Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 151


__ADS_3

"Nay, lo bisa gak sih bedain sakit perut mau melahirkan sama sakit perut mau buang air besar? Ini gak lucu Nay. Lo tahu suami lo harus ganti rugi mobilnya Endah dan lo liat jidat gue nih! Ya Allah, ini sakit loh Nay." Protes Amel pada Nayla di dalam toilet.


Sahabat sekaligus calon kakak iparnya ini tengah menemani Nayla yang sedang buang air besar di dalam toilet rumah sakit. Mau tidak mau Amel harus menemani Nayla dan menahan bau tak sedap karena saran Dokter yanh masih mengkhawatirkan kondisi Nayla.


"Sorry Mel, gue gak bisa bedain. Soalnya sakit banget perut gue." Jawab Nayla tanpa rasa berdosa.


"Siram! Semerbak banget bau busuk Lo Nay!" Perintah Amel sembari menutup hidungnya.


"Hehehe iya." Nayla segera menekan tombol yang ada dibelakang kloset duduk yang sedang ia gunakan.


"Siap-siap dapat cermah dari suami lo. Gue yakin kali ini kesabaran dia habis buat menghadapi istri macam lo Nay." Pungkas Amel yang sudah dapat membayangkan kemarahan Bayu.


Sementara itu di atas gedung rumah Sqkit Central Kusuma, sebuah helikopter telah mendarat sempurna. Bayu dan Hendra turun dengan tergesa-gesa. Keduanya sangat mengkhawatirkan kondisi Nayla. Dibalik rasa khawatir yang mereka rasakan ada rasa kebahagiaan untuk menyambut seorang bayi perempuan yang mereka kira telah lahir ke dunia ini.


"Dimana istriku?" Tanya Bayu pada Jimmy dan Endah yang wajahnya sudah di tekuk sempurna, seperti dompet tanggun bulan.


Mereka kecewa karena Nayla tak jadi melahirkan. Tak terbayang betapa hebohnya mereka tadi dan sampai rela meninggalkan kedua anak mereka yang menangis hanya karena mengkhawatirkan dan mengutamakan kondisi Nayla yang ingin melahirkan.


Jika ditanya kemana kedua orang tua Nayla dan juga kedua mertuanya. Keempat orang tua itu tak jadi datang ketika Amel memgabarkan jika Nayla tak jadi melahirkan, karena rasa mules yang Nayla rasakan karena melilit sakit perut ingin buang air besar, bukan sakit perut karena kontraksi ingin melahirkan.


Tanpa menjawab Endah dan Jimmy kompak menujuk pada toilet yang berada di sudut ruang IGD. Bayu menyeryitkan kedua alisnya saat melihat toiletlah yang di tunjuk oleh sepasangan suami istri dihadapannya.


Belum sempat ia mengajukan pertanyaan pada Jimmy dan Endah. Sosok Amel keluar lebih dahulu dari toilet itu dan di ikuti oleh Nayla masih dengan perut buncitnya. Bayu terperangah, mulutnya terbuka sempurna, menepuk jidatnya yang kemudian ia usap wajahnya dengan kasar.


"Owhh ya Tuhan. Jangan bilang aku kena prank!" Gumam Bayu yang berusaha sabar meskipun rasa kesal mulai menguasai dirinya.


"Mel, kok suami gue tampangnya begitu! Jadi takut gue." Cicit Nayla yang bersembunyi dibalik tubuh Amel.

__ADS_1


Keduanya berjalan menghampiri Bayu dan Hendra yang berdiri tak jauh dari Endah dan juga Jimmy.


"Gue gak tanggung ya Nay. Lo tahu sendiri orang kalau diem, marahnya kaya apa? Suami lo tiba-tiba udah ada di sini. Alamat aja lo dapat ultimatum. Lo bangunin singa yang udah lama tidur." Balas Amel dengan suara berbisik yang makin menambah rasa takut Nayla menjadi-jadi.


Amel dan Nayla berhenti tepat di depan Bayu. Nayla masih bersembunyi di balik tubuh Amel.


"Sini, jangan sembunyi!" Perintah Bayu dengan tangannya yang sedikit naik dan melambai-lambai memanggil istrinya yang sudah merasa bersalah.


Nayla yang takut dengan ekpresi lelah,datar, dingin dan kemarahan Bayu. Ia tak berani melangkahkan kakinya untuk menghampiri suaminya sendiri. Nayla menggelengkan kepalanya tanda ia tak ingin menghampiri suaminya. Kelopak matanya sudah berkaca-kaca ketika gigi Bayu terdengar beradu menahan kesal.


