
Linda diam tak berkutik, ia tak bisa berkata-kata lagi saat ia mendengar perkataan Nayla yang benar adanya.
"Diam mu ini berarti mengiyakan perkataan ku, Tante. Buka begitu?" ucap Nayla lagi pada Linda.
Nayla yang menyudahi makan singkatnya, kemudian berjalan menghampiri Linda yang berdiri di samping ibu mertuanya. Nayla berjalan melewati Tuan Tama yang terus memperhatikan dirinya.
"Hati-hati Nak, ingat kandungan mu," pesan Tuan Tama saat Nayla melewati dirinya.
"Tenang Daddy, semua akan aman terkendali," balas Nayla yang tersenyum manis pada Ayah mertuanya itu.
"Cih, sok manis," Linda berdecih melihat keharmonisan Nayla dan mantan Ayah mertuanya.
Mendengar Linda berdecih Nayla kembali tertawa. "Apa kau iri Tante?" Tanya Nayla yang duduk begitu saja di pangkuan Ibu mertuanya.
"Apa kau pernah melakukan ini?" Tanya Nayla yang duduk di pangkuan Ratna, ia memeluk dan mencium ibu mertuanya itu.
Linda melirik dengan malas ketika Nayla menyombongkan kedekatannya dengan kedua mantan mertuanya.
"Aku pastikan, kau pasti tidak pernah melakukannya bukan? Karena aku tahu, kau pasti sibuk dengan dunia mu. Ya, dunia mu yang selalu ingin puas sendiri, tanpa melihat bagaimana perasaan orang yang sangat menyayangi bahkan mencintai mu." Ucap Nayla yang seakan menceramahi Linda.
Nayla kembali berdiri, kini ia berdiri tepat di belakang Linda. Ia sengaja berdiri di sana karena tak ingin membelakangi ibu mertuanya ataupun Sonya, Mommynya Linda.
Linda yag mendengar ceramahan Nayla hanya diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, ia masih menyimpan kesabarannya baik-baik untuk menghadapi Nayla , jika ia meledakan amarahnya saat ini juga. Dapat di pastikan ia tak akan mendapatkan apa-apa.
"Aku tahu kau keheranan dengan suami ku yang begitu lahap memakan capcay yang semula ia benci, bukan? Apa kau tahu kenapa ia tak menyukai capcay? Apa kau sudah mencari tahu kenapa ia tak menyukai menu makanan itu, sewaktu kau masih mejadi istrinya Tante?" Nayla memberondong Linda dengan pertanyaan yang tak mampu Linda jawab.
"Aku ke sini bukan untuk menjawab pertanyaan mu, aku kesini untuk__" ucapan Linda terpotong karena Nayla menyelanya.
"Memeras harta suami ku, bukan begitu?" Sambung Nayla denga0n menyunggingkan senyum sinisnya.
__ADS_1
"Kau sudah salah menduga ku, tahu apa kau tentang diriku?" Tanya Linda yang mulai habis kesabarannya.
"Tentu tahu, tak ada rahasia diantara aku dan suamiku. Aku tahu tentang diri mu dari A-z, Tante, tapi kau tenang saja Tante, kau tak perlu repot-repot untuk cari tahu tentang diri ku."
"Cih, siapa pula yang mau membuang waktu untuk mencari tahu tentang orang tak penting seperti dirimu." Balas Linda yang kemudian membuang pandangannya ke sembarang arah.
Jujur saja Tuan Tama sudah sangat geram melihat tingkah Linda, ingin rasanya ia segera mengusir mantan menantunya itu dari rumahnya, tapi ia masih melihat Nayla masih bersenang-senang dengan Linda. Akhirnya ia urungkan niatnya itu, ia memilih menjadi pendengar dan penonton setia aksi Nayla, menantunya melawan mantan menantunya, Linda.
"Aku ini sangat penting dikeluarga ini Tante, asal kau tahu saja. Rumah ini dan seisi-isinya sudah menjadi milikku, karena Ayah mertua ku begitu baik pada ku,"
"APA?" Linda terkejut mendengar pernyataan Nayla.
"Tidak mungkin, mana mungkin Daddy memberikan rumah peninggalan orang tuanya pada gadis botak ini," batin Linda yang tak percaya dengan ucapan Nayla.
"Terkejut ya? Hahahaha.... Itu belum seberapa Tante, jika kau memang mau ambil putra ku yang merupakan anak kandung mu ya silahkan, aku sama sekali tak rugi. Aku akan berusaha mengikhlaskan putraku asal ia bahagia bersama mu. Atau jika kau mau ambil sekalian suami ku yang tuwir itu ya silahkan aku tak rugi. Karena mulutnya itu sangat tajam dan bawel " Ucap Nayla yang membuat Linda bingung dengan apa yang Nayla mau saat ini.
