
Satu jam kemudian Jimmy and the gang kembali ke mention Nayla. Kelima pria itu disambut oleh para bidadari mereka. Bukannya kondisi mereka yang ditanyakan oleh kelima wanita itu tapi pesanan merekalah yang mereka pertanyakan pada para suami mereka.
"Sate Mama mana Pah?"Tanya Endah sebagai pelopor. Sang suami diam saja tak berani menjawab pertanyaan sang istri. Pasalnya Jimmy tak membelikannya. Padahal Bayu sudah mengingatkannya sebelumnya jika para istri mereka memesan sate.
"Sate untuk Mommy mana Dad?"Tanya Jessica. Berbeda dengan Jimmy yang diam saja, tanpa menjawab Andre langsung memberikan kantong plastik yang ada di tangan kanannya. Jessica tersenyum manis pada Andre yang telah membelikan pesanan untuk dirinya.
"Pedas 'kan Dad?" Tanya Jessica yang dijawab anggukan kepala oleh Andre.
"Pulang yuk, kita makan!" Ajak Jessica langsung merangkul lengan Andre.
"Anak-anak kita mana Mom?" Tanya Andre tak melihat kedua sosok putra dan putrinya.
"Sudah tidur dan dibawa pulang oleh Bowo dan juga Angel." Jawab Jessica yang kemudian pamit pada sang Tuan rumah.
Begitu pula dengan Leon dan Anna mereka berpamitan pulang. Setelah Leon memberikan plastik berisi sate ayam, sate kambing dan sop kambing pada Anna. Meskipun sebelumnya Anna bertanya mengapa plastik miliknya lebih besar dari yang lain.
Saat Leon menjawab ada sate kambing dan sop kambing di dalamnya. Anna malah tersipu malu. Ia tahu betul jika Leon akan menyeruduk dirinya ketika usai memakan masakan berbau kambing.
Sedangkan Hendra tanpa ditanya ia langsung masuk ke dalam kediaman adiknya, setelah sebelumnya ia menunjukkan sekantong kresek di tangannya yang berisi sate ayam lima puluh tusuk beserta lontongnya.
Endah yang melihat semuanya sudah berpamitan dan pergi kembali ke mansion mereka masing-masing, terkecuali Amel dan Hendra. Ia langsung melirik dengan tatapan sengit pada suaminya yang berdiri tepat di hadapannya.
"Jangan bilang papa nggak beli sate buat mama?" Tanya Endah dengan berkacak pinggang.
"Maaf Mah. Papa memang tidak membelikan sate untuk Mama." Jawab Jimmy santai.
"Terus papa beliin apa untuk mama?"
__ADS_1
"Nggak beli apa-apa ma. Karena papa tahu walaupun papa beliin Mama sate atau makanan lainnya Mama akan tetap marah-marah sama papa dan papa yang akan dijadikan sate oleh Mama." Jawab Jimmy yang tahu sebentar lagi kemarahan sang istri akan pecah. Karena sejak kedatangannya tadi Endah belum memperhatikan mobil milik dirinya yang kembali hancur di tangan sang suami.
"Memangnya papa salah apa sampai papa tahu kalau papa akan Mama jadikan sate?" tanya indah yang sudah dalam mode juteknya.
"Tuh lihat!" Unjuk Jimmy pada mobil sedan mewah yang terparkir di depan teras mention Nayla dan Bayu.
Tak hanya Endah yang memusatkan pandangan ke arah mobil sedan mewah yang dikendarai oleh Jimmy tadi, tapi juga Nayla dan Bayu yang ikut-ikutan memusatkan pandangan mereka ke arah mobil yang ada di hadapan mereka.
Lirikan tajam kini Jimmy dapatkan dari sang istri, dengan tanpa ragu Endah memajukan langkah kakinya mendekati bagian belakang mobil sedan mewah koleksinya.
"Papa kenapa mobil mama bisa dibuat seperti ini?" Petik Endah sembari menunjuk ke arah bagian belakang mobilnya yang hampir tak berbentuk.
"Ini karena abangmu Leon di dalam mobil dia membuat keonaran hingga akhirnya papa mengerem mendadak saat di jalan tadi. Jika mama tidak percaya mama tanyakan saja pada Bayu." Jawab Jimmy yang sangat pandai untuk mengalihkan kesalahannya.
