
Drama pernikahan antara Nayla dan Bayu kembali dimulai. Pagi ini adalah hari ke-9 pernikahan mereka, seperti pagi-pagi biasanya Nayla menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya itu. Nayla begitu menikmati perannya menjadi seorang istri dari seorang Bayu, seorang CEO yang merangkap menjadi salah satu Dosen di universitas milik keluarganya.
Kehidupan Nayla nyaris sempurna, menikah dengan pria satu paket lengkap merupakan sebuah keburuntungan untuk Nayla. Nayla hanya butuh menambah satu anggota keluarga lagi untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Nayla berkeinginan memiliki seorang putri untuk menjadi adik untuk anak sambungnya, Sultan.
"Mami, cuti Mami sudah habis ya. Hari ini Mami ke kampus kan?" tanya Bayu yang menggantungkan suapannya di udara.
"Hemmm iya," jawab Nayla tak bersemangat.
Jelas saja Nayla tak bersemangat menjawab pertanyaan suaminya itu. Karena sudah berulang kali ia memohon pada suaminya, agar ia diizinkan cuti ataupun berhenti kuliah karena ingin fokus menjadi ibu rumah tangga sejati, sepeti wanita-wanita lainnya.
Namun Bayu menolak keras permintaan istrinya itu. Bagi Bayu pendidikan sangatlah penting, selain bermanfaat untuk Nayla sendiri, juga nantinya akan bermanfaat untuk anak-anaknya kelak dikemudian hari.
"Semangat Mami, ingat pesan Papi pendidikan itu sangat penting. Jadilah Mami yang dibanggakan anak-anak mu kelak dengan keberhasilanmu, sayang," ucap Bayu yang menyemangati istrinya.
"Apa Lo kata, semangat dari Hongkong, tiap pagi dengkul gue lemes, Lo gempur tiap malam, kamarin-kemarin nganterin Sultan, gue bisa tidur di mobil sambil nungguin tuh bocah pulang sekolah, nah sekarang bisa-bisa auto tidur di kelas ini mah," batin Nayla yang merasa kesal pada suaminya.
"Hem iya Pih, Mami akan semangat kuliah, Papi juga ya semangat untuk bersolo karir tiap malam, mulai malam ini loh, Pih. Jangan lupa ya Pih mulai malam ini!" jawab Nayla tanpa memandang di meja makan itu ada Suster Marni yang duduk diantara mereka.
Bayu yang sedang menengguk air putih di dalam gelas begitu terkejut dengan ucapan sang istri. Matanya membola, hampir saja ia menyemburkan air putih yang ada di mulutnya.
"Nayla, bisa-bisanya kamu bicara se-vulgar ini di depan mereka. Oh, astaga... Ya Tuhan, tolong beri hamba mu kesabaran dalam menghadapi istri langka ku ini," batin Bayu yang menatap wajah Nayla yang merasa tak bersalah itu.
__ADS_1
"Jangan natapin Mami kaya gitu Pih! Nanti makin cinta sama Mami jadi repot urusannya," ucap Nayla penuh percaya diri tanpa menatap Bayu. Pandangannya tetap fokus pada piring berisi nasi goreng sosis di hadapannya.
"Memangnya cinta Papi ngerepotin Mami hum?" tanya Bayu yang malah mendekatkan kursinya lebih dekat pada istrinya.
"Repot banget, karena Papi tiap malam selalu minta nambah, itu torpedo kelamaan nganggur jadi begitu, apalagi Papi kalau udah cinta mati sama Mami, duhhh.... hummm ahhh... bisa-bisa Mami gak keluar-keluar dari kamar di kurung sama Papi," bisik Nayla di telinga suaminya dengan suara seksinya dan meremas sedikit paha suaminya.
"Mami, jangan godain Papi ya!" ucap Bayu dengan siara pelan dengan mengeratkan deretan giginya yang putih.
"Papi jangan GR ya! Mami itu gak lagi godain Papi, lihat siapa yang nyamperin siapa. Kucing gak akan nolakkan kalau di kasih sosis jumbo," balas Nayla yang membuat Bayu menarik kursinya menjauhi sang istri.
"Ada lagi sebutan baru untuk juniorku, Nayla... Nayla," batin Bayu yang kini berjalan ke ruang keluarga untuk mengambil tas dan kunci mobil yang Nayla letakkan disana.
