Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 99


__ADS_3

Sebuah mobil MPV premium berukuran besar yang di kendarai oleh Pak Jono berjalan menuju area puncak. Jalan yang terus menanjak dan berkelok-kelok membuat perut Nayla terkocok-kocok. Alhasil mobil itu terus berhenti berkali-kali karena Nayla harus mengeluarkan jackpotnya.


Bayu terus menggaruk kepalanya dengan frustasi, melihat istrinya tersiksa selama perjalanan. Jika saja ia memiliki keberanian untuk melawan keinginan istrinya, mungkin sejak tadi mobil itu sudah kembali ke kota.


Sering kali Bayu memberikan tatapan kesal, marah dan intimidasinya pada Amel yang setia membantu dan merawat Nayla selama perjalanan. Di dalam mobil yang berisi enam orang ini tidak lagi tercium aroma parfum mobil yang menyegarkan, tapi tercium wangi minyak angin ataupun minyak kayu putih yang sangat menyengat.


Nayla terus memandu perjalanan dengan kondisi lemahnya. Ia berkeyakinan jika Hendra ada di Villa yang dibelinya bersama Silvi saat mereka batu menikah. Nayla mengetahui tempat itu karena ia membuntuti kemana perginya kedua pasangan pengantin yang ingin berbulan madu pada saat itu.


Enam jam perjalanan mereka tempuh dengan waktu yang sangat-sangat memakan waktu. Jika seharusnya bisa di tempuh dengan dua jam saja. Ini harus tiga kali lipat dari waktu yang biasanya dibutuhkan untuk sampai ketujuan mereka.


Segala rasa kini telah Bayu rasakan. Ingin rasanya ia segera membaringkan tubuhnya di ranjang tidurnya. Tubuhnya sudah saat lelah dan letih.


“Sayang, masih lama kah? Papi sudah lelah sangat, wahai istri ku sayang.” Ucap Bayu yang memandangi wajah Nayla yang tetap serius memandang ke arah depan.


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya. Nayla malah mengarahkan Pak Jono untuk masuk kesebuah gang yang hanya cukup satu mobil saja.


“Belok gang ini Pak Jono!” perintah nayla pada Pak Jono.


Pak Jono segera membelokkan mobilnya sesuai arahan majikannya.


“Sempit banget Nyonya, maaf kalau nanti mobilnya lecet-lecet.” Ucap Pak Jono yang sedikit melirik kearah Bayu yang duduk disampingnya.


Jangan tanya bagaimana tatapan Bayu pada Pak Jono. Lirikan mata Bayu sungguh tajam bagaikan sebuah silet. Namun tatapan itu berubah menjadi tatapan malas ketika Nayla dengan gampangnya menyahuti ucapan Pak Jono tanpa berpikir lagi.

__ADS_1


“Gak usah kaya orang susah. Lecet tinggal beli lagi.” Sahut Nayla dengan seenaknya. Membat Bayu diam dan menggerutu di dalam hatinya.


“Enak saja, main beli-beli saja. Memangnya beli mobil seperti beli permen. Semudah itu kamu bicara sayang. Huftt,” gerutu Bayu di dalam hatinya yag kemudian mengembuskan nafasnya kasar.


Tak lama sejak mobil berbelok, mereka telah sampai di sebuah Villa bercat putih tanpa sebuah pagar. Hanya ada satu rumah dari gang yang mereka lewati tadi.


Mobil pun berhenti tepat di depan pekarangan Villa. Nayla yang turun segera berjalan kearah pintu. Ia menekan sebuah kunci pasword untuk membuka pintu villa yang terlihat indah itu. Pintu pun terbuka.


“ Kok lo tahu paswordnya Nay?” tanya Amel yang merasa heran mengapa Nayla mengetahui pasword kunci Villa itu.


“Gue dikasih tahu sama Mba Silvi, kala paswordnya itu ulang tahun nyokap gue.” Jawab Nayla yang membuat Amel membulatnya bibirnya membentuk huruf O.


“ Papi, bawa Sultan kesini, biar tidur di dalam.” Pinta Nayla pada suaminya yang masih berdiri di dekat mobil.


“Lo yakin dia di sini?” tanya Amel yang merasa ta yakin karena Villa ini tampak sepi.


“Yakin, udah lo diam aja.”


Nayla naik ke lantai dua, ia berjalan menuju kamar Hendra dan Silvi. Ia buka pintu kamar itu. Gelap. Itulah suasana yang pertama kali mereka dapati.


“Mas, nyalakan lampunya!” perintah Nayla yang yakin ada Hendra di dalam.


“Untuk apa kau kesini, Nay? Mas mau sendiri dulu.” Jawab Bayu dengan suara parau.

__ADS_1


“Kalau mau ikut mati ya mati aja, gak usah drama kaya gini. Kaya pecundang.” Ucap Nayla dengan kata-kata nyelekit.


Bayu yang sudah menidurkan Sultan disebuah kamar yang ada di antai bawah, dan kemudian menyusul langkah istrinya dari belakang ke lantai atas. Tersenyum kecut mendengar ucapan istrinya.


“Ya aku memang pecundang.” Sahut Hendra dengan suara yang lirih dan tak lama kemudian terdengar suara isak tangis.


Amel yang tak bisa mendengar Hendra menangis, segera menghampiri Hendra di kegelapan kamarnya ini.


“Maafkan aku, semua yang terjadi karena aku. Maafkan aku Mas.” Ucap Amel yang terdengar menangis mencari keberadaan Hendra dalam kegelapan.


“Drama banget kalian berdua. Lo harus inget Mas. Klo lo begini lo akan membuat korban keegoisan dan kepengecutan lo bertambah banyak. Gue masih butuh Bunda. Gue gak mau bunda ikut sedih sakit dan mati  karena lo. Lo harus pulang bareng gue besok. Kalau lo gak mau pulang sama gue. Ya udah lo susul Mbak Silvi. Mungkin itu jalan yang terbaik buat hidup lo.” Ucap Nayla dengan kalimat kasarnya.


Rasa lelah, sedih, kesal, dan marah dengan sikap pengecut Hendra membuatnya berkata-kata kasar pada sang Kakak. Meskipun dia bicara sekasar itu pada Hendra. Air matanya terus saja berlinang, ia dapat merasakan apa yang dirasakan sang kakak saat ini. Namun ia juga tak bisa membiarkan Hendra terus menyendiri dan mengasingkan dirinya.


Hidup harus terus berjalan, tak mungkin terus meratapi semua yang telah terjadi. Jika memang kita telah salah mengambil jalan, sebaiknya kita berhenti dan kembali berjalan di jalan yang benar, bukan tetap berhenti dan terpaku hanya untuk merenungi segala sesuatu yang tak akan pernah kembali.


Hendra yang kini dalam pelukkan Amel tak bisa melakukan apa-apa, mendengar ucapan adiknya yang menyakitkan tapi juga menyadarkan dirinya tentang sosok sang bunda pun tak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis di pelukkan Amel.


“Aku patut di benci Mel,”


“Aku tak pernah membenci mu ,Mas. Kembalilah, aku akan menemani kesendirian mu. Akan aku obati segala luka yang kamu rasakan Mas.” Balas Amel yang membiarkan pria yang tengah rapu hatinya menangis di dalam pelukkannya.


__ADS_1


__ADS_2