Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 136


__ADS_3

Dengan mata yang mengerjap-ngerjap Nayla membuka matanya, ia melihat suaminya tengah mengenakan pakaian kerjanya.


"Papi udah rapih saja sih," ucap Nayla yang masih meringkuk di dalam selimutnya.


"Papi harus kerja Mih, Mami tahu tidak Leon tadi masuk ke kamar kita, bangunin kita pakai tutup panci." Adu Bayu pada istrinya.


"Hah, cius Pih? Kok bisa?" Nayla langsung bangun dan duduk di ranjang tidurnya, tak perduli dengan kedua buah pepaya yang menggantung di dadanya. Yang kembali membuat Bayu tergoda untuk melahapnya.


"Iya Mih, benar kok Papi gak bohong. Dia masuk dengan Nathan dan juga Septi." Bayu berusaha menjadi kompor, ia membangkitkan kejahilan Nayla untuk membalas dendamnya karena kesal dengan cara Leon membangunkannya.


"Hah, mereka lihat cara tidur Mami yang suka mangap dan ileran dong Pih?" Tanya Nayla yang tak sesuai dengan Ekspektasi Bayu.


"Kok nanya-nya itu sih Mih, harusnya nanya-nya itu. Mereka lihat bagian tubuh Mami yang hanya buat Papi dong Pih? Gitu Mih. Ah...Mami." protes Bayu yang malah terduduk lemas di tepi ranjang.


Nayla turun dari ranjangnya dan memasangkan dasi untuk suaminya. Bayu menekuk wajahnya, ia merajuk dengan istrinya.


"Mami tahu kok maksud Papi, Papi jangan ngambek dong ya! Kita lihat besok apa yang dilakukan Anna pada suaminya, si Lion itu ok?" Ucap Nayla saat memasangkan dasi untuk Bayu. Bayu pun mengangguk dan tersenyum lebar. Kemudian mencubit kedua pipi Nayla karena gemas.


"Kerja gih sana! Jangan lupa cepat kembali, karena Mami gak akan bisa tidur tanpa Papi okey." Perintah Nayla ketika sudah selesai mengenekan dasi di leher suaminya.


"Oke, Papi kerja dulu. Kalau mau makan pesan saja biar nanti Papi yang bayar."


"Oke tenang saja Pih, masalah makan Mami pasti nomor satu." Balas Nayla yang keudian mengantarkan Bayu sampai di muka pintu kamar.


Satu jam Diana dibuat menunggu di Restoran. Timnya sudah berkali-kali menghubungi Nathan dan Septi untuk menanyakan keberadaan mereka. Bayu pun datang bersama Nathan dan Septi.


Diana tersenyum senang ketika melihat sosok Bayu datang menghampiri meja mereka, berbeda dengan ketiga pria itu. Rasa kesal, benci, marah dan menyesalkan harus berkerja sama dengan Diana terlintas di benak mereka.


Jika Nathan malas berhubungan dengan wanita yang pernah memberikannya harapan palsu, lain halnya dengan Bayu. Ia malas berhubungan dengan wanita yang terlalu terobsesi terhadap dirinya.

__ADS_1


Di dalam benaknya terlintas tentang ucapan dan tindakan Nayla hari ini yang memiliki feeling kuat tentang dirinya. Terjawab sudah perasaan gundah dan resah yang Nayla rasakan ternyata dirinya akan bertemu dengan wanita ular seperti Diana.


Sedangkan Septi, ia dapat menilai langsung dari raut wajah Diana, jika wanita ini memiliki maksud buruk terhadap Bayu atasannya.


"Maaf ya Pak, tapi ini harus," ucap Septi yang menggandeng mesra lengan Bayu dan menyenderkan kepalanya di lengan Bayu sembari tertawa seakan seperti orang oaling bahagia di dunia ini.


"Lakukanlah, lagi pula istriku tak akan cemburu kau menyentuhku." Balas Bayu yang ikut tersenyum begitu indahnya.


Diana yang melihat kemesraan Bayu dengan sekertarisnya merasa cemburu dan senyum yang tadinya terus bertengger di wajahnya memudar seketika.


"Sialan, sekertaris cantik itu sudah lebih dahulu, menggoda Bayu." Ucap Diana yang kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas meja.


Sedang Leon yang berada di kamar hotel menyaksikan pertemuan bisnis Bayu dengan perusahaan Monces nelalui saluran CCTV, sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan ditemani dengan cemilan yang dibawakan oleh istrinya dari rumah. Anna datang menyusul, karena Leon meminta supirnya mengantarkan istrinya itu untuk menemani dirinya bermalam di hotel Grand Adams.


