
Dua jam Hendra menunggu Neil yang masih terduduk di depan pusara sang istri. Ia melihat dari kejauhan Dokter muda itu tengah menangis, meratapi kepergian istrinya.
Ia bisa memahami bagaimana perasaan Neil sekarang, bagaimana pun Neil adalah mantan tunangan sang istri. Ia merelakan Silvi dengan ikhlas, bahkan memohon pada Hendra untuk menikahi Silvi demi permintaan terakhir Silvi yang ingin menikmati sisa hidupnya dengan cinta pertamanya,Hendra.
Di dalam mobil Hendra yang terus mengamati pergerakan Neil pun ikut menangis. Ya. Kedua laki-laki ini terlihat begitu terpukul dan menyesali perbuatan mereka yang kejam, menipu Silvi dengan memberikan kebahagiaan semu yang akhirnya terbongkar tanpa sengaja.
Hari semakin senja, Neil terlihat beranjak dari makam Silvi. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di belakang mobil Hendra. Neil yang melihat keberadaan mobil Hendra yang masih terparkir di depan mobilnya, menatap tak peduli. Dengan wajah sembabnya ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Melihat mobil Neil telah pergi, Hendra pun bersiap untuk menginjak pedal gas mobilnya untuk meninggalkan area pemakaman. Lagi-lagi rasa berat meninggalkan pemakan Silvi, ia rasakan. Ia seakan tak tega meninggalkan Silvi seorang diri disana. Ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia tetap berdiam diri di dalam mobil, tanpa seorang pun yang menemaninya.
Senja telah berganti dengan malam. Riska dan Gunawan nampak cemas, karena Hendra tak bisa dihubungi. Tak hanya kedua orang tuanya yang sulit menghubungi Hendra. Tuan Yuda yang ingin mengabari kondisi sang istri yang kritis pada Hendra pun merasa kesulitan menghubungi Hendra.
Selain memberitahukan kondisi sang istri, ia ingin menghubungi Hendra agar menantunya itu bisa menghandle acara pengajian kepergian Silvi yang diadakan dikediamannya. Namun sayang Hendra menghilang seperti di telan bumi. Tuan Yuda akhirnya mau tak mau meminta bantuan sanak saudaranya dan juga kedua besannya.
Malam pun telah larut, Hendra belum juga muncul batang hidungnya. Riska makin khawatir dibuatnya. Ia mencoba menghubungi siapapun yang bisa ia hubungi termasuk menghubungi Amel. Amel adalah orang terakhir yang Riska hubungi. Karena ia tahu putranya itu sangat mencintai sahabat putrinya.
"Hallo Bunda, ada apa malam-malam telepon Amel?" Tanya Amel ramah pada ibu sahabatnya yang ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Apa Mas Hendra ada bersama mu, Mel?" Tanya Riska to the point.
"Tidak bunda, Mas Hendra tidak ada bersama ku." Jawab Amel jujur. Tiba-tiba rasa cemas pada Hendra menghinggap di pikiran Amel.
"Jujurlah Nak! Jangan menutupinya. Katakan jika dia ada bersama mu! Bunda sangat mengkhawatirkan dirinya. Dari semalam setelah istrinya meninggal dia belum makan apapun, dan sampai sekarang dia tak ada kabar, ponselnya juga tak bisa dihubungi. Jika dia bersama dengan mu. Bunda akan tenang." Desak Riska pada Amel yang kini terkejut mendengar Silvi telah tiada. Ia sama sekali tak mengetahui akan hal itu. Tak hanya Amel, Nayla pun tak diberitahukan oleh Bayu. Jika kakak iparnya itu telah tiada. Bayu khawatir kabar buruk itu akan membuat Nayla drop dan jatuh sakit.
"Dimana Mbak Silvi di makamkan Bunda?" Tanya Amel yang meyakini keberadaan Hendra yang masih ada disana.
"Di pemakaman Tarvita di jalan Elok," jawab Riska.
"Baiklah Bunda, serahkan pada Amel. Bunda jangan khawatir! Amel akan membawa Mas Hendra pulang malam ini." Jawab Amel yang kemudian menutup panggilan teleponnya dengan ibu sahabatnya itu.
