Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 43


__ADS_3

"Tuan maaf, Nyonya memang pergi sejak tadi dan belum kembali hingga saat ini, tadi dia bilang mau cari obat demam untuk dirinya sendiri, saya sudah mencoba menawarkan bantuan tapi Nyonya tetap ingin membelinya sendiri," sahut Sapri, security kediaman Bayu yang kebetulan malam ini bertugas jaga.


"Apa?? Kamu serius dengan ucapan kamu Sapri?" tanya Bayu yang terkejut tak percaya dengan pernyataan Sapri.


"Betul Tuan, saya berkata jujur apa adanya karena saya sendiri yang membukakan pintu untuk Nyonya, Tuan," jawab Sapri dengan suara yang bergetar. Rasa sedih dan khawatir dengan kondisi majikannya pun hinggap pada dirinya.


Bayu berusaha untuk tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini, ia masih berkeyakinan Nayla masih tidur di dalam kamar mereka. Berkali-kali ia meminta Bi Darmi untuk memanggil Nayla di dalam kamarnya. Bi Darmi nampak ragu-ragu untuk melangkah ke kamar majikannya itu.


Saat kaki tua Bi Darmi ingin melangkah menaiki anak tangga, jerit tangis Sultan kembali terdengar, ia tak mendapati Nayla yang ia cari di kamar kedua orang tuanya. Di dalam gendongan Suster Marni Sultan menangis, berteriak memanggil-manggil Nayla.


"Papi, Mami mana? Kok gak ada di dalam kamar Papi, Papi umpetin dimana Mami Sultan Pih?" tanya Sultan dengan isak tangisnya. Rupanya putra Bayu ini kembali terbangun karena mimpi buruk yang ia alami, ia berlari di ikuti Suster Marni mencari keberadaa Nayla di kamar Bayu untuk kembali tidur bersama ibu sambungnya itu. Namun sayang ia tak mendapati Nayla.


Kaki Bayu melemas seketika. Tubuh kekarnya mulai sempoyongan. Ia segera memegangi tepian sandaran sofa yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Ia berusaha mengontrol rasa kesedihan yang mulai menguasai dirinya,setelah mendengar pertanyaan putranya yang seakan memberitahunya, jika memang istrinya itu tak berada di kamarnya.


"Dimana dia sekarang Mel?" Tanya Bayu dengan suara bergetar, ia berusaha menguatkan dirinya, untuk menerima kenyataan jika benar apa yang dikatakan Amel sahabat istrinya itu pada dirinya.


"Di rumah sakit Central Kusuma Pak, dia di tolong sepupu saya yang kebetulan sedang tugas jaga malam ini di klinik yang didatangi Nayla," jawab Amel yang masih saja menangis.


"Ayo kita kesana!" Ajak Bayu, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ia kembali ke kamarnya dengan berlari untuk mengambil dompet, kunci mobil dan juga ponselnya. Ia mengabaikan putranya yang terus saja menangis menanyakan dimana nayla padanya.


Amel dan Bayu pergi ke rumah sakit mengendarai mobil mereka masing-masing. Sesampai di rumah sakit keduanya berlarian ke ruang IGD. Bayu segera menanyakan keberadaan istrinya pada perawat dan Dokter jaga yang berada di ruang IGD itu.

__ADS_1


Salah seorang perawat langsung membantu Bayu dengan memanggilkan seorang Dokter yang menangani Nayla, yang tak lain dan tak bukan adalah Dokter Edo yang merupakan sahabat dari sepupu Amel. Dokter Edo yang baru saja selesai mengobservasi pasien lain segera menghampiri Bayu yang tengah berdiri di depan brangkar sang istri.


