Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 91


__ADS_3

"Kau tahu, kenapa aku datang kesini?" Tanya Bayu sambuk menarik sebuah bangku untuk duduk di dekat ranjang Claudia berbaring.


"Ti-tidak Tuan." Jawab Claudia masih tergagap.


"Benarkah? Apa kau belum menyadari kesalahan mu pada keluarga ku?" Tanya Bayu yang sontak membuat Claudia membulatkan matanya.


Tubuh Claudia bergemetar hebat, rasa takut benar-benar menguasai dirinya. Apa yang ia duga dan khawatir terjadi juga.


"Tu-tuan ma-maafkan saya, saya tidak bermaksud ikut campur dalam masalah keluarga Anda Tuan, hanya saja__" Claudia menghentikan ucapannya ketika Bayu memotong ucapannya.


"Hanya saja kau sakit hati padaku, bukan begitu Claudia. Anak istri ku tak bersalah. Aku yang bersalah mengabaikan semua perhatian mu padaku bahkan pada putraku. Cinta tak bisa kau paksakan begitu saja Claudia, dan tak semestinya kau ikut campur dalam masalah keluarga ku. Apalagi memperkenalkan putraku pada ibu kandungnya. Kau tak memiliki kuasa untuk itu. Kau begitu lancang." Sambung Bayu dengan wajah datar namun bicara dengan intonasi tinggi.


"Tu-tuan maafkan aku." Cicit Claudia yang menangis tersedu-sedu.


"Aku tak bisa memaafkan kelancangan mu, apalagi kau sampai membantu mantan istri ku yang ingin menculik putraku, hingga kau bisa terbaring di rumah sakit ini." Ucap Bayu yang kemudian beranjak dari kursi duduknya.


Claudia dapati Nayla dan Sultan juga berada di ruang rawatnya. Ia begitu terkejut ketika beberapa polisi pun ikut masuk ke dalam, mengikuti langkah Nayla yang tak sabar ingin tahu apa yang dilakukan suaminya di dalam bersama Claudia.


"Nona Claudia Mahesa, hari ini saya nyatakan Anda ditangkap atas tuduhan membantu melakukan rencana penculikan pada Ananda Sultan di sekolahnya." Ucap Pak Santos yag membuat Claudia berteriak histeris.


"TIDAK!!" pekik Claudia hingga membangunkan pasien lain.


Beberapa perawat berdatangan bersamaan dengan perawat rumah sakit dari kepolisian. Rencananya para polisi ini akan memindahkan Claudia ke rumah sakit milik mereka hari ini juga. Guna mempermudah penjagaan dan penyelidikan lebih lanjut.


"TIDAK. Tolong jangan tangkap saya!" Pinta Claudia yang terus menangis dan meronta ketika ia ingin di pindahkan ke dalam kursi roda. Dengan susah payah para polwan menaikan tubuh Claudia ke dalam kursi roda dan memborgolnya.


Claudia pun dibawa pergi oleh para polwan itu tanpa perlawanan lagi, setelah ia melihat tangannya di borgol dengan kursi roda yang ia duduki. Ia menatap Bayu dan Sultan penuh kesedihannya, keduanya juga tengah menatap Claudia dengan wajah datar mereka yang seakan tak perduli dengan penderitaan yang kini ia rasakan.


Sedangkan Nayla yang melihat Claudia, sangat meyayangkan kebodohan yang dilakukan guru putra sambungnya itu. Hanya karena dibutakan rasa cintanya yang tak bertuan. Ia malah menghancurkan masa depannya sendiri.

__ADS_1


Sekepergian Claudia. Nayla manatap wajah suaminya yang tengah berdiri di pojok ruang rawat Claudia. Bayu yang sadar di tatap sang istri pun segera datang menghampiri Nayla.


"Kenapa melihat ku seperti itu Mih?" Tanya Bayu pada istrinya yang masih saja menatapnya.


"Tidak Pih, hanya saja aku merasa sudah dua kali dalam kurun waktu belum dua bulan aku menjadi istri mu, sudah dua wanita dengan komplotannya ditangkap polisi karena mencintai mu dengan cara yang bodoh." Jawab Nayla.


"Bodoh?"


"Iya bodoh, jika aku jadi mereka aku akan mencari pria lain yang lebih dari dirimu."


"Ck. Mereka seperti itu karena tak bisa mencari pria yang lebih baik dari ku Mih." Jawab Bayu dengan sombongnya.


