
"Tak kusangka, aku akan bertemu denganmu hari ini, setelah sekian lama kita tak bertemu Leon." Ucap Andi yang berjalan mendekati teman lamanya Leon.
Andi mengulurkan tangannya mengajak Leon untuk berjabat tangan. Namun alih-alih uluran tangannya itu disambut oleh Leon, Leon malah pergi menjauh dari dirinya. Ia menarik Anna yang tengah berdiri bersama dengan Zahra.
"Ayo bunda sudah malam sudah waktunya kita untuk istirahat,"ajak Leon pada istrinya.
Anna hanya bisa mengikuti langkah Leon yang menarik tangannya pergi dari mereka.
"Ayah apa kau mengenal mereka?" Tanya Anna ketika mereka sudah berada di dalam unit apartemen mereka.
"Bisakah kita duduk dulu atau ganti baju dulu baru Bunda bertanya pada Ayah tentang mereka." Pinta Leon yang langsung meninggalkan Anna menuju kamar tidur mereka.
Leon seperti menghindari Anna untuk menanyakan tentang mereka. Anna tetaplah Anna. Dia akan mengecar Leon sampai ia mendapatkan jawaban yang ingin dia dengar.
"Ayah, kenapa ninggalin Bunda begitu saja. Apa susahnya jawab pertanyaan Bunda? Apa sebenarnya Ayah sedang menutupi sesuatu dari Bunda?" Tuduh Anna pada sang suami.
Leon yang sedang mengganti pakaian langsung menghentikan aktivitasnya, ia melirik tajam sejenak wajah sang istri yang mulai mencurigai dirinya.
Leon menghela nafasnya dalam-dalam. Beginilah suratan takdir. Meski Jessica berusaha menutupi akan hal ini dari Ana, tapi Anna mengetahui akan hal ini dengan jalan yang berbeda.
"Laki-laki itu adalah Andi mantan teman baikku saat aku duduk di bangku SMA dan yang wanita adalah Zahra mantan kekasihku, yang menghilang seperti ditelan bumi setelah hari kelulusan kami." Jawab Leon jujur, ia tak mau membohongi ataupun menutupi segala sesuatu pada Anna, yang akan menjadi dampak buruk bagi dirinya dan juga orang lain. Orang lain yang dimaksud oleh Leon adalah Zahra.
"Mantan? Bukankah mantan pacarmu hanya Kiara, Ayah?" Tanya Anna yang hanya mengetahui Kiara-lah satu-satunya mantan dari Leon.
"Tidak sayang, sebelum ada Kiara di hatiku ada Zahra yang mengisi hari-hariku di masa SMA ku dulu." Jawab Leon dengan jujur lagi.
"Apakah dia cinta pertamamu ayah?" Tanya Anna yang kini menggenggam kedua tangan Leon, seakan meminta Leon untuk berkata jujur kembali tentang perasaannya kepada dirinya.
"Iya dialah cinta pertamaku, aku sudah melupakannya, tidak ada lagi dia di kehidupanku, yang ada di kehidupanku sekarang dan nanti hanyalah dirimu Bunda Anna." jawab Leon dengan tegas namun suaranya sedikit bergetar.
Leon masih berusaha meyakinkan istrinya yang hatinya tengah goyah, karena mengetahui dengan mata kepalanya sendiri Leon bertemu dengan cinta pertamanya kembali. Anna bukanlah wanita yang bodoh, ia dapat merasakan, jika kini suasana hati sang suami sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Apakah aku harus percaya dengan apa kata-katamu ini, Ayah?" Tanya Anna yang tak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Leon.
Pasalnya Anna tahu pasti, sangat sulit bagi seseorang untuk melupakan cinta pertamanya. Kini hati Anna pun diselimuti dengan rasa cemburu. Pasalnya wanita yang disebutkan Leon sebagai mantan kekasihnya itu adalah wanita yang terlihat lembut dan tak kalah cantik seperti dirinya.
"Kau harus mempercayaiku, demi keutuhan rumah tangga kita dan juga anak-anak. Aku harap kamu tidak mengorek masa laluku seperti aku yang tidak pernah mengorek masa lalumu." Tambah Leon yang berusaha meyakinkan diri Anna untuk tak mengungkit lagi perasaannya pada Zahra. Yang kini ia pun tengah berusaha untuk menghapusnya dari relung hati terdalamnya.
"Aku tidak punya masa lalu, tidak ada satupun pria dari masa laluku, kaulah pria pertama dan terakhir bagiku, Ayah. Jadi jangan pernah katakan kalau kau tak pernah mengorek masa laluku. Masa laluku yang mana yang ingin kau korek." Anna berkilah.
