Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 44


__ADS_3

"Sudah Tuan," jawab Nathan assiten Bayu dengan singkat.


"Apakah wajah semua pelaku nampak jelas di dalam rekaman CCTV, Nath?" Kembali Bayu mengajukan pertanyaan pada Nathan.


"Sangat Jelas Tuan, bahkan penyebab Nona mengalami gegar otak pun nampak jelas terekam di dalam CCTV Tuan. Saya salut dengan daya tahan tubuh Nyonya yang sangat kuat dan tahan banting, ia sanggup menahan rasa sakit yang sangat luar biasa menurut perkiraan saya Tuan," jawab Nathan yang sedikit memuji istri Bosnya itu.


"Segera kirimkan rekaman CCTV yang menampilkan kejadian dimana istriku bisa mengalami gegar otak seperti ini Nath!" Perintah Bayu pada Nathan. Ia sangat ingin tahu penyebab istrinya bisa mengalami gegar otak.


"Baik Tuan, segera saya kirim bagian rekaman CCTV yang Anda inginkan," jawab Nathan yang segera mengirimkan bagian rekaman CCTV yang diinginkan oleh Bayu.


"Ok terimakasih atas kerja bagus mu ini, Nathan. Tolong simpan dengan baik bukti rekaman CCTV ini Nath! Kita akan jadikan rekaman CCTV ini sebagai barang bukti untuk menjebloskan mereka semua kedalam penjara, dan sebelum mereka masuk penjara pastikan kehancuran perusahaan milik keluarga mereka hingga tak tersisa, Nath!" perintah Bayu dengan suara yang cukup keras, menggelegar bak petir di tengah malam.


Nel dan Amel yang duduk saling bersandarkan kepala hanya tersenyum kecut melihat apa yang sedang dilakukan Bayu.


"Biasa aja kali gak usah pakai teriak-teriak, Pengen banget kita denger kayanya tuh dia," cicit Amel yang melirik Bayu dengan tatapan tak suka.


"Biarin aja, jangan suka rese sama hobby orang, bisakan Mel?" Neil menanggapi cicitan Amel dengan mata yang terpejam. Ia mulai terserang rasa kantuk dan lelah. Tadinya ia ingin pulang, karena tugasnya sudah selesai disini. Tapi Amel menahannya. Amel minta di temani sampai operasi Nayla selesai. Sebagai seorang kakak, Neil akhirnya menuruti permintaan adik sepupunya ini.


"Gak bisa, gue jadi sebel banget sama dia, pas liat Nayla kaya gini, masa dia sebagai suami gak tau istrinya pergi sendirian malam-malam, gue rasa ada yang gak beres sama pernikahannya mereka. Coba si Nayla lebih terbuka, gue pasti cincang tuh dosen hidup-hidup," omel Amel yang ditanggapi santai oleh Neil. Neil tersenyum renyah ke arah Amel dan kemudian tatapannya sedikit melirik ke arah Bayu yang masih sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Gak perlu emosi kaya gitu Mel. Habis ini kita bakal nonton drama India made in Indonesia secara live, Mel. Yakin sama gue kalau si Nayla udah sadar, dia pasti akan merencanakan sesuatu yang bikin suaminya kapok udah buat dia sampai kaya gini. Suaminya itukan belum tau aja bagaimana sifat aslinya Nayla?"


"Hooh, dia belum tahu siapa Nayla, nikah aja baru hitungan hari, udah bikin Nayla kaya gini, jiwa dedemit Nayla kalau udah bangkit, siap-siap aja dia mengelus dada tiap hari, siap-siapin deh tuh kepala buat triping, geleng kanan kiri sampai kecengklak,"


"Mana ada bandot tua kaya dia keceklak? Yang ada encok, keseleo baru pantes Mel, karena kemakan umur,"


"Bener juga apa kata Lo, bang. Umur lo sama dia kayanya gak jauh beda, sama-sama Tua. Yang itu dah pernah jadi Duda, nah lo masih setia jadi bujang lapuk hehehe," ledek Amel dengan cengiran kudanya yang membuat Neil menyentil jidat lebar milik Amel.


