Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 36


__ADS_3

"Saya nanya nih ya sama Pak Jono baik-baik, kalau Pak Jono di posisi suami saya. Pak Jono akan membiarkan saya tetap kuliah dan meninggalkan Sultan yang sangat membutuhkan kasih sayang saya, atau membiarkan saya pulang dan meninggalkan kuliah saya demi Sultan?" tanya Nayla dengan tatapan yang begitu serius memandang Pak Jono.


Pak Jono terdiam, ia berpikir matang-matang dengan pertanyaan majikannya satu ini, yang menurutnya sangat menjebak dirinya dalam masalah besar nantinya. Disatu sisi Pak Jono sangat paham dan mengerti, akan ketidak inginan Nyonya ini untuk pergi ke kampus, karena Nyonyanya ini terlihat begitu mengutamakan anaknya dari pada pendidikannya. Tapi disatu sisi lain, dia tak bisa melanggar perintah Bayu, sang majikan yang membayar gajinya.


"Pak Jono, kenapa bengong? Bukannya jawab pertanyaan saya?" tanya Nayla lagi, yang membuat Pak Jono akhirnya berhenti berfikir.


"Sepertinya apapun jawaban saya, saya akan tetap dalam masalah, Nyonya. Tapi___" jawaban Pak Jono tiba-tiba menggantung sehingga membuat Nayla memencingkan matanya.


"Tapi apa Pak Jon?" tanya Nayla yang begitu penasaran.


"Tapi demi Sultan, saya berani mengambil resiko Nyonya. Mari kita pulang!" jawab Pak Jono dengan keraguannya. Ia menutup kembali pintu mobil dan berlari kecil untuk segera kembali ke kursi pengemudi.


Mobil pun kembali melaju keluar dari area parkiran sekolah Sultan. Pak Jono melajukan mobil itu ke arah kediaman majikannya. Entah teguran apa yang akan Pak Jono dapatkan nanti dari Bayu. Yang pasti hari ini dia sudah melakukan sesuatu yang baik menurut dirinya.


Sesampainya di rumah Nayla menggendong putra sambungnya itu ke dalam kamar putranya, seorang diri. Tanpa mau menerima pertolongan dari Pak Jono yang mau membantunya menggendong Sultan sampai ke kamar putranya itu.


Nayla membaringkan Sultan di atas ranjang, ditatapnya wajah putra sambungnya itu.


"Kenapa aku lebih menyayangimu dibandingkan Papimu, sayang? Mungkin karena kamu lebih ganteng dan menggemaskan humm," gumam Nayla yang kemudian ikut berbaring bersama Sultan.Keduanya pun tertidur begitu pulas, hingga waktu menunjukkan pukul 10.30 pagi.


Di kampus. Bayu dengan langkah gagahnya memasuki kelas Nayla. Manik mata dosen tampan ini mengedar keseluruh penjuru kelas. Tak ia dapati sosok istri yang ia cari di dalam kelas iti.


"Dimana istri tengil ku itu? Apa dia tidak ke kampus lagi? Bukankah izin tidak masuk kuliah yang aku berikan padanya sudah habis? Jika dia tidak pergi ke kampus, ada dimana dia sekarang? Istri ku ini benar-benar menguji kesabaran ku," Bayu bermonolog di dalam hatinya.


Masih dengan rasa penasaran, Bayu memulai mengajar mata kuliahnya, setelah menerangkan materi beberapa saat, hingga mahasiswanya paham. Bayu segera memberikan tugas pada mahasiswanya. Disaat mahasiswanya sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dirinya, Bayu langsung saja melangkahkan kakinya keluar dari kelas.

__ADS_1


Di luar kelas Bayu terlihat sibuk dengan ponselnya. Ya. Dia sedang sibuk menghubungi ponsel Nayla, ia sangat ingin tahu dimana keberadaan istrinya saat ini. Beberapa kali Bayu mencoba menghubungi ponsel Nayla, tapi Nayla tidak mengangkat panggilan telepon dari suaminya yang mulai cemas dengan keadaan Nayla.


"Ada dimana dia? Kenapa panggilanku tidak diangkat? Apa dia sedang berduaan dengan pria lain? Sehingga panggilan ku tidak diangkat olehnya. Aku harap dia tak seperti Linda," ucap Bayu di dalam hatinya.


Bayu sudah mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai istrinya. Kisah masa lalu yang membuatnya mulai berpikir buruk tentang Nayla.


Ya. Firasat Bayu memang benar adanya. Istrinya itu memang tak mengangkat panggilan ponselnya karena sedang bersama pria lain. Mereka sedang asyik tidur bersama dan saling berpelukan. Jikalau Bayu melihatnya entah respon apa yang akan ia berikan, marahkah atau malah rasa senang dan bahagia. Melihat kedekatan istrinya dengan pria lain yang tak lain adalah putranya sendiri.