Rasa cemburu membuat emosi Anna kian meningkat,
"Yah itulah beruntungnya diriku mendapatkanmu tanpa masa lalu, Anna tolong untuk tidak lagi membahas masalah tentang ini. Aku tak lagi ingin mendengar dan membahas tentang orang yang sudah aku lupakan. Apalagi meributkannya dengan mu" Pinta Leon dengan tatapan memohon pada Anna.
Dalam berjalan mendekati Anna, namun Anna perlahan tapi pasti mulai memundurkan langkahnya.
"Aku punya firasat, jika perubahanmu beberapa hari ini murung dan menyendiri pasti karena dia," ucap Anna dengan tebakannya.
Anna menggunakan feeling seorang istri dan mengaitkannya dengan kejadian hari ini dan kejadian sebelumnya, di mana suaminya tiba-tiba saja berubah dengan sekejap saja.
"Aku mau pulang, aku ingin bersama anak-anakku. Aku tidak mau tinggal di sini!" Ucap Anna dengan nada yang meninggi.
Anna merasa diduakan oleh Leon, meski Leon tak menjalin hubungan apapun dengan Zahra saat ini.
Leon pun mengikuti kemauan Anna untuk pulang kembali ke Mansion mereka. Sekembalinya di mansion mereka. Anna kembali pergi meninggalkan Leon yang masih berada di dalam mobil dengan berlari. Leon berusaha mengejar langkah kaki Anna. Namun sayang ketika Anna sudah berhasil masuk ke Mansion Andre. Anna memerintahkan kepada para pengawal untuk melarang Leon untuk masuk ke dalam Mansion kakak sepupunya itu.
Andre yang sudah tertidur dengan Jessica tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Anna yang datang-datang langsung memeluk tubuhnya sembari menangis.
Dengan mata yang mengerjap-ngerjap, Andre menyalakan lampu kamar tidurnya, tagannya sulit bergerak karena ada dua wanita yang memeluk dada bidangnya.
Ketika lampu menyala, Andre melihat adik sepupunya terus menangis di dada bidangnya.
"Hei Anna, apa yang kau lakukan?" Tanya Andre pada adik sepupunya itu, yang kini memeluk tubuhnya tanpa ingin melepasnya.
__ADS_1
Jessica yang mendengar suara tangis Anna dan juga cahaya lampu yang menyilaukan pun ikut terbangun.
"Anna, lo kenapa? Kenapa nangis? Apa yang terjadi?" Tanya Jessica dengan mata mereh dan suaranya yang serak.
Alih-alih menjawab pertanyaan keduanya. Anna malah memuaskan dirinya untuk tetap menangis di dalam pelukan Andre.
"Kamu keluar dulu Mih!" Perintah Andre pada Jessica.
Andre tahu jika adik sepupunya ini tak akan mau bicara jika masih ada Jessica. Adik sepupunya ini pasti akan membicarakan mengenai Leon, Kakak dari istrinya.
Setelah Jessica keluar dari kamar, barulah Anna mau menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Anna menceritakan dari awal hingga akhir. Tak ada yang terlewatkan untuk Anna ceritakan pada Andre. Kakak sepupu terdekat dengannya.
"Bangunlah, Kakak ingin menghubungi Jimmy!" Perintah Andre dan dengan berat hati Anna beranjak dari pelukan sang kakak.
"Ada apa menghubungi ku malam-malam?" Tanya Leon dengan suara seraknya. Rupanya ia baru terbangun karena dering telepon dari Andre.
"Segera ke mansion ku. Datanglah tanpa Endah. Jika bertemu dengan Leon di pinte gerbang, jangan izinkan dia masuk!" Perintah Andre yang dapat ditangkap oleh Jimmy. Jika rumah tangga Anna sedang tidak baik-baik saja.
Rupanya Leon yang masih berdiri di depan ointu gerbang mansion Andre dan Jessica, mencoba menghubungi Jessica, ia meminta adiknya itu untuk memerintahkan para penjaga membukakan pintu gerbang mansion sang adik. Namun sayang upayanya untuk meminta Jessica membuka pintu gerbang Mansion sang adik dihalangi oleh Jimmy yang sudah terlebih dahulu datang dengan mobil mewahnya.
Jimmy keluar dari mobil dan langsung menghampiri Leon.
Bugh!
Bugh!
Dua pukulan mendarat di perut Leon.
Ini DP untuk perbuatan mu yang telah menyakiti Anna.
"Arghh...adik ipar si4lan. Beraninya kau!!" Pekik Leon yang kesakitan karena pukulan Jimmy benar-benar menyakitkan.
__ADS_1