Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 78


__ADS_3

"Apa orang tua kamu tahu, kamu punya aset sebanyak ini?" Tanya Bayu lagi.


Ia jadi penasaran dengan istrinya yang ternyata diam-diam memiliki aset yang cukup besar dan dalam jumlah yang sedikit. Seketika saja ia melupakan kesedihan dan ketakutan ditinggalkan Nayla, karena dia sadar Nayla tak akan mengkin meninggalkannya demi sebuah harta.


"Awalnya gak tahu, tapi Daddy kamu itu mulutnya lemes banget. Gara-gara Daddy, Ayah sama Bunda jadi tahu aku punya kost-kostan." Nayla menjawab dengan wajah sewotnya.


Sebenarnya ia tidak ingin kedua orangtuanya tahu ia memiliki aset dari menjual barang-barang mewah pemberian orang tuanya.


"Kok nyalahin Daddy aku eih Mih, memangnya apa yang di lakukan Daddy sampai kamu bilang Daddy ku lemes hum ? Dan Daddy ku ngomong apa sama Ayah kamu hum?" Tanya Bayu sembari mengusap wajah Nayla yang merengut.


"Ya kan perusahaan kamu gusur kost-kostan aku, kalian bangun Apartemen di sana. Daddy mu tahu aku pemilik kost-kostan itu dan berusaha lakukan negosiasi harga dengan Ayah. Dikira Daddy mu, Ayah ku tahu tentang aku yang memiliki kost-kostan itu. Asal kamu tahu aja ya Pih, akulah pemilik kost-kostan yang minta biaya ganti rugi 50 kali lipat pada perusahaan kalian,"


"Apa??" Bayu membulatkan matanya seketika setelah mendengar pernyataan Nayla.


Seketika itu juga Bayu langsung mengguncangkan tubuh istrinya berkali-kali dengan memegang kedua lengan Nayla.


"Nayla, jadi kamu ya orangnya, yang bikin aku pusing tujuh keliling waktu itu. Pantas saja akhirnya Daddy main setuju-setuju saja, padahal aku menolak. Dasar cewek matre kamu ya! Pintar sekali kamu bikin orang stress. Pantas saja kamu bilang uang tabungan mu cukup untuk masa depan anak-anak kita. Tentu saja cukup. Kamu habis merampok perusahaan ku." Umpat Bayu yang terlihat kesal.


Nayla yang melihat raut wajah Bayu yang kesal karena mengingat betapa dia merasa dirugikan pada saat itu pun. Malah tertawa terbahak-bahak.


"Ya udah sih Pih, uangnya juga untuk kepentingan masa depan anak kita nanti. Lagian Daddy kamu juga gak mau rugi, malah jodohin aku sama kamu, yang artinya uang itu tetap ada dengan keturunan kalian nantinya bukan?" Ucap Nayla pada Bayu yang tengah merajuk.


Bayu membuang pandangannya sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya setelah ia menggoncangkan tubuh istrinya. Ia mengikuti gaya Nayla ketika sedang merajuk.


Nayla menarik lengan tangan Bayu yang melipat dan masuk kedalam pelukan suaminya ketika Bayu tak lagi melipat kedua tangannya di dadanya.


"Pih,"


"Hummm,"


"Mami udah ceritanya nih giliran Papi,"


"Males, Papi gak nyangka bisa nikah sama pemilik kost-kostan yang selalu Papi umpat setiap hari,"


"Hahahaha... Kan klo jodoh ya gitu pih, datangnya kaya jalangkung,Datang tak dijemput, pulang tak di antar. Umpatan mu jadi magnet jodohku. Hahahaha...."


"Emang iya?" Sejenak Bayu berpikir dengan ucapan istrinya.


"Iya lah pih, kalau jodoh gak ada magnetnya tapi pakai undangan berarti dia datang cuma buat kondangan dong Pih, hahaha..."


"Mami Garing!!"


