
"Sadis lo Mel," ucap Nayla pada Amel yang telah menghabisi tiga nyawa dalam sekejab mata.
"Dia udah raba-raba bukit kembar kita, pelecehan. Orang yang ngelecehin kita pantas mati Nay."
"Loh kok lo tahu?" Tanya Nayla yang berjalan menghampiri Amel.
Baju daster yang terbuat dari kain sutra berwarna pink itu kini sudah berubah warna menjadi merah karena banyak percikan darah ketiga orang yang telah Amel habisi.
"Nih lo liat, ceplakan tangan kotornya pas di kedua gunung lo." Ucap Amel sembari menunjukkan bagian dada Nayla yang memang ada ceplakan tangan di sana.
"Hiyahh... ternodai gue. Papihh huaaaa...." pekik Nayla yang malah menangis sekencang-kecangnya.
Mendengar istrinya menangis, Bayu yang semula diminta tetap bersembunyi guna mengetahui apalagi yang akan dilakukan keduanya saat telah menghabisi musuhnya pun tak tega dengan suara tangisan istrinya. Ia datang berlari menghampiri Nayla.
Diana yang telah dianggap tiada oleh keduanya ternyata belum benar-benar mati. Memang orang jahat itu selalu memiliki nyawa candangan. Saat remang-remang matanya melihat sosok Bayu menghampri dan memeluk Nayla. Diana mengumpulkan sisa tenangnya yang ia miliki untuk bangkit meski bagian kepala dan lehernya terasa amat sangat sakit.
Diana mengeluarkan pisau lipat yang ada di dalam saku celananya. Ia hendak menusuk perut Nayla. Ia ingin membunuh Nayla bersama darah dagingnya. Belum sempat ia melangkah mendekati Nayla yang berada dalam pelukkan Bayu. Tiba-tiba, "Dorrr!" Pistol yang ada di tangan Endah memuntahkan timah panas.
Diana jatuh tersungkur tak bernyawa. Endah menembak punggung kiri Diana hingga menembus ke dada kirinya. Mendengar suara tembakan anak buah Jimmy segera masuk ke dalam gudang.
Mereka sedikit merasa heran hanya satu tembakan, kenapa ada tiga tubuh yang tergeletak di atas lantai dengan bersimbah darah. Untuk memastikannya mereka mendekati ketiga tubuh itu. Kemal sebagai ketua regu mafia sangat menyayangkan ketika melihat Pendi dan Jali tergeletak bersimbah darah.
"Rio, cek apakah Jali dan Pendi masih hidup?" Perintah Kemal pada anak buahnya.
Rio segera mengecek denyut nadi Jali dan Pendi.
"Masih hidup Bos," jawab Rio.
"Bawa dia kerumah sakit! Joseph masih memiliki urasan penting dengan mereka berdua." Perintah Kemal pada Rio dan anak buahnya yang lain.
Mengetahui kedua pria yang telah melecehkannya masih hidup. Amel yang kini berdiri di antara Endah dan Hendra, secepat kilat merebut pistol dari tangan Endah.
__ADS_1
"Tetap letakkan mereka di situ!" Ucap Amel dengan beraninya mengacungkan pistol tepat dikepala Rio.
"Mel, jangan tembak! Dia anak buahku!" Pekik Jimmy pada Amel.
"Aku tak akan menembak jika mereka menuruti perintah ku." Balas Amel yang tetap mengacungkan pistol ke kepala Rio.
"Letakkan mereka!" Pekik Jimmy memerintah anak buahnya untuk kembali meletakkan Pendi dan Jali.
Saat keduanya kembali di letakkan. Kini Amel mengarahkan pistol yang ada di tangannya pada tangan Jali yang tergeletak tak jauh dari dirinya berpijak saat ini.
"Kalian butuh manusia ini bagian mana?" Tanya Amel pada Kemal dengan tatapan sangarnya. Jujur semua orang tak menyangka dengan sikap yang Amel tonjolkan hari ini.
"Kami hanya butuh dia bicara," jawab Kemal singkat.
"Ok, berarti kalian tidak butuh tangannya bukan?"
Belum sempat Kemal menjawab, Amel sudah melepaskan tembakan pada kedua tangan Pendi dan Jali.
