
"Begini Mel. Kami ada proyek bisnis pembangunan sebuah mall. Beberapa lahan telah kami bebaskan, tinggal sebuah lahan tanah kosong yang dipenuhi dengan pohon pisang di dalamnya yang belum kami bebaskan."terang Jimmy pada Amel dengan bahasa sehalus mungkin, agar wanita penuh emosional ini tidak marah ataupun murka pada mereka, yang akan berakhir fatal pada bisnis yang tengah mereka garap.
"Terus?"
Amel meminta Jimmy kembali meneruskan ucapannya, karena dari ucapan Jimmy sebelumnya ia sudah mengetahui, jika lahan yang dimaksud oleh Jimmy adalah lahan miliknya dan juga Nayla yang masih atas nama pemilik lamanya.
Lahan kosong itu surat-suratnya belum sempat Nayla dan Amel urus untuk balik nama, alasannya karena saat itu Nayla belum memiliki uang lebih, untuk mengurus surat tanah dengan luas tanah yang tidak main-main yaitu tiga puluh hektar.
"Kami sudah bertemu dengan orang yang kami anggap sebagai pemilik tanah tersebut, menurut data yang kami terima. Namun kenyataannya, ternyata tanah tersebut sudah dijual kepada dua gadis muda yang ada di hadapan kami. Sehingga orang yang ditemui oleh kami tidak bisa menjual ataupun melakukan negosiasi pada kami karena dia tidak memiliki surat sertifikat tanah tersebut."terang Jimmy kembali.
"Lantas?" Tanya Amel lagi emang uji kesabaran Jimmy.
"Lantas kami ingin membelinya dari kalian berdua,"jawab Jimmy masih berusaha sabar.
"Tanah yang mana sih Mel gua lupa."ucap Nayla yang saking banyaknya memiliki tanah, hingga Ia lupa tanah mana yang sudah dia beli bersama Amel, si juragan tanah.
"Itu loh tanah yang di perbatasan kota B." Jawab Amel ia mengingatkan Nayla pada tanah yang membuat dompetnya langsung kering kelontang.
"Oh tanah yang itu yang bikin gue langsung jadi kismin belinya," ucap Nayla ketika mengingat bagaimana susah dan sengsaranya dia karena membeli tanah tersebut.
"Iya,"jawab Amel singkat.
__ADS_1
"Jadi kalian mau beli tanah kita?" Tanya Nayla yang kali ini bersuara.
Keempat pria di hadapannya pun menggangguk.
"Ya udah berani berapa per meternya? Kalau harga cocok boleh dibungkus." Tantang Nayla pada keempat orang ini.
"Siapkan kocek mu Ndre harganya pasti akan mahal." Cicit Bayu pada Andre yang duduk tepat di sampingnya.
"Tidak apa mahal asalkan menguntungkan nantinya." Balas Andre berbisik di telinga Bayu.
"Kamu mau berapa? akan aku bayar berapa pun nominalnya." Andre balik menantang Nayla. Sungguh Andre telah melakukan kesalahan besar telah menantang si ratu matre di dunia ini.
"Ada nggak yang jual tanah 1 meter 1 miliar? Kalau ada kalikan saja 30 hektar dikali 1 miliar berapa dan itu pasti kita langsung deal." Ucap Nayla yang membuat Andre langsung terkikik geli mendengarnya.
"Aku lebih baik tidak membeli tanahmu jika harganya 1 meter 1 miliar," Andre langsung menyerah begitu saja ketika Nayla sudah menyebutkan angka untuk tanah yang diinginkan keempat lelaki di hadapannya.
Amel tersenyum mendengar Andre menyerah dengan harga yang Nayla berikan.
"Kalian tahu tidak kenapa tanah kosong di tepi jalan itu ditanami pohon pisang semuanya?" Tanya Nayla pada keempat pria tersebut yang salah satunya adalah suaminya dan juga kakaknya. Keempat pria tersebut menggeleng tanda jika mereka tidak tahu maksud dari ditanami pohon pisang di tanah seluas tiga puluh hektar itu.
