
Malam pertama di rumah sakit tapi tidak sakit, rasanya benar-benar membosankan. Apalagi orang yang menemani sibuk bekerja dengan istri keduanya. Siapa lagi istri kedua Bayu kalau bukan laptopnya. Jika saja ada Sultan, anak sambungnya Nayla pasti tidak kesepian. Itulah untungnya memiliki suami berekor bagi Nayla.
"Pih," panggil Nayla sembari memakan chiki rasa keju.
"Hemmm..." sahut Bayu yang tak sama sekali tidak berpaling sedikit pun pandangannya dari laptop.
Merasa tak diindahkan panggilannya, Nayla kembali memanggil suaminya. "Pih..." panggil Nayla dengan nada sedikit keras agar Bayu mengalihkan pandangannya pada dirinya.
"Hemmm..." sahut Bayu yang masih saja tak berpaling pandangannya dari istri keduanya.
"Ishhh..." Nayla kesal merasa terus diabaikan panggilannya dengan Bayu.
Nayla pun melempar chiki rasa keju kesukaannya ke arah Bayu. Namun sayang chiki yang ringan dan lemparan Nayla yang tak bertenaga. Membuat chiki itu tak sama sekali mengenai Bayu.
Jangan panggil Nayla jika ia tak bisa membuat suaminya mempeehatikan dirinya. Dengan sengaja Nayla memanggil suster melalu tombol yang ada di ranjang tidurnya. Tak berapa lama setelah Nayla menekan tombol itu, pintu kamar rawat Nayla di ketuk oleh suster jaga.
Pintu yang sudah dikunci dari dalam oleh Bayu pun, akhirnya membuat Bayu mau tak mau membuka pintu tersebut. Dia yang sedang serius bekerja tidak mungkin meminta Nayla untuk membukakan pintunya, pasalnya yang dirawat di sini adalah Nayla bukan dirinya.
Nayla menahan tawanya saat suaminya dengan berat hati membuka pintu tersebut, apalagi mendengar dengan jelas gerutuan Bayu, "Arghh... siapa sih datang malam-malam mengganggu saja." Gerutu Bayu yang berjalan menuju pintu.
Bayu memegang handle pintu dan membukanya. Nampak dua orang suster jaga berdiri tepat di muka pintu ruang rawat istrinya.
"Ada apa Sus?" Tanya Bayu yang terlihat bingung dengan kedatangan dua Suster jaga itu.
__ADS_1
"Loh, bukannya pasien dari ruangan ini memanggil kami Tuan." Jawab salah satu Suster jaga yang terlihat bingung karena pertanyaan Bayu.
"Apa? Saya rasa tidak. Tapi tunggu dulu, saya tanyakan istri saya, apa dia butuh bantuan Suster atau tidak." Ucap Bayu yang membuka pintu ruang rawat istrinya dengan lebar. Seakan memgizinkan kedua suster jaga itu untuk masuk ke dalam.
"Sayang apa kamu telah memanggil suster dengan tombol yang ada di ranjang mu itu?" Tanya Bayu yang dijawab anggukan kepala oleh Nayla.
"Nyonya ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah satu suster jaga saat melihat Nayla mengangguk menjawab pertanyaan Bayu. Keduanya segera mendekati ranjang Nayla. Dimana Nayla tengah duduk sembari mengunyah chiki rasa keju dengan santainya.
"Ada Suster." Jawab Nayla yang berusaha dengan cepat untuk segera menghabiskan chiki di dalam mulutnya.
"Pelan-pelan saja Nyonya, kami bersedia menunggu Anda lebih lama. Jika terburu-buru Anda akan tersedak." Ucap salah satu Suster sembari tersenyum ramah pada Nayla. Keduanya terlihat begitu sabar menghadapi Nayla.
Ya tentu saja keduanya terlihat sabar menghadapai Nayla, pasalnya sebelum Jimmy pulang. Para suster rawat yang ada di paviliun Nayla ini sudah di briefing oleh Jimmy untuk menyediakan kesabaran ekstra dalam merawat pasien bernama Nayla. Tidak boleh ada yang tidak sabar. Jika ada yang tidak sabar Jimmy dengan tegas meminta kerelaan mereka untuk menyerahkan surat pengunduran diri di kantor manajemen rumah sakit.
"Suster, tolong katakan pada suami saya, jika saya tidak mau diabaikan. Tadi saya sudah memanggil dia dua kali tapi dia tak menyahuti saya. Padahal saya ini dalam masa perawatan, sangat butuh perhatian dan kasih sayang." Tutur Nayla tanpa rasa malu pada kedua suster itu.
