Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 75


__ADS_3

Bayu menatap Nayla dari atas hingga ke bawah, lalu menatap istrinya itu dengan intens. Bayu mengusap lembut bibir istrinya itu dengan jari telunjuknya, kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga istrinya.


"Beri aku penjelasan yang jujur, maka kamu akan berikan apapun yang kamu mau, termasuk cuti kuliah," ucap Bayu yang berbisik di telinga istrinya.


Senyum merekah di wajah cantik Nayla. "Serius Pih?" Tanya Nayla dengan senyum yang terus melekat di wajah cantiknya itu.


"Ya, Papi serius. Kalau kamu cuti kuliah, Papi akan berhenti menjadi Dosen untuk sementara waktu, karena Perusahaan juga perlu diurus dengan baik. Papi harus fokus dengan perusahaan." Jawab Bayu yang membuat Nayla malah tertawa.


Ya. Nayla tertawa karena Bayu bicara akan berhenti menjadi Dosen, karena ia ingin fokus pada perusahaan milik keluarganya. Di pikiran Nayla saat ini langsung saja mengait-ngaitkan tentang rasa penasaran Bayu dengan perbincangan Nayla dan sang Daddy.


"Hahahaha.... Jangan bilang Papi berubah pikiran karena takut perusahaan Daddy jadi milik Mami... hahahaha KORET Bin MEDIT?" Ucap Nayla yang kemudian menatap sinis suaminya.


Nayla melirik tajam wajah suaminya dengan mengerjakan bola matanya ke atas dan kebawah.


"Jahat koret sama istri sendiri!" Umpat Nayla kesal.


Bayu paham istrinya mulai marah dengannya. Padahal Bayu berubah pikiran bukan karena itu, tapi karena mengkhawatirkan istrinya dari Diana atau pun orang lain yang berniat jahat pada istrinya. Dia tak mau kejadian buruk terjadi lagi pada istri yang sangat ia sayangi.


"Tidak seperti iti Mih, jangan salah paham dulu." Sanggah Bayu yang memeluk tubuh Nayla yang ingin berajak dari pangkuannya.


"Tau ah, lagi Papi aneh percaya aja omongan Mami sama Daddy, udah tahu otak Mami pas-pasan mana bisa mimpin perusahaan apalagi kampus." Ucap Nayla dengan gerakan tangan menunjuk-nunjuk kepalanya.


" Jangan ngaco deh main percaya aja sama omongan kami! Papi tahu sendiri Mami ini kaum rebahan, mana mungkin mau ribet-ribet ngurusin kaya gituan. Mami gak butuh begitu-begituan. Mami butuhnya duit buat jajan sama shopping itu aja." Ucap Nayla lagi sambil menggibas-gibas uang yang Bayu berikan tadi padanya.


"Maafin Papi Mih, tapi Mami salah paham, bukan begitu sayang," Bayu meminta maaf pada istrinya. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menuduh memohon maaf pada istri yang masih duduk di pangkuannya.


"Papi tuh ihhhh... sebel Mami." Ucap Nayla yang malah menghentak-hentakkan bokongnya di atas pangkuan Bayu.


"Aduhh junior ku," rintih Bayu di dalam hatinya ketika merasa junior miliknya kesakitan karena perbuatan istrinya.


"Sakit ya? Rasain," tanya Nayla yang kemudian membuang pandangannya dari Bayu.


"Udah dong sayang, jangan marah! Muka cantiknya jangan di buang, nanti di pungut orang." Rayu Bayu yang menangkupkan wajah Nayla.


"Biarin, kalau masih ada yang pungut berarti tandanya Mami masih laku." Jawab Nayla yang memejamkan mata. Ia malas melihat wajah Bayu.

__ADS_1


Tak perduli dengan putranya yang sedang asyik bermain ponsel, demi mencairkan amarah Nayla. Bayu akhirnya menyambar bibir istrinya itu dengan lembut.


Alih-alih menolak, Nayla malah membalas tak kalah panasnya. Hisapan demi hisapan ia berikan di bibir suami menyebalkannya itu. Mereka menghentikan ciuman panas mereka, ketika Nayla menyadari masih ada putranya di ruang ini.


"Pulang yuk, lanjutin di rumah!" Ajak Nayla yang seakan sudah melupakan amarahnya tadi pada Bayu.


Bayu tersenyum mendengar ajakan istrinya itu. "Ayo yuk," ia bersemangat untuk pulang, karena pastinya, ia akan mendapatkan service plus-plus dari Nayla.


Ketiganya pun bergegas pulang. Mereka memutuskan untuk mampir ke minimarket untuk membeli jajanan Sultan. Sebenarnya tak hanya untuk Sultan tapi juga untuk bumil yang hobby ngemil.


Selesai berbelanja di minimarket. Nayla sengaja memberikan es cream dan snack pada putra sambungnya itu.


"Yang kenyang ya sayang, habis ini bobo siang," ucap Nayla yang duduk di kursi belakang bersama Sultan.


Bayu tersenyum mendengar ucapan sang istri pada putranya. "Cantiknya permainan mu sayang," gumam Bayu di dalam hatinya sembari melirik istri dan anaknya yang tengah asyik memakan snack jajanan yang dibelikan Nayla dari uang yang diberikan Bayu padanya tadi dari kaca spion tengah mobilnya.


Sesampainya di rumah, Bayu segera menggendong Sultan yang tertidur. Belum sampai ia ke kamar putranya. Ia bertemu dengan Pak Jono di teras rumah.


Pak Jono yang melihat pintu mobil Bayu masih terbuka dan terdapat Nayla yang juga tertidur didalamnya segera megambil Suktan dari gendongan Bayu.


