Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 88


__ADS_3

Disebuah lobby gedung pencakar langit sebuah mobil sedan mewah buatan Jerman berhenti dan terparkir di sana. Tepat pukul 10:00 Bayu dan keluarganya tiba di perusahaan. Ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk bidadari tak bersayapnya yang sepanjang jalan terus memangku putranya.


Ya. Nayla terus memangku Sultan walaupun Sultan ingin duduk di belakang bersama Suster Marni. Ia seperti ini karena terus dihantui rasa takut kehilangan Sultan yang berlebihan. Meskipun Bayu sudah berusaha mencoba menenangkan dan meyakinkan Nayla. Nayla seperti tidak mau percaya dan yakin dengan ucapan Bayu.


Bayu akhirnya membiarkan apa yang ingin dilakukan Nayla. Meskipun ia sangat khawatir dengan janin yang ada di dalam kandungan istrinya itu.


“Silahkan turun sayang,” ucap Bayu yang mempersilahkan Nayla turun dengan begitu manis. Senyum begitu indah terukir di wajah tampan Bayu dengan kepala plontosnya yang sudah di tumbuhi rambut-rambut halus.


“Papi hari ini manis sekali, sayangnya aku tidak punya uang receh untuk memberi mu tips, Pih.” Ujar Nayla yang membuat Sultan tertawa renyah karena ia tahu, Ibu sambungnya ini tengah meledek keromantisan sang Papi.


Bayu memutar bola matanya malas ketika ia melihat dirinya di tertawakan putranya karena ledekan istrinya itu.


“Benar-benar tak bisa romantis, setidaknya jika dia tak bisa berkata-kata manis untuk berterima kasih pada suaminya ini, dia bisa membalas perlakuan manis ku ini dengan sebuah senyuman. Bukan terus meledekku di depan putra ku. Nayla- Nayla. Untungnya aku cinta dan tahan sama kamu.” gumam Bayu di dalam hatinya.


Meskipun hatinya selalu dibuat kesal seperti saat ini, Bayu tetap menggandeng istri dan putranya yang selalu kompak mengerjainya, menertawakannya dan meledeknya. Dengan gagahnya Bayu berjalan sambil mengandeng anak dan istrinya, sedang Suster Marni berjalan mengikuti langkah ketiga majikannya dari belakang.


Semua mata yang ada di lobby perusahaan terus tertuju pada ketiganya. Ya. kedatangan mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Hampir sebagian besar karyawan Bayu memandang penuh tanya dengan keberadaan Nayla yang berjalan digandeng mesra oleh Bayu.


Tentu saja mereka memandang penuh tanya keberadaan Nayla. Pasalnya sebagian besar karyawan Bayu hampir tidak mengetahui jika Bayu sudah menikah lagi, terkecuali Nathan dan sekertarisnya.


“Sultan, kamu mau tahu bagaimana rasanya jadi artis?” tanya Nayla saat berjalan menuju lift.


“Tentu ma Mih, memangnya bagaimana rasanya?” sahut Sultan yang begitu antusias.


“Rasanya seperti saat ini, kita jadi pusat perhatian semua orang yang kita lalui,” jawab Nayla yang tersenyum malu kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


“Ah- Iya. Benar Mih, mereka sedang memperhatikan kita.” Ucap Sultan yang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lobby.


“Jangan lupa berikan senyum terbaik mu pada mereka sayang, kamu tahukan artis selalu melakukan itu. Jadilah pria yang ramah jangan dingin, kaku dan menyeramkan seperti Papi mu.” Tambah Nayla yang diikuti oleh Sultan.

__ADS_1


Sultan tersenyum ramah pada orang-orang yang memperhatikan dirinya dan kedua orang tuanya. Tak pelak orang-orang  yang sebagian besar merupakan karyawan suaminya itu pun membalas senyuman putra bosnya yang sangat ramah.


“Itu Sultan putranya Pak Bayu kan? Manis juga ya kalau senyum?” ucap salah satu karyawati Bayu yang memperhatikan senyum Sultan yang manis menurutnya.


“Bukannya dia itu jutek dan dingin kaya bapaknya ya, kok sekarang lain sih? Terus itu cewek yang botak tapi pakai bandana siapa?” tanya karyawati lain pada temannya.


“Eh, tunggu-tunggu. Kok kepala mereka sama-sama botak sih. Jangan-jangan cewek itu istrinya Pak Bayu.” Ucap salah satu karyawati lain yang membuat mereka saling bertukar pandangan.


“Ah, gila beruntung banget tuh cewek.” Ucap mereka bersamaan.


“Patah hati masal nih kita semua.”


“Iya Cin… hiks…hikss… termehek-mehek deh gue…”


“Apa kabarnya tuh Safana, sekertaris Pak Bayu yang selalu ngaku-ngaku jadi calon istrinya?”


“Hahaha... makan tuh ngimpi di tengah hari bolong jadi istri Pak Bayu.”


