Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 74


__ADS_3

Nayla bangkit dari kursi yang ia duduki. Ia berjalan menghampiri suaminya. Kemudian Nayla menarik kursi yang diduduki oleh suaminya itu, hingga membuat Bayu terkejut dibuatnya.


"Eeehhh.... mau ngapain Mih? Papi mau diapain?" Tanya Bayu yang terkejut dengan apa yang dilakukan Nayla, ia sudah khawatir akan di siksa istrinya karena kedatangan Diana tadi.


Nayla tak menjawab pertanyaan suaminya ia malah mendaratkan bokongnya di pangkuan suaminya. Kemudian menggesekkan kepalanya di dada Bayu. Bayu mengecup pucuk kepala plontos istrinya saat Nayla mencari kenyamanan di dada bidang suaminya itu.


"Tenaga mu kuat juga ya sayang," ujar Bayu yang melingkarkan tangannya kepinggang sang istri agar ia tak terjatuh dari pangkuannya.


"Tentu, aku ini wonder women Pih. Pastinya tenaga Mami kuat. Tenaga kuat Mami bisa untuk apa saja loh Pih, bisa untuk di ranjang hayoo, di ring tinju juga hayoo." Balas Nayla yang menunjukkan otot kekar pada tangannya itu.


"Wihhhh kerennya istri Papi...Hahahaha... Buktikan kekuatan yang Mami punya untuk nanti malam ya," bisik Bayu yang kemudian menatap wajah istrinya penuh cinta.


"Wani piro Pih? Ada service ada cuan loh...hehehe" tanya Nayla yang membuat Bayu menyeryitkan kedua alisnya.


"Punya istri berasa punya suger baby, apa-apa minta di duitin terus perasaan," gumam Bayu di dalam hatinya.


"Kamu kan sudah punya segalanya Mih. Kenapa masih minta sama Papi? Papi ini hanya karyawan mu loh sekarang ini. Papi gak punya apa-apa selain junior Papi dibawah sana tuh.. " ucap Bayu yang seakan percaya dengan ucapan Nayla dan Tuan Brata barusan. Ia menunjuk juniornya dengan tatap matanya.


"Hahaha... Papi percaya, omongan Mami sama Daddy di telepon tadi?" Tanya Nayla yang membenarkan duduknya untuk menatap suaminya yang juga kini menatap wajahnya.


"Ya tentu saja aku percaya, karena Daddy itu tak pernah bohong dengan segala ucapannya. Beliau itu orang yang sangat serius dalam segala hal Mih," jawab Bayu.


"Hahaha.... benarkah? Mungkin itu Daddy mu yang dulu, sekarang tidak Papi ku sayang," balas Nayla sambil tertawa, Nayla menyangkal jawaban Bayu mengenai Ayah mertuanya itu.

__ADS_1


Bayu memasang wajah bingungnya. Ia masih tak mengerti dengan balasan Nayla dari ucapannya.


"Maksud Mami gimana sih? Coba tolong jelasin sama Papi jangan sambil ketawa-ketawa. Sebenarnya Papi sebel banget tahu, kalau Mami udah ketawa kaya tadi, gendang telinga Papi rasanya sakit Mih, kaya mau pecah." Keluh Bayu yang membuat Nayla tersenyum dan mengusap daun telinga Bayu kemudian mengecupnya.


Muachh! Satu kecupan basah mendarat di telinga Bayu, membuat bulu-bulu halus di tubuh Bayu meremang.


"Udah di kecup pasti gak sakit Pih, tenang aja denger suara Mami gak akan bikin Papi budek kok... ehh...ah emmm..." ucap Nayla setelah mengecup kedua telinga Bayu lalu tiba-tiba saja ia mende.sah menggoda junior Bayu dibawah sana.


"Mami!!" Panggil Bayu yang merasa pisang rajanya mengeras dan malah tambah di gesek-gesek oleh bokong Nayla.


"Apa?" Tanya Nayla yang mengigit sedikit ujung bibirnya sendiri. "Enakkan Pih hummm?"


"Nakal ya Mami? Lihat ada Sultan! Jangan mancing-mancing Papi ya Mih! Papi masih butuh jawaban Mami, cepat jawab pertanyaan Papi, Mih!"


"Mami ahh... Pinternya Mami mengalihkan perhatian Papi... ahh Mami udah!" Bayu mendengus kesal.


Bayu mencoba menghentikan aksi jahil istrinya yang tak bertanggung jawab nantinya, dengan memeluk erat tubuh Nayla. Ia mengunci tubuh istrinya untuk diam, tak lagi menggesek-gesekan juniornya. Bayu berusaha mengontrol gejolak juniornya yang ingin masuk kerawa-rawa milik Nayla yang lembab dan basah.


"Mami ayo jelasin apa maksud perkataan kamu mengenai Daddy hum?" Bisik Bayu di telinga istrinya.


