Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 92


__ADS_3

Linda terlihat keluar dari rumahnya, bersama seorang pria yang sedang menggedong seorang anak perempuan berusia dua tahun. Anak perempuan itu terus menangis meminta digendong oleh Linda yang terlihat engan untuk menyentuh anak perempuan itu.


“Bawa anak mu pergi dari sini! Aku sudah tak mau berhubungan dengan kalian lagi. Hubungan kita telah berakhir, begitu pula dengan hubunganku dengan anak mu.” Pekik Linda tanpa belas kasih.


Ia terus mendorong tubuh Bastian yang tetap bertahan demi putrinya. Meskipun pukulan tamparan bahkan cakaran ia dapati dari Linda yang ingin mereka berdua segera pergi. Nayla memandang iba kepada anak perempuan itu yang terus menangis meminta digendong dan di peluk sayang oleh Linda.


Nayla memeluk erat tubuh Sultan yang juga melihat drama kekejaman ibu kandungnya. Di pikiran kecil Sultan terlintas bagaimana dahulu sang Daddy mengalami hal yang sama seperti Om-om yang ada dihadapannya.


Sultan membuka alat penutup telinganya. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Nayla lekat-lekat.


“Mami, apakah anak kecil yang ada digendongan Om itu adalah adikku?” tanya Sultan dengan mata yang berkaca-kaca.


“Mami tidak tahu sayang, sepertinya iya.” Jawab Nayla ragu-ragu sembari menatap wajah Sultan yang matanya berlinang air mata.


“Sayang kenapa kamu menangis?” tanya Nayla saat Sultan menitikan air mata.


“Mungkin dulu aku menangis seperti itu ketika tante itu meninggalkan aku dan Papi,” jawab Sultan yang kemudian memecahkan tangisannya di pelukkan Nayla.


“Sayang… semua itu telah berlalu nak,” ucap Bayu yang mendekatkan dirinya pada tubuh Sultan yang berada dalam pelukkan Nayla.


“Papi.. hiks..” panggil Sultan yang kemudian menangis kembali di pelukkan Bayu.


“Sayang, maafkan Papi. Seharusnya anak seusia mu tak mengalami hal yang buruk seperti ini.” Ucap Bayu yang juga ingin menitikan air mata.


Disatu sisi Bayu sangat membenci pria yang tengah berjuang dengan putrinya itu, di lain sisi, ada luka yang kembali terbuka karena mengingat kejadian buruk yang telah lama ia lupakan. Kejadian yang sama dialami pria yang telah merebut istrinya dari pelukkannya.


“Papi, aku tak tega melihat adikku menangis seperti itu, kenapa tante itu begitu kejam pada adikku? Dia hanya ingin digendong  Pih,” tanya Sultan dengan isak tangisnya.


Bayu tak bisa menjawab pertanyaan putranya, ia hanya diam dan berusaha menenangkan tangis Sultan yang tersentuh akan tangisan adik tirinya.


“Mami.” Panggil Sultan yang meengurai pelukkannya dengan Bayu.

__ADS_1


“Iya sayang,” jawab Nayla yang mengusap air mata Sultan yang membasahi pipi chubby-nya.


“Apa Mami menyayangi ku?” tanya Sultan yang menatap dalam manik mata Nayla.


“Tentu sayang, apa Sultan meragukan kasih sayang Mami?” jawab Nayla yang membalikkan pertanyaan pada putra sambungnya ini.


Baru kali ini, ia mendengar pertanyaan Sultan yang seakan meragukan perasaan cinta dan sayangnya yang begitu tulus untuknya.


“Tidak Mami. Sultan hanya ingin minta sesuatu.” Jawab Sultan yang malah melirik kearah Bayu.


“Minta sesuatu? Minta apa sayang? Katakanlah! Seharusnya jika ingin meminta sesuatu tidak perlu meragukan kasih sayang Mami. Sebisa mungkin Mami akan mengabulkan permintaan anak mami ini. Iya kan Pih?”


“Iya sayang.” Balas Bayu yang mengelus kepala plontos Sultan.


“Katakanlah kamu mau minta apa pada Mami mu!” perintah Bayu pada Sultan yang membuat Sultan maalah ragu untuk mengutarakannya.


“Mami, Papi, tolong gendong adikku. Supaya ia diam dan tak menangis lagi. Aku tak tega melihatnya menangis seperti itu.” Sultan berkata sembari menundukkan wajahnya. Ia ragu permintaanya akan dikabulkan oleh Nayla maupun Bayu.