Mendengar nama Bayu disebut-sebut oleh suaminya Endah pun mengalihkan tatapan tajam yang seakan sedang menguliti diri Bayu. Tatapan itu seakan bertanya apakah benar pernyataan Jimmy yang diutarakan padanya.
"Jimmy benar. Sepanjang jalan tadi Leon selalu membuat keonaran. Dia juga mengatakan bahwa suamimu adalah adik ipar durjana." Jawab Bayu yang membuat Endah bertanduk.
Meskipun suaminya adalah seorang mafia tapi tak sepantasnya Leon mengatakan jika suaminya ini adalah adik ipar durjana. Tak terima suaminya dikatakan adik ipar durjana dengan emosi Endah langsung masuk ke dalam mobil dan meminta Jimmy untuk ikut masuk.
Tanpa berpamitan Endah dan Jimmy meninggalkan mention Nayla dan Bayu. Enda melajukan kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi menuju mention Leon yang berada di ujung jalan.
Sekepergian Jimmy dan juga Endah, Bayu dan Nayla masuk ke dalam mansion, mereka menghampiri Amel dan juga Hendra yang sudah berada di ruang makan. Keduanya tengah mempersiapkan cemilan berat mereka malam ini.
Usai menghabiskan sate ayam, keempatnya terlibat percakapan mengenai persiapan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Namun sebelum membicarakan mengenai persiapan pernikahan Hendra dan juga Amel. Bayu menanyakan kedua anaknya pada sang istri.
"Apa anak-anak sudah tidur Mih?" Tanya Bayu.
__ADS_1
"Sudah Pih. Mereka berdua sudah tidur." Jawab Nayla sembari merapikan piring-piring kotor yang ada di atas meja. Meski Nayla memiliki asisten rumah tangga yang dikepalai oleh bi Darmi, namun tetap saja Nayla tidak mau berpangku tangan, dia masih mau mengerjakan pekerjaan rumah yang masih bisa ia kerjakan.
"Apa kalian jadi menggunakan mention kalian sebagai tempat pernikahan kalian ini?" Tanya Bayu pada Hendra dan juga Amel.
"Ya, tentu saja. Lagi pula aku tidak mengundang banyak orang hanya keluarga terdekat dan relasi bisnis saja yang aku undang." jawab Hendra.
"Bagaimana dengan keluarga mantan istri mu Kak Hendra? Apa kau mengundang mereka?" Tanya Bayu pada Hendra yang terlihat tak nyaman dengan pertanyaan yang diutarakan oleh Bayu.
"Aku tak mengundangnya, jika aku mengundang mereka mungkin hal ini akan menjadi sebuah masalah. Sampai saat ini mereka masih tidak terima dengan kepergian Silvi. Padahal sudah takdir dari Tuhan yang menggariskan Silvi harus pergi untuk selamanya." Jawab Hendra sembari meremas tangan Amel. Gerakan tangan Hendra seakan memberikan kekuatan pada diri Amel.
Raut wajah keduanya yang berubah secara tiba-tiba, membuat Bayu dan juga Nayla berfikir yang tidak-tidak dengan keduanya. Baik Nayla ataupun Bayu merasa seperti ada yang mereka sembunyikan dari Bayu dan juga Nayla.
Apalagi Hendra tiba-tiba saja mengajak Amel untuk segera pulang, dengan alasan sudah terlalu larut malam. Padahal biasanya jika terlalu larut malam Hendra akan meminta Amel untuk menginap di kediaman Nayla, tapi tidak dengan malam ini.
Sikap tak biasa Hendra menambah kecurigaan Nayla pada sang kakak dan juga calon kakak iparnya yang merupakan sahabat baiknya.
"Nay gue pulang dulu besok gue balik lagi," pamit Amel pada Nayla yang duduk di sampingnya.
"Lo serius mau pulang? Biasanya kalau udah malam kayak gini lo bakalan nginep." Nayla menarik tak lengan Amel yang beranjak dari duduknya.
"Iya gue mau pulang." jawab Amel singkat.
Nayla menyerngitkan kedua alisnya saat mendengar jawaban singkat Amel yang terkesan datar.
"Ini Fix, ada yang sedang kalian sembunyikan. Lo harus berbagi sama gue Mel. Harus!!" Gumam Nayla di dalam hatinya.
"Lo nggak boleh pulang titik. Kak Hendra kalau mau pulang silakan pulang biar Amel menginap di sini." Pungkas Nayla dengan tatapannya yang tajam menatap kedua orang di hadapannya.
__ADS_1