Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Tamu


__ADS_3

Selepas resepsi pernikahan Siena mulai memasuki kamar pengantin, yang disediakan pihak pengelola hotel yang menjadi tempatnya melangsungkan acara tersebut.


Malam kian larut dan terasa dingin dengan cahaya bulan purnama yang terang, seakan menjadi waktu yang sempura untuk sepasang pengantin baru yang akan memadu kasih.


Siena memutuskan untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa lelah, sekaligus berelaksasi dengan beredam air hangat yang dicampurkan sedikit wewangian aromatherapy.


"Syukurlah akhirnya Siera menemukan pasangannya, jadi aku tidak terlalu merasa ...," ucapnya menggantung seraya tersenyum dan memainkan buih-buih sabun.


Pikiran Siena kini teralihkan pada pria yang kini telah resmi menjadi pasangan hidupnya. Pria yang sudah susah payah ia dapatkan dengan mengorbankan cara apapun, walaupun harus melukai orang lain.


"Kamu milikku seutuhnya, Nugraha!" gumamnya kembali sambil mengingat upayanya selama ini.


Suara pintu terbuka, menandakan seseorang masuk kedalam kamarnya. Wajah gadis itu tiba-tiba merona saat memikirkan bagaimana malam pertamanya bersama Nugraha.


Dengan cepat Siena segera membasuh tubuhnya, lalu melilitkan tubuhnya dengan handuk karena tak sabar untuk bertemu dengan suaminya.


Khayalannya terus melayang tinggi, Siena membayangkan seluruh adegan malam pertama romantis yang selama ini dia baca dari novel-novel romansa koleksinya.


"Nuga!" serunya tersenyum dan berlari kecil menghampiri sang suami lalu merangkul lengan Nuga dengan manja.


Namun, realita tak seindah apa yang ia harapkan dalam pikirannya. Alih-alih menyambutnya dengan hangat dan penuh cinta, Nuga kembali mengabaikan dirinya.

__ADS_1


Pria itu segera menarik lengannya, sambil menatap Siena dengan tajam.


"Pakai bajumu, kalau sakit kau hanya akan menyusahkan orang lain!" ucapnya dengan nada suara dingin.


Deg!


Untuk pertama kalinya Nuga yang biasanya terlihat hangat dan selalu mengeluarkan perkataan lembut, kini terasa seperti orang yang tidak ia kenal. Tenggorokan Siena terasa tercekik karena perkataan Nuga yang membuatnya tak mampu berkata apapun lagi.


Nuga mengambil ponsel miliknya yang ia simpan di dalam tas, lalu berjalan menuju pintu dan keluar tanpa melepaskan kemeja yang ia kenakan saat resepsi. Pria itu bahkan sama sekali tak menoleh ke arah Siena, dan meninggalkan pengantin wanitanya di dalam kamar pengantin yang terasa dingin dan sunyi.


***


"Kau ini benar-benar ya! Dasar orang gila!"


"Perjanjian kita cuma pacaran aja, gak ada itu nikah-nikahan. Aku gak mau nikah!" seru Siera sekali lagi.


Mendengar ocehan Siera bak burung berkicau hanya membuat pria berparas tampan itu tertawa kecil. Nikolai pun menghampiri Siera sambil membawa pasta yang baru saja selesai ia masak.


"Jangan marah-marah aja, lebih baik kau isi amunisi dulu biar semakin bertenaga berkicaunya," ejek Nikolai seraya menyuapi Siera hingga mulut gadis itu penuh dan menggelembung.


Lezatnya cita rasa yang seakan meledak memenuhi seluruh indra pengecapnya, cukup membuat Siera diam dan mengalihkan perhatiannya pada sepiring pasta miliknya. Gadis itu segera mengambil alih garpu yang ada di tangan Nikolai, lalu segera kembali menyantap pasta tersebut.

__ADS_1


"Enak?" tanya Nikolai seraya menatap Siera yang asik sendiri dengan makanan miliknya. Sikap Siera yang apa adanya semakin menjadi medan magnet bagi seorang Nikolai yang tertarik padanya.


Nikolai tiada henti-hentinya tersenyum sambil memandangi Siera, bahkan sesekali ia membersihkan bibir gadis itu yang terkena cipratan saus pasta dengan menggunakan selembar kertas tisu.


Setelah menghabiskan makanannya, Siera segera meminum segelas air putih. Ia pun beristirahat sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Nikolai dengan tajam dan berkata, "Aku menunggu penjelasan dan tanggung jawab darimu!"


"Hahahaha ... ya ampun dilanjut lagi," ucap Nikolai.


Pria itu pun kembali mengendalikan tawanya, sambil menatap Siera dengan lensa matanya yang berwarna bak batu emerald. Warna matanya yang terlihat asing tapi tak dapat Siera sangkal jika itu sangatlah indah.


"Tenang saja, aku akan mempertanggung jawabkan semuanya. Kamu tidak perlu memikirkannya," ucap Nikolai dengan santainya.


Siera mengerutkan keningnya lalu kembali bertanya, "Tanggung jawab,!tanggung jawab yang seperti apa? Coba jelaskan!"


Ting! Tong!


Suara bel yang terdengar sontak memangkas obrolan keduanya. Siera pun segera bangkit untuk bermaksud membukakan pintu, karena mengira jika yang datang adalah seorang karyawan pesan antar sebuah toko kopi dan dessert, yang membawa pesanan es kopi miliknya.


Tanpa mengintip siapa yang datang, Siera segera membukakan pintu. Namun, alangkah terkejutnya dia saat mengetahui siapa yang datang. Seketika tubuh gadis itu terasa kaku, bahkan bibirnya tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.


"Здравствуйте, спокойной ночи!"

__ADS_1


(Zdravstvuyte, spokoynoy nochi!)


...****************...


__ADS_2