"Tentu saja ada Pih. Di atas langit masih ada langit lagi. Jangan suka tinggi hati. Papi itu hanya seonggok daging yang bernyawa." Balas Nayla dengan ketusnya kemudian berlalu meninggalkan Bayu dengan menuntun Sultan bersamanya.


"Hah, apa katanya, aku ini hanya seonggok daging yang bernyawa? Pedas sekali kali ini dia bicara ya. Bawaan hamilnya memang menguji kesabaran ku. Ingin sekali ku sambeli mulutnya yang asal bicara pada suaminya ini." Gumam Bayu saat mengikuti langkah cepat Nayla yang berjalan di depannya.


Tiba-tiba saja langkah Nayla berhenti dan tanpa sengaja Bayu menubruknya. Dengan sigap Bayu menangkap tubuh istrinya agar tidak terjatuh dan malah membiarkan putranya terjatuh.


"Maaf sayang Papi gak sengaja." Ucap Bayu yang melepaskan pelukannya dari Nayla.


Ia ingin membantu putranya bangun namun Nayla lebih dahulu membantu putranya untuk bangun.


Keduanya menatap kesal kearah Bayu yang sedang merasa bersalah.


"Papi ngapain sih nubruk-nubruk Mami? Papi bengong ya? Jangan-jangan Papi gak rela Miss Claudia ditangkap!" Tanya Nayla dengan segela tuduhannya.


"Tidak Mih, Papi lagi balas pesan Pak Santos. Dia sudah meluncur ke tempat ke dua." Jawab Bayu apa adanya dengan menunjuk chat pesan pada istrinya itu.


"Sebelum pergi ke tempat kedua, ayo jenguk Mba Silvi dulu. Kangen aku sama dia." Ucap Nayla.

__ADS_1


Deg!


Wajah bingung nampak terlihat di wajah Bayu. Bagaimana menjelaskan pada Nayla jika Silvi sudah tiada.


"Ma-mami, kita jenguk Silvinya gak bisa di sini lagi sayang. Soalnya dia sudah pulang." Bayu tergagap menanggapi permintaan istrinya.


"Pulang? Sejak kapan?" Tanya Nayla yang terlihat heran.


"Sebelum kamu pulang, dia sudah pulang terlebih dahulu sayang." Jawab Bayu yang memang benar adanya.


Silvi memang pulang terlebih dahulu. Tapi pulangnya dia bukan kerumahnya melainkan pulang kepangkuan Tuhan untuk selama-lamanya.


"Tapi, kenapa tak ada yang memberitahu aku Pih? Bahkan Mbak Silvi tak menjenguk ku lagi, jika dia sudah pulih." Tanya Nayla lagi.


"Sudah yuk, bahas Silvinya nanti aja, gak enak di tunggu Pak Santos kalau kita sampai telat untuk kedua kalinya." Kilah Bayu yang mengangkat Sultan dalam gendongannya dan merangkul Nayla yang ada di sebelah kirinya.


Nayla berjalan sembari menatap wajah suaminya yang aneh menurutnya. Ia seperti menutup-nutupi sesuatu tentang kakak iparnya itu.


"Wajahmu itu tak bisa berbohong Pih, apa yang sedang kamu tutupi tentang Mbak Silvi. Memangnya ada apa dengannya? Aku gak akan mau mati penasaran hanya karena ingin tahu tentang Mbak Silvi. Aku akan tanyakan pada Amel. Dia pasti tahu segala hal." Batin Nayla yang berharap Amel akan mengusir rasa penasarannya.


Di depan sebuah rumah yang cukup mewah namun terkesan minimalis. Mobil yang di kendarai Bayu berhenti. Terdengar suara tangisan anak perempuan dari dalam yang menangis memanggil Maminya.


"Mami endong mih, endong..." Ucap seorang anak perempuan bernama Sasi yang merupakan putri kandung Linda dengan Bastian.


"Bastian bawa anak mu keluar dari rumah ku." Pekik Linda yang suaranya terdengar hingga keluar.


"Pih, mantan istri mu sudah memiliki anak juga dari suami barunya. Jahat sekali dia mengusir anaknya." Ucap Nayla yang mulai memasang alat penutup telinga untuk Sultan.


"Pakai ini sayang, kamu tak boleh mendengar apa yang tak harus kamu dengar." Ucap Nayla ketika ia memasangkan alat penutup telinga di telinga Sultan.

__ADS_1


Sultan hanya menurut apa yang dikatakan ibu sambungnya itu dan Bayu hanya melihat betapa perhatian istri kecilnya yang kadang sangat menyebalkan pada putranya.



__ADS_2