Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 111


__ADS_3

Di sebuah Mall terbesar, termewah di kota J. Empat istri pengusaha ternama tengah duduk menikmati makanannya di sebuah restoran mewah.


Duduk di sebelah meja mereka, Pak Jono, Suster Marni, Angel dan juga Bowo. Yang juga tengah menikmati makanannya penuh keterpaksaan. Dimana perut mereka masih kenyang tapi sudah di paksa makan lagi dan lagi oleh keempat ibu hamil yang tengah asyik tertawa disela obrolannya.


"Baiknya mereka ini sungguh nyiksa perutku." Gerutu Suster Marni yang masih berusaha menghabiskan makanannya meskipun perutnya terasa ingin meledak karena kepenuhan.


Pak Jono, Angel dan Bowo hanya tersenyum menanggapi gerutuan Suster Marni. Sementara itu di meja para ibu-ibu hamil ini, Sultan menjadi primadona. Di suapi oleh ibu sambung dan juga calon ibu mertuanya, membuat hatinya merasa bahagia. Tak pernah ia sebahagia ini sebelumnya.


Namun suasana yang begitu bahagia di meja makan mereka tidak berlangsung lama, ketika seorang wanita berkaca mata hitam datang menyusup dan menarik tubuh Sultan secara tiba-tiba dari kursinya.


Wanita berkacamata itu menodongkan pistolnya kearah kepala Sultan. Membuat ke empat ibu hamil ini berteriak histeris terlebih Nayla dan Jessica.


"Anakku ahhhh.." teriak Nayla dengan mata yang berkaca-kaca, raut cemas dan khawatir terpancar di wajahnya.


"Calon menantu ku, Bowo, Angel lakukan sesuatu!" Pekik Jessica yang segera memerintahkan kedua anak buahnya.


Angel dan Bowo yang merasa kekenyangan mendadak menjadi bodoh, ia seakan lupa akan tugasnya.


"Ba-baik Nyonya." Jawab keduanya dengan wajah kelagapan.


Saat Bowo dan Angel berusaha melakukan penyelamatan pada Sultan. Wanita berkacamata hitam yang merupakan Claudia itu mengancam akan menembak Sultan jika ada satu orang pun yang mendekatinya.


Jangan tanya bagaimana kondisi Sultan saat ini. Dia sudah menangis dan meronta-ronta minta dilepaskan. Claudia yang sudah siap antisipasi, memasang pengaman pada lengannya yang pastinya akan di gigit oleh Sultan yang minta di lepaskan.


"Jika aku tidak bisa mendapatkan Bayu, tidak juga dengan diri mu Nayla!" Pekik Claudia yang di tujukan pada Nayla.


"Siapa dia Nayla?" Tanya ketiga ibu hamil itu dengan kompak.


"Mantan guru sekolah Sultan yang ada hati dengan suami ku." Jawab Nayla yang membuat ketiga ibu hamil bersaudara itu membulatkan bibirnya membentuk huruf O.


"Kalau kau mau suamiku silahkan saja, tapi jangan sakiti anak ku," balas Nayla dengan santainya, ia menyembunyikan rasa cemas dan khawatir di dalam dirinya setelah bisa mengendalikan perasaannya.


"Aku tak akan bisa memiliki Bayu, jika kamu masih hidup di dunia ini Nayla." Ucap Claudia yang menginginkan kematian Nayla.


"Hahaha, kau bodoh sekali. Kalau mau aku mati kenapa kau jadikan putraku sebagai sandraan mu." Ejek Nayla yang memancing ketawa ketiga ibu hami itu.

__ADS_1


"Iya juga ya, Nayla kau memang pintar. Bodoh sekali wanita itu." Ucap Endah yang berjalan mendekati Nayla dengan perut buncitnya.


"Hai, pelakor. Apa kau tidak mengenal siapa kami?" Tanya Endah yang sudah menyingkap dress bagian belakangnya.


Apa yang dilakukan Endah mencuri perhatian Nayla yang berdiri tepat dibelakangnya.


"Hah, pistol!" Cicit Nayla di dalam batinnya. Saat melihat Endah mengambil senjata dari bagian paha belakangnya. Mata Nayla semoat membola sesaat namun bahunya di tepuk oleh Jessica yang juga berdiri di sebelahnya.


"Santailah, jangan memacing kecurigaan lawan mu." Gumam Jessica dengan suara yang begitu pelan, yang hanya dapat di dengar oleh keduanya saja.


"Siapa kalian sungguh tidak penting. Karena aku tak memiliki urusan dengan kalian semua." Jawab Claudia yang tak mengetahui jika dihadapannya adalah ratu pencabut nyawa dari keluarga Adijaya.


"Benarkah kami tidak penting? Begitukah? Sayang sekali kau tak menngenal siapa kami Nona. Mungkin sebaiknya kita berkenalan dulu, agar kita saling mengenal satu sama lain, bagaimana?" Sahut Endah yang sudah siap melepaskan timah panas pada bagian tubuh Claudia.