"Astaga Mami." Cicit Bayu seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Owh begitu Nyonya, baiklah saya akan sampaikan pada Tuan akan keinginan Nyonya ini." Sahut salah satu Suster jaga yang terlihat lebih tua dari Bayu.
Suster jaga itu pun berjalan menghampiri Bayu. Ia pun sedikit menyeramahi Bayu tentang sifat,sikap, perilaku seoranb ibu hamil yang memang selalu haus akan perhatian dan juga kasih sayang. Bayu pun di buat manggut-manggut akan nasehat suster jaga yang membuat telinga Bayu terasa jengah mendengarnya.
Usai menasehati Bayu, kedua suster jaga itu pun undur diri. Setelah kepergian kedua suster jaga itu. Bayu yang telah mengunci kembali pintu kamar rawat istrinya itu, segera menghampiri ranjang Nayla. Dengan senyum penuh arti ia melangkah mendekati ranjang tidur sang istri.
__ADS_1
"Kamu memang paling-paling sayang, sudah puas kamu membuat aku diceramahi suster itu hum? Aku ini sedang bekerja. Aku bekerja juga untuk kamu dan juga anak-anak kita. Kenapa kamu tidak mau mengerti dan mengalah sedikit hum?" Ujar Bayu sembari mengelus rambut Nayla yang sudah memanjang.
"Aku bosan dan kesepian di sini, Pih. Jika di mansion aku masih ada Sultan yang akan menemaninku, aku pun akan dengan rela membiarkan mu bermalam dengan istri kedua mu itu." Balas Nayla dengan wajah merengutnya.
"Tapi kelakuan mu di masion itu selalu ada-ada saja, dan asupan makan mu benar-benar tak terkontrol. Itu sangat membahayakan calon anak kita." Tutur Bayu.
"Jadi aku tetap tak boleh pulang sampai anak kita lahir?"
"Tentu saja. Bersabarlah. Kita di sini hanya dua minggu kok sayang. Ini juga demi kebaikan calon anak kita hum." Jawab Bayu yang membuat Nayla melemas.
"Suami gue emang kadang-kadang dua minggu dia bilang HANYA. Ya Tuhan, semoga aku gak lumutan di sini." Gumam Nayla di dalam hatinya sembari merengutkan wajahnya.
Bayu tersenyum melihat istrinya merengutkan wajah cantiknya yang polos tanpa riasan make up. Ia paham betul jika istrinya sedang mengerutuinya di dalam hati. Tapi mau bagaimana lagi. Nayla terlalu sembrono tanpa pengawasan ekstra jika tidak di rawat di rumah sakit. Pasalnya sebanyak apapun orang yang menjaganya, masih tetap bisa diakal-akali demi keinginannya terpenuhi.
Malam ini Bayu tak lagi melanjutkan pekerjaannya, ia memilih menemani istrinya. Berbagi ranjang sempit untuk kedua kalinya.
"Tidurlah Mih, Papi akan tidur bersama Mami dan tak akan melanjutkan pekerjaan Papi lagi." Pinta Bayu yang sudah baik keranjang tidur Nayla.
"Tidur di ranjang itu saja yuk Pih. Di sini gak enak." Ajak Nayla sembari menunjuk sebuah ranjang tidur berukuran king size di pojok ruang rawatnya.
"Bukannya yang sempit-sempit itu lebih asyik Mih, kan kita bisa saling menempel satu sama lain." Cetus Bayu dengan senyum menggodanya.
"Cih, Papi, kalau harus nginap sampai dua minggu di sini. Mami pastikan benda keramat kesayangan Papi akan berkarat lebih lama. Karena seperti yang Papi tahu, seorang istri kalau baru melahirkan akan melewati masa nifas selama empat puluh hari, ditambah dua minggu di rawat jadi kurang lebih lima puluh empat hari. Itu pun kalau dalam dua minggu ini Mami melahirkan tapi kalau sampai tiga minggu, hampir dua bulan Papi puasa hahaha..." pungkas Nayla yang membuat Bayu diam menyimak dan berpikir disetiap kata yang di ucapkan sang istri.
__ADS_1
"Oh, Ya Tuhan. Mengapa istriku secerdik ini. Dia punya seribu satu cara untuk keluar dari rumah sakit ini. Membuat juniorku puasa adalah bentuk penyiksaan dan sakit tak berdarah, siap-siap stok obat pusing dan nyeri rematik banyak-banyak kalau begini caranya. Main solo terus pun bisa menbuat tanganku jadi kebas dan kesemutan." Gumam Bayu dalam hatinya sembari melihat wajah cengengesan istrinya yang sudah tahu dirinya sudah mati kutu.