Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Bab 215


__ADS_3

Di tempat yang lain. Dodo yang sudah melakukan apa yang Amel perintahkan. Segera meluncur ke pusat club malam milik Amel dan Nayla yang dikelola oleh persatuan para preman ibu kota.


Club yang malam tadi didatangi oleh kelima para suami mereka. Ya. Para suami yang tidak tahu kehidupan seutuhnya Amel dan Nayla yang disembunyikan dengan apik oleh keduanya.


"Bon!" Pekik Dodo pada Bobon yang sedang menghisap lebih panjang ganja di dalam rokok yang kini ia sesap.


"Hemmm...." Sahut Bobon santai. Melirik Dodo yang berjalan menghampiri dirinya yang ada di meja bartender.


Saat ini club malam sudah nampak sepi, tak ada lagi satu pun pengunjung si club itu, para karyawan bagian kebersihan terlihat sedang sibuk membersihkan club yang selalu nampak seperti kapal pecah ketika sudah tutup.


"Sudah sampai mana persiapan lo untuk nanti malam?" Tanya Dodo pada Bobon yang pandangannya sudah malayang keangkasa.


"Persiapan untuk nanti malam? Hahahah... yang pasti gue sudah siap mati Dod...Hahahaha...." Jawab Bobon dengan tawanya yang menggelegar.


"Ck. Sudah siap mati? Aneh aja lo kalau ngomong! Serius Bon. Gue tanya udah sampai mana persiapan lo?"


Dodo menatap serius Bobon yang terus menyesap barang haram itu lebih dalam.


"Gue juga serius. Daniel dan teman-temannya mau rebut nih club dari dua bidadari Bang Andrew." Ucap Bobon yang kini terlihat frustrasi dan makin menyesap barang haram itu lebih dalam.


"Apa? Yang benar aja, dikasih hati minta jantung dia. Lo lagi kasih lapak jualan orang macam dia di sini." Dodo sedikit terkejut.


Dodo akhirnya memahami kenapa Bobon mengatakan sudah siap mati malam ini. Ternyata Daniel membuat prahara besar.


"Dia anggota mafia kelas internasional Bro, bagaimana gue berani nolak dia mau jual di sini. Lagi pula keuntungannya juga gede. Secara gak langsung Lo nikmatin juga 'kan?"


"Terus Bang Andrew udah tau belum tentang pertemuan nanti malam Bon?" Tanya Dodo serius.


"Udah. Makanya gue pasti matilah malam ini. Lo tahu sendiri kepemilikan dua bidadari Bang Andrew itu gak boleh disenggol dikit. Apalagi si Daniel nekat pakai nyulik orang tuanya Amel sama Nayla plus mertuanya Nayla."

__ADS_1


"Diculik? Wah benar-benar kacau. Emang bakal ada pertumpahan darah ini Bon, ntar malam." Dodo menggelengkan kepalanya.


"Iya gue pasti matilah, tapi gak tau ditangan siapa. Tuh cewek dua keliatannya aja manis, kan lo tahu sendiri. Dua-duanya saiko." Ucap Bobon sambil menjambak rambutnya.


"Lo tahu gak Dod?"


"Apa?"


"Si Joseph selama ini gak jujur jual barang sama kita. Dia belum setor barang yang udah kita bayar dan belum kasih barang yang harusnya udah kita terima. Temen-temennya Daniel tagih ke gue. Gue stop mereka gak boleh jual di sini. Sampai malasah dia Clear. Mereka tuntut gue bayar jirrr." Jawab Bobon sembari menengguk miras langsung dari botolnya.


"Ya. Lo cari dan minta pertanggung jawabanlah dari dia."


"Hahahaha... Cari dimana? Di neraka. Dah koit dia, Dod. Koit di tangan temannya Amel dan Nayla. Endah namanya, istrinya Jimmy. Ketua mafia lempeng itu."


"Wah, ngarti gue ngarti Bon... Masalah ini berkaitan. Si Daniel dan kawan-kawannya gak mau rugi. Pantes aja dia undang si Jimmy, dia mau nuntut ganti rugi sama si Jimmy. Dan mau ketemu sama Amel dan Nayla buntut dari lo tutup lapak dia di sini. Mereka akan bebasin orang tua Amel dan Nayla kalau mereka dapat club ini dengan cuma-cuma. Maruk banget dia. Hahaha.... Seru nih, gue akan jadi penonton dulu." Ucap Dodo yang paham dan merasa senang karena akan menyaksikan sebuah pertunjukan sebelum dia beraksi bersama Nayla dan Amel.