Bayu yang tak hilang akal, memutuskan untuk menghubungi Bi Darmi yang kebetulan hari ini ada di kediamannya. Karena hari ini adalah jadwalnya membersihkan kediaman Bayu.


Kenapa tidak dengan Suster Marni? Karena menurut penilaian Bayu, Suster Marni dan Nayla sudah satu kubu. Mereka akan saling menutupi kesalahan satu sama lain. Majikan dan pembantu yang kompak.


"Hallo Den," sapa Bi Darmi.


"Hallo Bi," jawab Bayu.


"Ada Den, sedang tidur bersama Den Sultan," jawab Bi Darmi apa adanya.


"APA? TIDUR?" tanya Bayu yang nampak terkejut.


"Ia Den, Apa mau Bibi bangunkan?" Tawar Bi Darmi.


"Tentu saja Bi, tolong bangunkan dia, ya!" jawab Bayu dengan nada bicaranya yang bergetar, tanda bahwa pria ini sedang menahan amarahnya.


"Baik Den, akan Bibi bangunkan, Bibi tutup dulu teleponnya ya Den,"

__ADS_1


"Iya Bi, silahkan,"


"Jam segini dia dan Sultan masih di rumah, itu artinya putra ku kembali dibuat tidak sekolah olehnya. Nayla-Nayla, disatu sisi aku tenang kamu ada di rumah, di satu sisi aku kesal pada mu, kenapa memgajarkan anakku dengan kebiasaan baru yaitu bolos sekolah terus, Nay," Bayu berkata di dalam hatinya sembari mengelengkan kepalanya ke kanan dan kekiri.


Setelah menutup panggilan telepon dari Bayu, Bi Darmi segera bergegas menaiki anak tangga menuju kamar anak majikannya itu. Di saat bersamaan dari arah depan, Bi Darmi bertemu dengan Suster Marni.


"Mbok mau kemana jalan buru-buru seperti itu?" tanya Suster Marni yang menghentikan langkah kaki Bi Darmi.


"Mau membangunkan istrinya Den Bayu, Mar," jawab Bi Darmi sebelum kembali melanjutkan langkah kaki tuanya menuju kamar Sultan.


Suster Marni si Karlota made in Indonesia itu, merasa sangat penasaran dengan Bi Darmi yang begitu tergesa-gesa ingin membangunkan majikannya itu.


"Ada apa ya? Apa ada hal genting? Sampai-sampai si mbok bangunin Nyonya. Kok berani-beraninya ua si Mbok Darmi bangunin Nyonya Nayla yang sedang tidur dengan Sultan. Wah harus cari tahu nih, siapa tahu bisa dijadiin bahan berita untuk Nyonya besar, lumayan vulussss...." gumam Suster Marni yang kesenangan, karena ia sudah memikirkan pundi-pundi rupiahnya akan bertambah banyak dari Nyonya besarnya. Segera ia menyusul langkah kaki tua Bi Darmi yang masih terlihat gagah.


"Mbok, mau ngapain sih bangunin Nyonya Nayla, ga takut kena marah beliau?" tanya Suster Marni saat menahan tubuh Bi Darmi yang ini masuk ke kamar anak majikannya itu.


"Gawat Mar, sepertinya Den Bayu marah, karena Non Nayla tidak ke kampus dan Den Bayu tahu mereka berdua sedang tidur di jam sekolah mereka seperti saat ini,"


"Apa? Kalau begini saya juga dalam masalah dong Bi?" tanya Suster Marni dengan raut wajah yang seketika itu berubah menjadi takut.


"Iya bisa jadi Mar, seharusnya Den Sultan sama kamu jam segini masih ada di sekolah bukan di rumah. Nah sekarang kamu tolong bantu Mbok ya, untuk bangunin Non Nayla. Jangan sampai Den Sultan ikut bangun pas kita bangunin Non Nayla, Mar!"


"Iya Mbok," jawab Suster Marni.


Suster Marni dan juga Bi Darmi berusaha membangunkan Nayla yang tertidur bersama Sultan. Sebisa mungkin mereka membangunkan Nayla tanpa harus membangunkan Sultan yang tertidur begitu nyenyak di dalam pelukkan Nayla.

__ADS_1


"Non, bangun Non! Den Bayu ingin bicara,"


"Hemmm, ngomong aja langsung, kenapa harus Bi Darmi yang bilang humm?" jawab Nayla yang masih memejamkan matanya. Ia masih enggan untuk membuka matanya.


__ADS_2