"Punya rasa takut juga si Naylul, baru di tatap begitu aja udah ciut." Gumam Jimmy yang memperhatikan pertama kalinya ekpresi ketakutan Nayla.


"Ishh... ternyata Si Tuan Bayu ini tipe suami yang galak, pantas saja pernah terjadi tragedi itu. Ternyata ini sifat aslinya. Kasihan sekali kamu Nayla." Gumam Endah di dalam hatinya dengan penilaiannya


"Sini Nay, sebelum kesabaran ku habis!" Perintah Bayu lagi yang tak lagi memanggil Nayla dengan sebutan Mami.


"Nay, jangan nambah masalah, cepat samperin!" Pinta Amel yang menarik lengan Nayla agar maju menghampiri suaminya.


"Maaf, tadi aku sakit perut banget Pih. Aku yang bodoh gak bisa bedain sakit perut mau melahirkan dengan sakit perut mau buang air besar." Terang Nayla dengan isak tangisnya.


"Kamu habis makan apa?" Tanya Bayu yang segera menarik tubuh istrinya ke dalam pelukkannya.


"Mami gak makan apa-apa." Jawab Nayla berbohong.


Ia tak mau menjawab jujur jika hari ini dia sudah makan enam es rujak sekaligus. Dua di pagi hari, dua di siang hari dan dua lagi di sore hari sebelum memandikan kedua anak Endah dan Jimmy.


"Jangan bohong! Mami mau Papi marah pada Mami seperti dulu hum?" Seru Bayu tak percaya, ia harus mengancam istrinya agar mau berkata jujur.

__ADS_1


"Maaf Pih. Mami makan es rujak berlebihan hari ini." Jawab Nayla yang akhirnya jujur dan berakhir dengan tangisannya yang heboh seperti istri yang baru saja mengalami KDRT.


"Bagus, kamu memang tak bisa di tinggal sendiri di rumah. Baiklah kalau begitu. Sampai anak kita lahir, tinggalah di rumah sakit. Sepertinya pola makan Mami akan benar jika tinggal di rumah sakit. Jika di rumah kamu itu seperti maling yang punya seribu satu cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau." Pungkas Bayu yang makin membuat Nayla menangis sedih dan menyesal.


Akhirnya mulai hari ini Nayla tinggal di rumah sakit Central Kusuma. Ia menempati ruang rawat presiden suite yang nampak seperti kamar apartemen mewah. Saat Bayu telah menyelesaikan administrasi, Jimmy mengajak Bayu untuk ke lobby rumah sakit. Rupanya Jimmy ingin menunjukkan kondisi mobil milik istrinya yang kembali ringsek di tempat yang sama.


"Apa Jim?" Tanya Bayu pada Jimmy yang mengarahkan pandangannya ke arah mobil yang ringsek bagian depannya.


Bayu yang tak mendapat jawaban dari Jimmy pun akhirnya ikut menatap kearah yang sama dengan Jimmy. Betapa terkejutnya ia dengan penampakan mobil sedan mewah itu dalam keadaan rinsek parah di bagian depannya.


"Istriku minta ganti," ucap Jimmy dengan entengnya.


"Hei, ini salah mu. Kenapa aku yang harus ganti? Kau kan yang membawa mobilnya." Protes Bayu tak terima diminta ganti rugi oleh Jimmy.


"Hei, Bayu. Memang aku yang membawa mobilnya, tapi aku bisa melakukan kesalahan ini karena panik menolong istrimu. Jadi kau yang ganti."


"Cih, perhitungan sekali kau ini. Menolong seperti itu saja aku disuruh ganti rugi. Dasar Mafia jahat dan kere." Umpat Bayu yang kesal dengan sikap perhitungan Jimmy.


"Hei, beraninya kau mengumpati ku." Seru Jimmy yang sudah membulatkan matanya dan menarik kerah baju Bayu.


"Hei, kau yang berani-beraninya memerasku." Seru Bayu yang tak mau kalah, ia juga menarik kerah baju Jimmy.


Keduanya hampir saja adu jotos, jika saja tidak ada Leon yang datang dan menertawakan keduanya.


"Hahahaha... calon besan mau berkelahi gara-gara hal sepele hahaha..." tawa Leon mengejek keduanya.


Sontak Bayu dan Jimmy segera melepaskan cengkraman tangan mereka masing-masing. Keduanya saling merapikan penampilan meraka dan memasang kembali tampang stay cool meraka, tak lupa mereka saling berpelukan dan berbisik.

__ADS_1


"Dia musuh kita bersama bukan, kita harus bersatu." Ucap Jimmy yang diangguki oleh Bayu.


Ada apa sebenarnya? Yuk simak terus...


__ADS_2