Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 56


__ADS_3

Jika di rumah sakit Central Kusuma Bayu dan Nayla tengah meniti kebahagiaannya. Dengan berdamai dan saling memaafkan. Tapi tidak dengan Amel dan Hendra. Mereka masih terjebak dengan cinta yang belum usai.


Hendra kembali mendatangi rumah Amel. Rumah yang sudah empat bulan lamanya tak ia kunjungi, semenjak ia menikah dengan Silvi.


Hendra sengaja menghentikan mobilnya tak jauh dari kediaman Amel. Sebelum ia keluar dari mobil, ia memutuskan untuk berdiam diri beberapa saat di dalam mobil. Feeling-nya mengatakan Amel belum kembali kerumahnya itu. Dan benar saja, tak berapa lama Hendra berdiam diri di dalam mobil. Tiba-tiba saja mobil Amel datang dari arah berlawanan.


Tin [Suara klakson mobil Amel]


Seorang pembantu rumah tangga berusia paruh baya, membukakan pintu gerbang yang cukup besar. Terlihat betapa kewalahannya tubuh tua itu saat membuka maupun menutup pintu gerbang besar itu seorang diri.


"Anak itu masih malas saja membuka pintu, tidak kasihkah dia dengan Simbok yang sudah lanjut usia itu?" Gumam Hendra yang mengasihani pembantu Amel yang sudah lanjut usia.


Melihat pintu gerbang masih terbuka, Hendra segera bergegas keluar dari mobilnya. Ia berjalan dengan langkah cepat dan lebar untuk masuk ke dalam rumah Amel. Mbok Jum yang kembali melihat Hendra setelah sekian lama tak melihatnya sempat terperangah dan menghentikan aktivitasnya menutup pintu gerbang.


"Siang Mbok," sapa Hendra yang berjalan melewati Mbok Jum begitu saja.


"Den Hendra," gumam Mbok Jum dengan suara pelannya yang masih dapat di dengar oleh Hendra.


Hendra hanya menanggapi panggilan Mbok Jum dengan senyuman manisnya. Hendra menghampiri mobil Amel yang ia yakini sang empunya belum turun dari mobilnya itu. Hendra membuka pintu mobil Amel, saat ia melihat Amel akan turun dari mobilnya.


"Eh kodok loncat, copot jantung gue, eh kebuka sendiri mobil gue oncom... eh Mas Hendra!!" Latah Amel yang terkejut dengan pintu mobilnya yang terbuka sendiri dan muncul kehadiran Hendra di hadapannya.


Plak!! [Pukulan Amel layangkan di lengan Hendra dengan kerasnya.]


Alih-alih meringis kesakitan, Hendra malah tersenyum manis, memamerkan deretan gigi putihnya yang tertata rapih itu pada Amel.

__ADS_1


"Jangan nebar pesona di sini wahai suami orang!" Tegur Amel pada Hendra yang terus tersenyum padanya.


"Aku memang suami orang tapi akan jadi calon suami mu, Mel," sahut Hendra yang membuat Amel mendelikkan matanya.


"Rumah sakit jiwa sepertinya kehilangan satu pasiennya yang nyasar kesini, sepertinya aku harus telepon 911," balas Amel yang memilih meninggalkan Hendra.


Amel berusaha bersikap acuh pada Hendra, karena ia sadar diri, hubungan mereka sudah berakhir ketika Hendra mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu dan kedua orang tua Hendra dan juga orang tua Silvi.


Amel masuk ke dalam rumahnya dan membating dirinya di sofa ruang Tv. Melihat majikanya terlihat lelah, tanpa di minta Mbok Jum segera memberikan segelas es jeruk kesukaan Amel untuk Nona mudanya itu. Amel segera menengguk minuman segar itu hingga habis tak tersisa. Kemudian ia menyalakan televisi, menonton film kartun kembar botak yang selalu berhasil membuatnya senam wajah dan mengocok perutnya.


Hendra yang ditinggal Amel, tak langsung masuk ke dalam rumah Amel. Ia memilih duduk di teras depan seperti biasanya. Menikmati sebatang rokok dan menunggu Amel menyiapkan kopi untuk dirinya. Lama Hendra menunggu kopi yang selalu ia rindukan itu datang. Tapi sudah sebatang rokok ia hisap hingga habis kopi yang ia nantikan tak juga datang.


Hendra seakan lupa, jika semuanya telah berubah, tidak seperti dulu lagi. Dengan rasa kecewanya karena tidak dibawakan kopi oleh Amel, ia masuk ke dalam rumah. Ia dapati Amel mulai terpejam sambil menonton film kartun kesukaannya itu.


"Disini bukan warung kopi Pak," jawab Amel cuek, tanpa menatap wajah Hendra. Tatapan matanya masih menatap lurus ke arah televisi.


"Jangan mancing!" Ucap Hendra yang memilih duduk di samping Amel. Ia menatap lekat wajah Amel yang tak bisa ia lupakan. Wajah yang berusaha ia benci malah makin ia cintai.


"Siapa yang mancing siapa, yang Mas maksud hum?" Tanya Amel yang kini menatap wajah Hendra. Ia seakan menuntut penjelasan atas perkataan Hendra.