Ia yang berada di dalam kamar segera berlari, berteriak memanggil nama supir pribadinya sekaligus tukang kebun yang bernama Pae Parjo, yang merupakan suami dari pembantunya yang setia merawat dirinya dari kecil,Mbok Jum.
"Paeeee..... Pae Parjo...!" Pekik Amel terus menerus hingga tubuh tua Pae Parjo berada dihadapannya.
"Kalau manggil Pae kok sukanya teriak-teriak, sih Non. Bikin jantung Pae rasanya mau copot saja." Ucap Pae Parjo ketika berdiri dihadapan Amel yang sedang sibuk mengenakan jaket dan kupluk penutup kepalanya yang botak.
__ADS_1
"Pae anterin Amel ke jalan Elok sekarang penting!" Pinta Amel yang menarik tubuh tua Pae Parjo.
"Eeee...dalah-dalah. Mau ngapain kesitu? Disitu itu sepanjang jalan pemakaman semua, Ndak ada rumah atau apapun loh Non." Pae menghentikan langkahnya dan menarik tangannya yang ditarik oleh Amel.
"Iya aku tahu Pae, makanya anterin yuk! Isenglah kalau sendirian kesana."
"Hujan begini kesana? Emang mau ngapain Non kesana? Dari tadi gak dijawab Pae nanya. Non mau ngapain kesana? Jangan bilang Non Amel mau uji nyali disana dengan kepala plontos kaya gini? Pae takut gak mau ikut."
"Takut apa si Pae? Takut sama Tante kunti?" Tanya Amel yang terlihat kesal pada Pae Parjo yang menolak ajakannya.
"Itu Non tahu." Jawab Pae Parjo yang bergidik ngeri mendengar pertanyaan Amel.
"Haduh Pae, tante kunti tuh nyari mangsa yang ganteng-ganteng bukan yang udah tua kaya Pae. Udah yuk cepetan! Keburu Mas Hendra nyusul istrinya kalau kita kelamaan menemukan dia," ucap Amel yang kembali menarik tangan Pae Parjo.
Kini mereka sudah sampai di parkiran mobil. Amel menyuruh Pae membuka kunci mobil untuk mereka masuk. Namun bukannya membuka Pae malah menggelengkan kepalanya.
"Buka pintunya Pae, jangan triping disini, udah kaya pocong triping aja sih?" Umpat Amel yang kesabarannya mulai habis.
"Klo Pae pocong Non Amel jadi tuyulnya, cocok toh?"
"Kuncinya gak ada Non, jadi gak bisa buka pintu mobil." Ucap Pae dengan polosnya yang membuat Amel menepuk jidatnya.
"Kok gak ada? Kemana kuncinya Pae?" Tanya Amel degan mengeratkan gigi-giginya karena menahan kesal. Supirnya itu terlalu Lola [loading lama] kalau diajak buru-buru.
"Gak tahu Non,kan selama ini Non.yang bawa mobilnya." jawab Pae apa adanya.
"PAE AAAAAAAaaaaaaa..... bilang dong dari tadi. Ya Tuhan sabar... sabar..." Pekik Amel yang kesal. Ia kembali kedalam untuk mengambil kunci mobil yang ada di laci meja ruang keluarga.
Setelah kembali dari mengambil kunci. Amel segera memberikan kunci mobil itu pada Pae Parjo. Ia membiarkan supirnya itu membawa kendaraan miliknya
"Non mau cepat atau Slow nih bawa mobilnya?" Tanya Pae Parjo dari balik kemudinya.
"Terserah yang penting nyampe sana dalam keadaan selamat bukan nyampe sana ikut inalillahi." Jawab Amel yang kelihatan masih kesal pada supirnya itu dengan wajah cemberut.
Dengan kecepatan sedang mobil yang dikendarai Pae Parjo telah sampai di area pemakaman. Mereka menyusuri jalan pemakaman yang begitu luas itu dengan rintikan gerimis yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
__ADS_1
"Tante Kunti, Om Gundoruwo, Dede Tuyul yang gemoy, Kolor Ijo, Buto Ijo dan sebangsa kalian tolong jangan nongol dulu ya. Jangan bikin jantung gue copot karena kalian nongol secara tiba-tiba. Ok." Ucap Amel di sepanjang jalan menyusuri area pemakaman mencari keberadaan Hendra yang ia pastikan masih ada disana.
