
"Ah... haus banget minum dong Pih," ucap Nayla yang mendudukan bokongnya di sofa panjang.
Bayu dan Septi terperangah melihat kedatangan Nayla ke kantor dengan keadaan baju yang basah lepek karena keringatnya. Terlebih bandana yang menutupi kepalanya yang sudah ditumbuhi rambut sepanjang satu centi meter ini. Ia peras di depan hadapan keduanya.
Kompak, satu kata untuk Bayu dan Septi yang seketika melihat kearah luar jendela. Mereka ingin mengetahui di luar hujan atau tidak. Hingga membuat baju Nayla sebasah itu dan bandana yang basah hingga keluar air saat diperas. Panas terik, itulah pemandangan yang dilihat keduanya.
"Iiiiekkk..." Refleks keduanya merasa ingin muntah karena kejorokan Nayla. Padahal bandana itu basah bukan karena keringat Nayla. Tapi air mineral yang ia guyur ke area kepalanya, agar terasa segar kembali.
Hahahaha [Tawa Nayla pecah karena melihat keduanya merasa jijik dan ingin muntah karena kelakuannya].
"Gerah ahhh...ampun.." tutur Nayla sembari mengipaskan tubuhnya yang bercucuran keringat dengan sebuah kerdus yang entah ia dapat darimana.
"Sudah dulu Sep, kamu keluar dulu! Tolong carikan baju ganti untuk istriku! Lengkap dengan pakaian dalamnya." Ucap Bayu menyudahi kegiatan mereka yang tengah mengecek dokumen yang akan dia bawa nanti malam.
Septi pun mengiyakan Perintah dan permintaan Bayu. Ia segera merapikan dokumen yang ada di meja kerja Bayu, dan Bayu pun tanpa menunggu Septi selesai merapikan dokumen, ia bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri sang istri yang merebahkan tubuhnya di sofa dengan pakaiannya yang basah.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa bajunya sampai sebasah ini?" Tanya Bayu yang keheranan. Ia memegangi bagian ketiak sang istri tanpa rasa jijik sedikit pun dan bagian dada Nayla yang sangat basah. Ia membuka jas yang ia kenakan dan menutup bagian dada Nayla yang menerawang, namun Nayla menolaknya karena masih merasa gerah.
"Pakai ihh... keliatan."
"Ntar dulu, gerahhhhhh Pih." Sahut Nayla.
"Ini kenapa sampai basket begini ketiak kamu sama dada kamu Mih? Kamu main air hum?"
"Macet Pih ihh, Mami gak sabaran sudah dua jam gak gerak-gerak, ada Oppa Lee min ho lewat kali ya Pih, jadi macet." jawab Nayla yang membuat Bayu kesal dan menekuk wajahnya.
Pasalnya istrinya itu menyebut suami dunia perhaluannya yang selalu membuat Bayu cemburu.
"Terus kalau dia yang lewat, apa hubungannya dengan baju kamu basah seperti ini humm?" Tanya Bayu yang malah mencapit hidung istrinya.
__ADS_1
"Aaaa.... sakit... Papi KDRT nih," rintih Nayla sembari memegangi hidungnya yang memerah.
"Udah cape datang kesini pakai jalan kaki dari lampu merah depan sampai sini. Malah di KDRT-in kaya gini. Pijitin dong Pih, pegel kaki Mami nih!" Keluh Nayla yang memerintah suaminya.
"Kenapa harus jalan kaki sih Mih, kan lumayan jauh sayang? Pasti kamu mengira benar ada dia lewatkan?" Tanya Bayu dengan prasangkanya. Ia sungguh menyayangkan apa yang dilakukan Nayla hanya demi suami halunya.
"Ih, sembarangan. Bukan karena itu, tapi karena Mami tuh punya feeling gak enak tentang Papi, jadi tuh pengennya buru-buru lihat Papi, supaya hati Mami tenang." Jawab Nayla yang membuat hati Bayu berbunga-bunga tak lagi merasa cemburu dengan suami perhaluan istrinya.
"Benarkah? Cuma lihat Papi hati Mami jadi tenang? Bukan karena mau lihat suami halu kamu itu?" Tanya Bayu yang seakan minta di yakinkan oleh Nayla.
"Ah males ah... kalau harus ngomong dua kali. Ingat Pih kita bukan ABG jadi jangan lebay dan alay." Jawab Nayla yang malah memejamkan matanya karena lelah. Sedang Bayu terus memijat kaki Nayla sambil senyum-senyum sendiri dengan apa yang telah dilakukan Nayla hanya untuk cepat bertemu dengannya.