"Biarin kali-kali garing biar kerasa kriuknya. Udah sih sekarang cerita sama Mami apa yang mau dikeluhin hum?"


"Ya Mih,Papi mau cerita dengan kegalauan yang yang Papi rasakan," jawab Bayu yang terdiam beberapa menit lamanya.


Kali ini Nayla menunggu dengan sabar kapan Bayu akan menceritakan keluh kesahnya, tidak seperti tadi yang nyerocos tak sabar.


"Mih, Papi tuh tadinya takut kehilangan Mami. Papi takut Mami meninggalkan Papi karena Papi jatuh miskin."


"Jangan ngomong begitu Pih! itu gak akan terjadi. Apalagi kita akan punya anak. Aku pun tak mau dipisahkan dari Sultan. Meskipun dia bukan anak kandung ku, tapi dia sudah menjadi anakku. Tak boleh ada yang memisahkan aku dan anakku meskipun ibu kandung sendiri. Dia boleh menengok Sultan tapi tidak untuk mengambil putra ku itu." Ucap Nayla yang malah berlinang air mata.


"Papi tahu Mih. Tadi sewaktu Mami tidur Nathan datang ke rumah kita membawa pekerjaan dari kantor untuk Papi,"


"Terus masalahnya dimana?"

__ADS_1


"Masalahnya dia cerita tentang Linda, mantam istri Papi. Nathan bilang, dia datang mencari Papi. Dia ingin rujuk dengan Papi, Mih,"


"Terus Papi mau?..... Mau Papi digantung sama Mami di pohon sawo Pih hum? Kalau Papi mau rujuk sama dia. Ingat Pih, nih kecebong Papi lagi dalam masa pertumbuhan di rawa-rawa Mami." Omel Nayla.


Nayla melepaskan pelukannya dari tubuh Bayu. Ia mendorong dengan kasar tubuh Bayu hingga terbaring di ranjang. Ia menaiki tubuh Bayu, dan meletakkan bokongnya begitu saja di atas junior Bayu, hingga Bayu mengerang ke sakitan.


Di pikiran Nayla pantas saja suaminya galau dan terlihat kusut karena dia sedang dilema. Mau atau tidak balikan dengan mantan istrinya.


"Ampun Mih, Papi belum selesai cerita, Papi gak mungkin mau balikan sama dia Mih, ampun Mih. Sakit mih jangan mih. Tolong ampun..." Ucap Bayu dengan menangkupkan kedua tangannya memohon ampun pada istrinya yang duduk diatas juniornya masih dalam keadaan tanpa busana sambil membanting bokongnya berkali-kali di atas junior Bayu.


"Awas aja kalau Papi sampai balikkan sama dia, Papi tahu sendiri akibatnya," ancam Nayla pada Bayu dengan menggerakkan tangannya di depan lehernya sendiri, seakan memberi isyarat jika ia akan memenggal leher suaminya.


"I-iya sayang, janji gak akan balikkan sama dia, tapi Papi minta jatah satu ronde lagi boleh ya? Otong Papi udah terlanjur menegang nih Mih." Ucap Bayu dengan mengedipkan mata genitnya pada Nayla.


"Nanti malam ya Pih, habis dari rumah Daddy. Hari ini Mami ada janji makan malam sama kedua mertua Mami itu soalnya." Tolak Nayla yang malah menggesek-gesekkan miliknya di atas junior Bayu. Menolak tapi meledek Bayu. Membuat Bayu tersiksa adalah kesenangan Nayla akhir-akhir ini.


Bayu yang tak tahan terus digoda tapi ditolak sang istri akhirnya membalikkan tubuh Nayla. Nayla kini berada di bawah kungkungan Bayu. Nayla tertawa geli melihat perlawanan Bayu dengan wajah suaminya yang sudah berkabut gairah.


"Hahaha ada yang ga tahan rupanya."