Leon tak bisa berhenti menertawakan Bayu, karena bisa-bisanya Bayu mau di peluk seerat dan seromantis itu dengan Sekertarisnya yang merupakan wanita jadi-jadian itu. Saat Septi menyadarkan kepalanya di lengan Bayu, Bayu malah membalas dengan mengusap lembut rambut Septi yang dibiarkan tergerai panjang.


"Endah, andai kamu lihat ini secara langsung, pasti kamu tak akan berhenti menertawakan suami teman mu ini hahaha. Pandai sekali dia buat orang yang menggilai dirinya panas termakan api cemburu." Ucap Leon dengan tawa kerasnya yang mencuri perhatian Anna.


"Sehat kok, kenapa?" Sahut Leon yang berhenti tertawa.


"Oh, aku kira kau sudah kena mental bertetangga dengan Nayla seperti Kak Andre dan Jimmy." Balas Anna yang kembali memasukkan makanannya ke dalam mulutnya dengan santai.


"Aku kena mental sama dia? Gak akan pernah seorang Leonard Adijaya kena mental sama pentol korek kaya dia." Ucap Leon dengan sombongnya.


Anna tersenyum mendengar kesombongan suaminya. "Hati-hati nanti kemakan omongan sendiri." Balas Anna yang malah membaringkan tubuhnya di atas sofa.


"Tidur sini! Jangan di situ!" Larang Leon sembari menempuh sebelak ranjangnya yang kosong.


"Masi mau baca novel, belum mau tidur." Jawab Anna yang tetap merebahkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


Tak lama kemudian ponsel Anna berdering, ternyata Nayla yang menghubunginya. Ia menanyakan dimana keberadaan Anna dan bagaimana dengan masakan sop yang mereka masak, apakah dia disisakan atau tidak.


Anna menjawab semua pertanyaan Nayla dari mulai menceritakan jika dia juga berada di hotel Grand Adams dan juga sop yang mereka masak sudah di berikan pada asisten rumah tangga di rumah Nayla.


Pembicaraan mereka hanya sebatas itu saja, Nayla terlihat senang, Anna ada di hotel yang sama dengannya. Dengan begitu besok pagi, ia bisa saraoan bersama dengan Anna.


Kembali lagi ketempat pertemuan bisnis Bayu dan perusahaan Monces yang di wakili oleh Diana. Saat ini Diana tidak mengetahui, jika istri Bayu yang Bar-bar itu ada di hotel yang sama dengan dirinya.


Di meja pertemuan Septi terus menempelkan tubuhnya ke tubuh Bayu. Silikon yang digunakan Septi sangat menggangu konsentrasi Bayu, pasalanya benda kenyal tersebut begitu menenpel di lengannya dan saat bicata Septi selalu mendekati wajahnya dengan Bayu. Seperti orang yang ingin nyosor saja seperti angsa.


"Ini sayang dokumennya." Ucap Septi yang membuat Nathan hampir tersedak salivanya sendiri.


Septi memberikan dokumen yang dibutuhkan Bayu dengan senyum yang begitu manis. Senyumnya sangat mempesona bagi orang-orang yang tak mengenali dirinya.


Nathan melirik penuh arti Septi yang duduk di samping Bayu, lalu pura-pura batuk untuk menyadarkan Septi jika dia sudah sangat berlebihan memperlakukan Bayu dihadapan rekanan bisnisnya.


"Nathan, kenapa kamu sakit ya?" Tanya Septi yang sok manis dan perhatian.


"Tidak Sep,aku baik-baik saja, aku hanya sedikit tersedak dan hanya perlu minum air mineral." Jawab Nathan.


Nathan lantas memesan air mineral untuk dirinya. Pembahasan mengenai proyek mereka pun memakan waktu yang cukup lama, karena tim yang diutus perusahaan Monces, benar-benar tak mengerti apa-apa. Hingga akhirnya Bayu meminta pertemuan dijadwalkan ulang dan meminta tim yang terdahulu untuk menangani proyek besar ini.


Selesai dengan pertemuannya yang membuang waktu percuma Bayu ini, membuat Bayu tampak kesal. Ia melonggarkan dasinya karena menahan amarahnya sejak tadi.


Ketika semua timnya telah pergi karena diusir oleh Bayu, Diana malah tetap bertahan di posisinya. Ia malah asyik memperhatikan Bayu. Nathan dan Septi yang sudah selesai merapikan dokumen pura-pura pamit untuk pulang lebih dahulu karena waktu sudah menunjukkan puluk 21.00 malam.


Diana yang merasa memiliki kesempatan mendekati Bayu pun beranjak dari kursinya, ia duduk di samping Bayu dan mengajak Bayu bicara.


"Bay, bisa kita bicara sebentar," ucap Diana dengan senyum ramahnya. Kali ini dia tak bersikap berlebihan, agar Bayu tak curiga dan mengusir dirinya.

__ADS_1



__ADS_2