Dokter Edo mencoba menjelaskan kondisi Nayla pada Bayu, hingga Bayu di buat manggut-manggut tanpa bisa berkata apa-apa lagi, ia begitu merasa khawatir dengan kondisi istrinya saat ini. Apalagi Dokter Edo mengatakan bahwa Nayla sudah dalam kondisi tak sadarkan diri, dan lebih parahnya lagi dia sudah masuk kedalam tidur dalamnya, yang artinya istrinya itu sedang dalam kondisi koma, hal ini disebabkan karena Nayla terlalu lama menahan rasa sakitnya dan terlambat mendapatkan penanganan.


Sekepergian Dokter Edo, Bayu hanya bisa memandangi dan meratapi tubuh mungil Nayla yang sudah di pasang berbagai macam alat, mulut mungil yang sangat cerewet, berisik dan bawel itu sudah dalam keadan terbuka, karena Dokter juga sudah memasang alat disana dan entah apa namanya. Sangat nampak jelas tak ada bagian tubuh Nayla yang terlewatkan untuk di pasang alat oleh sang Dokter.


Amel terlihat begitu terpukul melihat keadaan buruk sahabatnya yang sangat ia sayangi itu, begitu pula dengan Bayu yang nampak begitu terpukul dan merasa bersalah melihat keadaan istrinya bisa seperti ini tanpa ia duga.


Terakhir kali ia melihat Nayla istrinya itu, saat Nayla mengganggu waktu tidurnya dengan menyalakan lampu kamar mereka. Bayu merasa terganggu, cahaya lampu menyilaukan matanya yang baru saja ia pejamkan. Disaat Bayu yang kesal kala itu, ia refleks memberikan tatapan tajam yang kembali menusuk hati Nayla yang sudah terluka. Nayla yang sadar sudah mengganggu tidur sang suami hanya bisa mengucapkan kata "Sorry" yang tetap saja diabaikan oleh Bayu. Sungguh saat ini Bayu sangat menyesali dengan apa yang ia perbuat hari ini terhadap istrinya.


Amel yang ingin Nayla terbangun terus saja mengggoncangkan tubuh Nayla agar Nayla terbangun dari tidur dalamnya. "Bangun Nay, jangan tinggalin gue blay...jangan diem aja blay, dunia gue ini sepi tanpa keberisikan lo, Blay..." ucap Amel masih dengan isak tangisnya.


Betapa terkejutnya Neil saat ia mendapati adik sepupunya itu sedang berusaha membangunkan Nayla dengan mengguncangkan tubuh Nayla. Segera ia mendekati Amel yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Nayla yang tak lagi berdaya itu.


"Mel, udah-udah! Jangan kaya gini! Dia pasti akan baik-baik aja kalau gumpalan darahnya di keluarin secepatnya. Kamu kenal dia bukan? Dia perempuan yang kuat dan tegar," Ucap Neil berusaha menenangkan sepupunya itu. Ucapan Neil yang menenangkan Amel terdengar oleh Bayu. Ucapan itu pun sedikit mencuri perhatian Bayu.


'Sepertinya Pria itu sangat mengenal baik istriku, tidak mungkin diantara mereka tidak ada hubungan, buktinya dia begitu mengetahui bagaimana karakter istriku. Apa dia salah satu mantan Nayla?' Batin Bayu yang bermonolog memgenai Neil, sepupu Amel.


Amel seketika terdiam saat mendengar perkataan Neil, ia berhasil di tenangkan oleh Neil, sepupunya itu. Secepat itu Amel di buat tenang oleh Neil karena memang Amel sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh sepupunya itu. Karena Neil merupakan tipe pria yang selalu berkata jujur apa adanya, tidak seperti pria lain di luaran yang suka berkata bohong untuk menutupi sebuah kebenaran, demi keinginan terselubungnya.


Di dunia ini hanya dua orang yang Amel percayai. Pertama Neil sepupunya itu dan yang kedua adalah Nayla sahabatnya, untuk selebihnya ia tak percaya dengan satu orang pun di dunia ini, termasuk kedua orang tuanya sekalipun. Meskipun lawan bicaranya itu sudah bersumpah atas kebenaran atas kata-katanya sekalipun pada dirinya, Amel tetap tak akan percaya. Karena begitulah Amel.

