
"Sorry. I'm sorry Mami," ucap Bayu setelah tiga puluh menit mereka saling berdiam diri.
Manik mata Bayu terus memperhatikan Nayla yang masih sibuk dengan alat pemerah asinya.
Produksi asi Nayla untuk Bianca memanglah cukup berlimpah, pantas saja jika ia sangat marah, saat dicecar pertanyaan oleh Bayu dan juga Hendra. Pasalnya ia sudah menahan penderitaannya dengan kondisi bagian dada membengkak sejak masih berada di kota J.
Kini Nayla acuh pura-pura tak mendengar Bayu.
"Kemana anak-anak kita sayang? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Bayu yang masih berusaha memulai membuka percakapan pada Nayla yang masih setia diam membisu.
"Tahukah Mami, Papi sangat mengkhawatirkan kalian, karena kalian tak bisa dihubungi." Ucap Bayu yang masih di acuhkan Nayla.
Ingin sekali Bayu mendekat pada Nayla, namun ia urungkan karena Nayla belum selesai memerah asinya. Ia masih berusaha menunggu Nayla menyelesaikan aktivitasnya untuk meredakan rasa sakit di bagian dadanya.
"Papi terus bertanya bukan Papi marah pada Mami? Tidak sama sekali Mami, Papi hanya merasa terlihat sangat bodoh karena tidak tahu apa-apa tentang Mami. Selama ini Papi selalu terbuka sama Mami, apapun itu tak pernah Papi rahasiakan. Papi kira Mami juga melakukan hal yang sama, tapi ternyata masih ada yang disembunyikan dari diri Mami pada Papi. Apa Papi salah Mih, bertanya kebenaran tentang semua yang Papi dengar tentang Mami, yang selama ini Mami sembunyikan?" Bayu terus bicara karena Nayla tetap berdiam diri.
Nayla seperti tak menganggap keberadaan Bayu saat ini. Ia tetap mengacuhkan suaminya. Mode merajuk Nayla benar-benar menguras kesabaran ekstra seorang Bayu.
Meski Nayla mengacuhkan Bayu, namun ia mendengar jelas apa yang diutarakan suaminya. Namun enggan menanggapi yang ujung-ujungnya hanya akan berujung perdebatan.
Bayu sedikit menarik senyum tipis, saat melihat Nayla mulai melepaskan alat pemerah asinya, karena ia sudah selesai menggunakannya dan terlihat alat itu sudah tak lagi mengeluarkan asi sang istri meski Nayla sudah menkan tombol tingkat pemerah paling tinggi. Bagian dadanya pun sudah taknterlihat bengkak lagi.
"Biar Papi bantu cucikan!" Ucap Bayu saat ia merebut botol dan selang pemerah asi milik Nayla.
Tanpa menjawab, Nayla langsung menyingkir dan duduk di atas kloset yang tertutup, ia lelah berdiri.
Nayla mulai membuka bajunya satu persatu, hingga tak tersisa sehelai benang pun yang melekat ditubuhnya. Bayu terus mengamati apa yang dilakukan istrinya dari kaca yang berada di atas wastafel.
Bayu selalu dibuat terpana dengan pahatan sempurna yang diciptakan Tuhan pada tubuh istrinya. Bayu dibuat makin kesulitan menelan salivanya ketika Nayla beranjak dari kloset yang ia duduki dan masuk kedalan ruang bilas, ia mulai menyalakan air shower untuk dirinya membersihkan diri.
Dengan cepat Bayu melepaskan pakaiannya, setelah ia selesai membersihkan pemerah asi milik Nayla.
__ADS_1
Bayu segera bergabung bersama Nayla. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang, dan menenggelamkan wajahnya di curug leher sang istri.
"I'm Sorry Mami, sorry." Ucap Bayu berbisik di telinga Nayla dengan nafas yang menderu.
Bayu terus bermain-main di curug leher jenjang Nayla. Dengan tangan yang mulai mengeksplor pahatan terindah sang pencipta pada tubuh sang istri.
"Mmmmphhh... Papi," lenguh Nayla, saat jemari Nakal Bayu ikut bermain di bagian bawah sana.
"Ledakkan sayang," balas Bayu yang kini mendorong Nayla ke dinding kaca ruang bilas.
