Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Tumbang


__ADS_3

"Cepat keringkan dulu badanmu, nanti Kamu bisa sakit jika terus begini," Nikolai mengambil sebuah handuk lalu menutupi Siera yang terlihat basah kuyup dengan wajah muramnya.


Tanpa berkata apapun gadis itu hanya mengangguk, dan berjalan menuju kamarnya.


Siera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, gadis itu menyalahkan shower lalu terduduk di bawahnya sambil memeluk kedua lututnya.


"Kamu sudah memiliki tubuh yang sehat dan bisa melakukan apapun, jadi tidak usah banyak mengeluh hanya karena Siena mendapatkan sesuatu yang lebih!"


"Siera yang baik, boleh kan bonekamu untuk Siena? Kamu kan bisa bermain dengan teman-temanmu."


"Kamu tinggal sama Bibi dulu ya! Mami dan Papi harus mengantar Siena berobat agar cepat sembuh."


"Siera, aku melihat seorang dokter muda di rumah sakit. Aku suka padanya saat pertama bertemu!"


"Siena, Aku dijodohkan dengan dokter itu! Minggu depan pertunangan kita, nanti Kamu harus pulang ya! Aku mau kamu berkenalan dengannya."


Kilasan ingatan saling tumpang tindih satu sama lainnya. Tak ada ingatan apapun yang indah baginya, semua hanyalah menimbulkan goresan luka yang tertimbun dari tahun ke tahun.


Air mata Siera melesat keluar dan menyatu dengan butiran air yang membasuh tubuhnya. Masih jelas bagaimana rasanya saat semua uang ia sukai harus terpaksa dilepaskan hanya kerena dirinya lebih kuat.


Gadis itu menangis terisak-isak, napasnya terasa sesak dan semakin membuatnya tersiksa.


Siera mengepalkan tangannya lalu memukul-mukul dadanya cukup keras.


"Jantung sialan, kenapa Kau tidak berada di tubuh Siena?" jeritnya.


Suara air shower yang terus membasuh tubuhnya seolah menjadi peredam tangis dan jeritan gadis. Seandainya bisa, Siera ingin menukarkan nasibnya pada Siena. Apapun akan suka rela ia berikan untuk saudari kembarnya tetapi tidak dengan pria yang menjadi cinta pertamanya.


Sudah dua jam lamanya Siera tidak kunjung keluar dari dalam kamarnya. Nikolai berusaha mengetuk pintu kamar gadis itu beberapa kali, tetapi tidak ada respon apapun seakan tak berpenghuni.


Dengan semangkuk sup dan teh hangat yang ia bawa dengan menggunakan sebuah nampan, pria itu kembali menuju kamar Siera. Diketuknya pintu beberapa kali sambil memanggil nama gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Siera! Siera! Aku bawa makanan buat kamu. Makan dulu yuk! Biar Kamu tidak sakit," ucap Nikolai.


Namun, lagi dan lagi tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Bagikan keheningan telah menelan gadis itu. Nikolai yang merasa ada sesuatu yang tidak beres kembali mengetuk dengan lebih keras, intonasi suaranya pun lebih ia tegaskan untuk memanggil nama Siera.


"Siera! Siera! Apa Kamu baik-baik saja? Siera!"


Beberapa kali Nikolai mengetuk pintu kembali hingga akhirnya pria itu sudah kehabisan kesabarannya. Dengan terpaksa Nikolai harus mendobrak pintu karena ia yakin jika ada sesuatu yang terjadi pada Siera.


Diletakkannya nampan berisi makanan ke atas meja terdekat, lalu sekuat tenaga ia berusaha membuka pintu dengan paksa walaupun mengalami kesulitan.


BRAK!


Akhirnya setelah berusaha beberapa kali Nikolai pun berhasil mendobrak pintu kamar Siera. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati Siera terjatuh tak sadarkan diri di lantai kamarnya.


"Siera!"


