
Mansion Bayu dan Nayla saat ini bertambah ramai dengan suara tangis Bianka yang nyaring terdengar. Lagi dan lagi Bayu harus berkantor di kediamannya. Bukan karena permintaan sang istri. Namun Bianka akan terus menangis jika.tak mencium aroma tubuh sang Papi.
"Pih, kerja gak hari ini?" Tanya Nayla pada Bayu yang masih memejamkan matanya. Ia merasa enggan untuk membuka matanya yang baru satu jam lalu terpejam.
"Bisakah Mami tidak memberikan pertanyaan yang Mami sudah tahu sendiri jawabannya? Tolong jangan ganggu Papi. Papi mau tidur saat Bianka juga tidur Mih. Kasih waktu Papi untuk istirahat." Jawab Bayu dengan mata yang masih terpejam.
Mendengar jawaban Bayu, Nayla oun beranjak dari ranjangnya. Ia hendak membuka tirai, agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kamarnya. Namun belum sempat ia menggeser tirainya. Pergerakkan tangannya dihentikan oleh tangan Bayu yang tiba-tiba sudah berada di belakang tubuhnya. Bayu meletakkan kepalanya di atas bahunya. Ia benar-benar mengantuk.
"Mami, jika Mami membuka tirai jendela ini, tak hanya Papi yang Mami bangunkan, tapi juga putri kita."bisik Bayu yang kemudian menarik Nayla kembali ke atas ranjang.
"Pih, udah pagi. Mami gak mau tidur lagi." Tolak Nayla.
"Ayo temani Papi tidur Mih, Papi juga sangat merindukan Mami sudah hampir dua bulan ini. Papi sibuk dengan Bianka. Kapan kita punya kesempatan main Mih?" Ajak Bayu yang sangat merindukan permainan Nayla yang sangat luar di atas ranjang.
"Gak tahu Pih. Bianka selalu gak kasih kesempatan kita untuk main. Terakhir kali baru dua celup dia sudah bikin onar, nangis kaya orang dipukulin." Jawab Nayla yang mengingat bagaimana kelakuan putrinya.
"Dia itu cerminan kamu, persis kamu.Nayla si pembuat onar." Bisik Bayu di telinga Nayla dengan suara yang begitu seksi didengar Nayla.
"Ahhh... Papi jangan mancing deh. Kalau Mami mau gimana?"
"Kalau mau ya, Papi lanjutin Mih." Sahut Bayu dengan tangannya yang mulai menjelajah. Belum sampai tangannya sampai di pabrik susu Nayla. Lagi-lagi Bianka menangis.
"Tuhkan dia nangis Pih. Alarm kamu tuh." Ucap Nayla pada Bayu yang berbaring telentang sembari menepuk jidatnya.
Bayu segera bangun dari ranjangnya. Ia berjalan ke boks bayi Bianka. Ia kembali menggendong putri kecilnya yang selalu menjadi penghalang saat ia ingin enak-enakan dengan sang istri.
Nayla yang merasa kasihan dengan suaminya segera menghampiri sang suami yang tengah menimang-nimang Bianka agar kembali tertidur. Pasalnya putrinya ini sudah nelakukan aktivitas pagi yaitu mandi dan menyusu. Saat ini masih waktunya ia untuk tetap tertidur.
"Papi sayang, Mami punya cara agar Bianka tak menangis dan jadi penghalang kita untuk main." Bisik Nayla di telinga Bayu.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Bayu tanpa suara.
"Antarkan putri kita pada calon ibu mertuanya, Mami yakin dia akan anteng dan tak akan menangis. Bukankah saat kita bertamu di sana Bianka tak pernah terdengar menangis Pih?" Bisik Nayla lagi yang membuat Bayu berusaha mengingat kejadian waktu ia bertamu ke mansion Jimmy dan Endah.
Saat Bayu berhasil mengingatnya. Bayu pun menyetujui saran sang istri.
"Mami saja yang bawa Bianka ke sana. Bilang saja Papi lagi sakit ya." Ucap Bayu yang mengajari pembohong ulung untuk berbohong.
"Rebes Pih, Mami akan bilang kalau Papi lagi sakit kronis. S43nge dikit kolor menangis. Hahahaha.." ledek Nayla yang mendapat sentilan di keningnya dari Bayu.
"Kamu tuh Mih, kalau ngomong selalu benar... hahaha.... ya udah sana bawa gih. Papi tunggu ya." Sahut Bayu yang sudah tak sabar. Ia merasa miliknya hampir karatan karena sudah lama tak terjamah oleh Nayla.