"Karena pohon pisang adalah ladang pahala kami berdua." Amel membantu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Nayla.
__ADS_1
Keempat pria tersebut mendengar ucapan Amel menatap bingung ke arah Amel dan juga Nayla apa maksud dari kata ladang pahala mereka berdua.
"Tanah itu memang sengaja kami beli, dengan susah payah kami membelinya, sampai 1 bulan kami kuliah hanya makan Indomie, karena untuk membeli tanah tersebut sangat menguras uang kami baik di ATM kartu kredit bahkan di dompet kami. Sampai-sampai aku dimarahi orang tua dan kakak lucknat ku terlalu boros, tikang habisi uang orang tua. Tapi kalian tahu tidak alasan kenapa kami sengaja membeli tanah itu?" Tanya Nayla lagi yang kembali mendapat gelengan kepala dari keempat pria di hadapannya.
"Itu karena kami melakukan KKN di daerah tersebut, taraf kehidupan di sana sangatlah di bawah standar. Dulu rumah mereka banyak terbuat dari bilik bambu tidak ada yang menggunakan tembok. Mata pencaharian mereka hanya berkebun dan itu pun hasilnya tidak seberapa. Di sana ada tuan tanah yang sangat kaya, kaya sekali. Orang yang mungkin kalian temui kemarin. Kami berdua sengaja membeli tanah dari tuan tanah itu, yang hobinya suka menikahi wanita-wanita cantik." Kembali Amel membantu menjawab.
"Terus apa kaitannya ladang pahala, pohon pisang dengan rumah-rumah mereka yang terbuat dari bilik bambu? Perasaan ku saat ke sana tinggal beberapa saja yang rumahnya masih menggunakan bilik, malah kata aparat desa, desa itu setiap bulan selalu melakukan pembangunan rumah secara bergantian." Tanya Hendra pada sang istri.
"Ya. Tentu saja bergantian, karena itu memang programnya seperti itu. Apa kalian tidak lihat di sana ada sebuah pabrik keripik pisang?" Amel tidak menjawab secara detail pertanyaan suaminya ia malah melontarkan pertanyaan kembali kepada keempat pria di hadapan mereka. Membuat mereka makin penasaran.
"Ya kami lihat pabrik rumahan itu. Yang pekerjaannya para ibu rumah tangga yang sudah di susun jadwal kerjanya hanya bekerja 3 jam sehari, tanpa di bayar. Aneh sekali. Pemilik pabrik yang tak diketahui namanya. Ditanya pabrik ini milik siapa, mereka bilang malah milik kami " Jawab Jimmy yang mengetahui sedikit tentang pabrik itu.
"Jelas mereka bekerja tanpa mau dibayar, dan benar jika pabrik itu milik mereka, tepatnya milik seluruh warga sana yang hidupnya ingin maju bersama, dan perlu kalian tahu kehidupan mereka sehari-hari berasal dari pabrik itu, dan pabrik itu bahan bakunya dari tanah yang akan kalian beli." Terang Amel.
"Tolong jelaskan secara rinci jangan terpotong-potong aku jadi pusing mendengarnya," pinta Andre yang sudah merasa sedikit pusing.
"Intinya tuan-tuan yang terhormat, tanah itu tidak akan kami jual sampai kapanpun. Terkecuali masyarakat di sana sudah tidak membutuhkan tanah tersebut. Tidak mungkin kami menceritakan kebaikan kami pada kalian. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, jika tangan kanan memberi tangan kiri sebaiknya tidak tahu." Pungkas Nayla.
Andre menghembuskan nafas kasarnya begitu pula dengan Bayu dan Jimmy. Sedangkan Hendra menepuk jidatnya. Sia-sia sudah usaha mereka untuk melakukan negosiasi pada kedua wanita di hadapannya. Ternyata dari pembicaraannya yang ke sana ke sini, pada intinya mereka tak menjualnya dengan alasan kepentingan masyarakat di sana.
.
__ADS_1