"Kami masih butuh kakinya untuk menunjukkan dimana barang-barang kami yang di sembunyikan Pendi dan Jali." Jawab Kemal dengan tatapan tak kalah tajam dengan Tatapan Amel.
"Sebenarnya aku ingin menghabisinya, tapi berhubung kalian membutuhkannya aku biarkan mereka untuk tetap hidup tapi dengan penderitaan." Ucap Amel yang kembali melepaskan timah panas di salah satu kaki Pendi dan juga Jali.
Khawatir kedua anak buah Joseph akan di habisi oleh Amel. Kemal memberi kode pada anak buahnya untuk segera membawa Jali dan Pendi keluar menjauh dari Amel.
"Sadis," cicit Andre, Bayu, Leon dan Jimmy.
"Keren," pekik Endah yang malah bertepuk tangan, ia merasa ada teman satu server dengannya sekarang.
Sedang Hendra, nelihat kekejaman calon istrinya, wajahnya sudah memucat dan hampir kehilangan kesadaran.
"Apa jadinya aku jika jadi menikah dengannya? Salah sedikit nyawaku bisa melayang hari itu juga." Gumam Hendra yang kemudian hilang kesadaran. Setelah matanya berkunang-kunang karena melihat darah berceceran dimana-mana dan bau amis dari darah itu sangat tak bersahabat demgan indra oenciumannya yang sensitif.
__ADS_1
Hendra pun jatuh pingsan, untungnya saat terjatuh tubuhnya ditopang oleh Leon yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Hah, cemen banget nih si Hendra tralala. Pakai acara pingsan segala. Yang mau diselamatin nyelamatin diri sendiri, eh dia malah... hadduhh.... Eh Bayu, bantu angkat kakak ipar mu ni. Berat!!" Oceh Leon yang mulutnya sekarang sudah persis seperti ibu-ibu diterjen.
Saat Bayu baru saja mengangkat tubuh Hendra. Tiba-tiba Nayla menjerit.
"Aaaa...mel... ketuban gue pecah," pekik Nayla yang sontak membuat Amel menoleh dan berlari kearah Nayla.
Seluruh mata menatap area pangkal paha Nayla, dan benar saja ada cairan yang mengalir cukup deras dari sana.
"Lo gak lagi ngompolkan? Lo bisa bedain pecah ketuban sama pipis kan Nay?" Tanya Amel serius.
"Gak ngompol Mel. Ini kekuarnya darinlobang yang di tengah Mel. Cepet bawa gue keluar dari sini. Gue gak mau lahiran di sini. Mending di pinggir jalan atau di tepi laut kerenan dikit jangan di gudang kosong kaya gini." Jawab Nayla yang merentangkan tangannya minta di gendong Amel. Di saat seperti ini, sempat-sempatnya ia memilkirkan tenoat untuk melahirkan.
"Hah, lo berat, gue gak mau gendong lo." Tolak Amel.
"Sama gue juga gak mau. Lo berat banget soalnya. Kecil-kecil tapi padat." Tambah Endah yang ikutan menolak.
"Huaaaa.... gak ada yang mau gendong gue. Suami gue malah gendong Kakak gue yang lemah alias letoy." Seru Nayla yang menangis.
Mendengar hal itu, Bayu yang terkesima dengan semua kejadiaan ini dan membuatnya menjadi Lola alias loading lama pun segera meninggalkan Leon yang tengah mengangkat Hendra bersamanya, ia berlari menghampiri Nayla dan segera menggendong istrinya itu. Ia membawa Nayla secepatnya pergi meninggalkan gudang dengan berlari.
Saat Bayu melepaskan tubuh Hendra begitu saja, tubuh Hendra pun terhuyung ke arah Leon.
Brughhh..[ Suara Leon terjatuh terlebih dahulu karena Hendra menimpa dirinya.]
"Arghhh.... Nayla, Bayu!" Pekik Leon yang kesal karena keduanya, ia jatuh dan tertimpa tubuh Hendra yang lebih besar dari tubuhnya.
"Hai Jimmy, Andre." Panggil Leon dari bawah tubuh Hendra.
"Ya, Leon. Kakak ipar ku." Jawab keduanya terlihat santai dan terkesan meledek.
__ADS_1
"Hah, cepat bantu aku, jangan diam saja!" Perintah Leon pada kedua adik iparnya yang malah senyam senyum tidak jelas.