Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 180


__ADS_3

Hari semakin larut, Hendra ikut memiringkan tubuhnya dan merapatkan dirinya pada tubuh Amel yang membelakanginya. Ia peluk tubuh istri yang sudah tertidur lelap itu. Tak hanya memeluk tapi tangannya mulai mengeksplor bagian yang ingin ia sentuh. Hingga terdengar suara ******* dari mata Amel yang masih terpejam.


"Masssss....ahhh, kmu masih belum tidur?" Tanya Amel dengan rasa kantuk yang sangat teramat menyiksa.


Dari belakang, Hendra mulai aktif menciumi leher serta bahu Amel yang sedikit terbuka, karena ia berhasil membuka beberapa kancing piyama baju Amel.


"Mas tidur ih aku benar-benar lelah, kita bisa melakukannya besok. Kalau Mas seperti ini, aku jadi nggak bisa tidur," ucap Amel kesal karena Hendra sudah dari tadi terus mengganggu tidurnya.


"Ini malam pertama kita Mel, biasanya sepasang pengantin itu kalau melalui malam pertama ya nggak tidur," balas Hendra yang tak berhenti dengan aktivitasnya di bagian tubuh belakang Amel.


"Oh ya begitukah?"


"Heemm" jawab Hendra.


"Ya itu kan mereka, kalau kita tidak ikut aliran mereka Mas, aku mau tidur, ngantuk." Tukas Amel dan kembali memilih untuk memejamkan mata.


"Mel... Amel..."panggil Hendra.


"Tidur, Mas,"


"Gak bisa Mel, tolong buat akau tertidur dong," pinta Hendra yag tak berhenti mengecup bahu Amel dan sesekali ia menyesapnya hingga meninggalkan bercak merah di kulit putih Amel.


Pada akhirnya Amel membalikkan tubuhnya, dalam suasana gelapnya kamar mereka dan hanya sebuah cahaya rembulan yang masuk menyinari kamar mereka, Amel mengecup bibir Hendra. Berharap Hendra akan segera tertidur jika sudah diberi kecupan dari Amel.


"Dah, cepat tidur!" Ucap Amel setelah mengecup bibir Hendra sekilas.


Hendra tertawa mendengar ucapan Amel yang menyuruhnya tidur hanya dengan satu kecupan saja.


"Jika hanya kecupan sekilas yang kamu berikan, Mas nggak akan bisa tidur Mel." Balas Hendra yang sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk memulai aksinya.


Cup


"Mmmphhhh...."


Hendra tidak lagi mengecup bibir Amel dengan sekilas, tapi ia sudah memakan kedua bibir kenyal di bagian atas dan juga bawahnya. Berawal dengan kecupan yang lembut kemudian sedikit brutal dan makin brutal karena Amel ternyata tidak tinggal diam saja. Ia menyambut dan terus membalas pangutan yang diberikan Hendra.


Posisi tidur mereka yang semula miring kini berubah. Tanpa melepas pangutan mereka Hendra berhasil memutar tubuh Amel hingga terlentang.


Amel terus mengikuti irama permainan yang dipimpin oleh Hendra. Rasa kantuk yang semula dirasakan Amel kini telah hilang dan sirna.

__ADS_1


Amel memeluk erat leher Hendra membuat Hendra m3lum4t bibir Amel lebih dalam lagi. Amel merasakan hangatnya lidah Hendra, saat Hendra sedikit menggigit bibir Amel, agar ia membuka sedikit mulutnya. Lidah mereka pun saling bertemu dan membelit satu sama lain.


Tak hanya lidahnya yang terus bergerak menelusuri bagian rongga mulut Amel, tangan Hendra pun terus mengeksplor tubuh Amel, hingga menemukan bagian yang diinginkan Hendra.


"Emmmmmphhhhh.... Eummmmm...." Terdengar Amel terus melengkung, saat kecupan Hendra makin turun menyusuri leher jenjangnya kemudian makin ke bawah dan berhenti di bagian bukit kembarnya.


"Ahh Mas.... Ini geli sekali ahhh..."ame kembali mengeluarkan suara sensualnya saat lidah Hendra menari-nari di pucuk dua bukit kembarnya.


Sungguh ini adalah sensasi yang belum pernah Amel rasakan sebelumnya, kepalanya mendongak sembari berdesis dan menjambak rambut Hendra saat kedua bukit kembarnya dimainkan secara bergantian.


"Ahhh... mas...," Amel kembali melenguh yang terdengar begitu merdu di telinga Hendra.


Semakin Amel melengkung semakin bersemangat Hendra untuk berselancar pada tubuh yang sudah halal baginya.


