
Setelah Amel menjelaskan pada Hendra dengan menggunakan bahasa planet mereka. Hendra yang paham dan mengerti langsung memberikan izinnya kepada sang istri. Akhirnya mereka pun berangkat dengan mengantongi izin dari para suami-suami mereka.
Ketika berada di dalam mobil, Amel tiba-tiba meminta ponsel Bowo dan juga Angel. Pertama-tama Amel meminta ponsel Angel terlebih dahulu. Amel mendekati Angel yang duduk tak jauh dari Jessica.
"Ngel, pinjam ponsel lo, dong!" Pinta Amel dengan santainya sembari menjulurkan tangannya, seakan memaksa Angel untuk segera memberikan ponselnya tersebut.
Angel yang tak merasa curiga langsung saja memberikan ponsel itu, tanpa bertanya untuk apa Amel meminjam ponselnya.
Setelah ponsel itu ada di tangan Amel. Amel langsung menonaktifkan ponsel Angel. Seketika mata Angel membulat ketika melihat ponselnya dinonaktifkan oleh Amel dan di masukkan ke dalam saku celana Amel.
"Nyonya Amel. Apa yang Anda lakukan dengan ponsel saya?" Tanya Angel. Seketika ia berdiri sejajar dengan Amel yang memang berdiri di samping kursi duduknya bersama Jessica. Ia menatap Amel dengan rasa penuh tanda tanya dan rasa kesal tentunya.
"Untuk sementara waktu, lo nggak bisa menggunakan ponsel ini. Gue akan mengembalikannya setelah misi kami selesai." Jawab Amel santai yang masih membuat Angel bertanda tanya dan penasaran.
"Misi?" Tanya Angel yang kemudian melirik seluruh wajah Nyonya-nyonya muda yang ada di hadapannya.
Tatapan tak biasa Angel dapati dari para Nyonya muda yang ada di hadapannya. Angel semakin bertanya-tanya dan curiga ada apa yang sebenarnya.
Sebagai pentolan dari kumpulan para Nyonya muda ini. Endah pun akhirnya buka suara pada Angel.
"Diam dan duduk manislah bersama kami di sini. Kami akan memberitahukan mu nanti, saat kita sudah tiba di tempat tujuan." Jawab Endah dengan tatapan tajamnya seperti sedang menguliti Angel.
Di saat seperti ini tak ada yang bisa dipercaya terkecuali diri mereka sendiri. Karena mereka tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan mereka saat ini. Meski Angel adalah pengawal setia Jessica tapi tetap saja, Angel adalah salah satu bagian dari mereka, anggota gangster mafia.
Usai mengambil ponsel Angel, kini giliran Amel mengambil ponsel Bowo.
"Bawa tulang pinjam ponselmu!" Pinta Amel pada Bowo yang sudah dipanggil oleh Jessica untuk ke belakang sebentar, Di mana mereka setengah duduk sekarang ini.
Bowo segera memberikan ponselnya pada Amel. Dan lagi-lagi Amel mematikan ponsel itu lalu memasukkan ke dalam saku celananya. Respon Bowo tak jauh beda dengan Angel. Namun Bowo tak terlalu bertanya-tanya mengapa Amel melakukan hal ini. Karena sejatinya Bowo telah mengetahui permasalahan yang tengah dihadapi para suami mereka. Karena sebelumnya Bowo sudah mengikuti rapat tertutup bersama para suami-suami mereka.
"Saya bukan penghianat nyonya." Ucap Bowo pada Amel.
__ADS_1
Ya Apa yang dilakukan Amel membuat Bowo merasa dicurigai sebagai penghianat.
"Tidak ada yang menyebutmu sebagai penghianat Bow. Kita sedang berjaga-jaga, siapa tahu ponselmu disadap oleh mereka." Jawab Endah.
"Sepertinya tujuan utama kita tidak ke pantai. Bukan begitu nyonya?" Tebak Bowo.
Semua yang ada di sana mengulas senyum tipis mendengar tebakan Bowo yang sangat tepat.
"Kemanapun tujuan kita, kamu tidak perlu tahu untuk saat ini. Kamu hanya perlu ikut dan mengawal kami semua." Ucap Endah lagi.
"Baiklah! Saya akan mengikuti perintah dari nyonya-nyonya semua. Kalau begitu saya kembali ke depan menemani pak Jono mengemudi.
Perjalanan mereka tidak langsung ke tempat tujuan yaitu ke kota D. Melainkan tetap pergi ke pantai untuk beberapa saat.
Perjalanan dari kota J bagian barat menuju kota J bagian utara, tidak makan banyak waktu. Hanya 15 menit mereka sudah sampai di kota J bagian utara.