Sementara itu. Di Villa milik Hendra dan mendiang istrinya. Baik Nayla dan Amel terus dicecar oleh suami-suami mereka, terutama oleh Hendra


"Katakan siapa sebenarnya kalian!" Pekik Hendra tepat di depan wajah Amel dan juga Nayla.


"Nayla. Adikmu kak." Jawab Nayla.


Mendengar jawaban Nayla. Amel ikut-ikutan meniru jawaban yang sama.


"Amel. Istrimu Mas." Jawab Amel.


"Kalian bisa serius sedikit tidak! Aku nanya serius Amel, Nayla!" Ucap Hendra dengan suara cukup tinggi.


"Itu udah dijawab serius, apalagi sih?" Balas Nayla dengan suara tak kalah tinggi.

__ADS_1


Hendra memundurkan wajah saat Nayla membalas dengan suara yang tak kalah tinggi darinya.


"Nay, kamu bisa sopan gak kalau bicara dengan orang yang lebih tua." Tegur Hendra dengan sorot mata yang tajam menatap Hendra.


"Kalau Kak Hendra mau di hormatin, Kak Hendra harus hormatin Nay dan Amel jugalah. Kenapa harus permasalahanin siapa kita, bukan mikir mereka nyekap orang tua kita dimana? Cara nyelametin mereka gimana? Sekarang mereka masih hidup apa ga?" Balas Nayla tegas, dengan tatapan mata yang sangat tajam dan sinis menatap Hendra dan juga Bayu.


"Dengar ya baik-baik suamiku dan Kakak ku Hendra yang terhormat. Siapapun aku dan Amel. Dunia apapun yang pernah kami jalani. Tidak pernah sekalipun kita jual diri atau pun ikut pergaulan dengan free *3**." Sambung Nayla lagi. Yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


Ia ingin ke kamar mandi untuk memerah susunya secara manual. Karena rasanya sudah sangat amat sakit dan penuh. Untuk mencari alat pompa yang kemungkinan ada di mobil rasanya sudah tak sanggup.


Nayla sedikit berlari kecil menuju lantai atas dan saat ia melewati sebuah guci besar seharga ratusan juta, Nayla dengan kakinya sengaja menjatuhkan gucci itu.


Prankk! [Guci milik Hendra pecah berkeping-keping].


"Kamu mau kemana Nay?" Tanya Bayu yang ketika marah tak lagi memanggil Nayla dengan sebutan Mami.


Nayla mengabaikan pertanyaan Bayu, yang hanya membuatnya makin sakit hati. Ia terus berlari menaiki anak tangga menuju kamar yang ada dilantai atas.


Merasa khawatir dengan amarah istrinya, Bayu segera menyusul langkah kaki istrinya.


Sesampainya di atas Nayla langsung membuka baju bagian atasnya. Memerah pabrik susu alaminya dengan kedua tangannya.


"Arghh... Sakit banget." Rintih Nayla saat memerah pabrik susunya sendiri yang sudah mulai bengkak.


Bayu yang menyusul Nayla, mendapati Nayla yang sedang merintih kesakitan dan menangis sembari memerah pabrik susunya.


Bayu segera turun kembali dan pergi ke mobil motor home miliknya. Ia tahu Nayla menyimpan alat pemerah susu elektrik di mobil itu.


Bayu segera kembali dengan cepat ke kamar mandi dimana Nayla sudah terlihat makin frustrasi dan terisak, karena kesulitan mengeluarkan Asi yang sudah lama tak dihisap Bianca.

__ADS_1


Tanpa bicara Bayu segera membantu istrinya, memasangkan kedua cup pemerah itu ke pabrik susu yang kini terlihat membengkak. Dan menekan tombol on dan tingkat pemerahan paling tinggi pada alat pemerah susu itu.


Keduanya saling diam tanpa berkata-kata, Nayla tak ingin menatap Bayu yang kini terus saja memandanginya. Nayla malah fokus menatap alat pemarah susu yang terus bekerja memerah asinya yang mengucur deras.


__ADS_2