Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Ibu?


__ADS_3

Tidak sampai lima belas menit akhirnya Siera memutuskan untuk berpamitan dan segera keluar dari ruang rawat Siena. Melihat Nuga yang berada di sana saja sudah cukup membuatnya tersiksa batin, dan terus mendesak melarikan diri. Bayangan dokter berparas tampan itu terus saja menghantuinya, membelit dirinya pada ingatan indah masa lalu layaknya sulur berduri.


"Aku harus cepat pergi dari sini!" Siera terus bergumam dengan langkah yang semakin cepat.


Hingga tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namanya, membuatnya terpaksa menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara.


PLAK!


"Dasar pembuat masalah! Tidak tahu diri, masih berani Kau menunjukkan wajahmu di sini!" Rani berteriak hingga menimbulkan kegaduhan yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Telinga Siera terasa berdenging akibat tamparan yang dilakukan oleh ibundanya. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa dibandingkan rasa kecewa dan rasa malu yang terus Rani torehkan pada putri bungsunya


"Sudah bagus anak pembuat onar sepertimu itu sudah pergi dan membuat keluarga tenang. Tapi untuk apa Kau kesini lagi? Apakah Kau tidak puas membuat kesehatan Siena memburuk!" cerca Rani tanpa bekas kasihan.


Menghadapi ibundanya membuat Siera tak mampu berkutik sedikitpun. Sejak dulu gadis itu selalu mengemis akan perhatian dan kasih sayang dari Rani. Namun semua percuma, wanita itu bahkan tak sedikitpun menaruh perhatian pada putri sulungnya.

__ADS_1


Yang ada di pikiran wanita itu hanya putrinya yang bertubuh lemah, hingga tanpa sadar meninggalkan putrinya yang lain menjadi umpan dari rasa sakit hati yang ia ciptakan.


"Mih, sebenarnya apa salahku? Selama ini Aku selalu berusaha menjadi anak penurut yang tak pernah menuntut hak sekecil apapun. Tetapi, kenapa Mih? Kenapa Aku diperlakukan berbeda?" Siera berucap dengan seluruh keberanian yang dimiliki olehnya.


Jika seandainya boleh memilih, ia tidak ingin dilahirkan daripada dilahirkan hanya untuk menjadi pelampiasan kebencian dari keluarganya sendiri.


Kedua mata gadis itu pun terlihat memerah seperti sebelah pipinya yang memar akibat perbuatan dari ibunya sendiri.


Pertanyaan Siera yang cukup sederhana nampak ya membuat Rani tak mampu menjawab apapun. Wanita itupun memilih untuk pergi begitu saja daripada menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Siera.


Puluhan pasang mata yang menatap ke arahnya kian menjatuhkan dan menginjak-injak harga dirinya. Siera hanya mampu tertawa kecil, menertawakan nasibnya yang seperti lelucon belaka.


Didiskriminasi boleh keluarganya sendiri, bahkan hal berharga satu-satunya yang ia punya pun turut di renggut, nyaris membuat gadis itu kehilangan akal sehatnya.


Siera melanjutkan langkahnya dengan gontai, menuju area parkir dimana seseorang tengah setia menunggu dirinya.

__ADS_1


"Siera! Siera!" Nikolai terkejut melihat Siera yang menangis bahkan mendapat pipi gadis itu yang sedikit terdapat memar.


Siera mengadakan kepalanya, menatap wajah pria yang bahan sangat peduli padanya. Pria yang memberikan segala sesuatu yang ia tak pernah dapatkan di keluarganya, walaupun usia perkenalkan mereka masih seumur jagung.


"Siera, apa Kamu baik-baik saja? Lalu siapa yang sudah melakukan ini padamu?" tanya Nikolai seraya menyentuh lembut pipi Siera yang memar dan sedikit bengkak.


Sentuhan tangannya berada hangat dan lembut, membawa Siera jatuh kedalam buaian.


Bersama Nikolai sedikit menenangkan hatinya dan membuat merasakan rasa aman lalu menghantarkannya kedalam kenyamanan.


Tanpa diduga, Siera memeluk erat Nikolai. Gadis itupun menangis tersedu-sedu seakan menumpahkan segala beban yang ia sembunyikan selama hidupnya.


"Siera, Aku tidak tahu apa yang telah terjadi padamu. Tapi, ada satu hal yang harus Kau ingat jika sekarang Kamu tidak sendiri. Ada Aku yang akan selalu berada di sisimu, bahkan dengan suka rela menyerahkan diriku untuk bisa Kamu manfaatkan," ucap Nikolai seraya menyentuh lembut surai panjang milik Siera.


Setelah dirasa cukup tenang, Nikolai membantu Siera untuk msuk ke dalam mobil. Pikirannya saat ini adalah membawa Siera sejauh mungkin dari tempat tersebut, hingga tak menyadari jika ada seseorang yang sedari tadi selalu memerhatikan mereka berdua.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2