"Siapa yang bisa tahan lihat kamu buka-bukaan kaya begini dan gesek-gesekin punya aku terus hum?"


Bayu mendekatkan wajahnya, ia mendaratkan bibirnya diatas bibir Nayla. Keduanya kembali saling bertukar saliva. Saling melu.mat hingga terdengar suara decapan yang makin membakar mereka dalam kabut gairah.


Saat mereka ingin melakukan penyatuan. Tiba-tiba suara pintu di ketuk dari luar.


Tok...tok...


"Mami... Papi, apa kalian sudah bangun? Sultan sudah ganteng mau kerumah Oppa dan Omma." Ucap Sultan saat mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.


"Aduh Mih, nanggung lima menit deh janji gak lama," jawab Bayu yang terus bergerak di bawah sana.


"Ihhh... Si Papi gak mau ngalah sama anak, ahhh...emmmm...."


"Bukan gitu Mih, Papi kalau gagal bisa pusing semalaman," jawab Bayu yang terus memompa Nayla dari bawah sana.


"Ahhh... Ahhh emmm.... Terserah deh tapi cepat ya! Kasian anak kita, ughhh emmm yeahh..."


"Heeem...ahhh... Punya kamu selalu enak Mih," racau Bayu yang begitu menikmati penyatuan mereka.


Sepuluh menit lamanya Sultan dibuat menunggu. Kesal. Tentu saja anak itu nampak kesal menunggu kedua orang tuanya yang tak kunjung bangun menurut pemikirannya.


Ia duduk berjongkok di bawah pintu menunggu dengan sabar, pintu kamar kedua orang tuanya terbuka. Suster Marni berkali-kali membujuk Sultan untuk kembali kamarnya atau menunggu di ruang keluarga, namun Sultan menolak.


Nayla yang melihat Bayu lunglai setelah menyemburkan larva panasnya di dalam miliknya, langsung saja bangun dari ranjangnya dan langsung mengenakan pakaiannya. Ia menyelimuti tubuh suaminya yang tak menggunakan pakaian sehelai pun. Kemudian ia berlari kearah pintu dan membuka pintu kamarnya.


Ia segera menggendong putra sambungnya yang duduk berjongkok di depan pintu kamarnya.


"Maafin Mami sayang," bisik Nayla di telinga Sultan dengan memeluk erat tubuhnya dalam gendongannya.


"Heem, Sultan maafin Mami kok." Jawab Sultan dengan suara sedihnya.


Nayla menciumi pipi kanan kiri putranya , kemudian meletakkan putra sambungnya itu di atas ranjang, dimana Bayu tengah berbaring kelelahan di sana.


"Mami mandi dan bersiap-siap dulu ya, Sultan tunggu di sini sama Papi ok?" Ucap Nayla yang menyodorkan sebungkus coklat pada putranya. Sebagai sogokan agar putra sambungnya kembali tersenyum dan benar saja putra sambungnya wajahnya kembali berseri ketika ia menerima sebungkus coklat dari Nayla.

__ADS_1


"Iya Mami." Jawab Sultan dengan senyum manisnya karena Nayla sudah memberikan sebungkus coklat untuk dirinya.


Senyum Bayu merekah ketika melihat sikap manis Nayla pada putranya.


"Hati mu begitu tulus sayang, walaupun tingkah mu terkadang buatku garuk-garuk kepala." Batin Bayu dari balik selimut yang menutupi tubuhnya.


Sultan mengguncang tubuh Bayu. Ia membangunkan sang Papi yang dikiranya masih tertidur.


"Papi... Papi bangun!" Bayu membuka selimutnya hingga ke bawah perut dan bangun dari posisi tidurnya.


Bayu dapati wajah menggemaskan Sultan yang sudah seperti donat bertaburan gula halus diwajahnya.


"Tolong bukain bungkus coklat ini untuk ku, Papi." Pinta Sultan ketika melihat mata sang Daddy terbuka.