Di Mansion Endah dan Jimmy kini Nayla berada. Ia menghampiri Endah yang sedang bermain bersama kedua anaknya di taman belakang.
"Ndah, gue bawa calon menantu lo nih. Titip ya, gue mau ngasah benda pusaka.suami gue yang udah dua bulan nganggur. Kasian udah karatan akut." Seloroh Nayla yang membuat Endah tertawa seketika.
"Hahahaha... kenapa? Mantu gue gagalin acara enak-enak lo ya? Gak berhasil pula lo Nay? Kasian." Ledek Endah yang mulai mengulurkan tangannya untuk mengambil Bianka.
"Ok. Lo gak usah ambil kalau gak gue balikin ya. Yang penting Suster Marni antar aja asi lo kalau gue pinta ya?" Sambung Endah dengan penuh pengertian.
"Ahhh... makasih besan. Semang sekali berbesan dengan lo hahaha...gue balik ya. Titip anak gue ya."
"Tenang aja. Selamat bersenang-senang ya."
"Oke." Nayla pun pergi kembali meninggalkan mansion Endah dan Jimmy.
Ia kembali ke mansion pribadinya dengan hati yang riang dan gembira.
"Yes, berhasil. Papi I'm coming." Ucap Nayla.
__ADS_1
Sesampainya di Mansionnya, ia berjalan penuh semangat ke kamar utama yang merupakan kamar pribadinya. Dimana Bayu tengah berpikir Nayla kembali membawa kembali Bianka atau berhasil menitipkannya.
Ceklek! [Pintu terbuka]
Saat pintu terbuka dan muncul Nayla tanpa menggendong Bianka. Betapa senangnya hati Bayu. Bayu pun segera berjalan menghampiri Nayla. Ia memeluk Nayla dan mulai mencumbui tubuh istri yang sudah lama ia rindukan.
Mereka pun melewati permainan mereka hingga beberapa ronde. Mereka berhenti ketika Nayla sudah terbujur kelelahan di atas ranjang dan di susul Bayu yang juga ikut tertidur di samping tubuh Nayla. Dan saat senja datang Jimmy yang baru pulang dari perusahaan. Di buat terkejut dengan penampakan sebuah box bayi milik putrinya yang sudah lama tersimpan di gudang, terpasang di kamarnya.
"Sepertinya ada aroma-aroma ketidak beresan ini." Ucap Jimmy pada dirinya sendiri.
Jimmy segera meletakkan ponsel, dompet dan melepaskan jam tangannya di atas nakas. Ia kembali keluar kamar dan melangkahkan kakinya ke samping kamarnya yamg merupakan kamar kedua anak kembarnya yang masih dijadikan satu kamar oleh dirinya dan Endah.
Ceklek! [Pintu kamar putra dan putri Jimmy terbuka]
Glek!! [Jimmy berusaha menelan salivanya sekuat tenaga].
Nafas Jimmy tercekat, ketika ia melihat Bianka, putri Nayla dan Bayu ada di kamar kedua anaknya. Tengah tersenyum kearahanya. Bayu berusia lebih dari dua bulan ini tengah bermain dengan istri dan kedua anak kembarnya.
"Mah, jangan bilang kita dititipkan Bianka alias Biang keonaran." Ucap Jimmy dengan suara yang begitu lemas.
"Ya Pah, Mama dititipkan calon menantu kita." Jawab Endah yang terlihat senang dan bahagia.
"Tapi, dia itu suka sekali menangis dan tangisannya itu membuat gendang telinga Papa terasa ingin pecah Mah."
"Ahh. Papa jangan terlalu membesar-besarkan. Tangis anak bayi memang seperti itu."
"Tidak Mah. Tangis anak Nayla itu di atas batas kewajaran. Hufft... kapan si Biang Keonaran ini diambil orang tuanya Mah. Papa gak mau dia sampai menginap. Bisa-bisa kemerdekaan Papa dijajah sama si bocil ini."
"Hehehe... Bianka akan mengnginap Pah, Mama larang Nayla mengambilnya sebelum Mama yang pulangin."
__ADS_1
"Apa?? Mama?" Jimmy terkejut dan membaringkan tubuhnya seketika di karoet buku yang ada di kamar kedua anaknya. Melihat Papanya berbaring. Kedua anaknya yang baru belajar merangkang langsung memanjat tubuhnya. Memukuli dan menjambaki rambut sang Papa.
"Aaaa.... Papa di serang..." pekik Jimmy yang mengundang tawa ketiga anak bayi dan balita itu.