Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 173


__ADS_3

Kini Amel dan kedua orang tua Hendra tengah berada di ruangan dokter. Seorang dokter muda yang Amel kenali yaitu Pram. Yang merupakan teman sejawat dokter Nail, almarhum sepupunya.


"Ada hal penting namun kurang menyenangkan yang harus saya sampaikan, dari hasil pemeriksaan dan observasi lebih mendalam yang telah tim kami lakukan. Dengan berat hati kami menyampaikan jika Tuan Hendra saat ini dalam kondisi koma. Pukulan yang cukup keras di bagian belakang kepalanya juga berpotensi Tuan Hendra akan mengalami hilang ingatan, baik hilang ingatan jangka pendek maupun jangka panjang. Besar harapan kami hal ini tidak terjadi, namun melihat cedera yang ia alami dan trauma yang terjadi berulang-ulang, maka kami dapat menyimpulkan hal ini kemungkinan besar akan dialami oleh Tuan Hendra." Terang dokter Pram sembari menatap ketiga orang yang duduk berhadapan dengannya.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk putra saya dokter. Bantu kami memulihkan kondisinya, lalu mengembalikan kembali ingatannya jika memang putra kami mengalami hilang ingatan seperti yang dokter katakan tadi." Tuan Gunawan menanggapi keterangan dari dokter Pram.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin dalam menangani pasien kami tuan." Balas dokter Pram.


Usai menyampaikan kabar buruk tersebut kedua orang tua Hendra pun keluar dengan raut wajah yang bersedih, begitu pula dengan Amel. Saat Amel mengikuti langkah kedua orang tua Hendra untuk keluar dari ruangan kerja dokter Pram. Tiba-tiba dokter Pram mencekal tangan Amel. Ia menahan Amel untuk tidak pergi dulu dari ruangannya.


"Amel, bisa kita bicara sebentar," ucap dokter Pram.


Amel melirik tak suka dengan apa yang dilakukan dokter Pram. Ya Amel adalah sosok wanita yang tidak suka disentuh oleh pria terkecuali pria yang amat sangat ia cintai yaitu Hendra.


Kedua orang tua Hendra yang tengah bersedih seakan melupakan kehadiran Amel yang datang bersama mereka ke ruang Dokter Pram, mereka berjalan ke ruang rawat sang putra dengan pikiran yang kalut dan kusut.


Orang tua mana yang tidak bersedih mengetahui kondisi buruk yang tengah dialami putra kandungnya.


"Mau bicara apa?" Tanya Amel dengan wajah dingin dan datarnya yang kemudian menghempas dengan kasar tangan dokter Pram.


"Maaf,"ucap dokter Pram saat menyadari kesalahannya telah menyentuh tangan Amel.


"Hemmm," Amel berdeham.

__ADS_1


"Aku ingin bertanya apa hubunganmu dengan mereka? Kenapa kamu ikut mencemaskan pasienku?" Tanya dokter Pram yang sangat penasaran dengan hubungan Amel dan pasiennya.


Alasan kuat dokter Pram penasaran dengan hubungan Amel dan pasiennya. Itu karena Amel adalah wanita yang sangat ia cintai, namun cintanya selalu ditolak oleh Amel. Karena Amel hanya mencintai Hendra seorang.


"Pasien mu itu adalah calon suamiku." Jawab Amel dengan tegas.


Dokter Pram yang terkejut hingga memundurkan langkah kakinya.


"Kamu sudah ingin menikah?" Tanya Dokter Pram yang masih tak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Amel.


"Ya, aku sudah ingin menikah." Jawab Amel yang kembali memastikan ucapannya.


Dokter Pram terdiam. Hatinya remuk mendengar berita buruk ini. Setelah sekian lama tak bertemu dengan Amel wanita yang ia cintai dan sulit untuk ia lupakan, ternyata saat bertemu kembali ia mendapatkan kenyataan yang cukup pahit untuk ia dengar.


"Apa tak ada lagi yang ingin kau bicarakan? Jika tak ada lagi aku ingin keluar dari ruangan ini."ucap Amel yang langsung membuka kembali pintu ruangan kerja dokter Pram, yang dokter Pram tutup tadi, sewaktu ia menahan langkah kaki Amel yang ingin pergi dari ruangannya.