Di ruang kerja Bayu, dalam waktu dua jam ruangan kerja Bayu sudah berubah menjadi taman bermain Sultan dan Nayla. Bagaimana tidak Nayla merombak ruang kerja suaminya menjadi tempat yang nyaman untuk dirinya dan Sultan menunggu Bayu bekerja selama di kantor.


Seolah tak perduli dengan estetika ruangan kerjanya. Bayu acuh dan tak perduli dengan apa yang Nayla dan Sultan lakukan dengan ruang kerjanya. Nayla membeli lemari pendingin dua pintu beserta isinya. Ia juga membeli permainan anak dari perosotan, mobil-mobilan, motor-motoran, ayunan bahkan sampai mandi bola dan itu semua sudah tertata rapi di dalam ruang kerja Bayu.


Jangan lupakan bagaimana wajah lelah office boy dan office girl hari ini yang mengikuti semua perintah Nayla. Tepat pukul 12:00 siang. Office Boy dan Office girl yang belum selesai merapikan mainan dan buku-buku Sultan yang baru di beli oleh Nayla via online pun undur diri. Mereka minta izin untuk beristirahat sejenak.


“Bu Nayla. Kami izin istirahat dulu, karena sudah jam dua belas, waktunya kami istirahat.” Ucap salah seorang kepala Office Boy yang ada dilantai 29 pada Nayla.


“Oh iya boleh, tapi tunggu dulu ya. Kalian jangan pergi dulu sebelum makan siang yang saya pesan untuk kalian datang. Atau kalian kalau mau tunggu di lobby juga boleh, tapi tolong ya yang punya saya diantar ke sini. Itu pun kalau kalian tidak keberatan ya!” jawab Nayla dengan senyum ramahnya.


“Ba-baik Bu. Terima kasih sudah memberikan makan siang untuk kami.” Balas Karto yang tak percaya Nayla yang bawel dan menyebalkan saat memberi perintah padaa mereka saat bekerja tadi, ternyata berhati baik, memperhatikan mereka yang memang sudah kelaparan.

__ADS_1


“Sama-sama. Jangan lupa balik lagi dan selesaikan kekacawan ini ya!”


“Iya bu. Tenang saja.” Jawab Karto yang kemudian menunduk hormat dan diikuti dengan kesembilan anak buahnya untuk undur diri.


Di dalam hati mereka, paling istri bosnya itu hanya membelikan mereka sebungkus nasi padang dengan isi ayam bakar ataupun rendang. Tapi saat mereka sampai di lobby sebuah kurir dari restoran mewah Kafiera mengantar makanan untuk Nayla dalam jumlah yang cukup banyak.


“To, hari ini kita makan enak.” Ucap Udin yang sudah menelan salivanya saat mencium aroma masakan mewah yang begitu menggoda cacing-cacing diperutnya.


“Istri Bos kita sekarang benar-benar mantap, gak pelit tapi bawelnya Nauzubillah,” jawab Karto pada Udin yang sudah mere.mas-re mas lengan Karto, karena sudah tak sabar ingin segera menyantap menu makanan itu.


“Karto!!” panggil resepsionis yang bernama Asmi gak pake Miranda pada Karto yang berdiri tak jauh dari meja resepsionis.


“Ini buat kalian kata Bu Nayla tapi kalian suruh anterin dulu punya dia katanya.” Ucap resepsionis itu dengan tampang juteknya.


“Iya makasih Mbak Asmi.” Balas Karto yang menerima satu bungkus plastik besar yang terdiri dari tujuh kotak berisi menu makanan yang aromanya sangat menggugah serela.


“Habis ngapain kalian sampe dibeliin makanan dari restoran mahal sama istrinya Bos?” tanya Asmi yang terlihat iri dengan kemujuran para office boy dan office girl di lantai 29.


“Habis kerja rodi Mbak. Sumpah bawel banget istri Bos, Mbak.” Jawab Karto dengan logat ngapaknya.


“Hahaha… Masa sih? Tapi kalian beruntung banget, asal kalian tahu saja ya, satu kotak nasi yang kalian nanti makan itu harganya bisa bayar kontrakan kalian selama dua bulan.”


“Hah, Apa iya Mbak?” tanya Karto tak percaya.


“Iya-lah. Ngapain pula saya bohong. Udah gih anterin sana dari pada nanti di bawelin lagi.”


“Huwalah i-iya, tak antarnya dulu.” Ucap Karto yang segera pergi mengantar satu plastik besar makan siang istri Bosnya itu, ia mengingat betul kebawelan Nayla jika sesuatu tak sesuai keinginannya.


Sedang di sebuah sudut kamar mandi ada seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun sedang menangis sedih. Ia kecewa dengan pujaan hatinya yang ternyata sudah memiliki seorang istri yang begitu dicintainya. Wanita yang sedang menangis itu adalah Safana. Sekertaris Bayu yang sudah lima tahun bekerja di perusahaan Bayu.

__ADS_1


__ADS_2