"Aduh sakit Bang," Amel meringis kesakitan, ia mengelus jidatnya yang lebar berkali-kali untuk mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.


Waktu pun terus berjalan hingga akhirnya proses operasi yang dijalani Nayla telah selesai. Nayla segera di pindahkan ke salah satu ruang rawat presiden suite yang tersedia di rumah sakit itu.


Tak berselang lama dari kepulangan Amel dan Neil, anggota keluarga Nayla yang terdiri dari Ayah, Bunda, Mas Hendra dan istrinya pun datang dengan langkah yang tergesa-gesa karena merasa khawatir dengan kondisi Nayla.


Hendra yang sangat menyayangi adik satu-satunya itupun akhirnya menggendong sang istri yang tengah hamil muda, karena terlalu lamban jalannya.


"Sudah Mas bilang jangan ikut, kamu malah tetap malah mau ikut, jadi tahan saja rasa malu mu itu," ucap Hendra pada istrinya yang sedang menutup wajahnya karena malu di gendong suaminya dengan gaya bridal style menuju ruang rawat Nayla.


Sesampainya di ruangan, Hendra segera menurunkan istrinya dari gendongannya. Ia menurunkan istrinya dengan hati-hati. Tatapn tak bersahabat di layangkan Hendra pada Bayu yang baru saja menyalami kedua orang tuanya. Setelah selesai menyalami kedua orang tuanya, Bayu menghampiri Hendra untuk menyalami Hendra.

__ADS_1


Bayu mengulurkan tanganya di hadapan Hendra. Hendra yang menatap tajam Bayu tak langsung menerima ajakan Bayu untuk berjabat tangan. Untuk beberapa saat pandangan tajam Hendra beralih ke arah ranjang rumah sakit dimana adiknya tengah terbaring, masih dalam kondisi yang belum sadarkan diri. Hendra mengepalkan tangannya ketika ia melihat dengan jelas tak nampak lagi mahkota terindah milik sang adik.


Tanpa banyak kata-kata Hendra melayangkan bogem mentah pada Bayu.


BUGHHH!! [Satu bogem mentah di hadiahkan Hendra pada Bayu].


"Aaaaa...." jerit Silvi yang takut ketika suaminya memukul atasannya itu. Sedangkan kedua orang tua Nayla tampak santai saja ketika putra mereka memukuli menantu mereka. Mereka sangat tahu bagaimana karakter sang anak, jika dilarang akan semakin membabi buta. Daripada mengurusi pertengkaran antara Anak dan menantunya, lebih baik merek melihat kondisi Nayla.


Dengan satu pukulan keras dari Hendra saja, mampu membuat Bayu jatuh tersungkur ke lantai. Sudut bibir Bayu pecah dan mengeluarkan darah segar. Bayu mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Ia tak melawan ataupun membel diri. Karena dia merasa pantas di perlakukan seperti ini oleh Hendra.


"Lo apain adik gue sampai kaya gini?" tanya Hendra yang mencengkram kedua kerah baju Bayu.


"Mas udah mas, jangan berkelahi di sini! Ini rumah sakit bukan ring tinju," Silvi mencoba melerai perkelahian ke duanya.


Namun nyali Silvi menciut ketika suaminya melirik tajam dirinya yang terus saja menarik bahu sang suami untuk nelepaskan Bayu dari cengkramannya. Silvi menatap kedua mertuanya saat ia mendapati lirikan maut dari sang suami. Ia seakan meminta pertolongan dari kedua mertuanya itu.


Dengan gerakkan matanya Riska meminta istri anaknya itu untuk menghampiri dirinya yang kini berdiri di samping ranjang Nayla. Silvi langsung menuruti permintaan sang ibu mertua.


"Jangan ikut campur urusan pria! Biarkan saja suami mu seperti itu! Bunda dan Ayah saja tak berani melerai mereka, kamu jangan sok berani memisahkan laki-laki yang sedang kesetanan itu, kalau kamu memaksa, nanti akhirnya kamu sendiri yang akan merasa dirugikan," bisik Riska pada menantunya.

__ADS_1


"Iya Bunda, maaf," tanggap Silvi dengan suara lemah dan lirihnya.


__ADS_2