
"Kenapa turun lagi, Mel?" Tanya Tuan Adam dengan seulas senyum meledek sahabat keponakannya itu.
Tuan Adam sudah dapat menebak, apa yang dilihat Amel hingga membuatnya memutuskan untuk kembali pulang.
"Tiba-tiba aku kangen suamiku, Om. Aku titip pesan, jika Bang Leon bertanya tentang kedatangan aku ya," jawab Amel yang terlihat terburu-buru.
"Hati-hati Amel, ingat kamu sedang hamil!"
"Sudah gak tahan Om,"
Amel beranjak pergi sembari berlari kecil untuk kembali ke mansionnya.
Tuan Adam terkekeh, mendengar dan melihat tingkah Amel.
Malam ini dengan semangat Amel berlarian melewati beberapa halaman mansion sahabatnya. Dan di saat ia sampai di halaman mansion adik iparnya. Ia melihat Hendra berjalan lemas membawa guling kesayangannya menuju mansion adiknya ini. Sepertinya, Hendra ingin menginap di mansion adiknya karena kesepian.
"Mas!!" Pekik Amel dengan nafas terengah-engah.
Hendra menoleh dan menghentikan langkahnya. Ia menunggu istrinya yang berlarian menghampiri dirinya.
"Apa? Ngapain kamu lari kaya gitu? Lupa kalau lagi hamil?" Tanya Hendra ketus.
Rupanya rasa kecewa tak mendapatkan jatah membuatnya bersikap demikian pada istrinya.
__ADS_1
Hosss..hosss..hoss...
Suara nafas Amel yang tidak beraturan setelah berlarian melewati Mansion Jessica, Endah, dan kini berada di pelataran halaman mansion Nayla, adik ipar sekaligus sahabatnya.
"Mas, pulang yuk, tidur di mansion kita aja." Ajak Amel, ia masih hicara dengan nafas yang terengah-engah.
"Gak ah, aku lagi ga mood. Aku mau tidur di sini saja. Setidaknya kalau aku tidak bisa tidur ada Bayu yang akan menemani aku, main catur, atau main gundu. Kamu, bukannya mau menginap di Mansion Anna?" Tolak Hendra dengan tatapan sinis pada ajakan Amel.
"Gak jadi, tiba-tiba aku jadi kangen kamu, Mas." Jawab Amel.
Sejenak Hendra memincingkan kedua matanya. Meresa heran dengan jawaban istrinya.
"Kangen? Kangen mau ngapain nih? Jangan bilang kau mau ngerjain aku? Aku lagi gak mood sama kamu." Tukas Hendra dengan tuduhannya.
Suaminya ini malah membalikkan badannya daj kembali melangkah ke arah pintu mansion adiknya.
Amel membiarkan baju tidur yang tipis itu terlihat saat ini.
"Mas!" Panggil Amel lagi pada Hendra yang tak mau menoleh sama sekali.
"Mas, ayo kita mendaki gunung untuk memerah susu dan berseluncur melewati lembah untuk menumbuk padi!" Pekik Amel lagi yang berhasil menghentikan langkah Hendra.
"Gak salah denger nih? Kayanya diajak enak-enak nih." Batin Hendra yang tersenyum senang.
__ADS_1
Hendra menoleh kebelakang, menatap sosok istrinya yang berpose seksi dengan baju tidur tipis di balik jaket yang tak tertutuo sempurna itu.
"Waw...I'm coming sayang..." Ucap Hendra yang segera berlari kearah Amel.
Amel tersenyum senang, ketika Hendra berlari kearahnya.
Hendra melempar guling kesayangannya itu pada istrinya, Amel segera menangkapnya.
"Hap dapat!" Ucap Amel.
Amel tiba-tiba terkesiap karena Hendra kemudian menggendong dirinya.
"Kamu mau kita berapa ronde malam ini sayang?" Tanya Hendra yang kini wajahnya terlihat cerah dan tak ketus apalagi sinis pada istrinya.
"Ratusan," jawab Amel yang kemudian terbahak-bahak seorang diri.
Ia tengah menertawakan jawabannya sendiri. Tak dapat di bayangkan olehnya jika dalam satu malam ia melewati ratusan ronde sekaligus.
"Kamu pikir kita ini wafer," celetuk Hendra yang kembali merengutkan wajahnya.
Di Mansion Leon, setelah selesai beraktivitas dengan Anna. Leon yang masih lelah, segera membersihkan diri dan segera bersiap untuk bergegas pergi bersama sang Paman yang tengah menunggunya.
"Paman, ayo kita pergi!" Ajak Leon pada sang Paman yang masih menonton pertandingan bola yang disiarkan secara langsung itu.
__ADS_1
"Tunggu pertandingannya tinggal sepuluh menit lagi." Jawab Tuan Adam ranpa menoleh pada Leon.
Leon yang berdiri dibelakang sofa pun akhirnya memutuskan untuk duduk bersama sang Paman. Leon yang lelah diminta menunggu pun akhirnya terlelap.