"Ya ampun ini betisnya keras banget Mih. Jangan jalan kaki jauh-jauh lagi Mih. Nanti betis kamu bisa kaya tales bogor loh, kalau jalan kaki terus." Ujar Bayu yang terus memijat bagian betis kaki Nayla.
"Lebay banget sih Pih, jalan kaki itu wajar yang ga wajar Mami ke sini terbang pakai karpet Aladin." Sahut Nayla sembari melirik suaminya.
"Ughh... ngelawan saja kalau dinasehatin sama suami." Gerutu Bayu sembari meremas kencang betis Nayla yang sedang pegal tidak ketulungan rasanya.
Plak [Satu pukulan mendarat di lengan kanan Bayu.]
"Aduh Mami sakit, tuh enteng tangannya sama suami ya, udah dibilangin gak baik, masi diulang-ulang terus," rintih Bayu.
"Sama Mami juga sakit, Papi udah dua kali KDRT sama Mami." Sahut Nayla dengan mata membola sembari berkacak pinggang.
"Udah ah malas Papi sama Mami gak bisa dibilangin."
"Sama Mami juga males." Balas Nayla yang malah membelakangi tubuh Bayu.
Tok...tok...tok...[Suara ketukan pintu dari Septi yang mengantar pakaian untuk. Nayla].
__ADS_1
"Pak ini baju buat Ibu," ucap Septi pada Bayu dari ambang pintu.
"Bawa sini!" Perintah Bayu pada Septi.
Septi berjalan menghampiri Bayu dan memberikan sebuah goodie bag pada Bayu.
"Terima kasih Sep," ucap Bayu saat menerima goodie bag dari tangan Septi.
"Sama-sama Pak, saya keluar dulu." Balas Septian yang menundukan pandangannya.
Septian menghindari pandangan matanya yang bisa saja melihat keindahan tubuh Nayla secara tidak langsung. Baju Nayla yang menerawang ini dapat menggoda keimanannya sebagai seorang pria tulen. Pasalnya baju Nayla yang basah dan menerawang karena keringat membuat gundukannya yang besar dan membengkak karena faktor kehamilannya begitu terlihat jelas.
"Mih, bangun! Ganti dulu bajunya basah. Nanti masuk angin." Perintah Bayu yang terus menggoncangkan tubuh Nayla untuk bangun.
"Gantiin ah, lemes Mami cape, gak bertenaga nih." Sahut Nayla yang sudah malas gerak.
Tak banyak kata-kata Bayu segera menggantikan baju untuk Nayla. Tanpa embel-embel plus-plus karena ia melihat wajah kelelahan istrinya.
Sementara itu Jimmy terus mencari tahu tentang pertemuan yang akan dilakukan Bayu dan perusahaan Monces yang sangat dicurigai oleh Septi alias Septian. Dan benar saja Jimmy mendapati kejanggalan ketika menghubungi salah satu orang kepercayaannya yang bekerja di perusahaan tersebut. Jika Septian sangat sulit mendapatkan informasi langsung dari perusahaan monces, berbeda dengan Jimmy. Tak ada orang tang tak membuka mulutnya, jika seorang Jimmy sudah bertanya padanya.
"Benar Tuan, tim yang biasa bekerja sama dengan perusahaan Batara Group digantikan oleh tim baru yang diketuai oleh seorang wanita yang bernama Diana Carista. Dia orang baru yang belum berpengalaman. Banyak karyawan yang sangat menyayangkan proyek besar ini dipegang oleh tim baru yang belum memiliki pengalaman apapun, padahal tim yang lama saja masih banyak kena koreksi dari Tuan Andre dan Tuan Jimmy, tapi kami di sini bisa apa. Jika yang di atas sudah menghendaki proyek ini dipegang oleh tim baru ini." Terang salah satu orang Jimmy yang bekerja di perusahaan tersebut.
"Siapa nama dari ketua tim pembangunan yang dikirim oleh perusahaan kalian?" Tanya Jimmy yang sekali lagi ingin mematikan nama perempuan tersebut.
"Diana Carista Tuan," jawabnya yang membuat Jimmy manggut-manggut di balik panggilan teleponnya.
"Diana Carista, sepertinya nama itu gak asing," gumam Jimmy di dalam hatinya.
"Ok. Terimakasih atas informasi yang kau berikan. Kau bisa cek rekening mu, ada sedikit uang receh dari saya setelah ponsel ini kau tutup." Ucap jimmy yang segera menutup panggilan teleponnya dengan Digo tanpa menunggu Digo mengucapkan kata terima kasih.
__ADS_1
Setelah menutup sambungan telepon dengan Digo, Jimmy segera menghubungi Leon agar ikut pergi ke hotel milik paman Adams yang ada di kota J. Mengecek ketidak beresan perusahaan Monces menangani proyek besar yang mereka akan garap bersama.