"Aku tidak ada banyak waktu untuk berkenalan dengan kalian. Nayla, cepat hubungi Bayu! Pinta dia segera ke sini untuk menikahi ku, aku akan melepaskan mu juga anak ini jika ia mau menikahi ku." Tukas Claudia yang memerintah Nayla seenak jidatnya.


Sungguh ini tindakan bodoh yang dilakukan Claudia disepanjang hidupnya. Nayla diam tak bergeming mendengar perintah yang di ucapkan Claudia padanya. Hal itu memancing kemarahan Claudia padanya.


Claudia melepaskan satu tembakan peringatan ke arah langit-langit restoran, yang membuat para pengunjung restoran yang menonton mereka berhamburan keluar karena takut.


"Aaaaa.... Takut aku sungguh takut Nona, kenapa kau menembak," ledek Endah yang dengan cepat sudah berada di depan Claudia.


Endah menodongkan pistol tepat di pelipis kiri Claudia. Membuat Claudia tercekat dengan apa yang dilakukan Endah padanya.


"Lepaskan anak itu atau timah ini menempus kepala mu!" Ancam Endah dengan meneratkan deretan giginya yang putih.


"Tidak akan, memangnya siapa kau berani mengancam dan memerintah ku." Balals Claudia yang tak kalah singit.


"Malaikat pencabut nyawa mu." Jawab Endah dengan wajah devilnya.


"Cih, kau tak akan punya nyali untuk membunuh ku." Ucap Claudia yang memandang remeh Endah.


"Tak punya nyali kata mu, kau benar-benar menantang ku, Nona. Perlu kau tahu sudah banyak nyawa yang telah melayang dengan pistol kesayangan ku ini. Sekarang ucapkan selamat tinggal pada mimpi mu yang ingin menikah dengan suami teman ku itu." Ucap Endah yang membuat mata Claudia mendelik menatapnya.


Claudia menatap wajah devil Endah yang sudah siap memberikan tiket kealam baka untuk Claudia yang tak mau melepaskan Sultan.

__ADS_1


"Aku berikan kau pilihan lepaskan anak teman ku dan pergi memulai hidup mu yang baru atau kau tetap dengan pendirian mu dan aku akan memberikan mu tiket ke alam baka dalam hitungan ke tiga, humm?" Tawar Endah yang masih berbaik hati.


"Cih, kau tak berhak memberikan aku pilihan." Jawab Claudia yang melirik Endah sekilas kemudian menatap Nayla yang berdiri diantara Jessica dan Anna.


"Nayla cepat panggil Bayu!" Pekik Claudia sembari menekan keras pistol ke kepala Sultan, membuat Sultan menangis kesakitan.


"Mami... Sakit Mami..." Pekik Sultan yang membuat Nayla ingin melangkah mendekati putranya.


"Iya sayang, Mami tolong kamu Nak," sahut Nayla yang melangkahkan kakinya mendekati putra sambungnya namun langkahnya tercekal oleh Anna.


"Lepas Ann gue mau nyelamatin anak gue," Nayla menghempas tangan Anna yang mencengkram tangan Nayla.


Sementara itu Jessica sudah memberikan perintah pada Endah yang terlalu lamban melakukan apa yang harusnya ia lakukan.


"Endah lama, cepetan!!! Calon mantu gue udah kesakitan monyong!!" Pekik Jessica yang sudah berkacak pinggang.


"Sorry Nona, say goodbye... Bye, " ucap Endah sembari menekan pelatuknya.


Ceklek...ceklek [Suara pistol tanpa peluru].


"Gak ada pelurunya Jess," ucap Endah dengan wajah bodohnya.


"JIMMY!!!!!!" Pekik Jessica dan Endah bersamaan dengan suara yang melengking.


Membuat Jimmy yang sedang menikmati kopi di kedai kopi bersama Andre dan Bayu tersedak.


"Kenapa Jim?" Tanya Andre pada Jimmy.


"Lo gak liat gue kesedak kopi,"jawab Jimmy kesal dengan pertanyaan bodoh Andre.


"Feeling gue gak enak Ndre, kayanya ada sesuatu sama bini gue." Sambung Jimmy lagi yang segera menelepon Bowo untuk mengetahui kabar istrinya.


Balik lagi ke restoran dimana Claudia menertawakan Endah yang tidak jadi menembah dirinya. Namun disaat Claudia lengah lagi-lagi Pak Jono menjadi superhero, menyelamatkan Sultan dan Angel mengambul kendali menembak Claudia dari kepala bagian belakangnya.


Bruk!! [Claudia jatuh tersungkur bersimbah darah].

__ADS_1


Pak Jono menutup mata Sultan agar tak melihat kejadian mengerikan ini. Nayla dan juga Suster Marni tak berhenti-hentinya teriak histeris melihat hal yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.


__ADS_2