Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 47


__ADS_3

Perdebatan antara Bayu dan Gunawan, ayah mertua Bayu terjadi sangat singit dan alot. Dimana Gunawan bersi kukuh ingin mereka berdua berpisah, sedangkan Bayu bersi kukuh untuk mempertahankan rumah tangganya yang baru saja ia mulai.


"Apapun yang terjadi saya Bayu Pratama tidak akan menceraikan istri saya Nayla, saya harap Ayah bisa mengerti akan kata saya," tegas Bayu yang tak mau dipisahkan dengan Nayla.


"Nayla itu putri saya, saya besarkan dia dengan penuh cinta dan kasih sayang bukan untuk Anda sakiti Tuan muda Bayu Pratama. Bagaimana pun saya ini adalah orang tua dari Nayla. Saya berhak menentukan jalan hidup putri saya. Termasuk memisahkan pria yang tak pantas mendampingi putri saya." Balas Gunawan tak kalah tegasnya.


Seorang Ayah yang baik, tak akan membiarkan putrinya di sakiti oleh pria lain, ia tak akan rela putri yang sangat ia cintai disakiti oleh pria yang mengaku mencintai putrinya. Bagi seorang Ayah, tak ada cinta tulus di dunia ini selain cinta tulusnya, terhadap sang putri. Tak ada cinta yang lebih dalam selain cinta seorang Ayah yang sedalam lautan terhadap putrinya, tak ada cinta yang lebih luas selain cinta seorang Ayah yang seluas samudra pada putrinya.


Meskipun pria itu sudah mengucapkan sebuah ijab kabul, dimana pria itu telah mengambil tanggung jawab besarnya terhadap sang putri, dan memiliki kuasa penuh akan sang putri saat ini. Namun ia tak bisa membiarkan putrinya merasakan penderitaan seorang diri karena pernikahannya, terlebih dialah yang menjodohkan putrinya itu pada pria yang kini menorehkan luka pada hati putrinya yang selama ini selalu ia jaga.


Dapat dibayangkan. Bagaimana perjuangan keras seorang Ayah membesarkan putrinya. Bagaimana ia menyembunyikan rasa lelah,rasa penat ataupun masalah di tempat kerjanya saat ia baru kembali setelah seharian bekerja di luar rumah. Hanya untuk membahagiakan putrinya yang merasa rindu ingin di gendong atau ingin dimanja ketika sang ayah pulang bekerja. Ia selalu tak ingin putrinya bersedih ataupun mengkhawatirkan dirinya. Tak pernah sedikit ia menolak permintaan sang putri. Apapun ia curahkan hanya untuk buah hatinya.


Hal inilah yang menjadi alasan kuat Gunawan ingin memisahkan keduanya. Namun keinginannya untuk memisahkan putrinya dengan pria yang tak lagi pantas menjadi suaminya itu harus ia urungkan. Karena tiba-tiba saja kedua orang tua Bayu datang di tengah perdebatan mereka.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Tuan Tama yang berdiri di muka pintu dengan tatapan penuh arti menatap keduanya.


"Tanyakan saja pada putra mu! Apa yang menyebabkan keributan diantara kami?!" Perintah Gunawan yang seakan malas menjawab pertanyaan Besannya. Tak hanya malas menjawab pertanyaan Tuan Tama. Gunawan juga terlihat malas menatap Bayu dan juga Tuan Tama. Ia berbucara dengan membuang pandangannya ke sembarang arah saat menjawab pertanyaan Tuan Tama, sahabatnya itu.


"Bayu, katakan ada apa? Kenapa kalian berdua berdebat seperti ini? Sebenarnya apa yang kalian perdebatkan? Kenapa Ayah mertua mu ini sepertinya sangat marah pada mu?" Tanya Tuan Tama dengan rasa penuh tanda tanya pada Putranya.


Melihat ada masalah besar yang harus di selesaikan suaminya. Ratna memilih untuk meninggalkan Tuan Tama bersama putranya dan juga Gunawan besannya. Gunawan memasang wajah tak bersahabat pada ketiga orang di hadapannya, ia benar-benar tak bisa menyembunyikan amarahnya di ruang tunggu keluarga yang tersedia di ruang rawat Nayla. Ratna melangkahkan kakinya menghampiri sisi ranjang Nayla, dimana Riska sedang duduk di sebuah kursi yang berada di sana, ia mendengarkan perdebatan suaminya dan menantunya sejak tadi yang tak kunjung usai.

__ADS_1


Ratna melihat jelas Riska tengah menangis tanpa suara di sana. Ia menghampiri sahabat sekaligus besannya itu.


