
"Pah, Mama memang tak bisa membantu memecahkan masalah yang sedang Papa hadapi, tapi Mama bisa membuat pikiran Papa sedikit lebih rileks." Rayu Endah sembari membuka satu kancing baju golfnya.
"Tidak sekarang Mah. Papa sedang tidak bisa. Semua ini seperti bom waktu yang akan membahayakan keselamatan keluarga kita, orang terdekat kita termasuk kedua anak kita." Tolak Jimmy sembari mengisap rokok di tangannya.
Endah mencebik bibirnya mendengar penolakan Jimmy. Ini pertama kalinya Endah mendapatkan penolakan dari Jimmy. Meskipun demikian Endah tak bisa marah atas penolakan suaminya ini. Ia paham betul suaminya sedang banyak pikiran.
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran Pah! Kamu juga tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keselamatan kita semua, dengan mengabaikan kesalamatan mu sendiri. Percayalah Mama dan anak-anak akan baik-baik saja, begitu pula dengan mereka." Ucap Endah sembari berjalan mendekati Jimmy.
Jimmy mematikan rokok yang ada di tangannya, kemudian memeluk Endah begitu erat.
"Aku takut kehilangan mu, juga anak-anak. Aku takut tak bisa bertemu lagi dengan kalian. Dunia mafia sangatlah kejam, Mah." Ucap Jimmy saat ia memeluk tubuh istrinya.
"Mama tahu itu, Pah. Papa tak akan pernah kehilangan kami, percayalah. Jangan jadikan rasa takut Papa ini menjadi kunci kelemahan Papa di mata mereka. Sekarang bagaimana kalau kita pulang. Menghabiskan waktu bersama anak-anak sebelum boom waktu itu meledak dan kita diharuskan berperang." Ajak Endah pada Jimmy.
Endah mengurai pelukan suaminya dan menarik suaminya untuk ikut pulang bersamanya.
Dua hari berlalu dari rasa takut yang melanda diri Jimmy. Endah mengumpulkan kakak ipar, adiknya dan juga kedua teman baiknya Nayla dan Amel di mansion pribadinya.
"Serius banget muka lo Besan? Bangkrut ya?" Tanya Nayla meledek Endah yang tak terlihat rileks seperti biasanya.
Pasalnya sudah dua malam ia dan Jimmy tak dapat memejamkan mata, karena memikirkan planning ke depannya, untuk menghadapi serangan musuh yang akan datang secara tiba-tiba.
"Gue gak akan pernah bangkrut kalau Tuhan belum menghendaki." Jawab Endah sembari menyalakan rokok di tangannya.
Stress membuatnya terpaksa kembali merokok, demi menenangkan pikirannya.
"Ada apa lo panggil kita ke sini? Apa ada masalah?" Tanya Anna yang sangat mengenal karakter Endah.
"Kita dalam bahaya, musuh sedang mengamati gerak-gerik kita. Meninggalnya Joseph di tangan gue, ternyata menjadi sebuah masalah besar untuk suami gue, yang berimbas pada kalian." Jawab Endah.
Tak ada yang tak terkejut mendengar jawaban Endah kecuali Amel.
__ADS_1
"Siapa musuh Bang Jimmy, Ndah?" Tanya Jessica yang kali ini buka suara.
"Teman sesama mafianya." Jawab Endah sembari menyesap kembali rokok yang terselip di jemari lentiknya.
"Jadi lawan kita, teman sesama mafia suami lo?" Tanya Amel yang kini malah ikut menyalakan rokok dan menyesapnya.
"Iya." Jawab Endah dengan mata melirik Amel yang terlihat santai.
"Menarik. Berarti akan ada musuh di dalam selimut di kediaman kita, terutama kediaman kalian bertiga." Ucap Amel yang pikirannya langsung jalan. Ia langsung bisa menebak apa yang akan dilakukan musuh pada mereka.
"Ya. Benar. Secara di kediaman gue. Gak terlau banyak penjaga. Dan di mansion gue. Kebanyakan para pekerjaannya adalah orang-orang kepercayaannya mertua gue dan mereka bukan dari kalangan mafia. Gak seperti di Mansion kalian, yang memang dijaga oleh para bodyguard dari kalangan Mafia. " Tambah Nayla.
Ketiga bersaudara itu terdiam sejenak. Berpikir apa yang dikatakan Nayla dan Amel.