"Wani piro?" Tanya Nayla yang melepaskan pelukkan Bayu pada tubuhnya. Ia menengadahkan kedua tangannya ke depan wajah Bayu sangat dekat.


"Mami!!! Gak sekalian aja tumplekin tangan Mami di muka Papi! Gini nih... nih!" tegur Bayu yang malah mencontohkan agar Nayla meneplokkan kedua tangannya ke wajah Bayu.

__ADS_1


Bayu menggerakan kepalanya seakan ingin lepas dari kedua tangan Bayu yang menutupi wajahnya, namun ia berlagak kesulitan untuk melepaskan kedua tangannya yang menempel pada wajahnya. Nayla yang melihat apa yang dilakukan Bayu bukannya sadar, malah asyik menertawakan suaminya yang menurutnya sedang melewak itu. Padahal suaminya kesal bukan main padanya.


"Kalau minta duit tuh yang manis Mih, jangan kaya gitu terus sih Mih. Ampun deh Mami selalu menguji kesabaran Papi setiap detik. Ya Tuhan berikan istriku ini hidayah supaya kembali kejalan yang benar, Ya Tuhan tolong hamba..." Protes Bayu dengan memanjatkan doa yang malah mengundang tawa Nayla kembali pecah, Nayla terkikik geli melihat tingkah suaminya yang sedang berusaha sabar menghadapi dirinya.


Jahil, ya inilah istri yang dimiliki Bayu. Jahil dan menyebalkan. Nayla sangat suka memancing emosi Bayu yang sekarang tak bisa meledak karena ia trauma dengan kejadian pada waktu lalu.


"Haddeh....Beginilah kalau punya istri matre. Semua di duitin. Jawab pertanyaan suaminya saja, harus suaminya ngasih duit dulu, disuruh apa saja ujung-ujungnya duit terus. Duit...duit terusss..." omel Bayu yang kesal karena Nayla masih meminta uang untuk menjawab pertanyaan yang membuat Bayu penasaran.


Meskipun kesal dan mengomel, Bayu mau tak mau tetap memberikan sejumlah uang yang sudah menjadi tarif pajak bagi Bayu, jika ia meminta sesuatu dari diri Nayla, ia harus menyiapkan imbalannya untuk istri tengilnya ini. 10 lembar pecahan seratus ribu adalah tarif Nayla untuk menjawab pertanyaan yang diberikan suaminya pada dirinya.


Bayu memiringkan tubuhnya untuk mengambil dompetnya yang ada di saku belakang celananya. Ia membuka dompet hitamnya dan mengeluarkan sepuluh lembar uang pecahan seratus ribu rupiah. Ia meletakkan uang itu di telapak tangan istrinya yang masih menengadah sejak tadi. Senyum Nayla mengembang ketika sepuluh lembar uang pecahan sepuluh ribu ada di tangannya. Ia lalu mengipas-ngipas uang itu kehadapan Sultan.


Sultan yang melihat sang Mami sudah menggibas-gibas uang, tersenyum senang. Bayu hanya mengaruk kepala plontosnya dan bergumam di dalam hatinya.


"Istri dan anak ku sama saja, mereka sengaja memerasku karena mereka pasti mau ke mini market, jajan sepuas hati mereka dan kalau kurang, mereka akan teriak memanggik ku Hufftt," Bayu menghelan nafas kasarnya melihat kelakuan istri dan anaknya yang sama saja.


Bayu bukannya pelit atau perhitungan pada anak dak istrinya. Dia hanya mengerem cara mereka jajan yang suka berlebihan. Kadang anak dan istrinya itu jika jajan hanya suka lapar mata saja.


Mereka selalu membeli semua makanan atau barang-barang yang mereka inginkan, apalagi jika ada makanan atau suatu mainan yang lagi viral. Mereka berdua akan memburunya. Alih-alih makanan yang mereka beli di makan dan di habiskan. Sayangnya tidak mereka berdua hanya sekedar mencicipi seujung kuku dan setelah itu memberikan pada Suster Marni dan Pak Jono. Begitu juga dengan mainan viral. Cucu Mbok Darmi sampai sudah menolak jika di kasih lagi mainan oleh Sultan. Karena rumahnya sudah penuh mainan dalam waktu kurang dari sebulan.


"Eeeh... Jangan pergi dulu! Dan Jangan senang dulu cepat jawab dan jelaskan semuanya! Atau uangnya Papi ambil lagi," Bayu menarik tubuh Nayla yang ingin beranjak dari pangkuannya.


"Jawab yang mana? Tanya Nayla yang pura-pura lupa.

__ADS_1


"Mami, gak usah drama pikun deh, baru tadikan kita bahas masa udah lupa!" Jawab Bayu yang bersandar pada kursi kebesarannya sembari menatap wajah pura-pura lupa Nayla.


__ADS_2