Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 40


__ADS_3

Bayu hanya pamit dengan Sultan, tidak dengan Nayla. Melihat suaminya pergi, Nayla pun akhirnya mengikuti langkah kaki suaminya itu dari belakang. Sesampainya di luar rumah, Nayla memanggil suaminya berkali-kali, tapi suaminya itu sama sekali tidak menghiraukan panggilannya. Ia tetap berjalan menuju mobilnya yang sedang di bersihkan Pak Jono dengan lap kanebo.


Saat Nayla mencoba menghentika langkah kaki Bayu dengan menarik lengan tangannya, lagi-lagi ia mendapatkan lirikan tajam dari sang suami yang menusuk hatinya. Lirikan itu membuat Nayla akhirnya memilih untuk melepaskan tangan suaminya yang berubah dingin sedingin kutub utara itu.


"Sorry," ucap Nayla lirih dengan suara pelan seraya menggigit bibir bawahnya.


Bayu acuh dan dingin, saat tangan Nayla melepaskan lengan tangannya dan ia kembali mengabaikan permintaan maaf yang Nayla ucapkan. Bayu dengan begitu saja masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Nayla. Ia melajukan kendaraanya dengan kasar. Emnginjak pedal gas secara ugal-ugalan.


"Mami gak bareng Papi?" tanya Sultan yang sudah berdiri di belakang Nayla.


"Enggak sayang,"


"Tapi Mami juga gak bisa bareng Sultan, karena kata Papi, kalau Mami yang anter Sultan akan jadi bodoh tidak masuk sekolah terus," Sultan berkata dengan polosnya. Ia mengatakan kembali apa yang dikatakan Bayu padanya mengenai Nayla.


"Hehehe... Mami berangkat sendiri kok sayang, kamu tenang saja, ok?"


"Naik apa? Kan mobil Mami Sultan pakai,"


"Itu mobil Papi Sultan kan banyak," tunjuk Nayla pada salah satu mobil sport yang terparkir di dalam garasi.


"Itu gak boleh di pakai Mami," ucap Sultan yang mengetahui tidak boleh ada satu orang pun yang menyentuh mobil sport kesayangan Bayu itu.


"Sudah Sultan tenang aja, sekarang Sultan sekolah ya yang pinter biar gak bodoh seperti Mami," Nayla kemudian menggendong putra sambungnya itu untuk masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangannya saat mobil baru yang di belikan Bayu untuknya itu melaju pergi bersama Sultan, Pak Jono dan Suster Marni.


Nayla kembali ke kamarnya untuk mengambil tas kuliahnya, sebelum berangkat, ia mengeluarkan dompetnya yang ada di dalam tas. Ia mengeluarkan blackcard yang pernah di belikan Bayu padanya. Ia letakkan kartu itu di laci, dimana Bayu biasa meletakkan jam tangannya.


"Aku kembalikan ya, makasih susah pernah menghiasi dompet aku," ucap Nayla yang kemudian beranjak pergi dengan kegetiran hatinya.


Nayla pergi ke kampus mengendarai mobil miliknya sendiri. Sesampainya di kampus Nayla langsung pergi ke kantin, tempat dimana ia janjian bersama Amel. Sambil menunggu kedatangan Amel, Nayla membeli sarapan terlebih dahulu. Perutnya sudah sangat lapar. Dua mangkuk soto sudah tandas ia lahap semua dalam hitungan menit.


"Eee...ahhh kenyang juga nih perut, sebelumnya cuma kenyang penderitaan," gumam Nayla yang suaranya terdengar di telinga Bayu yang juga sedang sarapan soto di kantin itu.


Tak lama berselang Amel datang dengan ke hebringannya.


"Macet banget njirrr pagi ini, ada prajurit bening-bening Nay lari pagi, gue jadi terpana, sampe lupa nginjek pedal gas," celoteh Amel dengan ekspresi lucunya.


"Gila lo,hahaha... berarti lo dong yang bikin macet,"

__ADS_1


"Hooh, tuh lu tau,"


"Anjirrrr, rame dong klakson mobil bersaut-sautan."


"Bukan rame lagi Nay, mobil gue noh penyok di sundul sama yang belakang,"


"Wahahaha .... kocak lo ahh," tawa Nayla yang begitu lepas pagi ini.


Rasa sedihnya terhempaskan begitu saja, ketika ia bersama sahabatnya ini.


"Udah siap hadapin mereka Lo Nay?" tanya Amel saat ia memberikan lembaran catatan materi kuliah yang terlewatkan oleh Nayla.


"Kuylah, babak belur -babak belur dah, dah nasib," jawab Nayla pasrah.


"Ya udah yuk!" ajak Amel yang sudah berdiri saja padahal Nayla masih ingin duduk-duduk karena setahunya hari jam kuliah mereka mulai pukul 09.00.