“Bagaimana Pih?” tanya Nayla yang seakan memohon izin pada suaminya. Walau bagaimanapun Pria yang menjadi ayah anak perempuan itu, pernah menjadi rivalnya. Sumber dari rasa sakit hatinya selama bertahun-tahun.


“Papi cemburu ya?” ledek Nayla yang menoel janggut Bayu yang di tumbuhi bulu-bulu tajam yang menggelikan bila disentuh.


“Jangan pakai ditanya Mih, sadar diri saja jadi istri.” Jawab Bayu yang membuat Sultan tertawaa saat melihat ekspresi wajah Bayu.


“Ya udah ayo turun. Pasti Pak Santos sudah menunggu kita untuk turun terlebih dahulu.” Ajak Bayu pada keduanya.


“Emangnya settingan Papi sama Pak Santos begitu Pih?” tanya Nayla yang merasa heran.


Biasanya setiap kali ada penangkapan polisinya selalu maju tanpa menunggu pelapor. Kenapa saat suaminya ingin menjebloskan  Claudia dan Linda ke penjara. Pak santos malah menunggu kedatangan mereka terlebih dahulu.


“Ya. Memang Papi mintanya seperti itu dengan Pak Santos, supaya Mami dan Sultan bisa lihat. Betapa Papi sangat menyayangi kalian berdua. Papi akan menjadi garda terdepan untuk menjadi pelindung kalian.”  Ucap Bayu dengan tersenyum sembari menaikkan kedua alisnya.

__ADS_1


“Sombong!! Begitu saja bangga.” ucap Nayla tanpa bersuara sembari melirik suaminya.


“Biarin.” Jawab Bayu tanpa bersuara pula dan membuang pandanganya kearah jendela .


Nayla yang kesal melihat Bayu membuang mukanya, segera ingin menarik baju Bayu guna ingin mengigit telinga Bayu, hingga Bayu mengucapkan kata maaf sudah salah membuang mukanya pada Nayla.


“Mami, Papi udah dong!” ucap Sultan yang menarik wajah Nayla agar menatap wajahnya saja tidak lagi menatap Papinya. Ia juga menarik tangan Nayla agar memeluk  tubuh kecilnya kembali.


“Mami kamu tuh, cukup bilang terima kasih itu gampang tidaklah sulit. Kenapa Mami mu tega menyebut Papi sombong?” Kilah Bayu yang kesal Nayla tak mau bersikap sedikit manis padanya. Kali ini Bayu mengikuti jejak Nayla yang suka membumbui Sultan disaat ia marah pada Nayla.


Kecewa. Sultan tak bergeming mendengar aduan yang Bayu lontarkan. Akhirnya Bayu memilih keluar dari mobilnya. Tapi Bayu ya tetap Bayu. Sekesal apapun dia pada Nayla. Dia tetap berlaku manis dengan membukakan pintu untuk anak dan istrinya itu.


“Silahkan Tuan Putri dan Tuan Pangeran,” ledek Bayu yang mempersilahkan anak dan istrinya turun.


Bayu menggendong Sultan turun terlebih dahulu, lalu ia membantu Nayla untuk turun dari mobil dengan memegangi tangannya. Ia diperlakukan begitu manis namun Nayla selalu menganggap Bayu memperlakukan dirinya seperti nenek-nenek yang sudah renta.


“Aku masih kuat berjalan Pih,”


“Aku tahu,”


“Terus kenapa dipegangin?” protes Nayla tapi tak melepas gengaman tangan Bayu.


“Aku takut kamu jatoh, soalnya di sini gak ada tukang balon.” Jawab Bayu meledek Nayla.


“PAPI!!” pekik Nayla yang mencuri perhatian Linda dan Bastian.


“Apa Mih? Papi gantengkan Mih?” ledek Bayu mengikuti gaya Nayla saat meledeknya.


“Gak ganteng tapi Papi itu tuwir.” Sungut Nayla yang kesal terus di ledek.


Ketiganya berjalan mendekati Linda dan Bastian. Keduanya terkejut dengan kegadkiran keluarga kecil yang terlihat harmonis ini.

__ADS_1


“Mas Bayu, kamu datang di waktu yang tidak tepat.” Batin Linda yang tertunduk lesu.


Belum apa-apa boroknya sudah diketahui lebih dulu oleh Bayu.


__ADS_2