
"Mih, kenapa Siera gak diajak? Bagaimana kalau Siera kesepian?"
"Kamu gak perlu mikirin Siera. Dia akan tinggal di rumah Bibi di kampung, jadi tidak akan merasa kesepian. Sekarang kamu fokus dengan pengobatan kamu, Mami berharap anak kesayangan Mami bisa sehat."
Siena menatap Siera dari balik jendela mobil. Adik kembarnya yang memiliki sifat ceria dan selalu tersenyum itu, untuk pertama kalinya terdiam saat mengantar kepergian dirinya dan kedua orang tuanya yang akan pindah sementara ke Amerika.
Gadis kecil yang memiliki wajah bak pinang dibelah dua dengannya itu hanya menunduk, kedua matanya mulai berkaca-kaca dan perlahan meneteskan air mata. Rasa tak tega mengusik Siera, tetapi tak banyak yang bisa ia lakukan karena semua sudah merupakan keputusan orang tuanya.
Kedua matanya perlahan terbuka, Siena melihat sekeliling dimana kedua orang tua, kakak laki-lakinya, dan bahkan tunangannya sudah berada mengelilinginya. Raut wajah mereka memperlihatkan kekhawatiran, terutama sang ibunda yang terus menangis. Bayangan masa lalu kian intens hadir di mimpinya belakangan ini, dan semakin mengusik nuraninya untuk terus memikirkan Siera.
"Siena, masih ada yang kamu rasa sakit atau tidak nyaman tidak?"
Untuk pertama kalinya Siena merasa tidak nyaman dengan perhatian orang tuanya yang berlebihan. Terlintas di kepalanya sebuah pertanyaan yang bahkan tak sanggup sedikitpun ia ucapkan.
'Apakah kalian pernah mengkhawatirkan Siera seperti ini?'
Tubuhnya yang masih terasa lemas membuat Siena tak mampu berkata, ia hanya bisa tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tatapan mata Siena tertuju pada Nuga, masih banyak yang ingin ditanyakan pada calon suaminya, entah mengapa dirinya sangat yakin jika wanita yang berada di foto bersama Nuga adalah saudari kembarnya. Siena ingin mengetahui kabar Siera, atau setidaknya mengetahui jika Siera baik-baik saja.
***
Sementara itu di tempat berbeda Nikolai menatap wajah Siera yang masih belum sadarkan diri. Walaupun dokter yang telah memeriksanya mengatakan jika Siera hanya demam karena terlalu banyak pikiran dan lelah, tetapi pria bermata emerald itu tak bisa tenang sedikitpun.
Banyak pertanyaan yang ingin ia ketahui tentang jalan hidup gadis yang sudah berhasil membuatnya kehilangan akal sehat, terutama tentang kejadian siang itu saat dirinya menemukan Siera tengah berdebar dengan seorang pria di bawah guyuran hujan.
KRING! KRING!
Ponsel miliknya tiba-tiba berdering. Niko yang seakan telah menanti telepon masuk tersebut seketika langsung meraih ponsel miliknya.
Nikolai beranjak dan berjalan menjauhi Siera sambil terus menempelkan ponsel di telinga kanannya, wajahnya terlihat serius menerima informasi yang baru saja ia dapatkan.
'Namanya Nugraha, dokter spesialis Jantung yang disponsori oleh keluarga Siera. Pria itu merupakan tunangan dari saudari kembar Siera dan juga merupakan teman masa kecil Siena.'
Tomi mengungkapkan apa saja informasi yang ia dapatkan kepada Nikolai. Pria yang terkenal multitalenta itu berbicara dengan keyakinan bahwa semua yang ia katakan tidak pernah ada yang keliru.
__ADS_1
"Hanya itu saja?" tanya Nikolai kembali.
'Sebenarnya dia berteman dengan Siera saat Siera tinggal bersama bibi asuhnya di Sukabumi, tapi pertemanan itu terus berlanjut sampai dewasa walaupun mereka sudah tidak pernah bertatap muka. Tapi bos, ada satu hal lagi yang janggal.'
"Apa?"
'Siena dan Siera dipisahkan sejak usia 10 tahun. Siera di asuh di Sukabumi sampai Ricky menyelesaikan study dan kembali ke Indonesia 2 tahun kemudian, sementara Siena dan orang tuanya berada di Amerika sampai usia Siena 17 tahun. Lantas mengapa Nuga tiba-tiba menjadi tunangan Siena, padahal mereka tidak saling mengenal sebelumnya?'
"Kenapa tanya saya! Saya bukan tempat diskusi, dan lebih baik kamu cari tahu lagi lebih dalam! Pokoknya saya tunggu secepatnya atau jatah makan siangmu saya tiadakan selama tiga bulan!" seru Nikolai kembali yang berhasil membuat Tomi menghela napas panjang.
Nikolai kembali menyimpan ponsel miliknya setelah urusannya dengan Tomi usai. Diusapnya wajahnya perlahan, nampaknya pria itu juga terpancing dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Tomi.
Langkah kakinya kembali mendekat ke arah Siena yang masih berbaring dan menutup matanya bak seorang putri tidur.
Kembali ia menjaga Siera dengan tetap setia duduk di samping ranjang gadis itu, dan sesekali mengganti handuk basah yang digunakan untuk mengompres dahi Siera.
Detik demi detik silih berganti, lembayung menghiasi cakrawala menggantikan langit yang berselimut awan kelabu. Kening Siera perlahan mulai berkerut, diiringi kedua kelopak mata gadis itu yang membuka.
__ADS_1
Gadis itu berdengus dan menyentuh keningnya yang ditengah dikompres dengan menggunakan handuk hangat. Siera menolehkan wajahnya lalu seketika tersentak dan berkata, "Loh, kok kamu!"
...****************...