"Jangan bersikap dingin, padahal hati mu ingin Mel,"


"Hahahaha jangan bersikap ingin memiliki tapi ujungnya meninggalkan Mas! Cukup mempermainkan perasaan aku, ini hati untuk di cintai bukan untuk di sakiti, aku selalu mengingat kejadian dimana kita harus berpisah dan mengakhiri kisah kita tanpa alasan, kenapa kamu tiba-tiba menghadirkan dia diantara kita dan langsung menjadikan dia pendamping hidupmu. Sedang aku, kamu hempas begitu saja tanpa rasa iba sedikit pun pada ku," ungkap Amel seraya menunjuk-nunjuk dada Hendra.


"Aku punya alasan," balas Hendra singkat.

__ADS_1


"Apapun alasanmu sekarang, aku tak perduli. Kehilangan dirimu yang membuat ku terpuruk kala itu, seakan membuatku tersadar untuk tidak terlalu dalam mencintai seseorang yang hanya akan berujung kecewa," jelas Amel yang menohok hati Hendra.


"Aku sadar betul telah menyakiti mu, aku salah aku akui itu, tapi aku tak bisa menolak ketika seseorang yang umurnya sudah di vonis oleh Dokter ingin merasakan hidup bahagia bersama dengan ku, disisa umurnya yang tak lagi lama, terlebih dia adalah cinta pertama ku," ungkap Hendra yang malah membuat Amel tertawa.


"Hahahaha lucu. Se-ingin itukah kamu mendampingi cinta pertama mu, hingga mengalahkan semua rasa mu pada ku, Mas?" Tanya Amel dengan tawanya namun air matanya dengan kurang ajar, terjun bebas tanpa bisa ia bendung.


Hati siapa yang tak sakit, mendengar kejujuran yang malah membuka luka hati yang hampir saja mengering. Hendra tak bisa menjawab pertanyaan Amel padanya. Ia sadar betul kejujurannya saat ini telah melukai perasaan Amel.


"Kenapa diam? Haruskah aku mengerti segala keinginan mu yang mengorbankan perasaan ku? Lihatlah dengan jelas! Rumah sebesar ini, hanya aku dan pembantu-pembantu ku yang tinggal. Kemana orang tua ku? Mereka pergi meninggalkan ku tanpa mengerti bagaimana perasaan ku dan kamu pun sama. Apa aku ini hanya sampah yang tak berharga dimata kalian? Dengan sesuka hati meninggalkan ku dan sesuka hati kembali tanpa perduli bagaimana aku belajar tegar, belajar sanggup meskipun aku selalu tertatih menahan sesak di dada ini, belajar ikhlas menerima takdir Tuhan yang benar-benar menguras air mata ku," sambung Amel dengan derai air matanya.


"Amel maafkan aku," Hendra berusaha memeluk Amel namun Amel menolaknya.


"Pulanglah! Kembalilah pada istri mu, Mas. Karena kata maaf mu tak akan mengembalikan keadaan dan tak akan merubah segalanya. Aku sudah terbiasa terluka, tak perlu mengkhawatirkan diriku yang bukan siapa-siapa mu,"


"Tidak, kamulah tempatku kembali, Mel. Karena hati ini masih milikmu, akan ku obati semua luka yang telah ku torehkan pada mu, dengan kebahagiaan yang akan aku berikan pada mu nanti, setelah tugas ku telah selesai," tukas Hendra yang menarik lengan Amel hingga tubuhnya masuk kedalam dekapan Hendra.


"Seberapa kuat aku melupakan mu, berusaha membenci mu dan berusaha membuat mu benci pada ku, sama sekali tak bisa membuat ku menghapus rasa cinta ini pada mu, Mel. Apalagi kamu selalu berada dekat dengan ku, dengan menjadi sahabat baik adikku," ungkap Hendra saat ia memeluk tubuh Amel.


Amel terdiam mendengar ungkapan hati Hendra, ia tak menyahuti perkataan mantan kekasihnya yang merupakan kakak dari sahabatnya itu, untuk beberapa saat. Ketika hatinya mulai tenang dan pikirannya mulai jernih, Amel menghela nafasnya dalam sebelum membalas ungkapan hati Hendra.


"Izinkan aku untuk egois kali ini Mas. Aku tak ingin menjadi orang bodoh untuk seseorang yang sudah menyakiti ku. Menjadi pelakor bukan cita-cita ku. Aku tak ingin menyakiti hati wanita lain yang kini tengah mengandung seorang bayi yang tak berdosa. Sebab apa gunanya aku memiliki mu tapi aku melukai perasaan wanita lain, yang akan menjadi karma buruk bagi ku kedepannya. Tak akan ada yang tahu batas akhir umur seorang manusia di dunia ini. Jika takdir mu sudah bersamanya, berbahagialah dan berusahalah melupakan ku meskipun itu berat. Tapi jika takdir Tuhan berkata akulah pelabuhan terakhir mu, aku akan menerima mu dengan tangan terbuka tanpa lagi menengok segala luka yang pernah kau torehkan pada ku. Itupun jika aku masih sendiri," tutur Amel yang menatap lengkang manik mata Hendra.


Kali ini Hendra yang dibuat terdiam oleh perkataan Amel padanya. Melihat Hendra terdiam mematung Amel segera beranjak meninggalkan Hendra. Ia berjalan menaiki tangga sambil menangis.


"Kuat Amel... Kuat... Gue harus kuat dan tidak lemah. Jangan sampai perasaan kembali mempermainkan hidup Lo yang suram ini," gumam Amel menguatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2