Setelah memastikan Siera berbaring dengan nyaman, Nikolai bangkit dan berjalan keluar untuk mengambil ponsel miliknya yang ia tinggalkan di ruang kerja. Pria itu segera menelpon seorang dokter yang sudah ia percaya layaknya dokter pribadi.


Nikolai kembali ke kamar Siera dengan membawa semangkuk air hangat dan lap basah. Perlahan ia mulai mengompres kening ganis itu yang terasa panas. Air mata mengalir dari kedua sudut mata Siera yang seketika langsung dibersihkan oleh Niko dengan selembar kertas tisu.


"J- jangan tinggalkan Siera sendiri," gumam Siera tanpa gadis itu sadari.


Nikolai mengerutkan keningnya saat rancauan dari mulut Siera. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu, hingga meninggalkan jejak trauma dan terbawa di alam bawah sadarnya.


"Hei Kelinci, Kamu tidak sendirian lagi karena Aku akan selalu ada bersama Kamu," ucap Nikolai dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Siera.


Peluh bercucuran membasahi kening gadis itu. Tanpa pamrih dan mengeluh dengan senang hati Nikolai kembali mengelapnya dengan tisu. Hingga pada akhirnya bel unitnya berbunyi, menandakan dokter yang baru saja ia hubungi telah datang.


"Selamat Sore, Sir," ucap seorang dokter wanita yang diperkirakan berusia empat puluh tahun.

__ADS_1


"Oh ya, selamat sore. Mari ikut Saya!" seru Nikolai mempersilahkan.


Mereka mulai berjalan menuju kamar yang ditempati Siera. Terlihat Siera yang masih berbaring dengan kesadaran yang masih belum berada pada tempatnya walau waktu sudah berlalu lima belas menit lamanya.


"Teman Saya pingsan, dan sepertinya dia demam. Tapi, beberapa waktu lalu dia terus mengigau," ucap Nikolai.


Dokter berebut menganggukkan kepalanya lalu mulai mengeluarkan peralatannya yang ia simpan disebuah tas. Dengan teliti ia mulai memeriksa kondisi Siera, mulai dari suhu tubuh hingga detak jantung gadis itu.


***


Ting!


Sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke dalam ponsel pintar milik Siena yang ia letakkan di atas nakas. Setelah meminum obat, ia pun meraih ponsel tersebut badan segera membuka pesan singkat yang disertai beberapa buah foto yang dikirimkan oleh seorang temannya.


'Gambarnya buram karena hujan, tapi aku yakin ini Nuga. Kejadiannya juga di dekat kantor Siera.'


Siena menyipitkan matanya saat melihat sebuah foto yang di dalamnya tertangkap seorang pria tengah menggenggam tangan seorang wanita, pria dan wanita itu berdiri di tengah hujan seakan mereka tengah bertengkar.


"Nuga? Bukannya ia sedang ada jadwal," gumam Siena sambil memperbesar foto tersebut.


Perhatian Siena tertuju pada sosok wanita yang tengah bersama calon suaminya, gadis itu menajamkan penglihatannya karena tidak merasa asing dengan postur tubuh wanita tersebut.


"Siera? Ini Siera, kan?" gumamnya.


Sejenak Siena terdiam, seakan dirinya tengah memikirkan suatu hal yang mengganjal di dalam kepalanya. Namun, ia segera menepis semuanya lalu kembali menghubungi Nuga untuk bertanya langsung prihal masalah foto tersebut.


Berkali-kali ia terus berusaha menghubungi sang kekasih hati namun, panggilan teleponnya terus diabaikan oleh Nuga. Nyaris setengah jam lamanya Siera berusaha menelpon tetapi semua usahanya sia-sia belaka.


Tiba-tiba kepalanya terasa berputar-putar, tanpa dia sadari jika darah mulai menetes dari hidungnya. Siera berusaha meraih selembar tisu dari atas nakas dan membersihkan hidungnya. Namun alih-alih berhenti, darahnya terus mengalir dari kedua lubang hidungnya dan semakin deras hingga mengotori baju yang ia kenakan.


Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan sosok ibundanya yang seketika menjerit, "Ya Tuhan, Siena!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2