
Waktu pun dengan cepat berlalu begitu saja. Kehamilan Anna sudah masuk ke dalam bulannya. Tepat di hari sabtu sore, sebuah helikopter tiba-tiba saja mendarat di sebuah lapangan yang letaknya tak jauh dari kediaman mereka.
Suara helikopter itu ternyata mencuri perhatian Nayla dan juga Sultan, yang sedang berada di halaman rumah. Mereka berdua sedang bermain camping-campingan tanpa di temani oleh Bayu yang sedang sibuk bekerja di ruang kerjanya.
"Mih, ada helikopter di lapangan. Lihat yuk!" Ajak Sultan yang begitu bersemangat melihat helikopter itu dari dekat.
Sultan terus menggoncangkan tangan Nayla agar sang Mami mau menemaninya melihat helikopter secara langsung. Alih-alih menjawab ajakan anak sambungnya, Nayla malah menggerutu melihat Sultan yang terlalu bersemangat dan terkesan norak baginya. Namun meskipun mulutnya komat-kamit menggerutu, kakinya tetap melangkah sembari menggendong anak sambungnya yang sangat manja padanya.
"Haddeh norak amat anak gue, kayanya Papinya kudu beli nih, biar gak norak-norak amat. Percumalah jadi keluarga tuyul, kalau helikopter aja gak kebeli." Gumam Nayla yang membuat Sultan tersenyum manis pada dirinya, namun ia langsung mendapatkan jeweran dari Bayu yang ternyata sudah berdiri di belakang anak dan istrinya.
"Sembarang anak Papi dibilang norak, anak kecil itu memag seperti itu Mih, jangan mancing-mancing supaya Papi beli hal yang gak terlalu penting ya Mih," ucap Bayu yang mengambil Sultan dari gendongan Nayla.
"Eh, kepala suku tuyul, tahu-tahu nongol aja, udah selesai ngepetnya?" Tanya Nayla yang berjalan di belakang tubuh Bayu.
"Belum," jawab Bayu singkat sembari menahan kesal pada istrinya itu.
Ya. Bayu selalu kesal ketika sedang lembur kerja di ruang kerjanya, malah di sebut ngepet oleh istrinya yang asal jeplak jika bicara.
"Ih, udah lama banget dari pasi sampai sekarang belum selesai, gagal JJS nih kan jadinya," gerutu Nayla yang memprotes Bayu.
JJS yang Nayla maksud adalah Jalan-jalan sore menggunakan motor matic bersama keluarga kecilnya. Entah mengapa Nayla sering sekali meminta jalan-jalan sore sembari jajan di pinggiran taman komplek menggunakan motor ketimbang mobil. Menurut Nayla, naik motor lebih romantis karena bisa memeluk Bayu sepanjang perjalanan. Maklum saja, mereka tak menikmati masa pacaran sebelum menikah akibat korban perjodohan.
"Makanya bantu jaga lilin dong! Jangan maunya enaknya saja," sahut Bayu sembari menahan tawanya.
Menimpali omongan absurd Nayla merupakan kesenangan tersendiri bagi Bayu. Stress Bayu sedikit berkurang, karena Nayla bukan tipe istri yang baper dan mudah tersinggung. Menjadi suami Nayla,Bayu merasa bisa menjadi dirinya sendiri, meskipun jika marah, ia harus mengontrol emosinya, karena khawatir kejadian yang lalu-lalu terjadi kembali.
"Cih, suruh jaga lilin mending amat paling suruh jongkok di bawah meja," umpat Nayla yang makin membuat Bayu senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Nayla tahu betul, menemani Bayu yang super mesum padanya di ruang kerja, hanya akan membuat dia kelelahan melayani imaginasi Bayu.
Saat mereka sudah berada di luar pagar, mereka melihat Jimmy yang berlarian ke kediaman Leon.
"Papa kenapa lari? " Pekik Sultan yang bertanya pada Jimmy.
"Bunda Anna mau melahirkan," jawab Jimmy yang masih tetap berlarian.
Mendengar jawaban Jimmy, Nayla langsung berteriak memanggil Suster Marni da Pak Jono untuk membawakan koper yang sudah ia siapkan, jika sewaktu-waktu Anna ingin melahirkan.
