
Dua minggu sudah Nayla di rawat di rumah sakit. Perban yang melilit kepalanya sudah dibuka oleh Dokter dan tim perawat. Nayla yang semula hanya berada di atas tempat tidur pun kini sudah di perbolehkan untuk bangun dari posisi tidurnya.
Saat ini ia masih belajar untuk duduk tanpa sandaran. Hal ini dilakukan, karena Nayla masih sering merasakan sakit kepala dan pandangannya yang masih berkunang-kunang saat ia duduk tanpa sandaran. Mungkin karena terlalu banyak berbaring. Tubuhnya butuh waktu untuk melakukan penyesuaian.
Selama dua minggu Nayla di rumah sakit, selama itu pula Bayu juga berada di rumah sakit bersama sang istri. Ia dengan setia menemani sang istri meski terus saja diabaikan dan dianggap tak ada keberadaannya oleh sang istri.
Lucunya Nayla, ia tak menganggap keberadaan suaminya, tapi jika Bayu tak memperhatikan dirinya, ia marah-marah tak jelas dan menyindir suaminya itu, hingga membuat Bayu merasa serba salah jadinya. Sering kali kedua orang tua Nayla dan juga Hendra menahan tawa mereka, karena melihat kefrustasian Bayu menghadapi sikap Nayla yang sekarang.
Seluruh pekerjaan Bayu tinggalkan karena Nayla selalu menyindir Bayu. Jika Bayu dilihatnya menyentuh istrinya yang lain. Istri lain yang dimaksud Naila yaitu laptop yang selalu Bayu pakai untuk bekerja.
"Pangku ajah terus istri pertamanya, istri kedua mah gak pernah dipangku, mana sudi dia mangku istri keduanya. Apalagi udah botak kaya tuyul gini. Malu pasti dia. Pasti itu, dia malu punya istri botak. Nasib banget Nay-Nay. Dianggurin mulu sama suami. Suami bisanya nyuruh belajar aja terus tapi gak pernah ngajarin istrinya. Harusnya sebelum mencerdaskan mahasiswanya, cerdaskan dulu istrinya, itu baru bener. Jadi percuma aja kan punya suami Dosen, belajar aja sendiri, ngerjain tugas sendiri. Udah cepe-cape ngerjain tugas dirobek-robek, dibuang lagi ketong sampah. Makanya jangan terlalu menaruh ekspektasi terlalu tinggi sama istrinya yang begonya ini. Karena gue kan bukan Miss Claudia. Kalau mau nikah sama cewek pintar, jangan sama gue deh. Gue mah pintar di dapur sama di ranjang doang. Kalau akademis duh angkat tangan deh gue. Otak gue gak nyampe. Gue ingetin ya. Cari istri itu jangan pintar-pintar amat ntar dibegoin baru tau rasa," Sindir Nayla panjang lebar dengan membelakangi Bayu.
Nayla berbaring dengan posisi miring ke kiri,membelakangi Bayu yang ada di sudut kanan kamar Nayla. Kalimat sindiran Nayla sangat menohok Bayu yang segera menutup kembali laptopnya. Ia menggaruk rambutnya dengan frustrasi, karena Nayla sudah mode mengoceh seperti saat ini, tandanya ia sudah sangat marah pada Bayu. Riska yang melihat menantunya begitu frustrasi menghadapi Putrinya dari ruang tunggu, hanya bisa senyum-senyum menahan tawanya.
"Sabar ya Bayu, kamu berani berbuat harus berani tanggung jawab. Kalau kamu mau bertahan dengan Nayla, siapkan diri kamu untuk menghadapi sikap menyebalkan putri Bunda ya," gumam Riska dalam hatinya.
Bayu berjalan menghampiri istrinya yang masih setia dengan ocehannya dengan rambutnya yang masih acak-acakan, karena ia menggaruknya tadi.
Bayu menarik kursi dan duduk di hadapan ranjang Nayla. Ia menatap lekang wajah istrinya yang tengah mengoceh tanpa henti. Mengumpati dirinya tanpa ada rasa puasnya. Meskipun Bayu sudah ada dihadapannya tak membuat Nayla berhenti mengoceh, menyindir dan mengomelinya.
"Ngapain liatin aku kaya gitu?" Tanya Nayla yang masih mengomel. Ia tak terima dengan tatapan yang Bayu berikan padanya.
__ADS_1
"Aku punya mata, ya aku lihat kamu yang cantik dihadapan aku, sayang," rayu Bayu yang berharap omelan Nayla akan reda dengan rayuannya.
"Mana ada tuyul cantik?" Sanggah Nayla dengan wajah juteknya.
"Ada kok, buktinya kamu cantik,"
"Jadi kamu mengiyakan aku ini tuyul Mas? Kejam banget sih mulut kamu, Mas! Ngatain aku tuyul," Nayla kembali mengomel dan membalikkan tubuhnya membelakangi Bayu karena kesal. Ia tak terima Bayu mengiyakan kata-katanya tentang tuyul cantik, yang artinya dia memang seorang tuyul dimata Bayu.
