Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 232


__ADS_3

Kondisi kamar yang gelap, tak membuat Nayla tahu siapa yang masuk ke dalam kamar. Ia pikir yang masuk adalah Ratna dan juga Riska. Ia sama sekali tak berpikir jika Bayu yang masuk ke dalam kamarnya itu.


Dengan mengendap-endap seperti seorang maling. Bayu naik ke atas ranjang tidur dimana Nayla sedang terkikik geli di sana. Hal pertama yang Bayu lakukan adalah berbaring terlebih dahulu di sisi Nayla.


Kemudian tangannya mulai memeluk tubuh Nayla dengan lembut. Seperti yang biasa dilakukan Ratna dan Riska pada Nayla. Bayu merasakan tubuh Nayla terus bergerak karena tengah terkikik geli dalam diamnya.


"Senang sekali rupanya kamu sayang, rupanya kamu memang sengaja membuatku dimarahi oleh Mommy dan juga Bunda, ya." Gumam Bayu yang tangannya mulai merambat ke bagian atas perut Nayla.


Sadar jika yang naik ke atas ranjangnya bukanlah Riska ataupun Ratna. Dengan gerakan cepat, tangan Nayla menangkap tangan nakal Bayu yang baru saja tiba di bagian dadanya, tak lupa kaki jenjang Nayla langsung mengunci pergerakan kaki Bayu, agar tidak kabur.


Berkali-kali Bayu mendapatkan sikutan tangan Nayla dibagian perutnya, hingga ia menjerit kesakitan.


"Eh Mami, hadduhh... Stop! Sakit!" Pekik Bayu yang kesakitan.


Mendengar pekikan kesakitan suaminya Nayla langsung menghentikan aksinya.


Ia menyalakan lampu temaram yang ada di atas nakas sisi ranjang tidur mereka.


Nayla dapati Bayu meringkuk kesakitan memegangi bagian perutnya.


"Ya ampun maaf Pih, sengaja," ucap Nayla yag terlihat khawatir dan berusaha mengusap-ngusap perut suaminya.


"Aduh Mih, badan kecil tenaga sumo, ya Allah sakit beneran nih Mih."


"Ya siapa bilang bohongan, Mami gak ngomong." Sahut Nayla.


Bayu menelentangkan tubuhnya, menarik tangan Nayla untuk mengusap bagian atas perutnya berulang-ulang.


"Pakai minyak kayu putih ya Pih," tawa Nayla yang segera ingin berajak mengambilnya.


"Gak usah gini aja Mih," tolak Bayu yang masih kelihatan meringis.


Tak lama kemudian tangan Nayla tak lagi diarahkan untuk mengelus bagian atas perutnya, tapi diarahkan untuk mengelepar bagian bawah perutnya yang sudah mengeras.


"Ehh, belut siapa ini keras banget ya?" Tanya Nayla terkikik geli ketika melihat wajah meringis Bayu seketika berubah.


Rupanya Bayu hanya berakting kesakitan dengan wajah meringisnya tadi.


"Ayo Mih!" Ajak Bayu pada Nayla.


"Ayo apaan? Mami lagi sakit, jangan aneh deh!" Tolak Nayla.


"Yang sakit 'kan perutnya bukan itunya," Bayu terus mencoba melobi sang istri.

__ADS_1


"Iya tapi sakitlah, jahitannya nanti rembes ah gimana sih." Gerutu Nayla.


"Jadi?"


"Jadi apa?"


"Jadi gak mau nih?"


"Maulah, tapi takut." Jawab Nayla yang mana bisa menolak jika diajak beginian oleh Bayu.


Bayu tersenyum riang gembira mendengar jawaban istrinya.


"Tenang Mih, Papi akan main lembut."


"Hemmm," sahut Nayla sembari tersenyum malu.


Bayu segera bersiap untuk melakukan power play. Ia bangkit dari posisi berbaringnya. Baru saja ia mengungkung tubuh Nayla. Pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka. Muncul sosok Sultan yang menggendong Bianca berdiri di ambang pintu.


"Hei, Papi mau ngapain?" Tanya Sultan dengan membulatkan matanya.


Putranya ini berjalan dengan gagah sembari menggendong Bianca mendekat pada kedua orang tuanya, setelah sebelumnya menutup pintu kamar dengan sebelah kakinya.


"E-eeee...." Bayu speechless melihat putranya sanggup menggendong putri bungsunya, dan kini ia jadi kesulitan menjawab pertanyaan putranya sendiri.