Seperti yang mereka sudah rencanakan, di pantai ini mereka berswafoto dan mengupload apa yang mereka lakukan di pantai ke dalam media sosial milik mereka masing-masing. Mereka yakin musuh-musuh mereka sedang mengamati kegiatan mereka baik secara langsung ataupun melalui media sosial mereka.
"Iya Nyonya. Mobil sedan hitam dengan plat yang tidak dikenali sejak awal dari kita keluar dari Mansion dia sudah mengikuti kita." Jawab Pak Jono ya memang mengetahui jika mobil yang ia kendarai di ikuti oleh mobil yang tidak ia kenali.
"Baiklah kalau begitu, bersiaplah untuk mengeluarkan barang-barang kami ke dalam mobil yang akan menjemput kita nanti."
"Siapa yang akan menjemput kita nyonya?" Tanya Pak Jono yang selalu mendapatkan kejutan dari apa yang dilakukan Amel.
"Pae Parjo, dia akan membawa sebuah bus yang akan membawa kita ketempat tujuan." Jawab Amel yang kemudian pergi meninggalkan Pak Jono.
Tak berapa lama sebuah bus datang dan terparkir di depan mobil motor home milik Nayla.
Sesuai perintah Amel, Pak Jono membantu Pae Parjo, memindahkan barang-barang milik majikan mereka.
Satu persatu di antara mereka menghilang dari tepi pantai, sesuai dengan perintah yang Amel berikan pada mereka. Demi menghindari kecurigaan orang yang sedang mengikuti mereka.
__ADS_1
Tersisalah Nayla dan juga Amel di tepi pantai, sedangkan mobil yang dikemudikan Pae Parjo sudah berangkat ke suatu tempat yang sudah di tentukan oleh Amel terlebih dahulu.
Kedua wanita ini kini berjalan kaki menuju sebuah penginapan yang letaknya tak jauh dari pantai yang mereka datangi. Para penguntit mereka berhasil terkecoh dengan apa yang di rencanakan oleh Amel dengan matang.
Para penguntit itu mengira menghilangnya satu persatu di antara mereka, karena pergi ke penginapan yang kini Amel dan Nayla datangi. Terlebih mobil motor home milik Nayla pun sudah berada di parkirkan di penginapan tersebut.
"Kecoa itu ngikutin kita terus Mel," ucap Nayla dengan berbisik, kemudian tertawa geli.
"Huum, mereka masuk perangkap." Balas Amel.
Amel dan Nayla yang merupakan pemilik dari penginapan tersebut langsung saja melenggang masuk ke dalam hotel tanpa melakukan pemesanan kamar terlebih dahulu.
Dan kedua penguntit itu, segera saja memesan kamar hotel yang berada di dekat kamar hotel Nayla dan juga Amel. Yang mereka yakini, akan berdekatan dengan kamar ketiga Nyonya-nyonya Sultan lainnya.
"Saya ingin pesan kamar yang bersebelahan dengan kedua wanita itu," ucap penguntit A saat bicara pada seorang resepsionis pria sembari menunjuk senjata api yang ia bawa dan mengarahkan pandangannya pada punggung Nayla dan Amel.
"Mereka berdua tidak melakukan pemesanan kamar di penginapan ini tuan. Mereka hanya memenuhi undangan beberapa pria yang sering mereka layani di sini." Jawab resepsionis pria ini berbohong.
"Apa? Kau tidak bercanda bukan? Mereka itu istri-istri pengusaha. Tidak mungkin berprofesi seperti wanita rendahan."
Penguntit B tak menyangka dengan apa yang mereka dengar dari resepsionis pria tersebut.
"Benar Tuan, saya tidak bercanda. Jika Tuan tidak percaya, bisa tanyakan pada rekan kerja saya yang juga mengetahui siapa mereka." Jawab resepsionis pria ini menyakinkan keduanya.
Dan benar saja. Penguntit B yang sangat tidak percaya dengan perkataan resepsionis pria ini, langsung saja menanyakan tentang Nayla dan Amel dengan menunjukkan foto mereka berdua.
Dan benar saja jawaban semua orang yang penguntit B tanyakan sama dengan apa yang dikatakan resepsionis pria tersebut.
Bagaimana tidak sama. Seluruh pegawai mereka di penginapan ini sudah di perintahkan Amel untuk ikut serta dalam misi ini.
Lagi pula kebanyakan dari pegawai penginapan milik Amel dan Nayla dulunya adalah orang-orang jalanan alias para preman yang tak memiliki pekerjaan dan keberuntungan dalam hidupnya.
__ADS_1
Jadi jika hanya menghadapi dua kecoa kecil yang menodongkan pistol pada mereka, mereka sama sekali tidak takut. Bahkan jika sesuatu terjadi pada Amel dan Nayla. Mereka tak akan segan-segan untuk memenggal kepala mereka.