"Aku terlalu dalam mencintaimu hingga aku tak bisa melupakanmu. Aku selalu berharap Tuhan mempertemukan kita dan Tuhan mengabulkan doaku untuk mempertemukan kita, namun bukan pertemuan seperti ini yang aku harapkan." Gumam Dokter Pram yang meratapi perasaannya pada Amel.


Sekeluarnya Amel dari ruangan kerja dokter Pram. Ia segera menghubungi Nayla. Ia memberikan kabar buruk yang baru saja ia dengar dari dokter Pram mengenai Hendra.


Nayla begitu terkejut mengetahui kondisi sang Kakak. Ia menangis sejadi-jadinya mendengar kabar berita mengenai Hendra yang disampaikan oleh Amel.


Tepat pukul 06.00 pagi Nayla datang bersama Bayu ke rumah sakit Central Kusuma. Sampai saat ini Hendra belum juga sadar dari koma. Amel terus setia berada di samping ranjang Hendra.

__ADS_1


"Mel, istirahatlah. Lo juga butuh istirahat, jangan sampai lo sakit karena terlalu memposir tubuh lo menjaga kak Hendra." Ucap Nayla yang begitu prihatin dengan calon kakak iparnya itu.


"Mas Hendra akan baik-baik aja kan Nay? Dia bakalan sadar dan bangunkan Nay? Dia gak akan lupa sama gue kan Nay? Gue sama dia sebentar pagi akan nikah loh? Undangan juga sudah disebar." Tanya Amel dengan mata yang berkaca-kaca sembari menatap wajah tenang Hendra yang masih terpejam.


Nayla tak dapat menjawab semua pertanyaan Amel pada dirinya. Nayla malah memeluk Amel dan menangis dalam pelukan sahabatnya itu.


"Gue nggak tahu harus jawab apa. Gue juga berharap kak Hendra cepat sadar dan tidak amnesia, Mel." Ucap Nayla saat ia memeluk tubuh sahabatnya yang kini terguncang karena sedang menangis.


"Lo tahu kan pernikahan gue sama dia tinggal menghitung hari, tapi kalau dia nggak bangun itu tandanya pernikahan gue sama Kakak lo bakal batal Nay." Balas Amel yang makin membuat Nayla juga makin terisak.


Tiga hari sudah dalam kondisi koma, malam ini Amel berhalangan untuk hadir untuk menjaga Hendra di rumah sakit seperti biasanya. Begitubpun dengan kedua orang tua Hendra dan Nayla. Saat ini yang bertugas menemani Hendra adalah para hot papa.


"Hen, lo tidur lama banget gak cape apa?" Seloroh Leon sembari mengguncangkan lengan berotot Hendra dengan kasar.


"Hei, Leon. Apa yang kau lakukan hah?" Pekik Bayu saat melihat tingkah Leon yang ada-ada saja saja.


"Bangunin dialah, apalagi." Jawab Leon santai.


Sementara Leon duduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang Hendra. Ketiga hot Papa lainnya, duduk di sofa panjang sambil menikmati hot kopi dan bermain ludo. Demi mengusir kejenuhan yang mereka rasakan.


"Gue denger dari istri gue. Dokter yang nanganin Hendra itu temennya Dokter Neil. Namanya Dokter Pram. Ya gak Bay?" Seloroh Andre yang sengaja berbicara seperti ini agar Hendra dapat mendengar pembicaraan mereka di alam bawah sadarnya.


"Iya. Kenapa di telinga gue dua dokter itu begitu menyebalkan untuk di dengar ya." Sahut Bayu yang seakan mengingat masa lalunya bersama dengan Dokter Neil yang hampir merebut Nayla dari dirinya. Karena ia tahu betul Dokter itu sangat mencintai Istrinya.

__ADS_1


"Kenapa lo Bay, kok sewot amat? Jangan-jangan ada masa lalu lo yang terlewatkan yang belum lo ceritain sama kita-kita." Sahut Leon dengan suara sengaja meninggi agar Hendra bangun.


__ADS_2