Puas dengan bagian bukit kembar milik Amel, kini Hendra berpindah ke bagian bawah. Dikecupnya bagian tubuh Amel yang ia lewati, hampir sebagian kulit tubuh Amel diberi bercak tanda kepemilikan oleh Hendra.


Malam ini Amel benar-benar hanyut dalam sentuhan Hendra.


"Kamu sudah siap sayang?" Tanya Hendra ketika ia ingin segera menjebol gawang milik Amel.


"Heemmm...." Jawab Amel sembari mengangguk.


"Ahhh.... Mas ..eughhhh....ahhhh.. sudah ahhh" Amel tak bisa menahan sensasi geli dan nikmat yang kini ia rasakan.


"Mas, ahhh.... Aku ingin pipis... Sudah cukup ahhhh..."


"Keluarkan sayang, aku menunggu mu." Ucap Hendra yang malah tak menghentikan aksinya. Hingga sebuah cairan keluar dari bagia inti milik istrinya.


Nafas Amel memburu dan tersengal-sengal setelah sesuatu meledak dari tubuhnya untuk pertama kalinya.


"Gimana rasanya sayang enak kan?" Tanya Hendra dengan senyum menyeringai.


"Heemmmm. Makasih ya Mas." Jawab Amel yang masih terlihat lemas.


"Jangan terima kasih dulu sekarang kamu harus membuat aku merasakan apa yang kamu rasakan saat ini." Balas Hendra.


Hendra kembali memulai posisikan lagi tubuhnya untuk melakukan sesi selanjutnya. Sesi yang menjadi bagian inti dari sebuah kegiatan bercinta.


Iya mulai mengarahkan benda pusakanya pada bagian inti milik Amel.

__ADS_1


"Ahh... Mas... Sakit, "rinti Amel padahal benda pusaka Hendra belum masuk sepenuhnya.


Benda pusaka itu masih berada di depan pintu gerbang gawang milik Amel.


"Ini belum apa-apa sayang tahan sebentar!" Sahut Hendra yang masih berusaha menerobos pintu gerbang gawang milik Amel yang masih tersegel.


Berkali-kali Amel menjerit meringis kesakitan namun itu tak membuat Hendra menyerah hingga.


Blushhhh


"Aaaaaaaa....." Pekikan dan jeritan terdengar saat benda pusaka itu berhasil masuk ke dalam gawang milik Amel.


Hendra ikut menjerit karena bahunya dicakar begitu dalam dengan kuku-kuku Amel yang panjang.


"Diam dulu Mas... Tenang dulu... Jangan bergerak.... Bergerak tabok nih ahhhh.... Rasanya aku mau mati saja... Sakit sekali," sempat-sempatnya Amel mengomel di saat seperti ini.


Demi melancarkan aksinya Hendra pun mengalah dan membiarkan Amel sedikit rileks dan terbiasa dengan miliknya yang berada di dalam gawangnya.


Setelah Amel terlihat tenang, Hendra pun mulai menggoyangkan sedikit demi sedikit tubuhnya. Perlahan tapi pasti Hendra mulai memompa tubuh Amel. Amel terlihat meringis di awal permainan mereka, namun lama-kelamaan Amel mulai menikmati goyangan Hendra. Bahkan ia mulai mau mencoba apa yang pernah diajarkan Nayla padanya.


"Aku mau coba di atas Mas," pinta Amel saat mereka melakukan permainan ini di season ke dua.


"Dengan senang hati sayang," jawab Hendra yang kesenangan.


Amel pun mulai menari-nari turun naik di atas pangkuan Hendra. Tak hanya Amel, Hendra pun juga ikut melenguh menikmati permainan sang istri yang kini semakin liar di atas pangkuannya.


"Suka Mas?" Tanya Amel yang terus naik turun di pangkuan Hendra.


"Banget Mel, kamu cepat pintar ya." Jawab Hendra memuji permainan sang istri.


"Aku banyak belajar dari Nayla, tapi praktek belum ahhhh.... Mas kayanya aku sudah mau pipis lagi." Ucap Amel yang kemudian makin mempercepat goyangannya.


"Bersama sayang, lebih cepat lagi." Pinta Hendra dan tak lama kemudian meledaklah hasrat keduanya.


Amel oun menjatuhkan tubuhnya yang sudah terkulai lemas,


"Sudah mas, dua ronde cukup untuk permulaan. Aku sudah capek sekali " ucap Amel yang dala hitungan detik langsung masuk kedalam alam mimpinya lagi.


"Mel... Bangun bersih-bersih dulu." Perintah Hendra yang sama sekali tak mendapat sahutan dari Amel.

__ADS_1


__ADS_2