"Ah... salah lagi. Ya Tuhan, tolong berikan hamba pertolongan," gumam Bayu dengan suara pelan yang masih didengar Nayla.
"Terus aja ngedumelin istrinya, bukannya ngerayu malah ngedumel. Jadi suami tuh yang manis. Jangan kaku-kaku amat kaya tiang listrik!" Oceh Nayla tanpa menatap Bayu yang masih setia duduk di kursinya.
"Kamu lagi nanya Mas sama aku?"
"Iya"
"Kamu kan pintar, jadi Dosen masa kaya gini aja nanya sama aku. Aku tuh jadi meragukan kredibilitas kamu sebagai seorang Dosen. Jangan-jangan kamu itu Dosen gadungan seperti berita di hot news siaran televisi. Kamu ngambil ijazahnya di kelurahan bukan di kampus, iya kan Mas?"
"Terserah apa kata kamu Nay. Yang pasti masalah kaya gini Mas gak ngerti Nay, maafin Mas yang gak romantis dan gak pengertian sama kamu, yang pasti di dalam lubuk hati paling dalam Mas, Mas sayang sama kamu dan merasa bersalah akan kejadian semua ini."
"Apa sih yang Mas ngerti, perasaan aku aja Mas gak ngerti dan coba mengerti. Udah dijelasin tetap aja gak ngerti sampai cape hati Nay, ihhhh," kesal Nayla yang meremas guling kesayangannya yang dibawa sang Bunda untuk menemani tidurnya.
__ADS_1
"Maafin Mas Nay, Mas cuma bisa minta maaf sama kamu atas segala kesalahan Mas yang Mas sengaja ini, sengaja ya Nay, Mas dah ngaku nih, Mas sengaja dan sadar melakukan kesalahan sama kamu, tolong jangan diperpanjang ya sayang," ucap Bayu yang mengakui terlebih dahulu sikapnya yang sengaja, sebelum Nayla protes padanya.
"Gak ada maaf untuk mu Mas," balas Nayla dengan lambaian tangan yang artinya ia tak mau memaafkan kesalahan Bayu.
Dari saat Nayla tak memaafkan permintaan maaf Bayu. Nayla melanjutkan aksinya mengabaikan dan mengacuhkan Bayu yang masih sabar dan setia menemaninya di rumah sakit.
Sedihnya hati Bayu ketika Sultan datang menjenguk ibu sambungnya itu. Bayu yang juga merindukan putranya itu pun ikut bergabung di ranjang tidur Nayla seperti Sultan. Bayu mengajak keduanya bercengkrama tapi tak ada diantara mereka menanggapi Bayu. Keduanya kompak mengabaikan Bayu.
Sultan mengabaikan Bayu, karena putranya itu tahu, Nayla bisa masuk ke rumah sakit karena perbuatan sang papi yang terus mengabaikan ibu sambungnya.
Meskipun diabaikan keduanya. Tak membuat Bayu menyerah untuk mendekati Nayla. Berkali-kali Bayu mengambil kesempatan dalam kesempitan menempelkan dirinya ke tubuh mungil istrinya yang juga ia rindukan. Ia memeluk tubuh Nayla, dan menciumi bagian lehar jenjang Nayla.
Nayla yang juga merindukan sentuhan Bayu mengabaikan apa yang dilakukan Bayu, tapi tidak dengan Sultan. Sultan terus berusaha memisahkan Bayu dari tubuh Nayla.
"Papi jangan dekat-dekat Mami, sana pergi! Jauh-jauh dari Mami aku," usir Sultan yang menarik kepala Bayu yang berada di dalam curug leher Nayla.
Bayu berusaha pura-pura tidur agar Sultan menghentikan aksinya, namun sayang apa yang dilakukan Bayu sia-sia. Sultan tetap mengusirnya, hingga Sultan nekat menarik daun telinga Bayu agar menjauh dari Nayla. Nayla yang melihat kegigihan Sultan menjauhkan dirinya dari Bayu, tak bisa melepaskan senyumnya pada putra sambungnya itu. Ketika akhirnya Bayu memutuskan untuk menyerah pada Sultan, ia beranjak dari ranjang Nayla. Ia kembali ke singgasananya yaitu sofa yang berada di sudut rumah sakit.
Hari ke hari pun berlalu, kondisi Nayla bukannya membaik, tapi lebih parah. Ia mulai tak nafsu makan. Selera makannya hilang, kepalanya semakin berat untuk di angkat, rasa pusing tak tertahankan sering ia rasakan.
Ketika rasa pusing yang tak tertahankan sedang mendera padanya. Ia hanya bisa menangis, merintih sambil memegangi kepalanya. Bayu dan kedua orang tuanya sangat khawatir dengan kondisi Nayla. Tak banyak yang bisa mereka lakukan selain menenangkan Nayla. Beberapa Dokter pun dipanggil Bayu untuk mengecek kondisi istrinya itu. Melihat istrinya kesakitan Bayu hanya bisa merutuki dirinya atas kesalahannya pada sang istri.
__ADS_1