"Lah masih lama Mel," tolak Nayla yang menarik tangan sahabatnya itu untuk kembali duduk.


"Lu kerjain ga tugas yang gue WA?"


"Kerjain,"


"Bawa,"


"Ya udah, hayoo... pagi ini jam laki lo dulu baru Pak Saki,"


"Apa???"


"Gak usah so kaget, ayo cepet masuk! sebelum kita telat dan bikin suami lo itu bertanduk, "


Berat rasanya hati Nayla untuk mengikuti kelas Bayu pagi ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya bisa mengikuti alur hidupnya saja. Saat keduanya sampai di kelas, ternyata Bayu sudah ada di meja Dosen. Untungnya bukan hanya Nayla dan Amel saja yang telat tapi juga beberapa mahasiswa lain. Jadi tidak mungkin ia akan di hukum oleh Bayu keluar dari kelasnya.


Nayla mengisi absen hadirnya dan setelah selesai absen itu di cek oleh Bayu. Melihat ada nama istrinya ia pun bertanya pada istrinya itu.


"Nayla, kemana saja kamu tidak masuk mata kuliah saya?" tanya Bayu tanpa menatap wajah istrinya.


Nayla yang sedang melamun tidak menjawab pertanyaan Bayu, karena ia memang tak mendengar apa-apa. Ia asyik bermain dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"NAYLA, APA KAMU TIDAK PUNYA MULUT UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN SAYA, KEMANA KAMU___," tanya Bayu dengan suaranya yang lantang, namun pertanyaannya terhenti ketika melihat Nayla sedang menatap kosong papan tulis di hadapannya sambil tersenyum getir.


Bayu menghampiri meja istrinya dan mengetuk meja Nayla dengan keras menggunakan buku yang ia gulung.


Brakk!!!


Nayla terperanjat, ia menatap wajah Bayu yang terlihat marah padanya.


"Ma-maaf Pak, saya salah apa?" Tanya Nayla yang takut dengan suara terbata.


"Kamu tanya salah kamu apa?" Tanya Bayu dengan nada membentak.


"Salah kamu banyak, harus saya sebutkan satu persatu?"


Nayla menggeleng, air matanya tumpah, ketika Bayu membentak dirinya di hadapan banyak orang. Amel terkejut dengan apa yang ia lihat. Firasat buruk mulai menghinggapi pikiran Amel, mengenai rumah tangga sahabatnya itu.


"Saya ingatkan pada kamu Nayla, jika satu kali lagi kamu tidak ikut mata kuliah saya, jangan salahkan saya, jika saya tidak akan memberikan mu satu nilai pun," ancam Bayu masih dengan tatapan tajamnya.


Ia berkata seperti itu, tanpa ada rasa iba melihat air mata Nayla sudah membasahi pipinya.


"Iya Pak," jawab Nayla yang segera menghapus air matanya.


"Ayah, Bunda. Inikah calon suami yang kata kalian baik untuk aku anak mu?" Gumam Nayla di dalam hatinya.


Di sepanjang jam belajar, Nayla menghindari kontak mata dengan Bayu, ia hanya mendengarkan penjelasan Bayu dan menatap ke papan tulis. Saat Bayu meminta tugas yang kemarin ia berikan di kumpulkan, Nayla memilih menitipkan tugas itu pada Aji yang berjalan melewatinya.


"Ji, gue nitip Ji," ucap Nayla yang menyodorkan tugasnya pada Aji. Aji menerimanya dan mengumpulkannya.


Selesai mata kuliah Bayu, bergantilah mata kuliah Pak Suki yang baik hati dan penyabar. Saat Pak Suki sudah duduk di depan meja dosen. Ia melihat lembar tugas milik Nayla yang sengaja Bayu tinggalkan.


Ya. Bayu sengaja meninggalkan lembar tugas Nayla, karena Nayla tidak mengumpulkannya secara langsung pada dirinya.


"Nayla yang cantik jelita sepanjang masa,"panggil Pak Suki seperti biasanya pada Nayla.


"Iya Pak Suki yang baik hati," jawab Nayla dengan senyumnya yang ramah.


"Ini lembar tugas kamu tertinggal, sana kejar Pak Bayu, sebelum di jauh pergi, hati-hati dia itu singa yang suka mengaung," ucap Pak Suki sembari menyodorkan lembar tugas Nayla.

__ADS_1


Nayla berjalan menghampiri meja Pak Suki dan menerima lembar tugas miliknya.


"Dia sengaja kayanya nih, dia pengen banget gue keruangannya nih kayanya, apa jangan-jangan dia pengen minta maaf ya sama gue? Eh kok gue jadi GR gini ya? Hehehe.." gumam Nayla di dalam hatinya sembari berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja suaminya.


__ADS_2