Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 35


__ADS_3

"Nyonya, bagaimana apa sudah siap untuk berangkat? Apa sudah tidak ada lagi yang tertinggal?" tanya Pak Jono yang kembali mengulang pertanyaannya.


Ia menatap penuh tanya dengan memasang kesabaran ekstra di wajahnya yang tak lagi muda.


"Pak Jono, tidak bisakah menunggu ku duduk tenang dulu, baru melontarkan pertanyaan pada Nyonya mu yang cantik dan cetar membahana di pagi ini, meskipun belum mandi," jawab Nayla dengan penuh percaya diri.


Nayla tak sadar dengan kata-kata yang ia ucapkan barusan sama saja mengumumkan pada mereka bahwa dirinya belum mandi pagi ini, dengan tanpa rasa malu ia sudah mau pergi mengantar putranya ke sekolah dan juga berangkat kuliah setelahnya.


Memang jika dilihat dari penampilan Nayla yang selalu tampak fresh tidak terlihat bahwa ia melewati kegiatan pagi ini tanpa mandi terlebih dahulu. Meskipun tidak mandi, tubuh Nayla sangatlah wangi, bagaimana tidak satu botol parfum bermerek kelas dunia yang berisi 100 ml bisa ia habiskan dalam waktu satu minggu saja. Bayangkan bagaimana wangi tubuhnya yang cetar membahana karena semprotan parfum di tubuhnya, sampai-sampai mengalahkan wangi khas tubuhnya sendiri.


Mendengar ucapan sang majikan Pak Jono rasanya ingin tertawa, namun ia tahan dengan mengeratkan deretan giginya yang hampir saja terbuka karena tawanya yang ingin pecah di pagi ini. Jangan tanya bagaimana raut wajah Suster Mirna yang sedang duduk manis di kursi paling belakang mobil. Dia sudah tertawa lebar tanpa suara sembari memegangi perutnya yang sakit karena menahan tawa gelinya.


Berbeda dengan Sultan, mendengar ucapan sang Mami yang memuji dirinya sendiri, membuatnya menghampiri Maminya dan naik kepangkuan sang Mami. Sultan menghujani pipi putih Nayla dengan ciuman penuh cinta dan diakhiri dengan sebuah pelukan.


"Mami Sultan memang selalu terlihat cantik dan mempesona meskipun belum mandi, Mami Nayla ku selalu wangi sepanjang hari tak ada yang mengalahkannya. Mami katalanlah jika Mami hanya akan menjadi milik ku!" ucap Sultan saat dalam pelukan Nayla.


"Tentu sayang,Mami ini hanya akan menjadi milik Sultan dan adik-adik Sultan nantinya hum," balas Nayla yang menatap lekang wajah Sultan yang bersandar pada buah dadanya.


Sultan menanggapi ucapan Nayla dengan anggukan kepalanya. Sungguh di hati kecil Sultan saat ini belum ingin memiliki seorang adik, karena dia sedang menikmati indahnya kasih sayang Nayla yang sepenuhnya untuk dirinya.


"Nyonya maaf, jadi bagaimana? Apa kita sudah bisa berangkat dan sudah dipastikan tidak ada lagi yang tertinggal?" lagi-lagi Pak Jono mengulang pertanyaannya yang sama pada Nayla.


"Sepertinya masih ada yang tertinggal Pak. Apa Pak Jono bisa memgambilkannya untuk saya? Tapi saya yakin Bapak tak bisa mengambilnya kali ini," jawab Nayla dengan wajah seriusnya.


"Katakan saja Nyonya, saya akan berusaha mengambilnya untuk Nyonya," jawab Pak Jono dengan mantap.


"Serius Pak?? Saya jadi tersanjung dengan kegigihan Bapak melayani saya, sikap Bapak ini perlu di apresiasikan dengan kenaikan gaji," puji Nayla kemudian.

__ADS_1


"Iya Nyonya saya serius, tolong segera katakan Nyonya, agar saya bisa segera mengambilkannya untuk Nyonya dan kita bisa langsung segera berangkat,"


"Baiklah kalau Pak Jono memaksa, padahal saya tidak yakin loh Bapak bisa mengambilnya," balas Nayla yang masih tak menjawab benda apa yang tertinggal hingga membuat mereka belum bisa berangkat detik ini juga.


Pak Jono tetap terdiam tanpa menanggapi ucapan majikannya yang seakan sedang mempermainkan dirinya. Ia tetap memunggu dengan sabar majikannya itu untuk menyebutkan benda apa yang harus ia ambil. Untuk beberapa saat suasana di dalam mobil hening. Tak ada satupun yang bicara dan mobil pun tetap pada posisinya, tidak melaju sedikit pun.


"Kok hening, nungguin jawaban saya ya?" tanya Nayla tanpa rasa berdosa.


Dengan gerakan refleks Pak Jono yang berada di balik kemudi mengelus dadanya berkali-kali. Berbicara dengan Nayla sama saja menguji kesabarannya.


"Ya Allah, sesulit inikah mencari rizqi dari Mu? Hamba mohon beri kesabaran dan ketabahan hamba dalam menghadapi majikan hamba ini ya Allah, gaji dua kali lipat sepertinya tak akan cukup jika hamba harus beli obat darah tinggi terus-menerus ya Allah," batin Pak Jono yang melihat wajah polos tak berdosa Nayla dari balik kaca spion mobilnya.