__ADS_1


"Mel, Lo udah berhasil bawa suami begonya dia belum, Mel?" tanya Nel yang tak sadar jika Bayu suami Nayla ada di antara mereka.


"Udah, tuh." jawab Amel yang menunjuk Bayu dengan bibirnya.


Arah mata Neil mengikuti arahan bibir Amel yang ketika ia menunjuk dimana posisi Bayu saat ini, cukup maju hingga hampir 5 cm panjangnya, pandangan Neil dan Bayu pun bertemu. Tidak ada keramahan diantara tatapan kedua pria itu.


Neil dengan rasa penuh percaya diri menghampiri Bayu yang berdiri tak jauh dari brankar rumah sakit dimana Nayla berbaring.


"Gue, mau tanya sama lo Bro, lo bersedia untuk lapor atau gak? Kalau lo gak bersedia, gue yang akan lapor ke kantor polisi atas apa yang menimpa Nayla di kampusnya siang ini, hingga mengakibatkan kondisinya memburuk seperti saat ini. Dan perlu lo tau, tadi sebelum bini lo gak sadar, dia minta gue untuk lakukan visum, dia bilang ke gue, kalau dia habis di aniaya sama teman kampusnya siang ini dan gue udah tanya Amel mengenai kronologi kejadian yang menimpa bini lo. Amel membenarkan memang iya benar bini lo ini habis di aniaya sama geng apalah gue gak tau, dan itu semua ada sangkut pautnya dengan Lo," seru Neil dengan pertanyaan dan pernyataannya.


"Berikan hasil Visum Nayla pada saya, saya akan laporkan hal ini langsung ke kantor polisi besok, sekarang saya harus urus Nayla terlebih dulu," jawab Bayu yang menerima bukti hasil visum yang diberikan Neil padanya.


Tiga puluh menit kemudian, persiapan operasi pun di mulai. Rambut hitam panjang nan indah kebanggan Nayla mulai dipangkas habis. Amel yang melihatnya tak berhenti menangis. Sahabat yang begitu setia itu, memgumpulkan rambut indah sahabatnya helai demi helai yang berjatuhan dilantai, kedalam sebuah plastik. Rencananya ia akan menyimpannya dan menunjukkan pada Nayla, ketika Nayla sadar nanti. Bahwa rambut kebanggannya berhasil ia kumpulkan dan tak ada satupun yang terbuang.


Sementara Bayu di sudut ruangan lain, berusaha menghubungi anggota keluarga Nayla yang sulit di hubungi, mungkin karena masih jam istirahat tidur. Ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Ayah mertuanya dan juga kakak iparnya, mengenai kondisi buruk Nayla saat ini.


Setelah rambut Nayla selesai di pangkas habis, Nayla di bawa keruangan operasi yang berada diujung lorong rumah sakit. Saat Nayla sudah berada di pintu ruang operasi, Bayu mengecup pipi Nayla dan berbisik berkali-kali mengatakan permintaan maafnya, "I'm sorry, baby, aku benar-benar minta maaf padamu, aku tak bermaksud menyakitimu, aku melakukan semua ini demi kebaikan mu, berjuanglah untuk kembali sehat sayang," bisik Bayu dengan suara yang lirih.


Empat jam berlalu Bayu, Amel dan Neil menunggu proses operasi berlangsung. Disaat menunggu Bayu akhirnya mendapatkan balasan pesan dari assistennya yang sedang ia tunggu-tunggu. Ia langsung saja menghubungi assistennya itu melalui sambungan telepon untuk mengetahui lebih jelasnya.


"Bagaimana? Sudah Cek semua CCTV di universitas?" tanya Bayu yang sudah tak sabar menunggu jawaban lawan bicaranya di seberang sana.

__ADS_1


__ADS_2