"Biar saya saja Tuan," ucap Pak Jono yang mengambil Sultan dari gendongan Bayu.


"Ekhem...sudah bertambah berat bobot tubuh mu sayang, pasti karena ada buah hati kita disini," ucap Bayu ketika menggendong Nayla masuk ke dalam rumah.


Ia membawa istrinya ke kamar tidur mereka. Ia baringkan istrinya dengan nyaman di ranjang tidur mereka. Ia lepas sepatu yang masih di kenakan sang istri. Tak hanya sepatu tapi seluruh pakaian yang istrinya kenakan pun ia lucuti.


Bayu mengusap lembut perut Nayla yang masih rata itu dan mengecupnya.


"Papi mau tengokin kamu ya Nak, semoga kamu tambah sehat ya habis di tengokin Papi nanti." Ucap Bayu yang terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.


Bayu memainkan jemarinya meraba tubuh istrinya yang sudah polos tak berbusana. Nayla yag kegeliian dan merasa kedinginan pun mengerjap-ngerjap matanya. Ia dapati suaminya tengah tersenyum menatapnya penuh gairah.


Nayla melirik tubuhnya sesaat kemudian tersenyum geli melihat wajah suaminya.


"Kamu nyuri start Pih," ucap Nayla yang menyadarkan tubuhnya pada Sandaran ranjang.

__ADS_1


"Habis gimana lagi, aku gak tahan Mih, tubuh Mami bikin aku kecanduan," balas Bayu yang memeluk tubuh Nayla. Ia memeluk dada Nayla yang sudah tak mengenakan apa-apa.


"Hahahaha bisa aja kisanak kalau ada maunya," tawa Nayla yang kemudian Bayu pun ikut tertawa karena sudah ketahuan akal bulus.


"Main yuk?" Ajak Bayu sambil menggoda Nayla.


"Ayuk, main apa?" Jawab Nayla yang pura-pura tak tahu ajakan main suaminya.


"Main kuda-kudaan. Kamu mau gak hum?" Bayu bicara layaknya seorang anak kecil yang sedang mengajak temannya bermain.


Nayla tersenyum geli melihat suaminya yang sudah berubah 180 derajat. Seorang CEO dingin berwajah datar yang sering mengaung seperti harimau, kini sudah tak terdengar lagi ngaungannya. Ia seperti harimau jinak saat di dekat Nayla namun terlihat buas ketika Nayla jauh dari sisinya.


"Kok senyum aja sih sayang, mau gak hum?" Tanya Bayu lagi yang hanya melihat Nayla yang tersenyum geli memandangnya.


"Kalau untuk yang itu Mami gak bisa nolak Pih," jawab Nayla yang malu-malu kucing.


Ia menutup mukanya yang tersipu malu menjawab ajakan suaminya. Begitu pula dengan Bayu, ia mengikuti gaya Nayla seakan meledek tingkah malu istrinya itu.


Plak!!![ Satu pukulan mendarat di lengan Bayu]


Nayla memukul suaminya karena ia tak terima di ledek sang suami yang mengikuti gayanya. Bayu tersenyum saat ia mendapat pukulan dari Nayla.


Alih-alih marah, Bayu malah mendaratkan bibirnya di bibir merah merona sang istri. Saat Bayu melummat bibir itu, Nayla dengan senah hati mebalas lu.matan bibir sang suami. Mereka saling bertukar saliva satu sama lain, hisapan demi hisapan mereka lakukan saat bibir mereka saling bertautan. Decapan demi decapan terdengar di kesunyian kamar pribadi mereka.


Setelah puas bertukar saliva, Bayu mendekatkan wajahnya di leher Nayla. Ia bermain-main di curug leher sang istri. Tak hanya kecupan, ia juga menyesap kulit putih di curug leher sang istri. Membuat Nayla men.de.sah kegelian karena ulahnya. Bayu membuat stempel ke pemilikan disana.


"Kamu milik ku sayang," ucap Bayu dengan wajah berkabut gairah.


"He-em, siapa bilang punya Pak RT," balas Nayla asal seperti biasanya sembari menikmati sensasi geli yang diberikan Bayu padanya.


Bayu tak menanggapi ucapan istrinya yang asal-asalan itu. Bayu memang tak menaruh ekspektasi tinggi pada Nayla yang tak bisa romantis. Mungkin harusnya Nayla menjawab "Iya sayang aku milik mu," untuk menyenangkan hati Bayu. Namun kalimat itu mungkin tak akan pernah Bayu dengar di telinganya sampai kapan pun, karena Nayla ya memang Nayla. Begitu adanya.


Dari pada ia menanggapi ocehan Nayla lebih baik Bayu bermain di bukit kembar milik Nayla yang makin hari makin besar dan kenyal. Begitu menggemaskan di mata Bayu. Bayu bermain-main di sana hingga membuat Nayla kembali mengeluarkan de.sahannya.


"Ahh... Enak banget ya... Jadi terbang rasanya emmmm...." Racau Nayla sembari menekan kepala Bayu yang sedang bermain di puncak bukit miliknya.

__ADS_1


Keduanya bermain hingga dua jam lamanya. Entah berapa ronde yang sudah mereka lakukan. Yang pasti saat ini Nayla meringkuk kelelahan di ranjang tidurnya. Ia tidur sendiri tanpa di temani oleh Bayu. Karena setelah permainan mereka selesai dan Bayu sudah memastikan Nayla tertidur. Bayu segera pergi menuju ruang kerjanya.


Ia kembali mengerjakan pekerjaan kantornya yang tak bisa ia tinggal di sana bersama assisten pribadinya, Nathan.


__ADS_2