Linda memandang penuh tanya mengenai ucapan Nayla. Linda tahu dengan jelas, jika Nayla tadi begitu bangga dan selalu berkata seakan mempertahankan keluarga kecilnya, namun sekarang ia malah menyodorkan Sultan dan juga Bayu pada dirinya.
"Tentu saja aku akan memberikan mereka tapi tidak dengan hartaku,hum. Bagaimana?" Jawab Nayla dengan memberikan penawaran pada Linda.
"Aku tak butuh harta mu, anak kecil." Balas Linda dengan memandang remeh diri Nayla.
"Benarkah, baguslah kalau begitu. Asal kau tahu saja Tante. Perusahaan dan seluruh aset beratas namakan Tuan Pratama sudah dialihkan atas nama diri ku, Tante. Jadi jika kau berhasil merebut Sultan dan Mas Bayu dari ku, tentu saja kau hanya akan mendapatkan orangnya saja. Kau butuh cinta mereka kan, bukan harta mereka?" Ucap Nayla yang seketika membuat Linda terduduk lemas.
"Daddy..." Panggil Nayla pada Ayah mertuanya.
"Iya Nayla sayang, ada apa?" jawab Tuan Tama dengan manisnya, menjawab panggilan menantunya.
"Tolong katakan pada mantan istri suamiku, jika semua ucapanku padanya itu benar, Daddy." Pinta Nayla dengan suara manjanya seperti seorang anak kecil meminta mainan pada ayahnya.
__ADS_1
"Iya sayang, Daddy akan katakan padanya, jika semua ucapanmu benar adanya," jawab Tuan Tama yang mengiyakan permintaan menantunya.
"Kalau begitu, Nayla pamit menyusuk Sultan dan Mas Bayu dulu di kamar ya Daddy, Mommy," pamit Nayla yang memeluk kedua mertuanya secara bergantian.
Kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang makan. Menyisakan kedua mertuanya dan juga kedua tamu tak diundang mereka.
Sekepergian Nayla. Tuan Tama menatap tajam wajah Linda yang masih terkejut dengan ucapan Nayla padanya. Apalagi dia dengar betul, mantan Ayah mertuanya itu membenarkan seluruh ucapan Nayla.
"Sepertinya sudah jelas semuanya. Apa kalian masih ada urusan lagi di rumah ini? Jika tidak tolong keluar dari kediaman saya ini, karena hari sudah semakin larut malam, saya dan keluarga ingin beristirahat." Ucap Tuan Tama yang terang-terangan mengusir tamunya yang terduduk lemas mendengar kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya.
Di dalam kamar Sultan. Bayu dan Sultan sama-sama sedang merajuk pada Nayla. Keduanya tidur di atas ranjang membelakangi tubu Nayla yang berbaring diantara tubuh mereka.
Keduanya merajuk karena mendengar Nayla akan menyerahkan mereka berdua pada Linda asal tidak dengan harta yang Nayla miliki.
"Mami jahat!" Ucap Sultan dengan suara lirihnya.
"Iya benar Mami jahat, gak sayang sama kita!" Tambah Bayu yang malah membumbui keadaan.
"Iya Mami gak sayang lagi sama Sultan, Mami mau kasihin Sultan sama Tante jahat itu." Tambah lagi Sultan yang makin bersuara lirih seperti ingin menitikan air mata.
"Kalian percaya dengan omongan Mami barusan dengan tante itu hum? Kalau percaya teruskan saja. Mami mau pergi saja, percuma ada di sini. Tolong jangan cari Mami lagi, Mami mau hidup tenang sama dede Bayi, berdua aja, kalian gak Mami ajak." Ucap Nayla yang kemudian pura-pura bangun dari tempat tidur.
Sontak saja keduanya langsung membalikkan badan. Segera memeluk tubuh Nayla yang masih terbaring di atas ranjang Sultan yang cukup untuk mereka tempati bertiga.
"Jangan pergi Mih!" Pinta Sultan yang sudah berlinang air mata.
"Husstt anak Mami nangis, Sultan sayang. Kenapa menangis hum? Sultan ingat pesan Mami, kalau laki-laki itu pantang untuk menangis, dia harus memiliki jiwa yang kuat. Bagaimana bisa menjaga Mami dan adik Bayi kalau Sultan cengeng seperti ini?" Ucap Nayla yang menghapus air mata Sultan.
Nayla berbaring membelakangi Bayu, ia menghadap putranya yang sedang membutuhkan dirinya saat ini. Membiarkan Bayu memeluknya dari belakang dengan tangannya yang sibuk mengusap perut Nayla yang masih rata.
__ADS_1
"Maaf Mih, tapi Sultan sedih, Mami mau menyerahkan Sultan sama Tante itu. Apa Mami akan benar-benar menyerahkan aku kepada Tante jahat itu, Mih?" Tanya Sultan yang menatap dalam manik mata Nayla.
Sultan seakan mencari jawaban yang akan menenangkan hatinya dari sorot mata Nayla yang tak pernah berbohong.