"PAPI, dilarang keluar rumah tanpa cium istri dan anak! Sekali lagi Papi melangkah pergi, jangan salahkan Mami, kalau ada Paijo dan Paimin dirumah ini untuk menggantikan Papi," pekik Nayla yang menghentikan langkah Bayu.
Bayu lupa kebiasan dan aturan baru yang Nayla buat untuk dirinya. Tanpa mau mengambil resiko dari ancaman sang istri, Bayu akhirnya kembali melangkahkan kakinya ke meja makan, dimana sang istri terlihat belum menghabiskan sarapan paginya.
"Kamu tuh kalau makan lama banget, bisa di cepetin sedikitkan, hargai waktu mu Mih!" Bayu mencebik ketika melewati kursi Nayla.
"Papi juga kalau main durasi dicepetin Pih, kan cape ngangkat kaki terus-terusan kalau lama-lama," jawab Nayla yang membuat Bayu geleng-geleng kepala. Istrinya ini di tegur untuk menghabiskan makanannya lebih cepat malah membahas masalah ranjang mereka.
"Bukannya kamu yang keenakan, minta lagi dan lagi," sahut Bayu yang akhirnya malah menanggapi ucapan absurd sang istri.
__ADS_1
"Siapa yang gak minta lagi dikasih enak," balas Nayla, yang menggoda suaminya dengan memasukkam sosis utuh ke dalam mulutnya.
Jangan tanya bagaimana respon dan kondisi telinga Suster Marni saat ini. Yang pasti sekarang ini ia harus pura-pura tuli, saat mendengar suami istri ini mulai berdebat. Mungkin pada awalnya ia terkejut dengan sikap sifat dan cara bicara Nayla yang terlalu fulgar dan blak-blakkan, namun hari demi hari Suster Marni yang usianya lebih tua pun akhirnya sudah paham dengan karakter langka Nyonya mudanya ini.
Dan Jangan tanya bagaimana Sultan ya guys, dia sudah terhipnotis dengan masakan Nayla. Anak ini terlalu fokus menikmati masakan Nayla beberapa hari ini yang selalu memanjakan lidahnya. Sehingga dia sama sekali tak perduli dengan suara sumbang kedua orang tuanya.
Belum satu bulan Nayla menjadi ibu sambungnya. Pipi Sultan sudah berubah menjadi bakpau, berat badannya sudah pasti bertambah. Bahkan Bayu sudah menjadwalkan Sultan untuk olahraga pagi bersamanya diakhir pekan, karena melihat tubuh anaknya melebar kesamping setelah memiliki ibu sambung.
Saat ini Bayu melangkahkan kakinya menuju sang putra yang juga belum selesai menghabiskan piring kedua sarapan paginya. Jika ditanya kenapa dia lebih mendahulukan putranya di banding Nayla, sebenarnya itu bukan keinginannya tapi peraturan yang Nayla buat sendiri.
Nayla membuat peraturan anak harus lebih diutamakan oleh Bayu dan setelah anak selebihnya istri yang berkuasa penuh akan diri Bayu. Bayu tak bisa menolak semua peraturan yang Nayla buat karena Nayla selalu pintar mengancam Bayu, salah satunya ya itu, menghadirkan Paijo dan Paimin yang artinya Nayla akan selingkuh dengan pria lain.
"Sultan, Papi berangkat kerja dulu ya sayang, sampai jumpa saat makan malam nanti ya sayang, muach..." pamit Bayu yang kemudian mencium pipi cubby putranya itu.
"Bye..bye Papi, hati-hati di jalan, semangat kerjanya, I Love you," balas Sultan yang melambaikan tangan kirinya ke arah Bayu dan tangan kanannya masih memegamg sendok yang siap masuk ke dalam mulutnya.
"I love you to Son," jawab Bayu yang sedang melangkahkan kakinya ke kursi sang istri.
"Papi berangkat duluan ya Mih, Papi tunggu di kampus, ini hari perdana kamu masuk ke kampus setelah menjadi istri Papi," ucap Bayu yang kemudian mencium pipi sang istri.
Seketika Nayla terdiam mendengar ucapan Bayu yang malah mengingatkan dirinya tentang hal yang beberapa hari ini terlupakan oleh dirinya.
__ADS_1