Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 249


__ADS_3

"Aaaa..." Pekik Charles kesakitan dengan darah yang mengalir deras dari pangkal lidahnya yang di potong oleh Leon.


Senyum menyeringai tergambar jelas di wajah Tuan Adam. Saat melihat punggung Leon pergi dengan santainya meninggalkan keberadaan mereka.


Dengan perlahan namun pasti Tuan Adam mendekati Tuan Charles yang kesakitan.


"Charles, aku tak tega melihatmu kesakitan seperti ini, bagaimana jika Ferdy mengakhiri penderitaanmu?" Tanya Tuan Adam yang malah membuat kedua mata Tuan Charles membola sempurna.


Tuan Charles menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Siapa pun pasti tidak akan mau hidupnya diakhiri.


Ingin sekali Tuan Charles bicara untuk memohon ampun pada Tuan Adam. Namun mau bagaimana lagi, saat ini ia tak lagi bisa bicara dengan kondisi lidah yang terpotong.


"Lakukan tugasmu Fer, eksekusi dia dan bersihkan semuanya. Jangan sampai meninggalkan jejak!" Ucap Tuan Adam yang kini ikut-ikutan meninggalkan Tuan Charles.


Saat Tuan Adam sudah berada di dalam mobil dan kembali mendapati Leon tengah memejamkan matanya. Suara tembakan dari senjata Ferdy pun meletus.


Dor... Dor!


Dua suara tembakan ini yang menjadi pertanda berakhirnya perjalanan hidup Tuan Charles di tangan Ferdy atas perintah Tuan Adam.

__ADS_1


.


.


.


.


Tiga bulan kemudian.


Kehidupan kelima keluarga kecil ini sudah kembali kondusif. Tak ada lagi tembak-menembak. Kelima wanita ini kembali menjadi istri-istri yang baik di dalam mansion mewah mereka masing-masing. Mengurus anak dan suami mereka. Serta mengurus persiapan pernikahan Ferdy dan Angel yang sebentar lagi akan dilangsungkan.


Sembari membantu Angela, kelimanya juga mencari gaun untuk mereka sendiri dalam menghadiri pesta pernikahan Angel dan Ferdy yang akan dilangsungkan secara besar-besaran di hotel Grands Adam milik Tuan Adam.


Saat kelimanya sibuk mencoba koleksi gaun di butik itu, ada seorang karyawati butik yang terus menitikan air mata saat melayani kelima nyonya muda ini, yang nampak begitu menyebalkan dinmatanya.


Ya, air mata yang keluar dari karyawati ini adalah air mata sebuah kesedihan, kelelahan dan kesabaran yang harus ia stok lebih banyak lagi.


"Setelah sekian lama, kenapa Nona Anna datang lagi dan menambah dua orang yang sama menyebalkannya seperti ditinya dan Nona Endah? Dan kenaoa hari ini waktu terasa begitu lambat berjalan? Ya, Tuhan. Tolong berikan hambamu ini kesabaran ekstra hari ini dan cepatkan jarum jam ini berputar." Batin Ema yang terus memanjatkan doa, agar ia diberikan kesabaran dan hari ini cepat berlalu. Sembari menatap sebuah jam yang menempel di dinding bercat putih di butik tempat ia bekerja.

__ADS_1


Sebenarnya banyak karyawan di butik ini, namun Endah dan Anna yang suka melihat penderitaan Ema yang merupakan mantan velakor ini, akhirnya meminta pada Claudia agar mereka dilayani hanya dengan Ema saja. Tentunya bukan dengan memberikan alasan meraka yang sebenarnya pada Claudia.


"Em," panggil Jessica pada Ema yang sedang memberikan sebuah gaun pada Amel dan Nayla.


"Ya, Nona." Jawab Ema sembari menoleh pada Jessica yang duduk di sebuah sofa sembari melihat sebuah buku model gaun malam koleksi Kak Claudia.


"Saya mau gaun yang ada kupu-kupunya. Apa Kak Claudia masih suka membuat model yang seperti itu?" Tanya Jessica yang memang menyukai hiasan kupu-kupu pada gaunnya.


Jessica sudah membolak-balik beberapa buku koleksi gaun malam, namun model gaun degan hiasan kupu-kupu tak kunjung ia temukan. Hingga akhirnya ia bertanya pada Ema.


"Nona Claudia, sudah lama tidak buat Nona. Biasanya jika ada pelanggan yang ingin hiasan kupu-kupu, kami akan menambahkannya pada gaun yang ada atau membuatkan modelnya secara khusus." Jawab Ema.


"Oh pantas saja tidak ada. Kalau begitu, aku akan meminta dibuatkan desain gaun yang baru." Balas Jessica yang beranjak ingin menemui Claudia di ruangannya dan diikuti oleh yang lainnya.


Sontak hal tersebut membuat Ema menghela nafas panjangnya. Sudah hampir dua jam ia membantu memilih gaun untuk kelimanya dan juga untuk Angela, ternyata kelimanya meminta dibuatkan desain yang baru pada Claudia.


"Sabar, ini ujian hahahaha..." Ucap Nayla dengan tawa khasnya, sembari menepuk bahu Ema dengan cukup keras. Saat ia melihat jelas ketika Ema menghela nafas panjangnya dengan lirikan tak biasa.


Rasanya Ema ingin sekali menjerit dan menangis saat ini. Namun ia berusaha menahannya. Sesal ia rasakan kini. Andai saja mencari pekerjaan tidaklah sulit setelah ia keluar dari butik milik wanita yang baik hati ini, mungkin ia sejak lama sudah keluar, demi menghindari kondisi yang seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2