suaminya.
"Jessica, Endah. Turun!" Perintah Ann dengan mata yang membola sempurna.
Tanpa kata-kata Endah dan Jessica turun dari ranjang tidur kakaknya itu.
"Keluar kalian, sebelum aku buat kalian jadi rujak be-bek!" Ancam Amel yang mengusir keempatnya dari kamar pribadinya.
"Anna sangar juga." Bisik Nayla pada ketiganya saat keluar dari kamar Leon dan Anna.
"Banget! Dia itu lebih sangar dari Endah sebenarnya. Cuma dia tipe cewek jaga image aja." Sahut Jessicayang membenarkan ucapan Nayla
"Lagian lo berdua kenapa doain Bang Leon kaya gitu sih?" Tanya Endah yang terkesan menyalahkan Nayla dan juga Amel.
"Doain apaan sih, gue cuma baca surat alfatihah sama doa keselamatan dunia da akhirat aja kok." Balas Nayla yang diiyakan oleh Amel.
"Eh tapi kenapa Bang Leon nangis sedih banget gitu ya? Ngira dirinya benaran meninggal? Jangan-jangan dia ngerasa bersalah dan menyesal terlalu sibuk sama kerjaannya?" Tanya Endah yang merasa keheranan.
"Iya, bisa jadi begitu. Soalnya tadi suami gue bilang pekerjaan Bang Leon dari Om Santoso dilimpahkan ke suami gue, karena Anna udah marah-marah sama Om Santoso. Dia udah mengeluarkan kata titik gak pakai koma." Sahut Jessica yang menjawab sesuai informasi yang ia dapatkan dari Andre, suaminya.
"Wadaw... Wadidau... Pantes aja dia ngomel-ngomel begitu. Bakal lama deh tuh emosi ilangnya. Jangan dekatin Anna sama Bang Leon dulu deh, pura-pura ga kenal. Pura-pura ilang ingatan ah... Daripada kena semprot." Tukas Endah yang hapal betul taniat Anna yang sulit untuk meredam emosinya kalau sudah berapi-api seperti ini.
Sementara di kamar. Anna dan Leon. Leon tengah memeluk Anna tanpa mau melepasnya. Ia benar-benar takut mati dan berpisah dengan Anna, yang kini menjadi cinta matinya.
"Ayah, lepas! Bunda mau nidurin anak-anak dulu." Ucap Anna sembari berusaha melepaskan pelukan Leon yang membuatnya gerah dan sulit bernafas.
"Mereka bawa ke sini saja Bunda. Kita tidur sama-sama ya." Pinta Leon tanpa melepas pelukannya.
__ADS_1
Anna pun mengangguk, menyetujui permintaan suaminya yang tiba-tiba berubah lengket pada dirinya ini.