"Sejak kapan? Lo tahu masalah ini Ndah?" Tanya Amel lagi pada Endah. Ia ingin mengetahuinya untuk memprediksi kapan pergerakan musuh menyerang mereka.
"Dua hari yang lalu." Jawab Endah.
"Diungsikan?" Pekik keempat hot mama ini saat mendengar saran Amel.
"Ya. Demi keselamatan anak-anak, mereka harus di ungsikan. Musuh kita mungkin akan menyerang kita dalam waktu lima hari ke depan. Aku yakin itu. Satu minggu mempelajari apa yang biasa kita lakukan dan setelah itu, mereka akan sapu bersih kita semua." Terang Amel dengan prediksinya.
"Jadi anak-anak harus di ungsikan kemana?" Tanya Jessica yang terlihat bingung.
Jujur berat baginya untuk berjauhan dengan kedua buah hatinya yang sangat ia sayangi dan cintai.
"Mansion Kakak Abraham. Itu tempat yang tepat untuk mereka." Jawab Endah spontan.
"Ya. Tapi kita tidak bisa membawa mereka dengan menggunakan penerbangan. Itu sangat membahayakan. Dia bisa saja mensabotase pesawat yang membawa anak-anak." Ucap Amel lagi.
Kali ini kecerdasan otak Amel, benar-benar sangat bermanfaat untuk menentukan langkah mereka.
__ADS_1
"Lalu pakai apa Mel?" Tanya Anna. Yang terlihat cemas.
Tak ada seorang ibu di dunia ini yang tak cemas, jika keselamatan buah hatinya terancam."
"Kita antar mereka dengan mobil. Kita akan beralasan jalan-jalan. Sepertinya Nayla dan Kak Bayu punya mobil motor home. Kita gunakan satu mobil saja. Kalian cukup. Beralasan ke pantai pada suami-suami kalian, agar mereka memberikan izin kalian untuk pergi. Biar nanti suami gue yang akan mengatakan kemana tujuan kita sebenarnya. Ingat saat ini dinding kediaman kita bisa jadi telinga untuk mereka." Jawab Amel yang dapat di pahami oleh mereka.
"Kapan kita jalan?" Tanya Endah pada Amel.
"Sekarang." Jawab Amel.
"Tapi, bukankah mereka sedang main golf, bagaimana izinnya?" Tanya Jessica yang sedikit menyulitkan.
"Iya mereka emang lagi main golf. Itu malah lebih enak. Mereka akan iya-iya saja, karena gak mau di ganggu kesenangannya." Jawab Anna.
Keempatnya oun segera bergegas pulang ke kediaman mereka masing-masing, menyiapkan segalanya.
Nayla yang secepat kilat sampai di Mansionnya segera memanggil Pak Jono dan Suster Marni. Ia meminta kedua pegawai setianya itu bersiap-siap. Begitu pula dengan Jessica yang meminta Angela dan Bowo untuk bersiap-siap mengantar mereka dengan alasan pergi ke pantai.
Kini mobil motor home yang berukuran cukup besar milik Nayla dan Bayu, mulai mendatangi Mansion mereka satu persatu. Mereka kompak memberikan pesan pada para pekerja mereka jika suami mereka mencari katakan mereka sedang pergi ke pantai.
Mobil motor home yang di kendarai Pak Jono pun melaju menuju Kota J bagian barat. Demi meminta izin pada suami-suami mereka. Benar dugaan Anna, jika mereka tak ingin di ganggu. Suami-suami mereka mengiyakan mereka yang izin pergi ke pantai.
Berbeda dengan keempat istri lain yang berbohong, Amel tidak sama sekali berbohong pada suaminya.
"Abakubu sabamaba meberebakaba mabaubu perbergibi kebe kobotaba D-Be," ucap Amel dengan bahasa planet yang hanya dapat di mengerti mereka berdua.
Namun malah di tertawa oleh Andre dan yang lainnya.
"Mabaubu ngabapabain?" Tanya Hendra sembari tertawa demi tak mengudang kecurigaan yang lainnya.
Hendra paham, jika Amel sudah menggunakan bahasa planet mereka, pasti ada sesuatu yang penting yang tak boleh ada orang yang tahu apa yang dikatakan oleh dirinya.
__ADS_1