"Riska, tenanglah Ris! Semua akan baik-baik saja! Jangan terus bersedih seperti ini Ris! Kamu bisa ikut sakit jika seperti ini terus." Ucap Ratna yang memeluk Riska, ia berusaha menenangkan tangis Riska yang terdengar begitu menyayat hati.


"Bagaimana aku tak sedih Na? Lihatlah keadaan putri ku sekarang, Na! Dia bisa seperti ini karena putra mu,andaikan putri ku tak ku nikahkan dengan putra mu, mungkin putriku tak akan jadi seperti ini," tunjuk Riska pada Nayla yang terbaring dengan mata terpejam di ranjang.


Mata Ratna seketika terbelalak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia melihat kondisi menantunya dengan luka perban di kepalanya. Ia dapat menduga dibalik perban yang ada di kepala Nayla, sudah tak ada sehelai rambut lagi yang dapat menutupi kulit kepalanya. Pantas saja jika Riska bicara seperti itu padanya.


Sadar dengan keadaan buruk sang menantu yang diakibatkan putranya. Ratna spontan menutup kedua mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya dan setelah itu dengan cepat ia memanggil suaminya.


"DADDY!! DADDY!! DADDYYYYY...." Pekik Ratna memanggil suaminya dengan suara bergetar.


Mendengar teriakan istrinya memamanggil dirinya. Tuan Tama segera menghampiri keberadaan istrinya. Ia beranjak dari sofa yang ia tempati. Dengan langkah cepat dan sedikit berlari kecil, ia mendatangi sang istri. Tak ada yang mengikuti langkah Tuan Tama, baik Bayu ataupun Gunawan tetap dalam posisinya.


"Lihatlah menantu kita Dad!" Perintah Ratna pada suaminya dengan isak tangisnya.


Tanpa menjawab perintah sang istri. Tuan Tama mengarahkan manik matanya ke arah ranjang tidur Nayla. Respon Tuan Tama sama dengan Ratna ketika melihat keadaan menantunya di atas ranjanh.


Alih-alih menenangkan istrinya yang menangis sejadi-jadinya, ia malah kembali ke depan, tempat dimana Bayu dan Gunawan berada. Ia menghampiri putranya dengan emosi di dadanya. Tanpa bak bik buk. Satu bogem mentah mendarat di pipi Bayu. Membuat sudut bibir Bayu kembali mengeluarkan darah segar.


"Apa yang kau lakukan pada menantu ku, Bayu?" Tanya Tuan Tama dengan nafas yang tersengal-sengal menahan gejolak emosinya.

__ADS_1


Bayu mengusap sudut bibirnya yang kembali berdarah. Ia menatap pasrah sang Daddy dengan semua kesalahan yang bertumpu pada dirinya.


"Ini sebuah kecelakaan Dad. Aku akui aku memang salah, tapi kejadian ini tidak pernah aku harapkan Dad. Dan aku tidak tahu jika istriku mengalami penganiaayan di kampus." Jawab Bayu yang masih berani menatap manik mata Tuan Tama yang berapi-api.


"Dia kuliah kembali? Apa kau memaksanya?" Tekan Tuan Tama pada putranya.


"Ya, aku memaksanya." Jawab Bayu dengan mantap mengakuinya.


"Apa kau tuli Bayu? Bukankah dia sudah mengatakan niatnya untuk berhenti kuliah dan hanya ingin mengurus anak mu. Jawab Bayu apa kau tuli!" Bentak Tuan Tama dengan suaranya yang nyaring.


Untungnya obat yang di suntikan Nayla berdosis tinggi, hingga suara keributan sejak tadi di ruang rawatnya itu sama sekali tak mengusik waktu istirahatnya.


"Tidak Dad,"


"Jika tidak kenapa kau paksa dia, jadi seperti ini akibatnya anak bodoh." Umpat Tuan Tama yang kesal pada putra semata wayangnya.


"Jadi bagaimana Gun, kau tadi meributkan apa dengan putra ku yang bodoh ini?" Tanya Tuan Tama pada sahabatnya.


"Aku ingin mengambil putri ku kembali, aku ingin mereka bercerai Tam." Jawab Gunawan yang membuat Ratna pingsan seketika saat mendengarnya.


Kini kembali suara teriakan terdengar dari dalam, kali ini Riska yang berteriak meminta bantuan semua orang yang ada di depan sana untuk menolong Ratna yang jatuh pingsan.

__ADS_1


"Bayu lihatlah karena ulah mu! Mommy mu sampai pingsan seperti ini." Omel Tuan Tama saat berusaha menggendong tubuh Ratna.


__ADS_2