Ia begitu mengenal pria yang amat ia cintai itu. Pria yang memiliki rasa tak tega untuk meninggalkan wanitanya dalam kesendirian. Lebih dari setengah jam mereka menyusuri jalan di area pemakaman, akhirnya Amel menemukan mobil Hendra.
"Tuhkan bener dia ada disini," gumam Amel seraya mengambil payung yang ada di bawah kolong kursi mobilnya.
"Pae lihatin ya! Senterin pakai lampu mobil jarak jauh ya. Biar gak gelap banget." Perintah Amel sebelum ia turun dari mobilnya. Belum turun saja bulu kuduk Amel sudah merinding disko. Apalagi kalau lama-lama diluar bisa disamperin satu warga pemakaman itu.
"Iya Non, hati-hati ya. Doa Pae menyertai Non. Tidak perlu takut Non, Non santai saja, karena tidak akan ada tuyul yang memangsa sesama tuyul."
"Ok, fix Pae nyari ribut. Awas saja nanti ya!"
Amel turun dari mobil, ia mengabaikan Pae yang asyik menertawakan dirinya dari dalam mobil. Kini ia berjalan dengan payung menghampiri mobil Hendra ditengah rintikan hujan. Ia berharap Hendra dalam keadaan baik-baik saja.
Setibanya di depan pintu mobil Hendra, Amel mengetuk kaca pintu mobil Hendra yang tak sepenuhnya tertutup. Mobil itu dalam kondisi mesin mati. Hendra sepertinya sengaja membuka sedikit jendela mobilnya, agar ada sirkulasi udara masuk.
Tok..tokk... [Suara ketukan pada kaca mobil Hendra].
Hendra yang tengah memejamkan mata di dalam mobilnya pun terbangun.
Ia melihat sosok Amel yang berdiri mengetuk kaca jendela pintu mobilnya tanpa henti dengan kalimat umpatan yang tak berhenti ia ocehkan di mulut mungilnya itu. Ya. Amel mengetuk terus kaca jendela pintu mobil Hendra tanpa henti dengan omelannya, karena rasa takut dan was-was menyerang dirinya saat ini. Ia akan berhenti mengetuk pintu, jika pintu itu sudah dibuka oleh Hendra.
Hendra membuka jendela kaca mobilnya, ia menatap wajah ketakutan Amel dengan kebingungan. Bagaimana wanita ini tahu dia berada disini. Sedang kematian Silvi pun ia tak beritahukan pada sahabat adiknya ini. Khawatir mulut lemes wanita ini memberitahukan perihal kematian Silvi pada Nayla. Di dalam benak Hendra menyangka jika Amel mengetahui kematian Silvi dari Neil yang memberitahukannya pada dirinya.
"Lama banget bukanya, cepet buka pintunya! Buka kok cuma jendelanya doang gak ngertiin banget gue udah kedinginan,kehujanan dan ketakutan. Kebiasaan banget cowok itu terlalu lamban dalam segala hal, kecuali ninak-ninuk," Omel Amel pada Hendra yang masih menatapnya dengan kebingungan.
Merasa kesal gerak Hendra yang terlalu lambat baginya dan rasa takut dan merinding sudah menguasai dirinya. Membuatnya membuka kunci pintu mobil Hendra sendiri dengan memasukkan tangannya kedalam mobil. Merogoh central lock dan membuka kunci pintu mobil itu sendiri.
"Geser!!" Perintah Amel yang meminta Hendra untuk pindah ke kursi yang berada di samping pengemudi. Ketika ia berhasil membuka pintu dan berusaha masuk kedalam mobil dengan menutup payung miliknya terlebih dahulu. Hendra pun menurut ia segera bergeser untuk pindah dengan mata yang terus memperhatikan Amel.
"Diluar dingin, disini panas banget, kok bisa ya?" batin Amel yang masih merasa iseng karena masih berada di area makam.
Tanpa berkata-kata Amel segera menyalakan mesin mobil Hendra. Dan melajukan kendaraan Hendra. Hendra yang sadar dibawa pergi oleh Amel segera mencengkram lengan kiri Amel.
"BERHENTI!!!" Pekik Hendra yang menatap tajam Amel.
__ADS_1