Dengan sigap Pak Jono dan Suster Marni membawa satu koper cukup besar yag berisi pakaian mereka bertiga dan juga tas jinjing Nayla.
Keluarga kecil ini dengan penuh percaya langsung saja naik ke helikopter itu, mereka menunggu kedatangan Jimmy dan Leon untuk berangkat. Dengan mata kubil Leon di seret oleh Jimmy menuju helikopter, betapa terkejutnya keduanya saat satu keluarga tuyul sudah duduk manis di dalam helikopter.
"Papa, Ayah, Sultan ikut ya?" Ucap Sultan yang mengetahui tugasnya dengan baik, ketika dia melihat ekspresi wajah Leon dan juga Jimmy.
Leon duduk berbagi kursi dengan Bayu, di dalam perjalanan tiba-tiba Leon berbisik di telinga Bayu, "Bayu, penderitaan ku akan kerewelan dari kehamilan istriku sudah berakhir, tinggal dirimu. Semangatlah Bayu. Perjalanan mu masih panjang untuk berjuang agar liur anakmu tidak lumer. Hahahahaha..." Tawa Leon begitu bahagia, ia sudah membayangkan betapa Bayu akan melalui hari-hari sulit seperti dirinya.
Tak hanya Leon yang menertawakan Bayu, Jimmy yang memiliki pendengaran cukup tajam pun ikut menertawakan dirinya.
"Si4lan kalian berdua, tak akan aku biarkan kalian berbahagia di atas penderitaan ku," umpat Bayu di dalam hatinya.
Sesampainya di mansion Leon, suasana sudah terlihat kacau balau, Anna mengamuk karena kedatangan Leon terlalu lama baginya. Benda apa pun sudah hancur berkeping-keping di tangan Anna.
"Mas Leon lama sekali huh, Anna sudah mules juga," omel Anna.
Saat ia melihat suaminya, Leon datang hanya menggunakan celana pantai dan sebuah kaos oblong. Menandakan jika suaminya itu sedang tidur sebelum ia pulang ke mansionnya yang dijemput oleh Jimmy.
__ADS_1
"I-iya maaf. Anna sayang. Ayo mau ngeden dimana?" Tanya Leon yang lansung merangkul tubuh sang istri yang sudah sulit berdiri tegak.
"Itu di sana, di kolam itu," tunjuk Anna pada sebuha kolam yang sengaja di siapkan untuk proses kelahiran kedua putra kembarnya.
Butuh waktu dua jam untuk Anna melahirkan kedua putra kembarnya, setelah kedua anaknya lahir, Anna dan Leon terlihat begitu bahagia, namun kebahagiaan itu tiba-tiba pudar saat Anna berkata, "Kok kedua anak kita gak mirip kita sih Mas?" Ucap Anna yang mulai protes dengan Leon.
"Masa sih sayang?" Tanya Leon yang belum sadar sebelumnya.
"Ini lihat deh, gak mirip aku, juga gak mirip kamu,"
"Terus mirip siapa? Gak juga mirip Ayah sama Ibu aku, sayang."
"Gak mirip Mami, Papi aku juga Mas,"
"Iya, gak mirip Jessica atau pun Endah adik aku sayang,"
"Ishhh... Ini nih gara-gara Mas Leon, kebangetan benci sama Nayla. Anak kita jadi mirip dia kan?" Omel Anna yang baru menyadari jika kedua putranya mirip dengan Naya.
"Emangnya ngaruh, kan dia gak nanam saham Ann?" Tanya Leon dengan pertanyaan bodohnya.
"Arghh... saham-saham, ini anak aku jangan dianggap seperti bisnis!"
"Ya Tuhan gitu aja salah lagi, salah lagi." Gumam Leon begitu lirih di dalam hatinya.
"Kan Anna sudah bilang, peringatin Mas Leon setiap saat jangan terlalu benci sama orang, nanti anak kita mirip orang yang kamu benci, kamu tuh suka ngeyel kan, jadi kan kaya gini. Kedua anak kita mirip dia,"
"Maaf Ann, Mas ngaku salah deh." Ucap Leon dengan ekspresi penyesalannya.
__ADS_1
"Emang salah, ya emang harus ngaku." Omel Anna yang tak ada habisnya. Leon hanya bisa garuk-garuk kepala mendengar omelan Anna yang tiada henti-hentinya.