Bayu menerima coklat yang di sodorkan Sultan padanya dan membukakan bungkus coklat itu untuk putranya.


"Nanti jangan lupa sikat gigi sebelum tidur ya! Supaya gigi Sultan gak rusak karena bolong oke?" Ucap Bayu ketika memberikan bungkus coklat yang sudah ia buka pada putranya.


Sikap Bayu lebih hangat pada putranya semenjak menikah dengan Nayla. Nayla banyak membawa perubahan pada hidupnya yang kini sudah kembali normal. Tak ada lagi kesedihan dan kesepian, karena Nayla selalu ada di sampingnya.


"Oke Papi," jawab Sultan ketika ia menerima sebungkus coklat yang sudah terbuka.


"Papi mau siap-siap ya. Sultan tunggu Papi sama Mami sambil nonton kartun ya di sini?" Bayu beranjak dari tempat tidur dengan menarik selimut yang ia gunakan untuk menutupinaset pribadinya.


"Iya Papi," jawab Sultan tanpa menoleh kearah sang Papi yang sedang menyalakan televisi.


Sultan sedang asyik memakan coklat pemberian Nayla. Melihat putranya tak memperhatikan dirinya. Bayu melepaskan selimut yang menutupi asetnya dan berlari ke kamar mandi yang pintunya tak lagi bisa di kunci dari dalam, karena Bayu sengaja melakukannya. Agar ia bisa masuk ke dalam ketika istrinya sedang mandi.


Keduanya mandi bersama tanpa melakukan apapun kali ini, karena mereka di kejar waktu untuk makan malam bersama Tuan Tama dan juga Nyonya Ratna di kediamannya


Di kediaman Tuan Tama. Sebuah mobil sedan yang terparkir di dalam pekarangan rumah Tuan Tama. Berasil mencuri perhatian Bayu dan keluarga kecilnya yang baru saja tiba.


"Mobil siapa Pih?"tanya Nayla pada suaminya saat ia baru turun dari mobil.


Nayla turun sembari menggendong Sultan dalam dekapannya.


"Gak tahu, sepertinya ada tamu." Jawab Bayu yang juga tak mengetahui mobil siapa itu.


Ketiganya masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka. Kemunculan keluarga Bayu di sambut dengan gembira oleh Tuan Tama yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.


"Eh, keluarga tuyul sudah datang," ucap Tuan Tama yang menjadi pusat perhatian kedua tamunya yang sedang duduk bersama dirinya dan sang istri di ruang tamu.


"Tuyul?" ucap kedua wanita yang sedang bertamu di kediaman Tuan Tama secara bersamaan.


"Bayu," panggil seorang wanita cantik berambut panjang yang berwarna pirang pada Bayu, ketika ia menyadari sosok Bayu tengah berdiri dengan keluarga kecilnya di muka pintu.


Bayu yang dipanggil memilih diam dan membuang pandangannya, ia malah merangkul Nayla yang sedang menggendong putranya.


Remasan dari tangan Bayu di lengan Nayla, seakan memberi isyarat pada Nayla jika wanita itu adalah mantan istri suaminya. Nayla mempererat pelukannya pada putra sambungnya, rasa takut kehilangan putra sambungnya kini menghantui dirinya. Sementara Sultan seperti orang ketakutan saat melihat wanita itu.


"Sialan, kuntilanak buduk. Kenapa bisa ada di sini sih? Kalau mau ambil anak dan suami gue, langkahin dulu mayat gue sekarang juga." Batin Nayla yang langsung memberikan tatapan tajam pada Linda dan Ibunya.


"Ayo sayang, kita masuk. Kita tunggu Omma dan Oppa di ruang keluarga saja ya," ajak Bayu yang memilih masuk tanpa bersalaman terlebih dahulu pada kedua orang tuanya. Apalagi dengan mantan ibu mertuanya dan juga mantan istrinya.


Bagaimana kelanjutannya...???

__ADS_1


__ADS_2