"E-eee apa?" Tanya Sultan dengan tatapan tajamnya.


"Alasan nih Papi," sahut Sultan yang langsung menurunkan Bianca dari gendongannya.


"Sana samperin Mami Dek!" Perintah Sultan pada Bianca yang belum bisa merangkang, karena Bianca baru hanya bisa duduk, sesuai dengan usianya.


Bianca yang sudah mengerti perintah sang kakak langsung saja berguling menuju tubuh Nayla.


Bayu dan Nayla dibuat terkagum-kagum sengan kecerdikan Bianca.


"Siapa yag ngajarin guling-guling kaya gitu sayang humm?" Tanya Nayla gemas pada putrinya.


"Aku Mih," jawab Sultan menyombongkan dirinya.


"Wah anak Mami memang pintar dalam segala hal. Sini sayang Mami kasih hadiah!"


Sultan mendekati Nayla dan masih menatap taham Bayu yang tak juga menyingkir dari tubuh Nayla.


"Awas Pih, Mami mau peluk aku!" Ucap Sultan sembari mendorong tubuh Bayu.

__ADS_1


Tenaga Sultan yang kini cukup kuat berhasil menjatuhkan Bayu ke sisi kiri Nayla.


"Ya Tuhan, tenaga mu Nak, besar sekali." Ucap Bayu yang mulai curiga dengan tangan kekar sang putra.


"Selama ini aku sering ikut nge-gym barengan Tante Angel, boxing juga Pih."


"What's?" Bayu terkejut dan menutup kedua wajahnya.


Tak ia sangka, Sultan yang ia kira hanya main di Mansion Jessica, ternyata latihan olahraga dewasa. Pantas saja dia sangat bersemangat jika pergi ke Mansion Jessica dan Andre.


Setelah memeluk Sultan, Nayla langsung menyusui Bianca.


"Siapa yang anter kalian pulang?" Tanya Nayla pada putranya yang berbaring di samping Bianca.


"Banyak Mih, ada Eyang akung, Eyang Uti, Kakek Nico, Nenek Lestari, Om Ferdy dan Om-om yang lain. Tadinya kita masih betah di sana. Tapi Daddy sudah minta kita untuk pulang." Jawab Sultan bersemangat.


"Tapi Sultan sudah ganti bajukan sama Ade?"


"Sudah Mih, makan juga sudah."


"Pintar, sekarang tidurlah sayang, sudah malam. Lihat adikmu sudah tidur." Ucap Nayla yang menunjukkan Bianca yang sudah tertidur karena kenyang menghisap asi dari kedua-duanya.


Tak lama kemudian Sultan pun tertidur, malam ini mereka tidur di dalam satu ranjang yang sama. Bayu tidak diizinkan oleh Sultan untuk tidur di samping sang putra. Jadilah Sultan tidur di sisi bagian kanan dengan benyaknya guling sebagai penjagaannya.


Melihat anak-anaknya sudah tertidur, Bayu mengunci kamar tidur mereka dan mematikan lampu temaram.


"Jangan sekarang Pih!" Tolak Nayla saat tangan Bayu mulai nakal menggerayangi bagian tubuhnya.


"Pegang aja kok." Kilah Bayu dengan akal-akalannya.


Namun mau bagaimana lagi, si mantan Duda berpengalam ini terlalu lihai dalam hal taktik penyerangan. Nayla yang awalnya menolak sekarang malah jadi menginginkannya. Setelah jari nakal Bayi bermain di bawah sana.


"Ke sofa yuk Mih!" Ajak Bayu yang kini sama sekali tak ada penolakan dari Nayla.


Akhirnya Bayu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, meski melakukannya dengan sangat hati-hati.


"Cepat pulih Mih, Papi mau Mami yang memimpin." Ucap Bayu saat ia hampir sampai di titik kenikmatannya


"Hemmm.... Iya." Jawab Nayla dengan suara berbisik.


Usai melakukan penyatuan, Bayu membantu sang istri membersihkan diri. Ia menggendong Nayla masuk ke dalam kamar dan keluar kamar mandi pun demikian.


Ia baringkan kembali sang istri di atas ranjang. Kemudian Bayu mengambil Bianca agar Nayla bisa berbaring di antara Sultan dan juga Bianca.

__ADS_1


"Tidurlah sayang, terima kasih malam ini. I love you." Ucap Bayu sembari mengusap pucuk kepala istrinya.


"I love you to Pih," Balas Nayla yang langsung memejamkan matanya.


__ADS_2