Ya, usai Nayla meledakkan sesuatu dalam dirinya, Bayu langsung melanjutkan aksi bercocok tanamnya.
Ia hentakkan miliknya dengan rasa penuh gairah. Saat Bayu sudah mengetahui istrinya hampir sampai di puncak kepuasan. Bayu langsung mencabut miliknya.
Nayla seketika membalikan badan dan membolakan matanya pada Bayu. Kecewa. Tentu saja Nayla kecewa. Ia hampir sampai di puncak kenikmatan namun harus terperosok kembali.
"Kenapa Papi cabut singkongnya hah? Papi mau main-main sama Mami ya?" Omel Nayla yang memprotes pada Bayu, yang kini tersenyum tipis penuh kemenangan.
"Maafkan Papi dulu, Mih. Baru Papi lanjutkan sampai selesai" sahut Bayu pada Nayla.
Rupanya Bayu masih membutuhkan maaf dari istrinya. Alih-alih mendapatkan kata maaf dari Nayla. Nayla malah mendorong tubuh Bayu hingga terduduk di atas lantai. Dengan cepat Nayla duduk di atas milik Bayu yang masih tegak berdiri.
Sleebbbbb!
"Mmmmphhh... yes," lenguh Nayla saat milik Bayu kembali masuk menyeruak ke dalam bagian intinya yang berharap di puaskan.
Bayu terus tersenyum melihat bagaimana ekpresi Nayla, dia atas miliknya. Bayu terus membiarkan istrinya mencari kepuasan sendiri dengan miliknya.
"Kamu wanita ambisius Mami. Papi menyukai sikap mu yang seperti ini." Ucap Bayu sebelum ikut melanjutkan permainannya.
Sementara Bayu dan pasangan suami istri lainnya yang juga melakukan hal yang sama di kamar lainnya.
__ADS_1
Patricia di dalam kamar yang ada di lantai dasar, sudah terbangun dari tidurnya yang ia rasakan begitu nyenyak kali ini.
Patricia tersenyum senang melihat kondisinya yang tak mengenakan sehelai benang pun pada tubuhnya. Ia kira dirinya sudah melewatkan malam panjang bersama Bayu, saat ia tertidur.
Patricia menyibak selimut yang menutupi bagian tubuhnya, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan daerah intinya. Patricia terus tersenyum dan berpikir cairan kental yang kini terasa lengket pada miliknya adalah hasil penyatuan dirinya dengan Bayu, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Septian yang terus berjaga di luar pintu kamar yang berisi Patricia, sudah mengetahui jika Patricia sudah terbangun. Ia mengintip dari luar pintu kamar Patricia dan segera meminta Borni untuk memberitahukan pada tuan-tuan mereka, jika tawanan mereka sudah terbangun.
Yang pertama kali Borni beritahu tentang Patricia yang sudah bangun adalah pasangan Bayu dan Nayla.
"Tuan Bayu, tawanan Anda sudah bangun." Ucap Borni sembari mengetuk pintu yang tak tertutup rapat.
Terdengar jelas suara penyatuan mereka di telinga Borni.
"Tuan!!"
"Ya, lima menit lagi aku akan turun Bor," pekik Bayu.
"Baik Tuan."
Setelah menuntaskan permainannya dengan sang istri. Bayu datang menghampiri Patricia dengan membawa satu stel baju milik mediang istri Hendra, yang memang masih tersimpan rapih di Villa ini.
"Honey," panggil Patricia saat melihat Bayu datang dalam keadaan segar dengan membawa satu stell pakaian untuknya.
Patricia berlari kepelukan Bayu, ia memperhatian bagian leher Bayu. Ia melihat bercak merah di leher Bayu yang cukup banyak. Patricia tersenyum malu, ia lagi-lagi mengira, dirinyalah yang menciptakan tanda kepemilikan yang hampir memenuhi bagian leher Bayu itu.
"Honey, apa semalam kita melakukannya dengan sangat menggairahkan?" Tanya Patricia dengan senyum sumringah yang terpancar di wajahnya.
"Tentu saja, dan sekarang aku kelelahan karena mu. Pakailah baju ini. Ini milik sepupuku. Aku tunggu kamu di meja makan. Ok!" Jawab Bayu berbohong dengan wajah datar dan senyum kaku yang ia pancarkan.
"Ok, aku akan bersiap-siap. " balas Patricia.
__ADS_1