"Iya, Nyonya. Saya sedang menunggu jawaban Anda," jawab Pak Jono dengam penuh kelembutan padahal jujur sajanhatinya mulai dongkoldan geram, ia leburkan segala rasa kesal dan marahnya setiap saat untuk majikannya ini, demi kesejateraan keluarganya di rumah.


"Hehehe... sudah jalan saja tak perlu di ambil Pak Jono, lagian tidak mungkin bisa diambil juga kok," jawab Nayla yang malah meminta Pak Jono melajukan kendaraannya.


"Ya Allah, ini Nyonya masih waras apa enggak ya? Kasian sekali Tuan Muda punya istri yang usianya lebih muda darinya malah sudah oleng seperti ini," batin Pak Jono dari balik kemudinya.


Tanpa Pak Jono sadari, sejak tadi Nayla juga sedang memperhatikan dirinya, dan saat Pak Jono kembali melirik dirinya, pandangan mata mereka pun saling bertemu di spion mobil.


"Pak Jono lihatin saya ya?" tanya Nayla yang seketika menyadarkan diri Pak Jono untuk kembali fokus pada jalanan dihadapannya.


"E-eng-nggak Nyah," jawab Pak Jono terbata-bata. Ia malu karena apa yang ia lakukan di pergoki majikannya.


"Bohong dosa loh Pak Jon," ucap Nayla yang memaksa Pak Jono mengakui perbuatanya.


"Iya Nyonya bohong memang dosa tidak ada yang berpahala, apalagi Nyonya yang suka ngerjain orang tua pasti dosanya sudah banyak dan menggunung," batin Pak Jono yang seketika membalas ucapan Nayla dan pada kenyataannya, supir asli kota Tegal itu hanya bisa diam membisu tak berani untuk menyahuti satu kata pun dari ucapan sang majikan.

__ADS_1


Berbeda dengan Suster Marni yang mulai terbiasa dengan karakter Nayla.


"Nyonya, jika saya boleh tahu kenapa Nyonya sejak tadi cekikikan sendirian? Apa ada yang lucu? Apakah Nyonya tak mau membagi kelucuan itu pada kami?" tanya Suster Marni dari kursi belakang mobil yang juga sejak tadi memperhatikan tingkah Nayla.


"Suster mau tau ajah atau mau tau banget?" bukannya menjawab Nayla malah melontarkan pertanyaam yang memancing kesabaran Suster Marni.


"Tentu, saya mau tau bangetlah Nyonya, saya sudah penasaran, alasan apa yang membuat Nyonya tertawa geli seorang diri saat ini," balas Suster Marni yang mulai bicara ceplas-ceplos dengan Nyonyanya itu. Alih-alih marah Nayla malah tertawa mendengar perkataan Suster Marni padanya.


"Hahaha... jiwa kepo Suster sudah meronta-ronta rupanya ya? Suster memang Karlota sejati," balas Nayla dengan tawanya yang sedikit mengusik Sultan yang mulai memejamkan matanya dipelukan Nayla.


"Tentu Nyonya, menjadi Karlota adalah sebuah anugrah bagi saya, karena saya jadi mendapatkan bonus berlipat ganda dari nyonya besar," balas Suster Marni yang mengakui dengan terang-terangan profesi dirinya yang sudah diketahui lebih dulu oleh majikannya itu.


"Hahaha... bagus sekali jiwa bisnis mu Suster, saya acungkan jempol tapi jangan lupa traktir saya bakso di lapangan bola itu, kalau sudah dapat bonus dari Ommanya Sultan ya," balas Nayla dengan tawanya.


Ia sama sekali tak keberatan dengan apa yang dilakukan Suster Marni di belakangnya.


"Tentu Nyonya, sesuai janji saya pada Nyonya. Sekarang bolehkah saya tahu penyebab apa yang membuat Nyonya tertawa geli seorang diri?"


"Hahaha... Suster masih saja mempertanyakannya hal ini rupanya. Hahahaha.... tadi itu saya hanya membayangkan bagaimana jadinya tadi, jika Pak Jono jadi memgambil jejak kaki saya yang tertinggal di rumah, hehehe.... pasti tak akan bisakan?" jawab Nayla yang membuat Suster Marni menepuk jidatnya dan Pak Jono meremas stirnya karena merasa di permainkan lagi oleh Nyonya mudanya ini.


Tak terasa mobil mereka pun telah sampai di halaman parkir sekolah Sultan. Pak Jono segera turun dan membukakan pintu untuk kedua majikamnya itu. Betapa terkejutnya ia mendapati Sultam sudah tertidur pulas di dalam pelukan Nayla.


"Jadi bagaimana ini Nyonya?" tanya Pak Jono saat melihat Sultam tertidur begitu damai dalam pelukan Nayla.


"Mau bagaimana lagi, ya pulanglah. Saya tidak mau tidur anak saya bantet Pak Jono. Lagi pula saya tidak memaksakan anak saya harus sekolah karena usianya terlalu dini, emang Papinya ajah tuh yang malas ngajarin dan jagain anak. Anak masih piyik kaya gini di sekolahin biar ada yang momong kali, ishhh... gak sudi banget anak saya di momong sama guru kecentilan kaya Miss Claudia," jawab Nayla yang malah mengomel.


"Terus gimana dengan kuliah Nyonya hari ini?" tanya Pak Jono lagi pada majikannya itu.

__ADS_1


Nayla menghela nafasnya kasar sebelum ia menjawab pertanyaan supirnya yang seakan takut dengan suaminya, karena tak mengantar istri Tuan mudanya ini ke kampus.


__ADS_2